"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
Raungan mesin mobil yang dipacu Zaid membelah jalanan kota seperti banteng yang mengamuk. Pikirannya bercabang antara amarah yang memuncak pada geng Macan Hitam dan bayangan Khadijah yang ia turunkan begitu saja di pinggir jalan. Ada rasa pahit yang tertinggal di kerongkongannya rasa bersalah karena lagi-lagi ia harus meninggalkan istrinya demi dunia yang penuh darah dan debu.
Zaid tiba di lokasi pengadangan, sebuah gudang tua di pinggiran distrik kampus. Di sana, suasana sudah sangat kacau. Puluhan pemuda dengan jaket hitam berlambang macan mengepung Haikal dan Rian yang berdiri membelakangi dinding. Rian tampak menyeka darah dari sudut bibirnya, sementara Haikal yang biasanya tenang kini menggenggam sebuah besi panjang dengan rahang mengeras.
"Turunkan senjata kalian!" teriakan Zaid menggelegar saat ia keluar dari mobil.
Ketua geng Macan Hitam, seorang pria bertubuh gempal bernama Raka, menoleh dan menyeringai. "Wah, pangeran Al-Idrus sudah datang. Mana pengantin barumu, Zaid? Kudengar kamu menikahi seorang Syarifah yang tertutup rapat? Kenapa tidak dibawa ke sini supaya kami bisa melihat secantik apa dia?"
Mendengar nama Khadijah disebut dengan nada merendahkan oleh mulut kotor Raka, darah Zaid mendidih. Kilatan amarah di matanya kini murni, bukan lagi sekadar ego ketua geng, melainkan harga diri seorang suami.
"Jangan pernah berani menyebut namanya dengan mulut sampahmu itu," desis Zaid.
Tanpa peringatan, Zaid menerjang. Pukulan pertamanya mendarat telak di rahang Raka. Perkelahian besar tak terelakkan. Di tengah dentuman tinju dan teriakan, Zaid bertarung seperti orang kesurupan. Ia tidak peduli jika jaket kulitnya robek atau wajah tampannya memar. Di benaknya hanya ada satu tujuan: membungkam siapa pun yang berani menyentuh harga diri keluarganya.
Haikal dan Rian segera bergabung. "Zaid, kendalikan dirimu! Jangan sampai kamu membunuh orang!" teriak Haikal di sela-sela pergulatan. Namun Zaid seolah tuli. Setiap pukulan yang ia lepaskan adalah pelampiasan atas rasa frustrasinya selama beberapa hari terakhir atas kesedihannya kehilangan Farhan, dan atas rasa bersalahnya pada Khadijah.
Sementara itu, di kediaman Al-Idrus, Khadijah duduk di ruang tengah dengan gelisah. Ia telah berbohong pada Umi Syarifah, mengatakan bahwa Zaid ada urusan mendadak di organisasi kampus yang sangat penting. Umi percaya, namun naluri seorang istri tidak bisa dibohongi. Khadijah tahu suaminya sedang berada di medan tempur yang jauh dari cahaya Tuhan.
Ia masuk ke kamar, mengambil wudhu kembali untuk mendinginkan hatinya yang terbakar cemas. Khadijah membentangkan sajadahnya di pojok kamar yang remang. Dalam sujudnya yang panjang, ia menangis.
"Ya Allah, lindungilah suamiku. Mas Zaid memang jauh dari-Mu, tapi ia adalah amanah yang Engkau titipkan melalui tangan Kak Farhan. Jangan biarkan ia tersesat lebih jauh. Lembutkan hatinya, jaga raganya..."
Khadijah tidak membaca Al-Quran dengan nada tinggi seperti biasanya. Ia membacakan surah-surah perlindungan dengan suara lirih yang bergetar. Baginya, setiap ayat adalah tameng gaib yang ia kirimkan untuk melindungi Zaid dari kejauhan. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan jiwa Zaid, bukan hanya raganya.
Pukul sepuluh malam, suara deru mobil terdengar di halaman rumah. Khadijah segera bangkit dan berlari kecil menuju pintu depan. Saat pintu terbuka, ia melihat sosok Zaid yang bersandar kuyu di bingkai pintu.
Wajahnya penuh memar. Sudut bibirnya robek dan darah kering menempel di dahi. Kemejanya kotor oleh tanah dan noda merah. Di belakangnya, Haikal dan Rian memapah Zaid dengan wajah yang tak kalah kacau.
"Zaid!" Khadijah memekik pelan, menutup mulutnya dengan tangan.
"Kami antar sampai sini saja, Khadijah. Zaid keras kepala, dia tidak mau dibawa ke rumah sakit," ujar Haikal dengan napas tersengal. "Tolong urus dia. Kami permisi."
Khadijah segera menahan tubuh Zaid agar tidak jatuh. Tubuh kekar Zaid terasa sangat berat dan panas. Aroma keringat, besi (darah), dan debu jalanan menyeruak kuat. Khadijah memapah Zaid masuk ke dalam rumah dengan susah payah, menuju kamar mereka di lantai bawah agar tidak membangunkan mertuanya.
Setelah membaringkan Zaid di tempat tidur, Khadijah dengan sigap mengambil kotak obat dan air hangat. Ia tidak bertanya apa pun. Ia tidak menceramahi. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai membersihkan luka di wajah Zaid menggunakan kapas.
Zaid meringis saat alkohol menyentuh luka di dahinya. Ia membuka matanya sedikit, menatap Khadijah yang sedang fokus mengobatinya. Di bawah cahaya lampu kamar, ia bisa melihat mata Khadijah yang sembap jelas habis menangis lama.
"Kenapa kamu belum tidur?" suara Zaid serak, hampir hilang.
"Bagaimana saya bisa tidur sementara suami saya sedang bertaruh nyawa di luar sana?" jawab Khadijah tanpa menatap mata Zaid. Ia terus menyeka darah di pipi Zaid dengan gerakan yang sangat lembut.
Zaid terdiam. Ia merasakan dinginnya air dan hangatnya perhatian Khadijah mengalir ke dalam hatinya yang selama ini beku. "Aku menang, Khadijah. Mereka tidak akan berani lagi menghinamu."
Gerakan tangan Khadijah terhenti. Ia menatap Zaid dengan pandangan sedih. "Kemenangan apa yang Mas dapatkan dari darah dan luka? Mas pikir saya bangga dibela dengan cara seperti ini?"
"Lalu aku harus bagaimana?! Aku tidak punya cara lain selain tinju!" suara Zaid meninggi karena frustrasi.
Khadijah meletakkan kapasnya, lalu menatap Zaid lekat-lekat. "Mas punya Tuhan. Mas punya doa istri Mas. Saat Mas berkelahi tadi, saya bersujud meminta keselamatan Mas. Itulah cara saya membela Mas. Tolong... jangan buat saya takut setiap kali Mas keluar rumah."
Zaid tertegun. Ia melihat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Khadijah, membasahi kain cadarnya. Keangkuhan Zaid runtuh seketika. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa tinjunya tidak ada artinya dibandingkan dengan air mata wanita di depannya ini.
Zaid meraih tangan Khadijah yang sedang memegang kain kompres. Ia menggenggamnya erat, meski tangannya sendiri penuh luka lecet. "Maaf... Maafkan aku, Khadijah."
Malam itu, di tengah aroma obat-obatan dan keheningan kamar, sebuah retakan besar terjadi pada dinding ego Zaid. Ia mulai menyadari bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling keras memukul, melainkan pada siapa yang paling tulus mendoakan.