Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Saat Saji Genshirou tenggelam dalam lautan frustrasi yang pekat akibat serangan mental beruntun dari ucapan Reya, Momo, Yura, dan terakhir pukulan telak dari Tsubaki, udara di ruang OSIS berangsur kembali netral.
Suara erangan pelan masih sesekali terdengar dari pemuda berambut pirang yang berlutut meratapi nasibnya di sudut ruangan itu, namun tak ada satu pun yang mempedulikannya.
Sona Sitri menggeser setumpuk dokumen ke pinggir meja. Ia merapikan lipatan kerah seragamnya dan menatap lurus ke arah Yudi.
Udara di sekitarnya kembali menajam, menandakan dimulainya kembali agenda utama.
"Selamat datang di kelompokku, keluarga Sitri, Yudi-san," ucap Sona dengan nada formal yang tenang, memecah sisa-sisa keheningan. Matanya memancarkan otoritas seorang pemimpin. "Lalu, mulai hari ini kau secara resmi diangkat menjadi anggota staf OSIS Akademi Kuoh. Untuk jabatanmu... aku menempatkanmu di seksi Hubungan Masyarakat (Humas)."
Mendengar pernyataan itu, Saji yang sedari tadi meratapi nasib di lantai, tiba-tiba tersentak. Kepalanya mendongak dengan cepat. Dalam hitungan detik, ia bangkit dari posisinya dan melangkah mendekati meja dengan raut wajah memerah.
"Tunggu dulu!" Saji mengangkat sebelah tangannya, mengajukan protes keras dengan suara lantang. Tangannya yang lain menunjuk lurus ke arah Yudi. "Kenapa dia yang notabene hanyalah anggota anak baru yang baru saja bergabung malah langsung mendapatkan jabatan sebagai seksi Humas?!"
Sona melirik tajam dari balik kacamatanya, menatap Saji tanpa sedikit pun mengubah postur tubuhnya. "Itu adalah peran yang paling cocok dan logis untuknya, Saji. Kemampuan analisis dan ketepatan pengambilan keputusannya di bawah tekanan pasti akan membuat kinerja OSIS kita menjadi jauh lebih baik lagi."
"Kuso!." rutuk Saji dalam hati sambil menggeretakkan giginya pelan. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di ruang OSIS, Saji selalu mendambakan untuk menjabat di seksi Humas. Bagi Saji, posisi tersebut adalah posisi prestisius yang mencerminkan 'wajah' utama OSIS di mata publik.
Ia sering kali memproyeksikan visualisasi liar di mana dirinya mendapatkan perhatian berlebih dari seluruh siswa, dan yang terpenting, dikelilingi oleh tatapan kagum serta sorakan puja-puji dari para siswi cantik Akademi Kuoh.
Namun, semua khayalan indah itu hancur berkeping- keping saat jabatan tersebut justru diberikan kepada anak baru yang baru direkrut semalam namun langsung meraup kepercayaan absolut dari Sona Kaichou.
Saji memutar lehernya, menatap tajam ke arah Yudi. Ia ingin melihat reaksi seperti apa yang ditunjukkan oleh adik kelasnya itu. Entah itu senyuman bangga, raut wajah angkuh, atau tatapan meremehkan karena berhasil merebut jabatan krusial sebagai pusat perhatian di hari pertamanya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat seluruh orang di ruangan itu melebarkan mata.
"Woi, Kaichou! Kenapa kau secara sepihak menempatkanku di jabatan merepotkan itu?!" Yudi berseru dengan nada tinggi yang dipenuhi kepanikan. Tangannya mengipas udara dengan cepat, menolak keras. "Aku menolaknya mentah-mentah!"
"Eh...!" Seluruh anggota peerage di ruangan itu, dari Reya, Momo, hingga Yura, mengeluarkan respons serentak dengan nada tidak percaya. Mata mereka membulat sempurna.
Tidak ada yang pernah menyangka bahwa Yudi akan berani menolak dan membantah perintah langsung dari sang Ketua OSIS. Selama ini, atmosfer di dalam ruang OSIS selalu dipenuhi oleh jawaban absolut seperti "Baik", "Siap laksanakan", atau "Dimengerti" setiap kali Sona memberikan instruksi. Ketaatan itu sudah menjadi budaya dasar di bawah kepemimpinan pilar Sitri.
Namun kali ini, seorang anak baru yang baru saja diangkat menjadi pelayan dan langsung dianugerahi jabatan penting justru menolaknya dengan terang-terangan.
"Ouh..." Suara Sona keluar dari sela-sela bibirnya, terdengar sangat pelan namun suhunya menukik tajam melewati titik beku. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, membenarkan letak kacamata dengan ujung jari telunjuknya.
Lensa kacamatanya memantulkan cahaya putih yang menyembunyikan kornea matanya. "Alasannya?" tuntut Sona dengan nada otoriter mutlak yang menggema di setiap sudut ruangan.
