Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Matahari pagi bersinar cerah menyapu sisa kabut di atas Gunung Sumber Abadi.
Suara kicauan burung terdengar sangat merdu dari dahan pohon pinus.
Cuit cuit.
Rizky berdiri di lobi Pusat Kontrol Wisata menghadap dua puluh staf lapangannya yang berbaris rapi.
Wajah para karyawan itu terlihat sangat kelelahan namun mata mereka memancarkan kebanggaan yang luar biasa.
"Kerja keras kalian tadi malam benar-benar sangat memuaskan," puji Rizky mengawali pengarahan paginya.
"Kita berhasil melayani lima ribu pengunjung tanpa ada satu pun keluhan keamanan atau kebersihan."
Bagas yang berdiri paling depan langsung tersenyum lebar memamerkan giginya.
"Itu semua berkat arahan Mas Direktur yang sangat jelas," sahut Bagas merendah.
"Tim kebersihan bahkan harus memungut sampah di bawah cahaya aurora semalaman suntuk."
Rizky tertawa pelan mendengar laporan bernada candaan dari mantan preman tersebut.
Hahaha.
"Karena dedikasi kalian yang luar biasa, aku punya pengumuman penting hari ini," ucap Rizky dengan nada serius.
"Gunung Sumber Abadi akan ditutup total dari semua operasional wisata selama dua hari ke depan."
Suasana lobi mendadak hening dan semua karyawan saling berpandangan dengan wajah kebingungan.
"Ditutup Bos?" tanya Siska melangkah maju dari samping Rizky.
"Tapi aplikasi pemesanan kita sedang meledak dan banyak orang yang meminta tiket tambahan untuk akhir pekan ini."
Rizky mengangkat tangannya memberi isyarat agar manajernya itu tenang.
"Fasilitas kita butuh jeda untuk bernapas agar tidak cepat rusak," jelas Rizky masuk akal.
"Kalian semua juga manusia yang butuh istirahat panjang setelah bekerja bagai kuda liar kemarin."
Rizky kemudian mengambil sebuah tas hitam dari bawah meja informasi dan membukanya.
Srek.
Tumpukan amplop putih tebal terlihat berjejer rapi di dalam tas tersebut.
"Ini adalah bonus gaji tambahan untuk kalian semua, silakan pulang dan tidurlah dengan nyenyak selama dua hari ini," perintah Rizky membagikan amplop itu satu per satu.
Mata Bagas dan teman-temannya langsung berkaca-kaca menerima amplop yang terasa sangat tebal di genggaman mereka.
"Terima kasih banyak Mas Rizky, Mas benar-benar bos paling dermawan di dunia!" teriak para staf bersahutan.
Prok prok prok.
Suara tepuk tangan menggema di lobi sebelum akhirnya para karyawan membubarkan diri dengan perasaan gembira.
Hanya tersisa Rizky dan Siska di dalam ruangan besar yang kini terasa sangat sepi tersebut.
Siska melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap bosnya dengan tatapan penuh selidik.
"Alasan libur karena mesin butuh istirahat itu cuma kebohongan belaka kan Bos?" tebak Siska tepat sasaran.
"Genset ajaib dan pompa air gaibmu itu tidak mungkin bisa rusak hanya karena dipakai semalaman."
Rizky menghela napas panjang dan tersenyum mengakui ketajaman insting manajernya itu.
"Kamu memang semakin pintar Siska," puji Rizky berjalan menuju layar monitor pemantau.
"Tutup semua gerbang elektronik dan pastikan mode pemeliharaan sudah aktif di aplikasi tiket kita."
Siska mengangguk dan mengetik beberapa perintah di tabletnya.
Tit.
"Sudah Bos, sekarang kita benar-benar terisolasi dari dunia luar," lapor Siska.
"Lalu apa rencana rahasia yang mau kamu lakukan di saat gunung ini kosong melompong begini?"
