Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
Langit subuh di Pelabuhan Bandan masih diselimuti kabut tipis dan rona biru pekat ketika geladak kapal Bahari Perkasa mulai bergetar. Layar-layar kain kanvas tebal terkembang gagah ditiup angin darat yang berembus kencang menuju laut lepas. Bau minyak ter dan kayu basah menguar kuat, bercampur dengan garam laut yang menusuk hidung saat kapal perang bertubuh kayu Ulin itu perlahan meninggalkan dermaga utama.
Marno berdiri kokoh di geladak depan, memegang erat pagar kayu sembari membiarkan angin laut yang dingin menerpa wajahnya. Di punggungnya, martil besi kesayangan terikat kencang bersama tas terpal tebal. Ini adalah pengalaman pertamanya berlayar di atas samudra luas. Tubuhnya yang terbiasa menapak kokoh di tanah perbukitan sempat sedikit terhuyung oleh ayunan gelombang, tetapi dengan cepat ia menyesuaikan keseimbangan kakinya.
Sari berdiri di sampingnya, memegang bumbung-bumbung racikan obat dalam tas kulit dengan penuh hati-hati agar tidak pecah terbentur. Sementara itu, Si Mbah tampak paling menikmati suasana. Kera hitam itu bertengger santai di tiang layar utama, melompat-lompat di antara tali-temali kapal sambil memekik gembira menatap kawanan lumba-lumba yang berenang melompati geladak depan.
"Perhatikan cermin air di sebelah barat itu, Ki Marno," ujar Kapten Wardana yang berdiri di samping kemudi, menunjuk ke arah celah dua pulau karang terjal di kejauhan. "Kita mulai memasuki Selat Lintah Laut. Di sinilah arus pusaran dasar laut sering membalikkan kapal-kapal pedagang. Dan yang lebih buruk, ini adalah wilayah berburu bagi anak buah Ki Ranajaya."
Marno menajamkan pandangannya. Di depan mereka, laut yang tadinya biru jernih perlahan berubah menjadi gelap pekat, hampir menyerupai warna tinta hitam. Udara di sekitar selat terasa mendadak dingin dan lembap, diselimuti pusaran kabut tebal yang baunya menyengat—campuran antara uap belerang bawah laut dan bau amis bangkai ikan.
BOM! BOM! BOM!
Tiba-tiba, suara derum drum perang bergema nyaring memantul di dinding-dinding tebing karang mati di sekeliling selat! Dari balik kabut tebal, tiga buah kapal jung berukuran sedang dengan layar hitam bergambar tengkorak berduri muncul mengepung Bahari Perkasa dari tiga penjuru.
"Musuh datang! Bersiap di posisi pertarungan!" teriak Kapten Wardana nyaring seraya menghunus pedang peraknya. Ten sepuluh prajurit pilihan Kedatuan langsung mencabut busur dan memposisikan perisai baja mereka di sepanjang geladak.
Dari atas kapal jung utama milik bajak laut, berdiri seorang pria bertubuh kekar dengan garis-garis tato merah berbentuk garis tempaan di seluruh lengannya. Ia memegang sebuah tombak bercabang tiga bertatahkan baja hitam yang tebal. Dialah Ki Ranajaya, mantan empu pembuat senjata yang membelot menjadi penguasa Selat Lintah Laut.
"Hahaha! Pangeran Arya Braja mengirim sebuah kapal kecil untuk menghantarkan nyawa?" gelak Ki Ranajaya dengan suara serak berat yang menggelegar menembus deru ombak. "Serahkan seluruh pasokan emas dan bahan herbal kalian, atau kapal ini akan kami jadikan rumah bagi bangkai-bangkai ikan di dasar selat!"
"Ki Ranajaya!" teriak Marno melangkah ke ujung geladak depan. "Tindakanmu menyebarkan racun dan senjata palsu telah merusak kedamaian pesisir! Kami datang untuk mengambil Bunga Teratai Hitam demi menyelamatkan Laksamana Reksapati!"
Ki Ranajaya menyipitkan matanya, menatap Marno dari kejauhan sebelum pandangannya tertuju pada martil besi raksasa di punggung Marno. "Ooh... seorang tukang tempa gunung? Berani-beraninya kau berbicara tentang ilmu tempa di hadapanku! Anak buahku, hancurkan kapal mereka dan lemparkan orang-orang ini ke dalam pusaran air!"
BWOOOOSH!
Belasan kait besi berantai dilemparkan dari kapal bajak laut, menancap kuat pada dinding kayu Bahari Perkasa. Puluhan perompak bersenjata pedang bengkok bermata gerigi mulai melompat memanjat tali, menerjang masuk ke geladak kapal kedatuan!
Pertempuran sengit pun pecah di atas papan geladak yang licin oleh cipratan air laut. Prajurit Kedatuan bertarung gigih menahan gempuran bajak laut, sementara Marno langsung menerjang ke depan.
