NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Pagi ini, udara desa masih terasa segar saat Valeska dan ketiga temannya bersiap untuk meninggalkan tempat yang selama beberapa hari ini dijadikan tempat singgah sejenak. Di depan sana, sudah ada mini bus milik Anaya yang sudah terparkir, siap membawa mereka kembali ke kota.

Laksha berdiri sejenak, memandang sekitar, karena ingin merekam setiap sudut pemandangan desa yang menenangkan hati.

"Andai kita bisa ke sini setiap weekend, pasti seru," katanya sambil tersenyum tipis.

Valeska, Prisha, dan Anaya mengangguk setuju, sebetulnya tidak ada yang benar-benar siap meninggalkan kedamaian tempat ini.

"Nek, sehat terus ya, dan panjang umur biar bisa ketemu lagi ... kita bakal kangen banget sama Nenek," ujar Anaya, sembari memeluk nek Murti. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

"Iya, kalian juga ya. Jaga kesehatan kalian, kalau libur sekolah, jangan lupa ke sini, rumah Nenek terbuka untuk kalian," jawab nek Murti.

"Pasti Nek, pasti liburan selanjutnya tempat ini akan menjadi pilihan ke satu dari banyaknya pilihan heee,"

"Nek, kalau ke rumah Prisha, nanti kabarin kita ya. Nanti kita main ke sana, kita jalan-jalan ke mall, belanja, bahkan kalau bisa, kita nginep di hotel biar bisa menghabiskan waktu bersama Nenek," Laksha berkata diakhiri senyuman yang begitu hangat.

"Aduuh, anak-anak, Nenek ini sudah tua. Lagi pula, rumah cucu Nenek jauh, Nenek nggak kuat duduk lama-lama, yang ada pinggang Nenek bakal sakit," jelas nek Murti.

"Jangan kecapekan ya Nek, kalau capek, jangan dipaksa, kan Nenek punya pekerja, lumayan banget buathemat energi,"

"Aku bakal kangen banget, Nek. Masakan Nenek terenak, hotel bintang lima juga kalah, cuma di sini aku bisa nyicipi ikan asin," kali ini giliran Valeska yang berbicara, gadis yang semalam menangis dan mengadu pada nek Murti.

Nek Murti tersenyum ke arah Valeska, " Kuat ya Nak, nanti ke sini lagi sama Prisha, Anaya, dan Laksha,"ucapnya.

"Ouh iya, ikan asin pesenan aku mana?" tanya Valeska, membuat ketiga temannya tertawa ria.

"Sudah Nenek masukin ke dalam mobil."

"Ikan asin mulu pikiran lo, di kota juga banyak," sela Anaya.

"Hus! Minggir-minggir, ini Nenek gue. Kalian Mulu yang ngomong, sekarang giliran gue," Prisha, membelah kerumunan lalu memeluk sang nenek.

"Nek ... kalau bukan karena ide Valeska, mana ada Prisha ke sini. Palingan satu tahun sekali, jaga kesehatanya, kalau ada apa-apa, telpon aja orang rumah, jangan lupa berkabar,"

"Iya cantiknya Nenek, kamu juga. Yang rajin sekolahnya, jangan bolos, makan yang banyak biar sehat,"

"Nek, Nenek nggak ada niatan buat tinggal di kota? Setidaknya kita deket sama Nenek," pinta gadis cantik yang masih dalam dekapan neneknya.

"Kalau Nenek ke kota, terus yang mengurus ini semua siapa? Nenek lebih suka menghabiskan masa tua Nenek di sini,"

"Astaga, selalu saja seperti ini."

"Nenek, pokonya terima kasih banyak. Maaf kalau selama kita di sini ngerepotin Nenek," ucap Laksha.

Nek Murti tersenyum hangat, "Kalian ini, kan sudah Nenek katakan, kedagangan kalian nggak ngerepotin. Malah Nenek senang, karena kedatangan kalian, rumah Nenek jadi hangat dan ramai,"

Valeska berjalan dua langkah ke depan, kemudian memeluk nek Murti. "Terima kasih banyak, Nek." Ucap nyapelan.

