"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 — Resmi Menjadi Kepala IGD
『Hadiah Level Enam dibuka.』
Surya berdiri sendirian di ruang ganti pukul lima pagi ketika puluhan kartu cahaya memenuhi pandangannya.
『Poin Atribut +50. Paket Lengkap Level Satu sampai Lima ×5. Super Patologi ×10.』
Lima kotak emas tersusun dalam inventaris. Sistem menjelaskan bahwa setiap paket berisi satu set benda konsumsi yang pernah terbuka sebelum Level Enam. Semuanya tetap tersegel dan tidak boleh digunakan tanpa memilih isi secara sadar.
Surya menghela napas.
"Kamu bisa memberi hadiah tanpa membuat ruang ganti terlihat seperti toko gim."
『Bisa. Tapi tidak dramatis.』
Panel kedua muncul.
Dua puluh lambang Pahala Super berputar mengelilingi angka enam. Sistem memberikannya sebagai kompensasi evolusi karena Surya melewati tahap yang menghancurkan dua Inang sebelumnya tanpa menyalahgunakan kewenangan.
Setiap lambang pecah menjadi cahaya.
『Bonus evolusi: Poin Atribut +100. Super Dopamin berubah menjadi akses tanpa batas. Batas penggunaan klinis dan larangan penyalahgunaan tetap berlaku.』
Surya menatap jumlah poin yang belum dialokasikan: dua ratus delapan belas.
Kekuatan itu cukup untuk mengubah banyak cabang kemampuan. Dia tetap tidak menyentuh satu pun.
Hari itu bukan hari untuk bereksperimen.
Aula utama RSUD Dr. Soetomo dipenuhi dokter, perawat, tenaga administrasi, dan perwakilan komite medik. Pak Bambang membacakan keputusan akhir setelah masa penilaian singkat Surya sebagai pelaksana tugas.
"Mulai hari ini, dr. Surya Pratama resmi menjabat Kepala Instalasi Gawat Darurat."
Tepuk tangan meledak.
Rizki bersiul sampai Bu Ratna menepuk belakang kepalanya. Bayu bertepuk tangan tiga kali, lalu memasukkan kedua tangan ke saku seolah itu sudah merupakan ekspresi berlebihan.
Pak Hendra memasangkan pin jabatan pada jas Surya.
"Jangan senang dulu," bisiknya. "Sekarang kalau toilet mampet saat shift malam, yang dicari kepala IGD."
Surya menahan tawa. "Bapak sedang menyerahkan warisan atau kutukan?"
"Keduanya."
Dalam pidato pertamanya, Surya tidak menjanjikan keajaiban.
Dia menjanjikan waktu respons yang terukur, rapat kematian tanpa budaya menutupi kesalahan, perlindungan bagi staf yang melaporkan bahaya, dan sistem triase yang tidak berubah karena kekayaan pasien.
"Saya tidak akan menjadi dokter terbaik di setiap ruangan," katanya. "Tugas saya memastikan dokter yang tepat tiba sebelum waktu pasien habis. Kalau saya salah, laporkan dengan bukti. Kalau saya benar, tetap periksa lagi."
Kali ini tepuk tangan datang lebih lambat, tetapi lebih berat.
Seusai acara, Anindya membawanya ke taman pendidikan di belakang fakultas. Sebatang ginkgo yang ditanam sebagai koleksi botani menaungi bangku kayu. Daunnya belum menguning, tetapi cahaya pagi membuat tepinya tampak keemasan.
"Kepala IGD termuda," kata Anindya. "Kontrak satu setengah miliar. Level baru yang tidak boleh kamu jelaskan kepada siapa pun. Apa yang kamu rasakan?"
"Lapar."
"Jawaban yang sangat sederhana."
Surya menatapnya. "Aku memang sederhana. Rumah kecil cukup. Nasi hangat cukup. Kamu pulang dan tidak menghilang juga cukup."
Wajah Anindya melembut.
"Aku suka Surya yang apa adanya. Jabatan, mobil, dan rekor operasi hanya tambahan."
"Bagian tampannya boleh dipertimbangkan."
"Itu belum lolos telaah sejawat."
Surya tertawa. Anindya menarik kerah kemejanya dan menciumnya di bawah bayangan daun ginkgo. Tidak ada penonton, tidak ada kamera, dan tidak ada panel Pahala.
Hanya dua orang yang memilih tetap tinggal.
Ponsel Surya berdering sebelum mereka sempat duduk.
"Kepala IGD," kata Rizki dari seberang. "Kalau sudah selesai meneliti botani, ada lengan putus dan pasien hampir kehilangan kaki."
