Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Nama SD Lab Cendana membuat Cindy yang baru hendak keluar berhenti di ambang pintu.
"Sekolah itu di bawah Universitas Cendana Raya, kan?" tanyanya.
Cynthia menatap layar ponsel. "Ya. Kantin sekolahnya dikelola vendor luar. Nama pemilik operasionalnya Herman Gozali."
Suparti mengingat wajah laki-laki yang disebut sebagai pelaksana bayaran. Ia belum pernah melihatnya dari dekat, tetapi bayangan orang yang disuruh melukainya kini terhubung dengan anak-anak sekolah yang makan nasi kotak setiap hari.
"Apa hubungannya dengan Handoko?"
"Kontrak vendor ditandatangani melalui rekomendasi yayasan kampus," jawab Cynthia. "Ada dugaan setoran rutin."
Keesokan paginya, meski dokter melarang banyak bergerak, Suparti meminta Cynthia membacakan semua temuan. Foto-foto dikirim penyelidik: gudang kecil belakang kantin, kardus ayam berbau, tanggal kedaluwarsa yang digunting, minyak goreng hitam dalam jeriken tanpa label. Tidak ada gambar anak sakit yang ditampilkan berlebihan, hanya bukti barang dan catatan pembelian.
Suparti memegang gelas air hangat. "Empat tahun lalu ada kasus keracunan, kan?"
Cynthia mengangguk. "Dulu ditutup sebagai kelalaian kecil. Sekarang saksi mulai berani bicara karena Handoko sudah ditahan."
Berita itu pecah siang hari.
Bukan dari akun gosip, melainkan laporan resmi yang disusun hati-hati: dugaan pangan tidak layak di kantin SD Lab Cendana, hubungan vendor dengan jaringan kampus, dan aliran uang ke pihak yang sedang diperiksa. Nama sekolah tetap disebut sebagai lembaga fiktif dalam berita internal kasus, tanpa membawa institusi nyata mana pun.
Di rumah sakit, Suparti menonton konferensi singkat dari ponsel Cynthia. Orang tua murid berdiri di luar gerbang sekolah dengan wajah marah. Ada yang membawa kotak bekal anak sebagai simbol protes. Tidak ada kerusuhan, tetapi suara mereka cukup kuat.
"Anak kami bukan tempat cari untung!"
Kalimat itu menusuk Suparti. Ia teringat Timmy yang semalam memukul ibunya sendiri, Bubu yang lapar di belakang restoran, dan Yuyun yang disebut Kevin sebagai anak orang miskin. Dalam dunia Handoko, anak-anak selalu bisa dijadikan alat: alat nama baik, alat uang, alat tutup mulut.
Sore harinya, kabar lain masuk.
Yulianti, ibu Herman, mengalami serangan jantung setelah mendengar penyidikan diperluas dan meninggal di rumah sakit lain. Cynthia menyampaikan kabar itu dengan nada datar, tidak menjadikannya tontonan.
Suparti diam lama.
"Aku tidak senang dia mati," katanya akhirnya. "Tapi aku juga tidak bisa pura-pura berduka seperti keluarga dekat."
"Tidak perlu," jawab Cynthia. "Cukup jangan merayakan."
Suparti mengangguk. Itu batas yang bisa ia terima.
Kasus Herman bergerak cepat karena bukti berlapis. Percobaan melukai Suparti, kaitan dengan perintah Handoko, dan pelanggaran keamanan pangan membuat namanya tidak lagi bisa diselamatkan oleh tangis keluarga. Beberapa hari kemudian, Cynthia membacakan ringkasan putusan awal: proses pidana berlanjut, ancaman hukuman berat, izin vendor dicabut. Dalam catatan proyek ini, akibat akhirnya akan menempatkan Herman di penjara panjang.
Timmy datang lagi sore itu bersama Cindy. Kali ini anak itu tidak berteriak. Ia berdiri di dekat pintu, memeluk robot mainan.
"Oma sakit karena Papa?" tanyanya kecil.
Cindy menunduk, mungkin malu, mungkin lelah.
Suparti tidak ingin memukul anak dengan kebenaran yang terlalu besar. "Oma sakit karena orang dewasa melakukan hal yang salah."
"Papa orang dewasa?"
"Ya."
"Kalau aku pukul Mama, aku salah?"
Cindy menutup mata.