Nek Murti membalas pelukan Valeska, dan mengusap punggung Valeska yang terasa bergetar, tidak beda jauh seperti malam tadi.

"Udah, nggak apa-apa. Jaga kesehatan, kalau dirasa capek, boleh datang kesini lagi,"

"Sepertinya ini yang pertama dan yang terakhir. Liburan kali ini momen paling indah dalam hidup aku, bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, merasa disayangi, dan inilah permintaan aku pada mereka agar mengunjungi desa sudah terlaksana. Sekali lagi, mohon maaf dan terima kasih Nek, semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali,"

"Menangis boleh, tapi ini bukan waktu yang tepat, jadilah Valeska yang kuat dan berani berjuang. Bahagia selalu, Nak." Ucap nek Murti, sembari mengusap air mata di pipi, Valeska.

Setelah puas berpelukan, mereka pun menyalami tangan nek Murti.

"Ya sudah, kita berangkat dulu Nek,"

"Hati-hati Nak, jangan lupa berdoa agar selamat sampai tujuan,"

"Iya Nek." Anaya memberikan printah pada sopir, agar memasukan koper dan oleh-oleh yang nek Murti berikan pada mereka.

Suara mesin mobul terdengar mengisi keheningan pagi, menandakan waktu perpisahan yang sulit ini telah tiba. Dengan perasaan yang sulit didefinisikan, mereka menutup pintu kendaraan, pulang ke tempat semula bukan hanya barang-barang, melainkan tawa, ceria, serta kerinduan akan desa yang begitu hangat.

***

Sinar matahari menjadi musuh terbesar bagi ke empat mahasiswa ini. Berdiri di tengah halaman fakultas selama lebih dari tiga puluh menit, keringat mulai menetes dari dahi mereka, sementara panas matahari seakan tak kenal belas kasih. Kaivandra, Arjuna, Satya, dan Vikara, kini berdiri mematung di hadapan tiang bendera, menantang sengatan matahari yang menusuk.

Mereka baru saja mendapat hukuman dari dosen pengampu mata kuliah Sistem Kontrol, salah satu mata kuliah yang dikenal mengerikan di jurusan mereka. Bukan tanpa alasan, mata kuliah ini mengharuskan mereka menguasai teori kendali sistem listrik dan mekanik yang sarat akan konsep-konsep matematis, seperti kontro lPID, root locus, hingga transformasi Laplace.

Dosen mereka yang biasa dijuluki, pak Bewok atau dosen killer, langsung memberi mereka hukuman ini karena dianggap tidak cukup menguasai materi.

"Padahal kita udah belajar semalaman, tapi entah kenapa begitu ditanya langsung sama Pak Bewok, otak gue malah nge blank," keluh Vikara, penuh penyesalan.

"Udah gue bilang tenang, malah lo panik. Gue jadi ikutan panik, ege!" Arjuna menyahut, nadanya sedikit sengit sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Vikara, yang dianggap biang keladi kesialan mereka hari ini.

Andai saja Vikara tak kehilangan kendali saat ujian perkelompok tadi, mereka pasti sekarang duduk manis dikelas ber-AC, bukannya bermandikan keringat.

"Sudahlah, jangan saling menyalahkan. Ini di luar kendali dia juga, siapa coba yang mah kayak gini? Nggak ada," Kaivandra mencoba menenangkan suasana, membela temannya yang tengah disudutkan.

"Tapi lihat, gara-gara paniknya, kita jadi begini, Kai. Udah mah panas, dijemur, udah kayak ikan asin aja!"

"Udah, nanti gue traktir es buah, oke? Daripada ribut nggak jelas," sahut Kaivandra sambil mulai berjalan kearah pohon yang rimbun.

"Yaudah, ayok traktir, gue udah haus banget," sahut Vikara, semangat.

