NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Api di Ambang Pintu

Api menjilat pintu bengkel.

Pelan.

Lalu semakin besar.

Kayu tua mulai menghitam.

Asap tipis masuk melalui celah-celah pintu.

Anak-anak yang bersembunyi di ruangan belakang mulai batuk.

Aku menggenggam ketapelku semakin erat.

Mur besi dingin itu terasa berat di telapak tanganku.

Di luar terdengar suara tawa.

Pendek.

Sinis.

Mereka benar-benar ingin membakar tempat ini.

── Maël kepada kalian ──

Aku pernah mencuri.

Pernah berkelahi.

Pernah tidur di bawah jembatan saat musim dingin.

Tapi ada satu aturan yang bahkan anak jalanan pun tahu.

Jangan pernah menyentuh tempat yang memberi makanmu.

Karena tempat itu...

Adalah rumah.

Dan rumah...

Harus dipertahankan.

── Kembali ke cerita ──

Pierre langsung membuka sebuah kotak besi di dekat meja kerja.

Isinya bukan senjata.

Melainkan...

Alat pemadam api kecil.

Beberapa ember.

Selang.

Dan masker kain.

Henri mengangguk pelan.

"Kau sudah siap menghadapi situasi seperti ini."

Pierre tersenyum pahit.

"Bukan siap."

"Sudah terlalu sering."

Kalimat itu membuatku membeku.

"Sering?"

Pierre mengangguk.

"Ini bukan pertama kalinya."

"Mereka sudah tiga kali mencoba membakar bengkelku."

"Lalu kenapa kau tetap bertahan?"

Pierre menatap anak-anak yang sedang bersembunyi.

"Karena..."

"...kalau aku pergi..."

"...mereka tidak punya tempat pulang."

Aku diam.

Tidak ada lelucon kali ini.

Henri mulai memberi instruksi.

"Camille."

"Iya."

"Bawa semua anak ke ruang bawah."

"Baik."

"Madame Odette."

"Saya di sini."

"Tolong dampingi mereka."

Perempuan tua itu langsung mengangguk.

Léo melihatku.

"Kita?"

Aku tersenyum tipis.

"Kita bikin mereka menyesal datang."

"Baru kali ini aku suka idemu."

Pierre membuka peta sederhana kawasan sekitar.

Ia menunjuk beberapa titik.

"Mereka ada lima."

"Satu di depan pintu."

"Dua di mobil."

"Dua lagi berjaga di gang."

Aku memperhatikan dengan saksama.

Lalu tersenyum.

"Aku kenal gang ini."

Henri menoleh.

"Apa maksudmu?"

Aku menunjuk sebuah lorong sempit di belakang bengkel.

"Kalau kita keluar lewat sini..."

"...kita bisa mutar dan muncul di belakang mereka."

Étienne mengangguk.

"Itu ide bagus."

Henri memandangku beberapa detik.

"Kau benar-benar mengenal kota ini."

Aku terkekeh.

"Paris mungkin tidak pernah mencatat namaku."

"Tapi..."

"...aku hafal setiap retakan jalannya."

Kami bergerak.

Pelan.

Tanpa suara.

Pierre membuka pintu rahasia di belakang bengkel.

Lorong kecil itu gelap.

Hanya diterangi lampu kuning yang berkedip.

Léo berjalan tepat di belakangku.

"Maël."

"Hm?"

"Aku deg-degan."

"Wajar."

"Kau?"

"Aku juga."

"Lalu kenapa wajahmu santai?"

Aku tersenyum.

"Kalau aku kelihatan takut..."

"...nanti kau tambah panik."

Léo tertawa pelan.

"Kau memang pembohong."

"Iya."

"Tapi niatku baik."

Beberapa menit kemudian kami keluar dari lorong.

Kini kami berada tepat di belakang para penyerang.

Mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan kami.

Dua orang sedang menuangkan bensin.

Satu orang mengawasi jalan.

Dua lainnya berdiri di dekat mobil hitam.

Aku mengambil mur besi.

Memasangnya pada ketapel.

Menarik karetnya.

Henri berbisik.

"Yakin?"

Aku mengangguk.

"Sangat."

"Bidik siapa?"

