NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009 - Rahasia Terbongkar

【Saran: segera bangun rantai legal sumber aset.】

Panel sistem melayang di depan mata Arya.

Kirana masih tertidur di sofa. Selimut menutup tubuhnya sampai bahu. Di luar jendela, sisa hujan semalam menempel di kaca.

Arya duduk di meja makan dan membuka laptop.

GR Supra. S-Class. Grand Surya Residence. Uang masuk Bank Nusantara. Semua terdaftar atas namanya. Denny sudah mengendus. Orang tuanya belum tahu apa pun. Keluarga Kirana jauh lebih berat lagi.

Ia perlu jawaban yang bisa diperiksa.

"Sistem," gumamnya pelan. "Aku butuh dokumen legal."

Panel berkedip.

【Permintaan diterima.】

【Membangun rantai legal sumber aset: lisensi perangkat lunak, royalti kode, keuntungan investasi awal.】

【Catatan: dokumen hanya menutup aset awal. Reputasi tetap harus dibangun melalui tindakan nyata.】

Folder baru muncul di laptop Arya.

Kontrak lisensi software.

Surat pembayaran royalti.

Riwayat investasi kecil yang berubah besar.

NPWP digital.

Dokumen bank.

Arya membaca satu per satu. Semuanya rapi. Terlalu rapi untuk mahasiswa biasa, tetapi cukup masuk akal untuk orang yang diam-diam mengerjakan proyek teknologi.

Ia mencetak ringkasan di printer kecil apartemen. Kertas-kertas itu masuk ke map hitam.

Ponselnya bergetar.

Ibu.

Arya menatap layar, lalu melihat ke arah kamar mandi. Ia baru sadar air shower menyala. Kirana sudah bangun dan sedang mandi. Ponsel Arya masih di meja.

Panggilan berhenti.

Beberapa detik kemudian, bergetar lagi.

Ibu.

Kirana keluar dengan handuk di rambut. Ia melihat ponsel di meja.

"Arya, ponselmu..."

Arya sedang memasukkan dokumen ke map. "Sebentar."

Kirana melihat nama di layar.

Ibu.

Wajahnya berubah. Dalam panik, ia mengira itu panggilan dari ibunya sendiri yang tertukar di kepala lelahnya. Ia menekan tombol terima.

"Halo, Ma..."

Di seberang sana, suara Ibu Sri Wahyuni terdengar lembut.

"Halo? Arya?"

Kirana membeku.

Arya menoleh cepat.

"Ibu?" suara Ibu Sri berubah waspada. "Ini siapa?"

Kirana menatap Arya dengan mata membesar.

"Sa-saya Kirana, Bu."

Hening.

Arya berjalan cepat dan mengambil ponsel.

"Ibu, ini Arya."

Suara Ibu Sri menjadi lebih pelan. "Kenapa ada perempuan menjawab ponselmu pagi-pagi, Nak?"

Kirana menutup mulut. Wajahnya langsung pucat.

Arya memejamkan mata sebentar.

Rahasia itu akhirnya pecah dari pintu paling buruk.

"Ibu," katanya, "saya perlu bicara dengan Ibu dan Bapak. Tolong panggil Bapak."

"Arya, jawab dulu."

"Saya akan jawab semuanya. Panggil Bapak."

Lima menit kemudian, video call tersambung.

Di layar, Ibu Sri duduk dengan wajah cemas. Di sampingnya, Bapak Hendra Pratama memakai kemeja rumah, rahangnya kaku. Rumah mereka di Solo tampak sederhana, rak buku tua di belakang, jam dinding bergerak pelan.

Kirana duduk di samping Arya, tangan gemetar di pangkuan.

Bapak Hendra bicara pertama.

"Siapa perempuan itu?"

Arya menunduk sebentar, lalu menatap kamera.

"Namanya Kirana Putri Ayu. Dia pacar saya."

Mata Ibu Sri berkaca-kaca. Bapak Hendra tetap diam.

Arya melanjutkan, "Kirana hamil. Usianya sekitar enam minggu. Anak itu anak saya. Saya sudah menemani pemeriksaan dokter. Saya akan bertanggung jawab."

Ibu Sri menutup mulut.

Bapak Hendra tidak bergerak.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu suaranya meledak.

"Arya Pratama!"

Kirana tersentak.

"Kamu belum lulus. Kamu belum kerja tetap. Kamu tinggal di kos. Kamu tahu apa arti anak? Kamu tahu apa arti menikahi perempuan orang?"

"Saya tahu saya salah, Bapak."

"Kalau tahu, kenapa terjadi?"

Arya menerima bentakan itu tanpa menunduk lagi.

