NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Bayangan Kecil

"Rahasia apa, Jay?"

Jayden langsung memeluk gambar itu lebih rapat.

Gerakannya kecil, tetapi cukup untuk membuat Keira menahan napas. Di mata anak lima tahun, rahasia sering sederhana. Di rumah seperti Kediaman Ciu, rahasia selalu punya harga.

Melissa melangkah masuk dengan senyum yang tidak berubah. "Mama boleh lihat?"

Jayden menggeleng keras.

"Nggak."

Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan kaki. Namun penolakannya lebih tegas daripada rengekan biasanya.

Melissa berhenti.

Untuk sesaat, udara di kamar bermain terasa tipis. Keira tahu posisinya. Ia hanya pengasuh. Seorang ibu punya hak atas anaknya. Seorang anak punya rasa aman atas sesuatu yang baru ia berani buat. Di antara dua hal itu, langkah yang salah bisa merusak kepercayaan yang baru tumbuh.

Keira menunduk sedikit. "Nyonya Ketiga, Jay baru selesai menggambar. Dia belum siap menunjukkan. Kalau Nyonya berkenan, saya akan minta Jay menyimpannya dulu, lalu nanti dia sendiri yang menentukan kapan mau menunjukkan."

Melissa menatap Keira.

Lama.

Senyumnya masih ada, tetapi matanya tidak tersenyum.

"Kau mengajarinya menyembunyikan sesuatu dariku?"

Jayden langsung mengangkat kepala. "Bukan! Ini punya aku."

Suara kecil itu membuat Melissa berkedip.

Mungkin bukan karena kata-katanya, melainkan karena Jayden jarang berkata "punya aku" tanpa menuntut orang lain menyerah. Kali ini ia tidak memerintah. Ia hanya memegang sesuatu yang ia buat sendiri.

Keira berkata pelan, "Saya mengajarinya meminta izin sebelum barangnya dilihat orang lain."

Melissa mengalihkan pandangan pada gambar yang masih menempel di dada Jayden. "Barangnya?"

"Karyanya, Nyonya."

Jayden mengangguk cepat. "Karyaku."

Melissa menarik napas kecil.

Di wajahnya lewat sesuatu yang sulit diberi nama. Terluka, mungkin. Heran. Atau rasa tidak nyaman seorang ibu yang mendapati anaknya mempercayai orang lain lebih dulu untuk hal yang paling lembut.

Akhirnya ia tersenyum lagi.

"Baik. Simpan dulu."

Jayden menatapnya curiga. "Mama nggak ambil?"

"Tidak."

"Janji?"

Melissa terdiam setengah detik, lalu mengangguk. "Janji."

Baru setelah itu Jayden bersembunyi di belakang Keira, masih memeluk gambarnya.

Keira merasakan punggung kecil itu menyentuh lututnya. Hangat. Percaya. Dan justru karena itu, hatinya terasa berat.

Sejak hari itu, Jayden menjadi bayangan kecilnya.

Kalau Keira berjalan menuju dapur staf untuk mengambil air minum, ada langkah pendek yang mengikuti di belakang.

"Ci Keira, mau ke mana?"

"Pantry."

"Aku ikut."

"Tidak perlu."

"Aku haus juga."

Saat Keira membawa catatan bayi Stephanie ke ruang administrasi, Jayden muncul di ujung koridor dengan mobil merah di tangan.

"Ci Keira kerja?"

"Iya."

"Aku tunggu."

"Jay tunggu di kamar bermain."

"Di sini aja."

Ia lalu duduk di lantai koridor, membuat dua staf lewat dengan wajah bingung karena Tuan Muda Kecil duduk seperti anak kampung menunggu penjual bakso.

Keira akhirnya harus berjongkok di depannya. "Kalau Jay duduk di sini, orang bisa tersandung. Kita pilih tempat tunggu yang aman."

Jayden berpikir, lalu menunjuk kursi dekat dinding. "Itu aman?"

"Aman."

"Oke."

Perubahan kecil itu terjadi satu per satu.

