Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Pasar Atom setelah maghrib seperti perut kota yang belum kenyang.
Lampu toko menyala rapat. Suara penjual menawarkan diskon bertabrakan dengan musik dari kios ponsel, bunyi plastik kresek, langkah orang di eskalator, dan panggilan anak kecil yang kehilangan ibunya sebentar lalu ketemu lagi. Bau bakwan, parfum murah, kain baru, dan hujan yang tersisa di jaket orang-orang bercampur sampai Nana merasa kembali ke dunia yang ia kenal.
Di keramaian, ia bisa bernapas.
Irwan berjalan dua kios di belakangnya. Steven tidak terlihat.
Itu yang membuat Nana lebih gelisah.
Sebelum turun dari mobil, Irwan hanya berkata, "Jangan cari Tuan Steven. Kalau kau bisa melihatnya, berarti orang lain juga bisa."
"Berarti dia ada?"
"Fokus pada target."
Di parkiran sebelum masuk, Irwan memasangkan alat kecil di telinga Nana. Bentuknya seperti earbud murah, tapi suaranya lebih jernih daripada ponsel bekas yang pernah ia pakai.
"Kalau aku bilang mundur, kau mundur," kata Irwan. "Kalau aku bilang jatuhkan, barang apa pun yang kau pegang harus jatuh. Kalau komunikasi putus, jalan ke pintu belakang toko pakaian lantai dasar. Jangan ke pintu utama."
"Kenapa?"
"Pintu utama paling mudah diawasi."
Steven berdiri di sisi mobil, setengah tertutup bayangan pilar parkir. Ia tidak memberi banyak instruksi. Hanya menyerahkan karet rambut hitam kepada Nana.
"Ikat di pergelangan tangan kanan."
"Untuk apa?"
"Kalau kau harus membuang kartu itu, selipkan di dalam karet. Orang akan mencari di saku, bukan di tangan."
Nana menatap karet itu. Murah, biasa, seperti barang yang bisa dibeli lima ribu rupiah di kios mana pun.
Justru karena itu, benda itu berguna.
"Kau sering memakai trik orang miskin," katanya.
Steven membalas datar, "Orang kaya yang pintar belajar dari orang miskin yang selamat."
Target itu bernama tidak penting, kata Steven. Pria berjaket cokelat, tinggi sedang, selalu mengecek jam tangan, membawa amplop putih, dan punya kebiasaan menyentuh saku kanan celana sebelum bertukar barang. Kartu memori kemungkinan bukan di amplop, melainkan di saku koin kecil atau belakang casing ponsel.
"Orang yang membawa barang penting jarang menaruhnya di tempat yang ingin dilihat orang," kata Steven tadi.
Nana ingin membalas bahwa orang miskin sudah tahu itu tanpa perlu papan tulis.
Sekarang ia berdiri di depan kios aksesori rambut, pura-pura memilih jepit murah. Dari cermin kecil yang tergantung di tiang, ia melihat pria berjaket cokelat muncul dekat eskalator turun.
Ia mengecek jam tangan.
Sekali.
Lalu menyentuh saku kanan celana.
Nana meletakkan jepit rambut.
"Tidak jadi, Ci," katanya kepada pemilik kios.
Ia bergerak mengikuti arus orang, tidak terlalu cepat. Kalau terlalu cepat, orang curiga. Kalau terlalu lambat, target hilang. Ia menjaga jarak tiga toko, lalu dua, lalu membiarkan rombongan ibu-ibu dengan kantong belanja memotong di depannya.
Pria itu berhenti dekat kios jam.
Seorang perempuan berblazer biru mendekat dari arah berlawanan. Rambutnya rapi, tasnya kecil, sepatunya terlalu bersih untuk pasar yang lantainya basah di beberapa bagian. Mereka tidak saling menyapa.
Perempuan itu menjatuhkan struk belanja.
Pria berjaket cokelat menunduk mengambilnya.
Tangan mereka bertemu setengah detik.
Amplop putih berpindah.
Nana melihatnya, tapi tidak bergerak.
Amplop itu umpan.
Dua pria lain berdiri dekat pilar eskalator. Mereka tidak melihat kios, tidak melihat barang, hanya melihat arus orang yang melewati target. Satu memegang ponsel di telinga, tetapi bibirnya tidak bergerak. Yang lain berpura-pura membaca brosur. Mereka penjaga, bukan pembeli.