Rizky memutar tubuhnya dan menatap Siska dengan pandangan yang sangat serius.
"Kita akan masuk ke dalam celah gelap di balik Air Terjun Pelangi hari ini juga," jawab Rizky tegas.
Siska langsung menelan ludahnya dengan susah payah mendengar rencana gila tersebut.
Glek.
"Masuk ke sana berdua saja Bos?" tanya Siska dengan suara sedikit bergetar.
"Aku takut ada ular piton raksasa atau kelelawar pembawa rabies di dalam sana."
"Tenang saja, aku sudah membeli semua perlengkapan penjelajahan khusus secara daring dua hari yang lalu," bujuk Rizky menenangkan.
"Paketnya sudah tiba pagi tadi dan aku menyimpannya di ruang bawah tanah."
Rizky mengajak Siska turun ke ruang bawah tanah dan membuka sebuah kardus besar berwarna cokelat.
Krat.
Di dalamnya terdapat dua pasang sepatu bot lapangan, helm proyek dengan senter kepala yang terang, tali tambang, dan sarung tangan kulit.
Siska memakai helm kuning itu dengan wajah cemberut namun tidak berani menolak perintah bosnya.
"Kalau terjadi apa-apa padaku di dalam sana, kamu harus menanggung biaya asuransi jiwaku Bos," keluh Siska mengikat tali sepatunya.
"Aku janji akan melindungimu dengan nyawaku sendiri Siska," balas Rizky tertawa ringan mencoba mencairkan suasana.
Setelah persiapan selesai, mereka berdua berjalan keluar dari Pusat Kontrol Wisata.
Suasana Gunung Sumber Abadi terasa sangat asing tanpa adanya riuh suara ribuan pengunjung.
Hanya suara angin yang menyapu dedaunan dan gemuruh air terjun yang menemani langkah kaki mereka berdua.
Wushhh.
"Aneh rasanya melihat tempat ini sepi setelah keributan luar biasa semalam," komentar Siska memecah keheningan.
"Nikmatilah kesunyian ini Siska, karena besok lusa kita akan kembali berperang melawan antrean manusia," jawab Rizky santai.
Mereka akhirnya tiba di tepi kolam Air Terjun Pelangi yang airnya masih memancarkan kilau warna-warni memukau.
Byurrr byurrr.
Rizky berjalan lebih dulu melompati bebatuan licin yang mengarah ke bagian belakang tirai air terjun.
Tap tap.
"Hati-hati Bos, batunya sangat licin karena lumut," peringat Siska dari belakang.
Rizky menahan tubuhnya agar tidak terpeleset dan berhasil mencapai batu datar di balik tirai air.
Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Siska melompat menyusulnya.
"Pegang tanganku erat-erat dan melompatlah di hitungan ketiga," pandu Rizky.
Siska meraih tangan Rizky dan melompat tepat saat Rizky menariknya dengan kuat.
Bruk.
Siska mendarat dengan selamat meskipun pakaiannya basah kuyup terkena cipratan air terjun yang deras.
"Nyalakan senter kepalamu sekarang Siska, kita sudah sampai di depan mulut gua," perintah Rizky melepaskan genggamannya.
Klik. Klik.
Dua sorot cahaya putih yang sangat terang langsung membelah kegelapan abadi di balik celah tebing batu tersebut.
Udara di depan mulut gua terasa sangat dingin dan berbau tanah basah yang sudah lama tidak tersentuh matahari.
Siska menyorotkan senternya ke arah dinding sebelah kiri tepat ke tempat ukiran aneh yang dia temukan tempo hari.
"Lihat Bos, ukiran lambang burung ini masih ada di sini," tunjuk Siska merinding.
Rizky mendekatkan wajahnya ke arah ukiran tersebut dan merabanya menggunakan sarung tangan kulit.
Permukaan batu itu terasa sangat halus di bagian lekukan ukirannya menandakan ini adalah buatan tangan manusia masa lalu.