Korban adalah pekerja pabrik yang tersangkut mesin pemotong. Lengan kirinya terputus di bawah siku, dibawa dalam kantong bersih yang diletakkan di atas kantong es. Kaki kanan masih menempel, tetapi dingin, pucat, dan tanpa nadi distal.
"Waktu cedera?"
"Tujuh puluh menit lalu," jawab petugas PSC 119.
Surya memeriksa label, suhu penyimpanan, dan kondisi bagian amputasi. "Aktifkan tim replantasi. Hubungi bedah vaskular, ortopedi, anestesi, dan bank darah. Jangan taruh jaringan langsung di es."
Prof. Guntur yang kebetulan berada di rumah sakit masuk ke ruang observasi. "Dua ekstremitas dalam satu operasi?"
"Satu replantasi, satu revaskularisasi. Kita bagi tim."
Di kaki kanan, angiografi menunjukkan trombus panjang dengan robekan intima pada arteri femoralis superfisial. Surya membuat arteriotomi kecil, memasukkan kateter embolektomi, lalu menarik bekuan gelap sepanjang beberapa sentimeter.
Darah kembali mengisi pembuluh distal.
"Nadi dorsalis pedis muncul," kata residen vaskular.
Pada meja kedua, tulang lengan distabilkan lebih dahulu. Tendon ditandai. Arteri, vena, dan saraf dipersiapkan di bawah pembesaran.
Surya berpindah setelah aliran kaki aman. Dia menyambung arteri lengan dengan jahitan mikro, lalu vena. Jari-jari yang kelabu perlahan memerah.
Tidak ada sorak di kamar operasi.
Masih ada tendon, saraf, risiko reperfusi, fasciotomi, infeksi, dan rehabilitasi berbulan-bulan. Surya menjelaskan semuanya kepada keluarga tanpa menjanjikan fungsi sempurna.
Enam jam kemudian, Doppler menangkap aliran di pergelangan. Jaringan tetap hangat. Tim menutup luka dengan rencana operasi tahap berikutnya.
Ayah pasien menangis sambil menundukkan kepala.
"Terima kasih, Dok. Anak saya masih punya tangan."
"Dia punya peluang mempertahankannya," koreksi Surya lembut. "Perjalanannya belum selesai."
Sebagai kepala IGD, Surya tidak boleh berhenti pada keberhasilan operasi. Dia memimpin konferensi singkat sebelum pasien dipindahkan. Risiko hiperkalemia reperfusi, sindrom kompartemen, trombosis ulang, infeksi, dan kegagalan replantasi dicatat satu per satu. Jadwal pemeriksaan warna, suhu, pengisian kapiler, dan sinyal Doppler ditempel di sisi ranjang.
"Kalau satu parameter berubah, jangan menunggu saya," katanya. "Hubungi tim replantasi dan vaskular bersamaan."
Perawat penanggung jawab mengulang instruksi dengan metode read-back. Dokter jaga malam menandatangani serah terima. Rehabilitasi medik dan psikologi klinis dijadwalkan menemui keluarga keesokan pagi.
Pak Hendra mengamati dari pintu.
"Dulu kamu akan duduk di samping pasien sampai pagi karena takut orang lain salah."
"Sekarang saya dibayar untuk membuat sistem yang tetap bekerja saat saya tidak ada."
"Nah. Kursinya mulai cocok."
Surya menatap tangannya. Kecepatan bisa menyelamatkan satu pasien. Kepemimpinan yang benar bisa menyelamatkan pasien yang bahkan belum datang.
Panel sistem bergetar.
Nilai Pahala tidak bertambah. Pada Level Enam, dua puluh Pahala Super tadi sudah melebur menjadi hadiah evolusi dan tidak dapat diputar ulang.
Sebagai gantinya, satu token Misi Pemicu menyala sendiri.
『Misi bintang tiga akan dibuka dalam dua puluh empat jam. Nilai sasaran: Rp50.000.000.000.』
Surya membaca angka nolnya dua kali.
"Lima puluh miliar untuk apa?"
『Dana pengobatan pasien. Batas waktu setelah misi diterima: dua puluh empat jam.』
"Kalau gagal?"
Sistem diam beberapa detik.
『Inang akan kehilangan jalur hadiah khusus menuju Level Tujuh.』
Di balik kaca ICU, tangan pasien yang baru disambung terbaring diam dan hangat.
Monitor aliran menunjukkan gelombang stabil hingga ujung jari.
Surya menutup panel.
Ujian sebenarnya baru dimulai.