Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Panti Asuhan Harapan Baru berdiri di ujung gang yang lebih sempit daripada ingatan Rayhan.
Ia pernah datang ke tempat itu ketika menemukan Genki kembali ke garis keluarga Harto. Waktu itu, semua perhatiannya tertuju pada anak kecil bermata jernih yang duduk di bangku kayu, memeluk buntalan lusuh dan menolak dipanggil pulang sebelum tahu siapa mamanya. Rayhan ingat bau lantai yang baru dipel, suara anak-anak mengaji dari ruangan belakang, dan tangan Genki yang menempel kuat di lengan bajunya.
Hari ini, tempat yang sama terasa berbeda.
Lebih tajam. Lebih dingin.
Kepala panti yang baru, Ibu Ratna, menerima Rayhan di ruang arsip kecil. Perempuan itu tahu siapa Rayhan, tetapi tidak banyak bertanya. Gio sudah mengurus surat permintaan pemeriksaan arsip lama melalui kuasa hukum, lengkap dengan alasan perlindungan anak dan dugaan pemalsuan data.
"Kami tidak punya banyak berkas fisik yang lengkap, Pak," kata Ibu Ratna sambil membuka lemari besi kecil. "Panti pernah kebanjiran. Tapi untuk anak yang kemudian diambil keluarga besar, biasanya ada salinan khusus."
Rayhan berdiri di dekat meja. "Saya perlu semua yang berkaitan dengan Genki."
Ibu Ratna mengeluarkan map plastik bening. Di sudutnya tertulis nama lama yang dipakai panti sebelum keluarga Harto mengurus administrasi penuh.
Bayi laki-laki, ditemukan di depan gerbang.
Rayhan membaca kalimat itu tanpa berkedip.
Gio memakai sarung tangan dan membuka lembar pertama. Ada foto bayi kecil dibungkus kain biru muda. Wajahnya merah, mata tertutup rapat, satu tangan mengepal dekat pipi. Di samping foto, ada catatan tanggal ditemukan, perkiraan usia, dan keterangan barang bawaan.
"Kain, botol susu kosong, satu kertas kecil," baca Gio pelan.
"Kertas kecilnya masih ada?"
Ibu Ratna menggeleng. "Aslinya sudah rapuh. Tapi ada fotonya."
Ia menyerahkan salinan buram.
Rayhan mengambilnya.
Tulisan di foto itu tidak rapi, seperti ditulis tergesa-gesa. Namun tiga hal terlihat jelas: tanggal lahir, jam lahir, dan satu kata yang membuat darah Rayhan seolah berhenti.
Genki.
Nama itu sudah ada di kertas sebelum keluarga Harto menemukannya.
Gio mengangkat wajah. "Pak..."
Rayhan tidak menjawab.
Ia menatap tanggal itu. Tanggal yang selama ini dipakai sebagai perkiraan administrasi ternyata bukan perkiraan. Ada orang yang menuliskannya dengan sengaja. Jam lahirnya pun ada, terlalu spesifik untuk bayi yang katanya ditemukan tanpa identitas.
"Siapa yang menerima bayi malam itu?" tanya Rayhan.
Ibu Ratna membuka buku tamu lama. "Petugas jaga namanya Pak Leman. Sudah meninggal dua tahun lalu. Tapi ada catatan dari beliau. Katanya bayi ditinggalkan sekitar subuh oleh seseorang memakai jaket ojek online. Kamera depan panti saat itu rusak."
"Terlalu rapi," kata Gio.
Rayhan meletakkan salinan foto di meja dengan hati-hati. "Bukan rusak. Dibuat tidak berguna."
Ibu Ratna tampak tidak nyaman. "Saya tidak berani menyimpulkan, Pak."
"Tidak perlu. Kami yang akan menyimpulkan setelah bukti cukup."
Di luar ruang arsip, suara anak kecil tertawa terdengar dari halaman. Rayhan menoleh sebentar. Seorang bocah laki-laki berlari mengejar bola plastik, lalu jatuh duduk dan langsung bangun lagi. Ia teringat Genki saat pertama kali dibawa pulang ke Vila Biru, tidak menangis, tetapi setiap malam tidur dengan buntalan di samping bantal. Anak itu seperti sudah tahu sejak awal bahwa rumah bisa hilang kalau ia lengah.
Gio menggeser lembar berikutnya. "Ada catatan donasi anonim tiga hari setelah bayi masuk."
"Dari siapa?"
"Tunai. Tapi jumlahnya besar untuk panti ini. Seratus juta rupiah. Keterangan: untuk perawatan bayi laki-laki yang baru datang."
Rayhan menatap angka itu.