Aku menunjuk pria yang memegang jeriken bensin.

"Yang paling cerewet."

Henri menatapku bingung.

"Kok tahu dia cerewet?"

"Dari cara berdirinya."

"Itu tidak masuk akal."

"Aku tahu."

Wusss...!

Mur besi meluncur cepat.

TUK!

"AAARGH!"

Pria itu langsung memegangi dahinya.

Jeriken bensin terjatuh.

Mengenai celana temannya.

"Apa yang terjadi?!"

Mereka panik.

Belum sempat bereaksi...

Aku sudah mengambil mur kedua.

TUK!

Kali ini mengenai lampu depan mobil.

PRAANG!

Alarm mobil langsung berbunyi keras.

"WIIUUU! WIIUUU!"

Suasana berubah kacau.

"Ada penyusup!"

"Di mana?!"

"Mana aku tahu!"

Aku menahan tawa.

"Léo."

"Iya?"

"Giliranmu."

"Aku?"

"Kau bilang lemparanmu bagus."

"Itu waktu lempar sandal."

"Sama saja."

"Tidak sama!"

Henri dan Pierre memanfaatkan kepanikan itu.

Mereka bergerak cepat melumpuhkan dua penyerang dari belakang.

Tanpa suara.

Cepat.

Efisien.

Aku sampai melongo.

"Henri."

"Apa?"

"Bapak dulu kerja apa?"

Henri mengikat tangan salah satu penyerang.

"Guru."

Aku membeku.

"Hah?"

Pierre tertawa.

"Guru olahraga."

"Oh..."

"Itu lebih masuk akal."

Namun...

Belum sempat kami bernapas lega...

Suara mesin lain terdengar dari ujung jalan.

VROOOOM!

Satu.

Dua.

Tiga mobil hitam berhenti bersamaan.

Pintunya terbuka.

Lebih dari sepuluh orang turun.

Semuanya memakai jas hitam.

Dan di kerah mereka...

Terpasang pin rubah hitam.

Léo langsung menelan ludah.

"Maël."

"Hm?"

"Kurasa..."

"...kita baru naik level."

Aku memandangi mereka.

Lalu melihat ke arah anak-anak yang masih bersembunyi di dalam bengkel.

Jumlah kami terlalu sedikit.

Kalau bertarung sekarang...

Yang menjadi korban bukan kami saja.

Melainkan anak-anak itu.

Aku menggeleng pelan.

"Tidak."

kataku.

Henri menoleh.

"Kita tidak bertarung di sini."

"Lalu?"

"Kita pancing mereka."

"Ke mana?"

Aku tersenyum.

"Sistem selokan Paris."

Semua orang menatapku.

Léo mengernyit.

"Jangan bilang..."

"...kau pernah tinggal di sana juga?"

Aku mengangkat bahu.

"Sebentar."

"Berapa lama?"

"Seminggu."

"KENAPA?"

"Polisi lagi rajin patroli."

Pierre memegang dahinya.

"Maël..."

"Kau ini sebenarnya manusia..."

"...atau tikus kota?"

Aku tertawa.

"Kalau tikus..."

"...aku pasti sudah kaya karena makan keju."

Di kejauhan, salah satu pria berjas hitam berteriak.

"Temukan anak itu!"

Aku menarik napas panjang.

Lalu tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai...

Aku tidak merasa sedang kabur.

Aku sedang memimpin.

"Ikuti aku."

kataku.

"Dan jangan sampai tersesat."

Henri mengangguk.

Étienne tersenyum kecil.

Pierre mengambil napas dalam.

Léo hanya bergumam,

"Kalau kita selamat..."

"...aku traktir kau croissant."

Aku menoleh.

"Yang pakai mentega?"

"Iya."

"Deal."

Kami pun berlari memasuki lorong sempit menuju jaringan selokan tua Paris.

Sementara di belakang kami...

Belasan pria bertopeng rubah mulai mengejar tanpa menyadari satu hal.

Mereka sedang memasuki wilayah...

Yang hanya dikenal oleh anak-anak yang tumbuh di jalanan.

Dan di sana...

Maël bukan lagi mangsa.

Melainkan tuan rumah.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!