Suparti menepuk sisi ranjang yang tidak tersambung infus. "Duduk di sana. Tidak perlu dekat-dekat kalau takut."
Timmy ragu, lalu duduk di ujung ranjang. Kakinya menggantung, sandal kartunnya tidak menyentuh lantai.
"Kalau salah," kata Suparti, "belajar bilang maaf. Bukan teriak lebih keras."
Timmy memandang ibunya. Bibirnya bergerak lama sebelum suara keluar.
"Maaf, Mama."
Cindy menutup mulut. Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah sakit, air matanya jatuh tanpa dibuat-buat.
Perawat masuk membawa obat. Di belakangnya, seorang staf rumah sakit berkata, "Bu Suparti, ada seorang bapak ingin bertemu. Namanya Alexander Wiranata."
Timmy langsung menoleh, penasaran.
Suparti menggenggam gelasnya lebih erat.
Pertanyaan itu keluar polos, tetapi membuat ruangan menahan napas. Cindy menunduk, wajahnya merah oleh malu yang tidak bisa lagi disembunyikan.
"Ya," jawab Suparti. "Salah."
"Kalau aku marah sekali?"
"Tetap salah."
"Kalau Papa marah sekali?"
Suparti memandang anak itu lama. Inilah titik kecil tempat lingkaran bisa diputus atau diteruskan. Orang dewasa selalu ingin anak-anak memaafkan karena mereka masih kecil. Tetapi anak kecil juga belajar dari jawaban yang terlalu lembek.
"Papa juga salah," katanya.
Timmy menggigit bibir. Air matanya jatuh, tetapi kali ini ia tidak berteriak. "Papa bilang laki-laki tidak boleh kalah."
"Laki-laki boleh kalah. Perempuan juga boleh kalah. Yang tidak boleh adalah menyakiti orang lalu menyuruh orang itu diam."
Cindy menangis semakin pelan. Timmy turun dari kursi, lalu berdiri di depan ibunya. Tangannya naik seperti ingin memukul, kebiasaan yang belum hilang. Suparti menatap tangan itu. Anak itu membeku, kemudian menurunkannya sendiri.
"Maaf, Mama," katanya, hampir tidak terdengar.
Cindy berlutut dan memeluknya. Kali ini Timmy tidak melawan. Ia kaku seperti anak yang baru belajar bentuk pelukan yang tidak selalu berarti hadiah setelah berteriak.
Suparti memalingkan wajah ke jendela. Di luar, matahari sore memantul di kaca gedung rumah sakit. Ia tidak ingin Cindy melihat matanya basah. Bukan karena ia tiba-tiba lupa dosa Cindy. Bukan karena Kevin pantas dimaafkan. Tetapi melihat seorang anak menurunkan tangan sebelum memukul memberi rasa lega yang nyaris menyakitkan.
Cynthia masuk membawa kabar terbaru saat suasana mulai tenang. "Vendor kantin sudah ditutup sementara. Orang tua murid menuntut audit penuh."
"Bagus," kata Suparti.
"Ada media minta komentar Ibu."
"Tidak."
Cynthia tersenyum kecil. "Saya sudah jawab begitu."
Suparti merasa untuk pertama kalinya, ada orang yang bisa menolak dunia atas namanya tanpa membuatnya kehilangan suara.
Cynthia masuk membawa kabar terbaru saat suasana mulai tenang. "Vendor kantin sudah ditutup sementara. Orang tua murid menuntut audit penuh."
"Bagus," kata Suparti.
"Ada media minta komentar Ibu."
"Tidak."
Cynthia tersenyum kecil. "Saya sudah jawab begitu."
"Terima kasih."
"Untuk menolak wartawan?"
"Untuk tidak menjual ceritaku saat aku belum siap."
Pengacara itu diam sejenak, lalu menutup map. "Cerita Ibu bukan barang lelang, Bu."
Kalimat itu sederhana, tetapi Suparti menyimpannya. Belakangan terlalu banyak orang merasa berhak memotong hidupnya menjadi video pendek. Rasanya baik mengetahui ada seseorang yang masih percaya luka boleh punya pintu.
Ia menarik selimut sampai menutup perban, bukan untuk menyembunyikan luka, melainkan karena tubuhnya mulai sangat lelah sekali. Hari itu ia belajar satu hal lagi: menolak tampil juga bisa menjadi cara menjaga diri.
Di ambang pintu, perawat mengulang dengan sopan, "Beliau menunggu izin Ibu."