Jayden tidak lagi berteriak saat sendoknya jatuh. Ia mengangkatnya, lalu menatap Keira.

"Ambil baru?"

"Iya. Dan bilang apa ke staf?"

Jayden menoleh pada pelayan yang membawa sendok bersih. Bibirnya maju sedikit, tidak rela, tetapi akhirnya ia bergumam, "Terima kasih."

Pelayan itu tampak hampir menjatuhkan nampan.

Pada makan siang berikutnya, Jayden tidak melempar brokoli. Ia tetap tidak memakannya. Ia menaruhnya di pinggir piring dengan wajah jijik.

"Brokoli jahat," katanya.

"Brokoli tidak punya rencana jahat," jawab Keira.

"Dia hijau."

"Daun juga hijau."

"Daun boleh. Brokoli nggak."

Keira tidak memaksa. "Baik. Hari ini cukup taruh di piring. Besok kita coba cium baunya dulu."

Jayden menatap brokoli seolah benda itu musuh keluarga, tetapi ia tidak melempar.

Di ujung ruang makan kecil, Melissa melihat semua itu.

Ia tidak selalu mendekat. Kadang hanya berdiri sebentar, menerima laporan dari pengasuh tua, lalu pergi. Namun Keira mulai menyadari, tatapan Melissa berubah.

Dulu, Melissa melihat Keira seperti melihat alat yang mungkin berguna.

Sekarang, tatapan itu lebih tajam.

Alat yang terlalu disukai anak bisa berubah menjadi risiko.

Sore itu, setelah Jayden tertidur sebentar di sofa ruang bermain, Bi Sari memanggil Keira ke lorong samping.

"Suster Keira."

"Ya, Bi?"

Bi Sari melirik ke arah ruang bermain, memastikan Jayden masih tidur.

"Jangan terlalu dekat dengan anak tuan. Nanti susah pisahnya."

Keira sudah menduga kalimat itu akan datang. Tetap saja, saat mendengarnya langsung, dadanya terasa turun sedikit.

"Saya paham, Bi."

"Paham saja tidak cukup." Suara Bi Sari rendah, tapi tidak kasar. "Di rumah ini, yang mengasuh bisa diganti. Yang punya anak tetap keluarga. Kalau batasnya kabur, yang terluka bukan hanya Suster Keira."

Keira menatap lantai bersih di bawah sepatunya.

Ia tahu.

Ia terlalu tahu.

Ia bukan ibu Jayden. Bukan tante. Bukan keluarga. Ia pegawai yang baru resmi diterima, dengan kontrak, gaji, dan kewajiban yang bisa dihentikan suatu hari.

Namun bagaimana caranya berkata kepada anak yang akhirnya belajar mengucapkan terima kasih, "Jangan terlalu percaya padaku"?

"Saya akan hati-hati," kata Keira.

Bi Sari menatapnya beberapa detik. Mungkin ia tahu jawaban itu benar, tetapi tidak cukup.

"Hati-hati juga kadang tidak menyelamatkan hati."

Malamnya, Jayden menolak tidur sebelum Keira datang mengecek kamar.

Ia sudah memakai piyama, rambutnya masih basah sedikit setelah mandi. Di atas meja kecil, mobil merah dan map rahasia terletak berdampingan.

"Ci Keira," panggilnya saat Keira hendak mematikan lampu kecil.

"Ya, Jay?"

"Besok kamu datang lagi?"

"Datang. Jadwal kita sore."

"Lusa?"

"Kalau tidak ada perubahan, iya."

Jayden memeluk guling kecilnya.

"Kalau minggu depan?"

Keira tersenyum tipis. "Jay mau menanyakan sampai bulan depan juga?"

Ia tidak tertawa.

Matanya menatap Keira dengan keseriusan yang terlalu besar untuk wajah kecilnya.

"Ci Keira, kalau kamu pergi, aku ikut."

Senyum Keira berhenti.

Di koridor luar, rumah besar itu tetap sunyi dan rapi.

Keira berdiri di samping ranjang kecil Jayden, tiba-tiba tidak tahu jawaban mana yang tidak akan melukai anak itu.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!