Ia menarik martil besinya dengan satu hentakan napas dalam. Ketika seorang bajak laut mencoba membacok dada Kapten Wardana dengan parang bergerigi, Marno mengayunkan kepala martilnya secara mendatar.
CRANG!
Bentrokan keras itu menghancurkan parang perompak menjadi serpihan kecil! Getaran hebat dari pukulan Marno terlempar balik, membuat perompak itu terpental jatuh melompati pagar kapal dan tercebur ke dalam samudra.
Sari bergerak cepat di sisi geladak kanan. Ia mengambil bumbung racikan Minyak Licin Bunga Waru dan menyiramkannya ke sepanjang papan geladak tempat para perompak melompat turun. Begitu kaki-kaki bajak laut itu menapak papan kapal, mereka langsung terpeleset konyol, saling bertabrakan satu sama lain hingga jatuh kocar-kacir!
Si Mbah tidak mau ketinggalan. Dengan lincah, kera kecil itu memanjat tali kait musuh dan menggunakan pisau kecil untuk memotong tali-tali penarik kapal musuh. Beberapa rantai besi putus menghantam air, membuat salah satu kapal bajak laut terlempar miring terseret arus pusaran Selat Lintah Laut!
Melihat anak buahnya mulai kocar-kacir, Ki Ranajaya menjadi murka. Ia melompat tinggi melintasi celah air di antara dua kapal, mendarat dengan dentuman keras di tengah geladak Bahari Perkasa. Tombak bercabang tiganya meluncur kilat menusuk lurus ke arah dada Marno!
TRANG!
Marno menangkis tusukan tombak tersebut menggunakan gagang martil besinya. Percikan api menyembur terang di tengah kegelapan kabut selat. Kekuatan dorongan Ki Ranajaya sangat dahsyat, mencerminkan fisik seorang mantan empu yang terbiasa menempa logam raksasa selama bertahun-tahun.
"Baji besimu tidak buruk, Anak Muda!" geram Ki Ranajaya sambil memutar tombaknya dan menyerang bertubi-tubi. "Tapi baja hitam buatan ku tidak akan bisa dipatahkan oleh perkakas desa seperti milikmu!"
Marno menahan serangkaian sabetan tombak dengan presisi tinggi. Setiap benturan membuat papan geladak di bawah kaki mereka berderit retak. Namun, Marno bisa merasakan sesuatu dari getaran senjata musuh—baja hitam milik Ki Ranajaya memang keras, tetapi dipadatkan dengan teknik pendinginan yang terlalu cepat, membuat strukturnya rapuh di bagian celah sambungan bilah!
"Besi murni tidak pernah berbohong pada pembuatnya, Ranajaya!" teriak Marno dengan mata menyala-nyala.
Marno menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh tenaga dalam dan kekuatan fisiknya ke kedua lengannya. Ia menghindar miring dari tusukan tombak musuh, lalu mengayunkan martil besinya menghantam tepat pada titik sambungan bilah tombak bercabang tiga itu dari arah bawah!
BOMMM!
Suara bentrokan logam yang begitu nyaring memekakkan telinga memantul di seluruh selat! Tombak baja hitam kebanggaan Ki Ranajaya patah terberai menjadi tiga bagian seketika!
Dampak dari getaran pukulan martil Marno menjalar hebat melewati gagang tombak, menghantam kedua lengan Ki Ranajaya hingga otot-otot tangannya memar dan ia terhuyung mundur beberapa langkah sambil meringis kesakitan.
"Bagaimana mungkin... senjata baja hitamku..." gumam Ki Ranajaya tak percaya, menatap tangannya yang gemetar hebat dan sisa gagang tombaknya yang hancur.
Melihat pemimpin mereka kehilangan senjata utamanya dan dua kapal pendukung mereka mulai terjebak dalam arus pusaran air, para bajak laut yang tersisa panik luar biasa. Mereka berbondong-bondong memotong sisa tali kait dan melompat kembali ke kapal jung utama untuk melarikan diri dari kejaran Bahari Perkasa.
"Retreat! Mundur ke markas karang!" teriak Ki Ranajaya ketakutan seraya melompat kembali ke kapalnya yang dengan cepat berbalik arah menembus kabut tebal selat.
Kapten Wardana bersiap memerintahkan prajuritnya untuk mengejar, tetapi Sari segera memegang lengannya. "Jangan dikejar, Kapten! Tujuan utama kita bukan membinasakan mereka sekarang, melainkan menyelamatkan Laksamana Reksapati. Lihat ke depan!"
Kabut tebal yang tersapu oleh angin kencang bekas pertarungan perlahan terkuak. Tepat di balik celah tebing karang mati yang paling tinggi, berdiri kokoh sebuah pulau karang raksasa yang dikelilingi oleh air terjun laut yang bergemuruh keras. Di dasar tebingnya, terdapat sebuah mulut goa gelap yang memancarkan cahaya kebiruan lembut dari balik kegelapan.
Itulah Gua Karang Berbisik, tempat Bunga Teratai Hitam tumbuh.