Orang yang membuang Genki tidak membuangnya seperti orang panik. Ia memastikan panti merawatnya. Ia memberi tanggal lahir. Ia memberi nama. Ia memastikan jejak cukup ada agar anak itu bisa ditemukan, tetapi tidak cukup terang untuk langsung mengarah ke pelaku.
Itu bukan belas kasihan. Itu pengaturan.
"Ada tanda tangan penerima?"
"Pak Leman. Saksi: Rina."
Nama itu membuat Gio menoleh cepat.
"Rina yang sama dari klinik?"
Ibu Ratna mengernyit. "Saya tidak tahu. Ini hanya nama depan."
Rayhan menyimpan salinan dengan rahang mengeras. Jika Rina dari klinik pernah bersinggungan dengan panti, maka jalur bayi dari tubuh Keira ke Panti Asuhan Harapan Baru mungkin tidak sepanjang yang mereka kira. Ada tangan yang sama memindahkan informasi, menutup mulut, lalu meninggalkan jejak kecil seperti sengaja menunggu seseorang cukup kuat untuk membukanya.
Ponsel Rayhan bergetar.
Keira mengirim foto Genki tidur siang, plester bintang masih menempel di lutut. Di bawahnya, ia menulis:
Kei: Pasien kecil akhirnya kalah juga. Kamu sudah tidur?
Rayhan menatap kata pasien kecil. Ia hampir bisa mendengar suara Genki mengeluh manja, "Lutut Genki rusak." Anak itu tidak tahu bahwa dulu, ketika tubuhnya masih bayi merah, seseorang menuliskan namanya di atas kertas kecil dan meninggalkannya di depan gerbang.
Rayhan mengetik balasan.
Rayhan: Belum. Sebentar lagi.
Ia berhenti, lalu menambahkan:
Rayhan: Peluk Genki sekali untukku.
Balasan Keira datang beberapa detik kemudian.
Kei: Sudah. Dia tidur sambil bilang Papa janji tidur di kasur, bukan sofa.
Rayhan memejamkan mata sebentar. Hangat itu membuat bukti di depannya terasa semakin menyakitkan.
"Pak," Gio berkata pelan, "kalau tanggal dan jam lahir ini benar, kita bisa cocokkan dengan arsip persalinan. Tapi..."
"Tapi belum cukup untuk memberi tahu Keira."
"Iya."
Rayhan membuka mata. "Kita tidak akan mengambil kesimpulan hanya karena hati kita ingin cepat selesai."
Gio mengangguk. "Saya minta tim cari catatan kelahiran di Bogor dan Puncak di tanggal itu. Juga telusuri donasi tunai seratus juta."
"Dan cari hubungan Rina dengan Pak Leman."
"Baik, Pak."
Ibu Ratna menyerahkan satu amplop tambahan. "Ini salinan foto barang bawaan lain. Saya pikir Bapak perlu lihat."
Di dalamnya ada gambar kain biru muda yang tadi membungkus bayi. Di sudut kain, terlihat sulaman kecil berbentuk awan. Benangnya putih, tidak rata, seperti dikerjakan tangan sendiri.
Rayhan pernah melihat sulaman seperti itu.
Di rumah Keira, pada saputangan lama yang ia simpan di kotak jahit kecil, ada bentuk awan yang sama. Tidak rapi, tetapi lembut. Keira pernah berkata sambil malu bahwa itu latihan menyulam dari masa remaja, satu-satunya keterampilan rumah yang ia pelajari karena dulu sering diminta memperbaiki barang Kiara.
Rayhan menatap foto kain itu lama.
Belum cukup. Ia mengingatkan dirinya lagi.
Belum cukup untuk mengatakan kepada Keira bahwa bayi di foto itu mungkin anak yang dicari tubuhnya selama empat tahun dalam mimpi buruk.
Tetapi cukup untuk membuatnya tahu bahwa orang yang membawa Genki ke panti tahu lebih banyak daripada sekadar tempat meninggalkan bayi.
Orang itu tahu tanggal lahirnya.
Tahu jam lahirnya.
Tahu namanya.
Dan mungkin tahu siapa ibunya.
Ketika Rayhan keluar dari Panti Asuhan Harapan Baru, langit Jakarta mulai gelap oleh awan sore. Gio berjalan di sampingnya, membawa map salinan dengan dua tangan seperti membawa benda yang bisa meledak.
"Pak, setelah ini?"
Rayhan masuk ke mobil. Di layar ponselnya, foto Genki tidur masih terbuka.
"Setelah ini," katanya, suara rendah dan dingin, "kita cari orang yang cukup kejam untuk menulis nama seorang bayi, lalu meninggalkannya seolah ia tidak punya siapa-siapa."