"Ah, beli aja sendiri. Nih, duitnya," Kaivandra menyerahkan uang seratus ribu, tanpa tersenyum sedikitpun.

"Empat ya, jangan lupa bawa ke sini," tambah Satya. Arjuna mengangguk setuju, mengambil uang itu dan bergegas pergi membeli.

"Kalau nggak disuruh, dia nggak bakal berhenti ngoceh. Biar aja, kepala gue udah pusing dengernya," ujar Kaivandra sambil meregangkan badannya, merasa lega akhirnya bisa beristirahat.

Mereka pun membaringkan diri di atas rerumputan liar, membiarkan tubuh bersandar pada bumi. Angin berembus lembut, menyapu kelelahan mereka sejenak. Sebenarnya, tak ada kebencian antara Arjuna dan Vikara ... mungkin ini hanya bawaan mereka, sering bertengkar tapi tak pernah sungguh-sungguh.

Perlahan, mata mereka terpejam, menikmati setiap embusan angin yang membawa kesejukan di tengah panas yang membara.

"Eh, gila! Gue kaget, ege!" seru Satya sambil refleks menepis cup es buah di tangannya, hampir saja isinya tumpah.

"Satya!" seru Vikara, panik.

"Apa?" jawab Satya, dingin.

Di tengah kehebohan itu, Vikara langsung menyuruh Satya agar cup es buah di tangannya tidak sampai jatuh. Sementara Arjuna, dia malah duduk santai di samping Kaivandra sambil mengangkat cup es buah miliknya.

"Eh, kalian berdua, kenapa sih, berantem mulu? Emang nggak capek?" Kaivandra bertanya, mencoba menengahi.

"Nggak tuh, gue nggak capek. Lagian, Vikara yang mulai duluan. Jadi, jangan salahin gue!" jawab Satya sambil melirik kesal ke arah Vikara.

"Lah, kok nama gue jadi dibawa-bawa? Salah gue apa?" sanggah Vikara, yang sibuk mengaduk-aduk es buahnya.

"Dek, lo beneran nggak tahu salah lo?" goda Arjuna sambil terkekeh.

"Eh, geli, anjim! Gue bukan adek-adekan, tahu! Umur gue malah lebih tua dari lo, Jun!" sahut Vikara, pura-pura jengkel.

"Lebih tua iya, tapi soal pemikiran, kayaknya lebih dewasa gue," balas Satya, dengan nada menggoda.

"Heh! Kalian, ngapain malah santai gitu?" Suara berat itu membuat mereka spontan menoleh. Dihadapannya, pak Bewok, dosen pengampu Sistem Kontrol, berdiri dengan tatapan menusuk.

"Sini kalian!" perintahnya.

Dengan perasaan campur aduk, mereka berjalan beriringan mendekati sang dosen yang kini sudah berkacak pinggang.

"Tadi, saya suruh kalian ngapain?" tanyanya dengan nada tegas.

"Izin menjawab, Pak. Tadi Bapak menyuruh kami hormat," jawab Kaivandra dengan begitu lantang.

"Berapa lama?"

"Lima puluh menit, Pak."

"Sekarang jam berapa?"

"Jam dua belas lewat tiga puluh, Pak."

"Itu tahu, tapi saya lihat kalian malah santai-santai di bawah pohon, kenapa?" tanyanya lagi.

"Ngadem, Pak. Hari ini mataharinya kayak ada sepuluh," jawab Vikara polos, membuat Satya menahan tawa sambil menyenggol lengan temannya itu.

Kaivandra hanya menghela napas, menahan gemas atas jawaban spontan Vikara."Maaf, Pak. Kami nggak akan santai-santai di bawah pohon sambil menikmati es buah kalau hukuman belum selesai. Artinya, hukuman Bapak tadi sudah selesai," Kaivandra berbicara dengan formal, membuat sang dosen hanya mengangguk, sampai akhirnya dosen tersebut mengerti.

"Baiklah, kalau begitu. Lain kali, belajar yang lebih giat supaya menguasai materi."