Kalau Nana salah mengambil waktu, ia bukan hanya dikejar satu orang saja.
Pria itu menyentuh saku kanan lagi setelah perempuan itu pergi.
Di telinga kecil yang dipasang Irwan, suara Irwan terdengar pelan, "Jangan ambil kalau belum yakin."
Nana bergumam seolah bicara pada diri sendiri, "Aku tahu."
"Jangan bicara kalau tidak perlu."
"Pak Irwan juga bicara."
Hening pendek. Mungkin Irwan menahan kesal.
Pria berjaket cokelat mulai berjalan menuju pintu samping yang mengarah ke parkiran. Keramaian menipis di sana. Kalau ia sampai lorong parkir, kesempatan Nana habis.
Nana mempercepat langkah.
Di depan kios mainan, seorang anak kecil memegang balon foil besar. Nana menyentuh tali balon itu sedikit saat lewat, cukup membuat balon miring dan menutup pandangan pria berjaket cokelat selama satu detik. Anak itu tertawa, ibunya menegur, dan arus orang bergeser.
Nana masuk ke celah itu.
Bahu kirinya menyenggol lengan pria tersebut.
"Maaf," ucapnya cepat.
Tangan kanannya sudah masuk dan keluar dari saku koin kecil di celana pria itu.
Kosong.
Dingin menyentuh punggungnya.
Saku kanan bukan tempatnya.
Pria itu tidak berhenti. Ia hanya melirik sekilas, lalu terus berjalan.
Nana mengikuti setengah langkah di belakang, berpura-pura sibuk membetulkan tali sandal. Matanya turun. Ada tonjolan tipis di bawah casing ponsel yang diselipkan di kantong jaket bagian dalam. Bukan kartu memori biasa. Mungkin kartu kecil dalam adaptor.
Lebih sulit.
Lebih berbahaya.
Pintu parkiran semakin dekat.
"Nana, mundur kalau tidak bisa," suara Irwan masuk.
Nana tidak menjawab.
Ia melihat seorang pegawai membawa nampan minuman plastik dari arah kios es. Nana mengambil satu gelas paling pinggir saat berpapasan, mengganti berat nampan dengan brosur yang ia ambil dari meja promosi. Pegawai itu tidak sadar.
Tiga langkah.
Dua langkah.
Nana tersandung pura-pura, gelas es teh tumpah tepat ke bagian depan jaket cokelat pria itu.
"Aduh! Maaf, Pak! Maaf!"
Pria itu mengumpat, mundur, dan membuka jaket refleks agar bajunya tidak semakin basah.
Pada saat jaket terbuka, Nana masuk terlalu dekat, tangan kirinya memegang tisu dari saku, tangan kanannya menyentuh casing ponsel. Ia tidak mengambil ponselnya. Terlalu besar. Ia hanya menekan bagian bawah casing, menggeser adaptor tipis keluar, menjepitnya di antara jari manis dan kelingking.
Satu detik.
Selesai.
"Dasar ceroboh!" bentak pria itu.
Nana menunduk berkali-kali. "Maaf, Pak, saya ganti bajunya. Saya tidak sengaja."
Pria itu menepis tangannya. "Pergi!"
Nana pergi.
Jantungnya tidak langsung percaya bahwa ia berhasil.
Ia masuk ke toko pakaian terdekat, berpura-pura melihat rak kaus. Di antara gantungan baju, ia memindahkan adaptor kecil ke lipatan kain di pergelangan jaketnya. Irwan seharusnya mengambil alih setelah itu.
"Pintu belakang toko," suara Irwan terdengar. "Keluar ke lorong servis. Aku tunggu."
Nana bergerak.
Baru tiga langkah, tangan seseorang mencengkeram pergelangan tangannya.
Pria berjaket cokelat berdiri di belakangnya.
Wajahnya tidak lagi kesal karena minuman tumpah. Matanya tajam, dingin, dan sangat sadar.
"Kau," katanya pelan.
Nana menahan napas.
"Kembalikan."
Nana menatap tangannya yang dicengkeram, lalu menatap pintu belakang yang tinggal beberapa meter.
Di telinganya, suara Irwan mendadak hilang.