"Saya tidak akan mencari alasan. Saya dan Kirana melakukan kesalahan. Sekarang saya pilih bertanggung jawab."

Bapak Hendra menunjuk layar.

"Tanggung jawab memakai apa? Kata-kata?"

Arya mengambil map hitam dan meletakkannya di depan laptop.

"Saya punya pemasukan legal dari proyek teknologi. Saya sudah menyiapkan tempat tinggal, biaya kontrol, vitamin, dan rencana kuliah Kirana tetap selesai. Saya akan kirim semua dokumen ke Bapak setelah panggilan ini."

Ibu Sri menatap Kirana.

"Nak... kamu sehat?"

Kirana menangis. "Maaf, Bu. Saya minta maaf."

Ibu Sri ikut menangis, pelan, tanpa suara keras.

Bapak Hendra masih marah.

"Kirana, orang tuamu sudah tahu?"

Kirana menggeleng. "Belum, Pak."

"Astaghfirullah."

Kata itu jatuh berat.

Arya menggenggam tangan Kirana di bawah meja.

"Saya akan bicara dengan Ibu Ratna langsung, Bapak. Saya tidak akan membiarkan Kirana menghadapinya sendiri."

Bapak Hendra menatap Arya lama.

"Kirim dokumenmu. Hari ini."

"Baik."

"Saya dan Ibumu ke Surabaya lusa. Jangan pergi ke mana-mana."

"Baik, Bapak."

"Dan dengar baik-baik. Kalau uangmu dari jalan haram, kalau kamu menutup satu kebohongan dengan kebohongan lain, saya sendiri yang menyeretmu pulang."

"Saya paham."

Bapak Hendra belum menutup panggilan. Ia melihat Kirana lagi.

"Kirana."

Gadis itu mengangkat wajah dengan susah payah. "Iya, Pak."

"Saya marah kepada Arya. Saya juga kecewa kepada kalian berdua. Namun saya perlu tahu satu hal. Anak saya memaksamu?"

Kirana langsung menggeleng. "Tidak, Pak. Arya tidak pernah memaksa saya."

"Kamu yakin?"

"Saya yakin."

Bapak Hendra menghela napas panjang. Kemarahannya tetap ada, tetapi arah tatapannya berubah. Ia tidak lagi melihat Kirana seperti sumber masalah. Ia melihatnya seperti anak muda yang sudah terlalu takut.

"Baik. Mulai hari ini, jangan menghilang dari kontrol dokter. Jangan mengambil keputusan karena panik. Kalau Arya membuatmu takut, telepon Ibu Sri."

Ibu Sri mengangguk cepat sambil mengusap air mata.

"Iya, Nak. Simpan nomor Ibu nanti."

Kirana menangis lagi. "Terima kasih, Bu."

Bapak Hendra kembali menatap Arya.

"Setelah panggilan ini, kirim semua dokumen itu ke WhatsApp saya. Foto buram tidak saya terima. PDF. Jelas. Saya akan cek satu per satu."

"Baik, Bapak."

"Kirim juga nama dokter, alamat klinik, dan jadwal kontrol. Saya ingin lihat tindakanmu. Janji kosong tak cukup."

Arya menahan diri mendengar kata itu. Ia hanya mengangguk.

"Saya kirim dalam sepuluh menit."

Panggilan terputus.

Ruang makan apartemen sunyi.

Kirana menutup wajah dengan kedua tangan. Tangisnya pecah.

"Aku membuat ibumu menangis."

Arya menarik kursinya mendekat.

"Aku yang harus menjawab mereka."

"Bapakmu benci aku."

"Bapak marah padaku."

"Dia juga pasti kecewa padaku."

"Kita hadapi lusa."

Kirana mengangkat wajah. Matanya merah.

"Aku takut, Arya."

"Aku juga. Kita tetap hadapi."

Panel sistem muncul di sisi pandangan Arya.

【Tugas darurat aktif: memperoleh pengakuan keluarga tahap pertama.】

【Tingkat kesulitan: S.】

【Hadiah: ???】

Arya membaca panel itu, lalu mematikan layar laptop.

Lusa, orang tuanya datang.

Sebelum itu, ia harus memastikan semua dokumen terlihat cukup kuat untuk seorang Bapak Hendra Pratama.

Sepuluh menit kemudian, Arya mengirim folder berisi dokumen ke WhatsApp Bapak Hendra.

Satu centang.

Dua centang.

Terbaca.

Balasan datang lima menit kemudian.

Saya cek. Jangan hapus apa pun.

Arya menatap pesan itu lama.

Di sampingnya, Kirana masih menangis pelan.

Pintu pertama sudah terbuka.

Di baliknya, badai keluarga baru menunggu.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!