Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 - Janji yang Tak Pernah Padam
**DOR!**
Pistol di tangan Leonard terlempar setelah peluru menghantam pergelangan tangannya.
"Akh!"
Leonard mundur dua langkah sambil memegangi tangannya yang berdarah.
Semua orang menoleh ke arah gerbang.
Sebuah SUV hitam berhenti tepat di halaman rumah.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun dengan tenang. Rambutnya mulai memutih, tubuhnya tegap, dan sorot matanya tajam.
Di tangan kanannya masih tergenggam senapan laras panjang.
Pram mematung.
Air mata langsung memenuhi pelupuk matanya.
"Astaga..."
"...Darma?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Aku pulang."
---
Leonard menatap pria itu dengan wajah penuh kebencian.
"Mustahil."
"Kau sudah mati."
Darma menggeleng pelan.
"Yang mati hanya identitasku."
"Aku sengaja menghilang."
"Supaya kalian berhenti memburu keluargaku."
Leonard tertawa sinis.
"Sayangnya..."
"...kau tetap kembali."
"Bukan."
Darma melangkah semakin dekat.
"Aku kembali untuk mengakhiri semua ini."
---
Di dalam mobil yang melaju menuju rumah Pram, layar ponsel Kirana masih menampilkan siaran CCTV.
Raka memperhatikan wajah pria tua itu.
Entah mengapa, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
"Aku pernah melihatnya..."
bisiknya.
Melati menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
"Iya."
"Kamu pernah."
"Dia adalah sahabat ayahmu."
"Orang yang menyelamatkanmu malam kebakaran."
Raka mencoba mengingat.
Perlahan muncul bayangan seorang pria menggendongnya keluar dari rumah yang terbakar.
Namun wajahnya masih samar.
---
Di rumah Pram...
Leonard memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Tangkap dia!"
Empat pria langsung menyerbu Darma.
Namun gerakannya masih sangat lincah.
Ia menghindari pukulan pertama.
Menyikut penyerang kedua.
Lalu menjatuhkan pria ketiga dengan satu tendangan.
Pram yang melihat itu hanya menggeleng pelan.
"Dasar..."
"Kau memang tidak pernah berubah."
Darma tertawa kecil.
"Masih lumayan untuk orang tua."
Namun jumlah lawan terlalu banyak.
Sedikit demi sedikit mereka mulai mengepungnya.
---
Sementara itu...
Mobil Raka akhirnya memasuki kawasan rumah Pram.
Dari kejauhan sudah terdengar suara tembakan.
"Ayah!"
teriak Alea.
Mobil bahkan belum berhenti sempurna ketika ia membuka pintu.
Raka segera mengejarnya.
"Jangan sendiri!"
Mereka berlari memasuki halaman.
Pemandangan di depan membuat Alea membeku.
Ayahnya masih berdiri.
Namun Darma kini berlutut sambil memegangi bahunya yang terkena tembakan.
Leonard kembali mengangkat pistol.
"Kali ini..."
"...tidak ada yang menyelamatkanmu."
---
"Berhenti!"
Suara Raka menggema.
Semua kepala langsung menoleh.
Tatapan Leonard jatuh pada Raka.
Lalu...
Ia tersenyum.
"Akhirnya..."
"...pewaris itu datang sendiri."
Pram langsung berteriak.
"Raka! Jangan mendekat!"
Namun Leonard justru mengalihkan moncong pistolnya.
Bukan lagi ke arah Darma.
Melainkan tepat ke dada Raka.
"Aku sudah menunggumu selama dua puluh tahun."
Raka tetap melangkah.
"Kalau memang aku yang kau cari..."
"...lepaskan mereka."
Leonard tertawa.
"Kau mirip sekali ayahmu."
"Selalu ingin menjadi pahlawan."
Raka mengernyit.
"Kau mengenal ayahku?"
Leonard mendekat beberapa langkah.
"Bukan hanya mengenal."
"Ayahmu..."
"...adalah orang yang paling kubenci."
---
Melati menutup mulutnya.
Kirana menggenggam tangan ibunya erat.
Sementara Alea berdiri di samping Raka tanpa sedikit pun mundur.
"Aku juga tidak akan pergi," katanya tegas.
Raka menoleh.
"Lea..."
"Aku istrimu."
"Kalau kita menghadapi ini..."
"...kita hadapi bersama."
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, tidak ada lagi kebohongan di antara keduanya.
Hanya ada kepercayaan.
---
Leonard menghela napas panjang.
"Baiklah."
"Kalian ingin tahu siapa ayah kandung Raka?"
"Silakan."
Ia mengambil sebuah amplop tua dari dalam jasnya.
Lalu melemparkannya ke arah Raka.
Amplop itu jatuh tepat di kakinya.
"Di dalamnya ada akta kelahiran asli."
"Dan surat yang ditulis ayahmu sebelum dia mati."
Tangan Raka bergetar saat mengambil amplop itu.
Belum sempat ia membukanya...
Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
**Wiu... Wiu... Wiu...**
Leonard tersenyum tipis.
"Kalian pikir ini sudah berakhir?"
Ia menekan sebuah tombol kecil di jam tangannya.
**Bip!**
Beberapa detik kemudian...
Terdengar ledakan keras dari arah rumah Pram.
**BOOOM!**
Gelombang kejut membuat semua orang terpental.
Asap hitam membumbung tinggi ke langit.
Di tengah kepanikan itu, amplop yang berada di tangan Raka terlempar tertiup ledakan.
Lembaran-lembaran kertas beterbangan di udara.
Salah satunya jatuh tepat di depan Alea.
Matanya membelalak ketika membaca nama yang tertulis di bagian atas dokumen.
**Nama Ayah: Ardi Mahendra.**
Namun di bawahnya, ada satu cap merah besar yang membuat jantungnya berdegup kencang.
> **DOKUMEN PALSU – DIGANTI BERDASARKAN PERINTAH PENGADILAN KHUSUS.**
Alea mengangkat wajahnya perlahan.
Kalau akta kelahiran Raka saja dipalsukan...
Berarti identitas asli Raka selama ini telah disembunyikan secara resmi.
Dan orang yang memiliki kekuasaan mengubah dokumen negara...
Jauh lebih berbahaya daripada Leonard seorang diri.
**Bersambung...**