NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit Masalah..

Jam istirahat. Karena MOS nya hanya tiga hari, jadi hari ini masih MOS untuk angkatannya.

Varren memilih segera menuju kantin untuk mengisi perut. Dalam perjalanan, banyak yang menatapnya kagum sampai membuat dirinya risih dan tak senang.

"Varren..!"

Varren melirik ke belakang di mana orang memanggilnya. Varren tersenyumlah tipis. "Kita satu sekolah lagi." jelasnya semangat kepada Varren.

Satu sekolah lagi atau sengaja satu sekolah lagi? Di hadapannya ini namanya Nina, salah satu fans fanatiknya Varren. Dia bahkan sudah menembak Varren lebih dari sepuluh kali, bahkan saking fanatiknya ia, dia suka membully orang yang menyukai Varren. Varren mensyukuri hal itu, setidaknya tidak akan ada fans fanatik lain yang menggerogoti dirinya hingga ingin mati.

"Oh hai Nina. Loe kelas berapa?" tanya Varren tenang kepada Nina.

Nina melebarkan senyumnya hingga hampir menyentuh kupingnya. "Gue kelas bahasa Jepang." ujarnya menunjuk arah kelasnya. "Loe kelas apa btw?" tanyanya kepada Varren.

Varren di sana berdehem. "Gue IPS." jelas Varren kepada Nina.

"Loh bukannya loe pinter perhitungan? Kenapa nggak ambil MIPA aja?" tanya Nina bingung. Siapapun tau bagaimana pintarnya Varren pada perhitungan.

Varren sembari berjalan terkehek pelan, mana bisa dirinya memilih. Bahkan sekolah saja dirinya diatur dan hanya langsung masuk saja.

"Karena gue mau IPS aja sih, cari suasana baru." Varren menaik turun alisnya beberapa kali.

"Nggak apa apa sih sebenarnya. Soalnya kan mau di mana pun dan jurusan apapun, Varren sekolah, Varren akan tetap jadi nomor satu dan paling pinter." jelasnya terkikik mengagumi Varren.

Benar sekali.

Varren di sana tersenyum tipis. "Udah yah gue mau ke kantin. Bay." Varren melambaikan tangan. Nina hampir berteriak histeris jika tidak ingat tempat. Saat Varren menjauh barulah ia berteriak membuat orang-orang menatapnya aneh.

Varren mengusap pelan pundaknya yang terasa sakit. "Ethh." Varren mundur saat ada yang memotong jalannya. Alis Varren terangkat menatap lamban lelaki yang di hadapannya saat ini menghadangnya.

"Lewat aja. Jalan lewat sini bayar..!!!" tegasnya pada Varren.

Varren menaikkan satu alisnya. "Ini bukannya akses satu-satunya ke kantin dan harus bayar?" tanyanya tegas dan tak suka.

"Kenapa loe? Nggak suka?" tanyanya tegas.

"Ini memang harus bayar apalagi loe anak baru kan? Nggak usah ngelawan. Bayar satu juta..!!!" teriaknya menekan.

Varren memicingkan mata menatapnya tak suka. "Loe mau duit?? Kerja bro bukan malakin orang. Dikira loe aja lah datang-datang minta duit sejuta. Waras nggak loe?" tanyanya kesal melangkah menjauh.

"Gue bilang bayar yah bayar nggak usah ngelawan.." tekan lelaki tersebut tak suka pada Varren. Ia menarik kerah baju Varren.

Tapi Varren lebih dulu menepis tangannya dan menendang perutnya kuat. Pria tersebut mundur memegang perutnya yang terasa sakit. Varren menatapnya tersenyumlah miring. Sejak kecil, bahkan belum lima tahun usianya, Shena memaksanya mengikuti Karate. Saat usia karate, ia juga diajarkan kungfu dan beberapa seni bela diri lain. Saat SD dulu, dirinya sering mengikuti pertandingan antar nasional dan dirinya juga sudah berkali-kali memenangkannya. Melawan satu orang bukan hal sulit untuk Varren lakukan, bukan?

Pria tersebut menatap Varren geram, segera kembali mendekat hendak menyerang Varren. Varren di sana diam menatap tangannya yang melayang ke wajahnya. Seakan gerakannya terbaca. Varren mengunci lengannya tersebut dan tak berselang beberapa detik, suara tubuh menghantam lantai nyaring dan bergema di sana. Disusul suara lelaki yang meringis kesakitan memegang kepalanya. Varren melepaskan lengan pria tersebut dan menginjak perutnya. Pria tersebut menatap Varren meringis dan tak senang.

"Lain kali kalo cari masalah jangan sama gue oke. Soalnya gue orangnya nggak sabar." jelasnya lalu menekan lagi kakinya lebih kuat membuatnya semakin meringis kesakitan.

"Ren. Astaga...!!!" teriak Alvaro dari kejauhan menatap Varren kaget. Ia menarik tubuh Varren menjauh dari lelaki yang ia injak. Semua orang melihat kejadian itu menatap Varren kagum. Bagaimana tidak? Yang Varren kalahkan ini adalah salah satu bandit sekolah yang suka memalak dan membully anak-anak.

