NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — SENYUM YANG SAMA

Kehangatan fajar yang menyapu kompleks istal kerajaan masih tersisa di sudut-sudut lorong kayu. Kuda putih bernama Frost itu mendengus pelan, menikmati usapan lembut jemari Elian pada dahi halusnya.

Adrian masih berdiri kaku di samping anak itu. Tangan tegapnya yang bersandar di bahu kecil Elian terasa begitu alami, seolah posisi itu memang diciptakan khusus untuknya.

"Pangeran Adrian," panggil Elian mendadak, menatap ke atas dengan mata abu-abunya yang besar dan jernih. "Apakah kuda putih ini juga punya cerita seperti batu sungai milikku?"

Adrian menunduk, matanya melunak seketika. "Dia lahir di puncak Pegunungan Utara saat badai salju pertama. Ibunya adalah kuda perang terbaik milik kakekku. Orang-orang bilang, kuda yang lahir di tengah badai salju punya jiwa yang sangat keras kepala."

Elian mengerutkan keningnya, memiringkan kepalanya ke kanan—kebiasaan khas yang selalu berhasil menyentuh bagian terdalam dada Adrian.

"Keras kepala itu apa?" tanya Elian polos.

"Artinya..." Adrian menggantungkan kalimatnya sejenak, memikirkan penjelasan yang cocok untuk anak usia tujuh tahun. "Dia tidak suka diatur jika dia tahu dia benar. Dia selalu ingin berjalan di jalurnya sendiri, sama seperti..."

Adrian melirik ke arah Alena yang berdiri beberapa meter di depan mereka. "...sama seperti ibumu."

Elian terkikik riang, tawa nyaringnya yang lepas bergema memenuhi istal kayu yang sunyi. Anak itu menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya saat menahan tawa.

Melihat tawa polos itu, pertahanan kaku Pangeran Aveloria runtuh sepenuhnya. Tanpa disadarinya sendiri, sudut-sudut bibir Adrian yang biasanya mengatup rapat dan dingin perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis, tulus, dan teramat hangat terukir di wajah tampannya—senyuman langka yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun di istana ini selama tujuh tahun terakhir.

"Wah, Pangeran Adrian tersenyum!" seru Elian riang. "Bibi Mira bilang Pangeran di istana ini mukanya seperti batu!"

Alena yang mendengar itu hampir saja membelalak kaget dalam kepanikannya, sementara Adrian hanya menggelengkan kepala pelan, tawa halus terkekeh dari dadanya.

"Hei, hei! Siapa yang berani menyebut kakakku muka batu?"

Sebuah suara santai menyela momen tersebut. Pangeran Theodore melangkah masuk dari pintu samping istal, membawakan sebundel apel merah di dalam keranjang kecil. Pangeran Muda itu mengenakan kemeja katun longgar dan celana penunggang kuda, memancarkan aura tanpa beban yang sangat kontras dengan sang kakak.

Langkah Theo mendadak terhenti di tengah lorong istal. Matanya membelalak lebar, memandangi Adrian yang masih berdiri di samping Elian dengan sisa senyuman di wajahnya.

"Demi dewa-dewi Aveloria..." bisik Theo, menggosok matanya seolah tak mempercayai penglihatannya sendiri. "Henry... maksudku Adrian... kau baru saja tersenyum? Pada seorang anak kecil?"

Adrian seketika menegakkan kembali tubuhnya. Topeng ketenangan dan kedinginannya dipasang kembali secara instan, walau matanya tak sanggup menyembunyikan kehangatan yang baru saja pudar.

"Kau terlalu banyak bicara, Theo," ujar Adrian kaku, berdeham pelan.

Theo melangkah mendekat, meletakkan keranjang apelnya di atas pagar kayu. Ia menatap Adrian, lalu beralih menatap Elian yang sedang mengunyah sepotong apel yang diberikan Theo sebelumnya. Theo memperhatikan detail demi detail di antara mereka—cara berdiri, struktur garis rahang, hingga pendar abu-abu di mata mereka berdua.

"Luar biasa..." gumam Theo pelan, suaranya kehilangan nada bercandanya yang biasa, berganti menjadi ketakjuban yang murni. "Adrian, aku tahu aku sering mengabaikan urusan dewan... tapi aku tidak buta."