Seketika itu juga, bulu kuduk semua orang berdiri tegak. Bahkan Tsubaki yang berdiri di samping Sona sempat memalingkan wajah dan meneteskan setitik keringat imajiner -sweatdrop-, terkejut melihat Kaichou-nya—yang biasanya bersikap rasional, santai, dan tidak mudah terpancing—kini menunjukkan reaksi intimidasi yang terlampau berlebihan hanya karena sebuah penolakan penempatan posisi.
Yudi sebenarnya merasa terguncang oleh tekanan aura yang dikeluarkan Sona, lututnya sedikit bergetar, namun tekadnya untuk mempertahankan prinsip hidup damai jauh lebih kuat. Ia merentangkan tangannya ke depan.
"Akan jadi apa citra OSIS ini kalau orang sepertiku yang menjadi Humasnya?!" seru Yudi memberikan alibi pertahanannya. "Aku ini bukanlah tipe orang yang suka berada di tengah keramaian. Kepribadianku jelas sangat tidak cocok dengan deskripsi pekerjaan jabatan ini! Sebaiknya Kaichou pilih saja Saji-senpai yang jelas-jelas sangat berhasrat kare—"
Kata-kata Yudi terputus. Dari balik meja, mata ungu Sona tiba-tiba memancarkan sorot penolakan magis yang begitu kuat, seolah ada beban berton-ton yang menekan pita suara Yudi. Yudi membeku selama dua detik, napasnya tertahan. Ia buru-buru menyusun ulang kalimatnya sebelum tekanan itu membuatnya pingsan.
"Yah... kalau Anda benar-benar tidak setuju dengan usulanku, setidaknya tolong tempatkan aku di bagian divisi Logistik atau Pengadaan Barang saja!" Yudi menyodorkan penawaran kompromi terbaiknya, berharap Kaichou-nya mau mengalah.
Sona menghembuskan napas pelan dari hidungnya, meredakan aura tekanan yang sedari tadi ia pancarkan. Ia menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi, menatap Yudi yang masih berdiri kaku.
"Ada tiga alasan rasional kenapa kau yang kupilih, Yudi," Sona memulai penjelasannya dengan artikulasi yang sangat rapi. Ia mengangkat satu jari. "Pertama, kau memang tipe orang yang tidak menyukai keramaian, namun secara bersamaan kau memiliki insting kepekaan terhadap lingkungan sekitar yang sangat tinggi serta kemampuan adaptasi yang luar biasa cepat. Buktinya, dalam kurun waktu kurang dari lima menit, kau sudah bisa membaur dan membaca situasi para anggota di ruangan ini yang notabene adalah orang-orang yang belum pernah kau kenal dekat sebelumnya."
Sona mengangkat jari keduanya. "Kedua, kau memiliki daya analisis deduktif dan kemampuan pengambilan keputusan logis yang sangat bagus. Itu adalah karakteristik utama yang sangat dibutuhkan oleh seorang seksi Humas; kemampuan memfilter untuk menyebarkan informasi mana yang krusial dan mana yang tidak perlu diketahui oleh publik akademi."
Sona mengangkat jari ketiganya. Matanya melirik tajam ke arah Saji sesaat sebelum kembali menatap Yudi. "Ketiga, orang dengan pola pikir pragmatis sepertimu cenderung melakukan segala instruksi dengan dedikasi tinggi demi bisa cepat selesai, dan yang paling penting, kau tidak memiliki niat atau agenda terselubung.
Sedangkan..." Sona memberikan jeda dramatis.
"...kalau Saji yang ditempatkan di posisi tersebut, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu kurang dari sebulan, reputasi OSIS kita hanya akan dicap sebagai kumpulan orang cabul oleh komite disiplin sekolah lain. Karena meskipun dari luar ia sering mencoba bersikap tenang, isi kepalanya dipenuhi oleh pemikiran liar yang tidak bisa dikontrol."
Mendengar dirinya kembali dijadikan kambing hitam sasaran sarkasme Sona dengan alasan yang sangat presisi, hati Saji hancur kembali. Pemuda pirang itu berjalan gontai, kepalanya menunduk lesu.
Tomoe Meguri yang melihat hal itu segera mendekat. Ia menepuk bahu Saji berulang kali, mencoba memberikan semangat dengan senyum sumringah khasnya.
"Bertahanlah, Gen-chan! Kau tidak boleh hancur dan menyerah hanya karena kritikan tajam seperti ini!" hibur Tomoe dengan nada suaranya yang ceria dan melengking. "Kau harus tetap bertahan hidup supaya aku bisa terus melihat secara langsung sejauh mana dan seberapa kejam Sona Kaichou akan terus menyarkasimu di masa depan!"
Saji mengangkat kepalanya. Air mata keputusasaan benar-benar menetes dari sudut matanya. "Jangan malah mengucapkan kata-kata yang semakin memperburuk situasi hatiku, Kuso-Moe!" teriak Saji merana.