Bahkan kadang bukan hanya uang yang ia minta tapi juga makanan dan barang yang dia sukai. Tidak ada yang berani melawannya karena tubuhnya yang besar dan wajahnya yang seram. Tapi malah tumbang dengan Varren yang bertubuh mungil dan kurus.

"Astaga Ren. Loe baru masuk udah gelut aja." Alvaro menatap Varren malas.

Varren meliriknya dan menarik tangannya dari tangan Alvaro. Varren mengusap rambutnya yang lepek ke belakang dan mengusap pelan keringatnya. "Dia mulai duluan." jelas Varren menjauh. Suara teriakan gadis-gadis di sekitarnya sangat terdengar keras memuji dan memuja Varren.

Alvaro menjitak kepala Varren kuat membuatnya menatap Alvaro nyalang. "Ren yaampun kita anak baru dan loe yaampun yaampun Ren." gumam Alvaro gusar.

Varren mengedikkan bahu acuh menatap ke arah kantin. Tatapan Varren tak sengaja bertatapan dengan Sylas yang juga menatapnya. Varren menaik turun alisnya sebagai tanda sapaan dan segera memesan di tempat lain. Sebab Sylas dan teman-temannya di stan makanan berat seperti nasi goreng sedangkan dirinya mau makan mie ayam.

Gila. Gue pikir Varren nih agak kecewek-cewekkan. gumam Tavian menatap Varren yang lewat bersama Alvaro menuju stan makanan.

Reja mengangguk pelan menatap Varren kagum. Gue kira cupu ternyata suhu. ujarnya dengan kekehan.

Tavian mengangguk. Badannya kayak gentong gitu aja bisa dia banting. Varren kuat banget rupanya. Muka doang baby face dan cantik. Kekuatan tetap Samson...!!!! seru Reja heboh.

Mereka memang melihat semua kejadiannya, sebab kejadian tak jauh dari arena kantin. Saat hendak membantu, mereka melihat Varren bisa mengatasinya dengan tenang dan juga tegas membuat mereka terduduk di sana menikmati pertunjukan yang Varren berikan.

"Tangan Varren lembut beut." gumam Reja.

Tavian mengangguk. Kayak cewek kan. Tapi sekarang gue yakin dia cowok. jelasnya terkekeh pelan.

Sylas diam menikmati es miliknya dan berdehem tak peduli. Masih dalam kegiatan makannya.

"Ren. Gue dapat kelas B gara-gara gue nggak sepinter loe. Hua kalo gini gue nggak bisa nyontek." ujar Alvaro menangis di dekat Varren yang makan mie ayam dicampur bakso terusik.

Varren meliriknya dan mengangguk. "Kelas B?!" tanyanya.

Alvaro mengangguk. Mana orang-orangnya nggak asik banget. Masa nanya di grup nggak ada yang jawab. jelasnya dengan lemah.

Varren itu hartanya. Karena Varren, dirinya bisa juara. Jika tidak ada Varren, bagaimana nasib kejuaraannya? Bisa-bisa ibu dan ayahnya akan sangat memarahi dirinya habis-habisan.

"Kamar loe lantai berapa?" tanya Varren pada Alvaro lagi.

Alvaro mendesis pelan. Kamar gue lantai dua. Syukur-syukur ada kipas angin. Katanya asrama elit tapi kok ACnya susah. jelasnya kesal kepada Varren yang berada di sisinya. Loe pasti dapat kamar eksklusif. Soalnya gue denger loe digabungin sama anak-anak terkenal itu. jelasnya menunjuk tempat duduk Sylas dan teman-temannya. Mereka anak geng Phoenix kalo loe nggak tau. Musuh geng kita Kings of Asphalt.

Varren menatap ke arah Sylas, Reja, dan Tavian. Phoenix? batinnya. Baru kali ini ia mendengar nama geng itu.

Alvaro melanjutkan berbisik, Mereka itu geng motor juga. Persaingan mereka sama kita udah lama banget. Katanya sih ada insiden di masa lalu yang bikin dua geng ini saling musuhan. Jadi loe harus hati-hati, Ren.

Varren mengangguk pelan. Matanya kembali tertuju pada Sylas yang sedang berbincang dengan Reja dan Tavian. Tampak akrab, tapi Varren bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di antara mereka.

Phoenix... Kings of Asphalt...

Varren tersenyum tipis.

Hidup di sekolah ini ternyata makin menarik.

---

Setelah makan, Varren pamit pada Alvaro dan berjalan kembali ke lapangan MOS. Sepanjang perjalanan, ia merenungkan perkataan Alvaro.

Geng Phoenix. Musuh gengnya.

Dan Sylas adalah bagian dari geng itu.

Varren tidak tahu harus merasa apa. Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan membiarkan persaingan geng mengganggu hubungannya dengan teman sekamarnya.

Setidaknya untuk sekarang.

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!