"Apa maksudmu?" tanya Adrian dingin, mengisyaratkan Gareth di luar untuk bersiap.

Theo menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap kakaknya dengan cermat. "Anak ini... cara dia tertawa saat kau bertingkah konyol tadi... senyumnya persis seperti senyumanmu saat kau masih berusia delapan tahun. Waktu Ayah memberimu pedang kayu pertamamu."

Kata-kata Theo menghantam dada Adrian bagai dentuman meriam.

Alena yang berdiri di kejauhan dengan cepat melangkah maju, memotong percakapan yang kian berbahaya itu. "Pangeran Theodore, Pangeran Adrian... maafkan kami. Elian harus kembali ke paviliun sekarang untuk sarapan dan minum obatnya."

Alena meraih tangan Elian, menarik anak itu dengan cepat ke balik tubuhnya. Elian melambaikan tangannya riang ke arah Adrian dan Theo sebelum akhirnya dibimbing berjalan cepat meninggalkan kompleks istal oleh ibunya.

Theo menatap punggung Alena dan Elian yang menjauh, lalu menepuk bahu Adrian pelan. "Dia sangat mirip denganmu, Brother. Bahkan orang buta pun bisa melihat darah Valerian mengalir di tubuh anak itu. Kau tidak bisa terus berpura-pura tidak menyadarinya."

Theo memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri lorong istal, meninggalkan Adrian berdiri sendirian dalam keheningan yang membeku.

Malam harinya, di dalam kamar mandi pribadi Kediaman Putra Mahkota.

Asap tipis membubung dari bak air hangat yang terbuat dari batu pualam hitam. Sinar lilin lebah memantulkan bayangan samar-samar di atas cermin perak raksasa yang tergantung di dinding batu.

Adrian berdiri di hadapan cermin tersebut. Pria itu baru saja membasuh wajahnya, helai rambut hitamnya yang basah menempel di pelipis dan keningnya. Air menetes perlahan melintasi garis rahangnya yang tegas, jatuh ke atas dada tegapnya yang bertelanjang.

Adrian menatap bayangannya sendiri di dalam cermin.

Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke permukaan cermin perak yang jernih. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian tidak melihat seorang Putra Mahkota yang siap memimpin perang, melainkan mencari cetakan wajah masa kecilnya di balik pahatan kaku pria dewasa tersebut.

Ia mengingat cara Elian tertawa di istal tadi pagi.

Ia mengingat lekukan di sudut bibir anak itu saat tersenyum.

Ia mengingat kerutan halus di atas hidungnya saat cemberut.

Adrian mengangkat tangan kanannya, menyentuh cermin tepat di bagian bayangan matanya sendiri. Warna abu-abu yang pekat, dingin, namun menyimpan kehangatan yang dalam jika tersentuh oleh orang yang tepat. Warna mata yang sama persis dengan yang dilihatnya pada Elian.

“Dia sangat mirip denganmu...” kata-kata Theo bergema berulang kali di dalam otaknya.

Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kebenaran itu tidak lagi sekadar dugaan, kecurigaan, atau perhitungan akademis berdasarkan waktu kepergian Alena. Kebenaran itu kini telah mengkristal menjadi kepastian mutlak yang memutus seluruh keraguannya.

Elian adalah anaknya. Darah dagingnya yang lahir dari wanita yang paling dicintainya.

"Tujuh tahun..." bisik Adrian pada bayangannya di cermin. Suaranya pecah oleh gelombang kepedihan dan amarah yang dahsyat pada takdir yang telah mencuri masa-masa awal kehidupan anaknya. "Tujuh tahun kau tumbuh tanpa aku, Elian."

Adrian memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa panas yang membakar matanya. Di balik kebenaran yang kini benderang, Adrian menyadari konsekuensi mematikan yang bersiap menghantam mereka. Jika Theo yang santai saja sanggup melihat kemiripan yang nyata itu... maka Duke Darius Ardent dan Lady Seraphina tentu telah menyadarinya pula.

Masa-masa penyelidikan diam-diam telah usai. Adrian tahu, ia harus segera bertindak sebelum orang-orang Ardent mengambil langkah pertama untuk menyingkirkan anak dan wanita yang menjadi pusat dari seluruh jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!