"Yess!" seru Arjuna gembira, tapi dosen itu segera menoleh dengan tatapan peringatan.

"Jangan senang dulu. Setelah praktikum nanti, kalian langsung ke gudang fakultas Manajemen. Bersihkan, sapu, pel, dan tata ulang. Kebetulan gudang itu sudah lama tak tersentuh," ujarnya sambil berlalu.

****

Pukul 15:30, Kaivandra baru saja tiba di rumah. Niatnya dia ingin langsung ke kamar, namun pandangannya tertuju pada sosok gadis yang tertidur di sofa ruang televisi. Sejenak, ia terhenti. Wajah Valeska terlihat begitu damai dalam tidurnya, meskipun televisi masih menyala, dan beberapa barang masih berserakan di sekitarnya.

Dengan perlahan, Kaivandra mendekat, duduk di tepi sofa, lalu mengusap lembut kepala adiknya. Keletihan Valeska terlihat jelas setelah liburan, dan itu membuatnya tersenyum kecil, merasa iba sekaligus penuh kasih. Kaivandra bangkit, berjalan ke kamar Valeska, lalu kembali dengan selimut tebal dan guling di tangannya. Dia berjongkok di samping sofa, memandangi wajah adiknya yang pulas, dia pastikan Valeska bisa tidur nyenyak dan nyaman.

Dengan penuh kehangatan, dia menyelimuti selimut ke tubuh adiknya, lalu menata barang-barang di sekitarnya, berharap ketika Valeska terbangun nanti, segalanya akan terasa lebih rapi.

"Pasti cantiknya abang capek, pules banget tidurnya," bisik Kaivandra, sambil menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah Valeska.

Hoam!

Gerakan Valeska yang samar membuat Kaivandra menghentikan tangannya. Ia bangkit dan duduk di sofa sebelah, menunggu dengan senyum kecil. Perlahan, Valeska mengerjapkan mata, lalu menguceknya pelan. Begitu pandangannya mulai jelas, yang pertama dilihatnya adalah sosok Kaivandra.

."Abang ..." ucapnya pelan.

"Kenapa tidur di sini, dek?" tanya Kaivandra lembut.

"Ketiduran, nang. Tadi pulang jam satu siang," jawab Valeska, pandangannya masih lekat pada wajah abangnya.

Kaivandra tersenyum. "Seru di sana?"

"Seru banget. Adek bahkan nggak mau pulang," sahutnya sambil terkekeh kecil, penuh semangat.

Pukul 20 : 30, malam.

Suasana ruangan begitu hening. Kaivandra tenggelam dalam tugas kuliahnya, sementara Valeska menikmati hidangan hangat yang baru saja dibuatkan sang abang dengan penuh perhatian. Lima belas menit berlalu. Kaivandra menutup laptopnya, bangkit, dan berjalan mendekati adiknya yang tengah asyik menyantap makanan.

"Udah habis makanannya?" tanyanya, dengan suara lembut yang segera membuat Valeska menoleh.

"Udah," jawab Valeska sambil tersenyum.

Kaivandra menatap adiknya dengan penuh kasih. "Dek, besok jadwal kemoterapi, jadi malam ini tidurnya jangan terlalu larut, ya? Jaga kesehatan, biar nggak drop." Valeska mengangguk pelan.

"Iya, bang. Malam ini pasti tidur sebelum jam sembilan. Lagi pula, adek juga capek, mana sanggup begadang."

Kaivandra tersenyum, lalu meraih bahu adiknya dengan lembut. "Adek nggak apa-apa kan kemo? Jangan merasa terbebani,"

Valeska menatap Kaivandra, senyum tipisnya menenangkan. "Adek ikhlas, bang. Menjalani semuanya dengan hati yang tenang. Abang nggak usah khawatir."

Kaivandra mengusap kepala adiknya dengan bangga. "Pinter banget cantiknya abang. Nah, sekarang adek mandi dulu, biar badannya segar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!