NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — Sorotan Baru

Tatapan Yana masih tertuju pada Ayla yang berada di tepi lapangan.

Di balik jemari gadis asing itu, Yana sempat melihat cahaya samar redup dari benda aneh yang langsung disembunyikan Ayla kembali ke dalam saku mantelnya itu.

Yana tidak terburu-buru menghampiri atau memergokinya.

Ia memilih mengamati pergerakan Ayla yang kini kembali berbaur dengan warga seolah tidak terjadi apa-apa.

Pagi itu, Ayla melangkah menuju area penyimpanan daging buruan.

Keterampilannya dalam membagikan cara-cara praktis mulai menyebar dari mulut ke mulut, membuat area kerja yang biasanya sepi kini mendadak ramai.

Ayla duduk di atas balok kayu dengan jemari yang bergerak sangat cekatan. Dia di kelilingi oleh beberapa pemburu muda dan wanita suku yang memperhatikan setiap gerakannya.

"Akar tanaman ini kalau ditumbuk bersama daun perak tidak cuma bikin rasa daging lebih gurih, tapi juga membuatnya awet dua kali lebih lama," kata Ayla. Suaranya jernih dan terdengar meyakinkan.

Paman Bimo yang melintas di dekat sana ikut menghentikan langkahnya. Ia mengambil sejumput bubuk hasil tumbukan Ayla, mengendusnya pelan, lalu mengangguk-angguk terkesan.

"Luar biasa," puji Paman Bimo terang-terangan. "Kita tidak perlu takut daging buruan cepat membusuk kalau disimpan untuk persediaan musim es."

"Ayla memang hebat!" celetuk seorang pemuda pemburu dengan wajah berseri-seri. "Dewa Binatang benar-benar mengirimkan orang yang tepat untuk suku kita!"

Pujian demi pujian mengalir deras. Ayla hanya menunduk malu-malu, memasang raut wajah rendah hati yang makin membuat warga kagum pada kepribadiannya.

"Aku cuma ingin berguna untuk kalian," sahut Ayla pelan, matanya berkaca-kaca berpura-pura terharu. "Kalian sudah menyelamatkanku, jadi ... ini hal terkecil yang bisa kulakukan."

Di dekat tiang penyangga tempat penyimpanan kulit, Yana berdiri memperhatikan fenomena itu. Tangannya bersedekap di balik mantel serigala hitamnya.

Ia melihat bagaimana Ayla secara bertahap memenangkan hati setiap orang disuku.

Yana memilih untuk tetap diam. Ia tidak berusaha menyela, memprotes, atau menjatuhkan Ayla di hadapan warga. Yana paham betul, bersuara tanpa bukti murni hanya akan membuat dirinya terlihat buruk dan penuh iri hati di mata orang lain.

Namun, diamnya Yana bukan berarti ia pasrah.

Selama tindakan Ayla belum merugikan keselamatan suku atau mengancam posisi ayahnya, Yana memilih menjaga jarak sambil terus mencatat setiap detail pergerakannya. Meskipun, dia akan dianggap sebagai penguntit sekalipun.

Ayla yang menyadari keberadaan Yana melambaikan tangan kecilnya dari kejauhan.

"Yana! Mau mencoba rasa racikan daging ini?" panggil Ayla dengan senyum paling ramah yang ia miliki.

Pandangan seluruh orang yang ada di lapangan seketika tertuju pada Yana. Suasana mendadak kaku sejenak karena warga tahu Yana selalu bersikap dingin sejak kedatangan gadis asing itu.

"Tidak perlu," jawab Yana singkat dan datar. "Lanjutkan saja pekerjaamu."

Setelah mengatakan itu, Yana membalikkan badan dengan gerakan tenang, melangkah pergi meninggalkan area penyimpanan daging tanpa berniat memanjangkan interaksi.

Saat Yana melangkah menuju area latihan panah di tepi pemukiman, dari arah yang berlawanan, sosok Luka berjalan mendekat membawa busur kayu di bahunya.

Pemuda itu sempat melirik Yana dengan raut wajah kaku—sisa canggung dari gesekan mereka sebelumnya masih terlihat jelas. Yana hanya mengangguk tipis sebagai formalitas, lalu melanjutkan langkahnya tanpa henti.

Luka berhenti sebentar, menoleh menatap punggung Yana yang makin menjauh. Ada rasa tidak puas yang terpancar dari matanya kalanmelihat Yana yang selalu bersikap acuh tak acuh padanya. Pemuda itu lalu membalikkan badan dan berjalan menuju keriuhan warga di meja Ayla.

"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Luka saat tiba di dekat meja pengolahan daging.

Bibi Nora yang berdiri di dekat sana langsung menyahut antusias. "Lihat ini, Luka! Ayla mengajari kita racikan pengawet daging baru. Caranya gampang dan hasilnya sangat bagus!"

Luka memajukan langkahnya. Matanya tertuju pada Ayla yang sedang membersihkan sisa racikan di atas meja batu.

Ayla mendongak.

Begitu melihat Luka, gadis itu menyunggingkan senyuman manis dan menyapanya dengan lembut.

"Halo. Kamu Luka, kan? Pemanah paling hebat di suku ini?" tanya Ayla dengan nada polos dan penuh kekaguman.

Luka mendadak tertegun.

Pujian halus itu langsung mengenai rasa bangganya yang sempat terluka belakangan ini. Pemuda itu membetulkan posisi tali busur di bahunya, matanya menatap Ayla dengan rasa tertarik yang mulai tumbuh terang-terangan.

"Iya, aku Luka," jawab pemuda itu, langkah kakinya maju mendekati Ayla untuk memulai percakapan yang lebih dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!