Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
Semua orang di ruang tamu itu menunggu jawaban dari Enzo. Terutama Ranti dan Saras. Mereka ingin tahu apa pekerjaan pria yang disukai Chantika ini.
Enzo sempat melirik sekilas ke arah Chantika sebelum kembali menatap Rahardja.
"Saya membantu mengelola operasional perusahaan," jawab Enzo tenang, tanpa sedikit pun terlihat gugup.
Jawaban yang tidak sepenuhnya bohong. Hanya saja, ia sengaja menghilangkan satu fakta penting, bahwa perusahaan itu adalah miliknya sendiri.
Rahardja mengangguk pelan. "Perusahaan ekspor-impor ya?"
"Iya, Tuan."
"Sudah berapa lama bekerja di sana?"
Enzo terdiam sejenak seolah menghitung, hingga akhirnya menjawab, "Hampir sepuluh tahun."
"Cukup lama juga," gumam Rahardja pelan "Pekerjaanmu pasti sering membuatmu ke luar kota."
"Cukup sering," jawab Enzo jujur.
"Lalu..." tanya Rahardja . "bagaimana kalau nanti sudah berkeluarga?"
Enzo menjawab tanpa ragu. "Keluarga tetap menjadi prioritas saya."
Jawaban singkat itu membuat Rahardja memerhatikannya beberapa detik.
"Bagus," puji Rahardja. "Sudah lama kenal dengan Chantika?"
Enzo tersenyum tipis. "Belum lama, Tuan," jawab Enzo. "Tapi niat saya serius."
Kalimat itu membuat Chantika spontan menoleh.
Di samping Rahardja, Ranti akhirnya ikut membuka suara. "Orang tua kamu tinggal di mana?"
Sorot mata Enzo berubah sedikit lebih dalam. "Mereka sudah lama tidak bersama saya."
Jawaban itu memang benar. Hanya saja, maknanya berbeda dengan yang dipahami orang lain.
Ranti mengangguk pelan. "Saudara?"
"Ada."
"Kerja juga?"
"Sedang saya cari."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Enzo, kata mencari itulah yang telah mengubah seluruh hidupnya. Tak seorang pun di ruangan itu mengetahui maksud sebenarnya.
Saras yang sejak tadi diam akhirnya ikut bertanya. "Kak Enzo datang naik mobil sendiri?"
"Iya," jawab Enzo singkat.
"Mobilnya apa?"
"Sedan biasa."
Saras tersenyum tipis.."Oo...."
Jawaban itu membuatnya diam-diam merasa lebih unggul. "Ternyata memang pegawai biasa," batinnya.
Sementara itu, Chantika hanya menahan senyum. Ia tak menyangka Enzo akan mendalami perannya sampai sejauh itu.
"Effort banget sampai berpenampilan kayak gitu," batinnya.
Namun Chantika sadar, bahwa aura calon suaminya itu tak bisa disembunyikan dengan penampilannya yang biasa.
Rahardja kemudian menoleh kepada Chantika. "Jadi malam ini kalian hanya makan malam?"
"Iya, Pa."
"Jangan pulang terlalu malam."
"Siap."
Enzo ikut mengangguk hormat. "Saya akan mengantarkan Chantika pulang dengan selamat."
Rahardja tersenyum tipis. "Itu yang ingin saya dengar."
Ranti kembali mengamati Enzo. Pria ini memang berpakaian sederhana. Namun, cara duduknya, cara berbicaranya, hingga ketenangan yang terpancar darinya sama sekali tidak menunjukkan pribadi seorang bawahan biasa. Ada wibawa yang sulit dijelaskan.
Rahardja pun merasakan hal yang sama. Ia sudah puluhan tahun berbisnis dan terbiasa bertemu berbagai macam orang. Pria di hadapannya ini jelas bukan orang yang mudah ditekan.
Meski berbicara sopan, entah mengapa auranya membuat orang lain tanpa sadar ikut menjaga sikap.
Sementara itu, Enzo tetap memasang wajah tenang.
Tak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa pria dengan penampilan sederhana yang duduk di hadapan mereka sebenarnya adalah sosok yang disegani di dunia bawah.
Seorang ketua organisasi yang mampu memberi perintah dengan satu kalimat. Namun malam ini memilih datang hanya sebagai seorang pria yang ingin meminta izin mengajak wanita yang telah menjadi pemilik hatinya makan malam.
Beberapa menit kemudian mereka berjalan menuju halaman depan. Mobil sedan berwarna hitam yang sederhana sudah menunggu.
Ranti memerhatikan kendaraan itu sekilas. "Bukan mobil mewah."
Entah mengapa, ia merasa penilaiannya terhadap Enzo semakin tepat.
Sementara Saras juga hanya melirik sebentar sebelum kehilangan minat. Dalam hati ia menyayangkan.
"Tampang sih oke. Banget malah. Tapi sayang cuma pegawai biasa."
Enzo lebih dulu melangkah ke sisi penumpang. "Klik." Ia membukakan pintu untuk Chantika.
"Silakan."
Chantika menatap pria itu beberapa saat sebelum tersenyum. "Terima kasih."
Setelah memastikan Chantika duduk dengan nyaman, Enzo menutup pintu perlahan. Barulah ia memutari bagian depan mobil menuju kursi pengemudi.
Rahardja memerhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Pria muda itu mungkin datang dengan mobil sederhana. Pakaiannya juga biasa. Namun, cara memperlakukan putrinya... tidak terlihat dibuat-buat.
Rahardja menarik napas kecil. "Setidaknya, dia tahu bagaimana menghormati perempuan."
Di dalam mobil, Chantika melirik Enzo yang baru saja memasang sabuk pengaman.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Sudah mengikuti permintaanku."
Enzo tersenyum tipis. "Kalau itu bikin kamu merasa lebih tenang, gak ada salahnya jadi pria biasa untuk sementara."
Jawaban itu membuat senyum Chantika semakin lebar. Tanpa disadarinya, perhatian-perhatian kecil seperti itulah yang perlahan membuat hatinya semakin terbuka kepada Enzo.
Mobil Enzo perlahan melaju meninggalkan pekarangan rumah Rahardja.
Rahardja menatapnya hingga menghilang di balik pagar rumahnya. "Instingku mengatakan pemuda itu bukan orang biasa, tapi semua yang tampak di depanku justru menunjukkan sebaliknya. Aneh."
Di mobil Enzo yg melaju perlahan, "Mau makan di mana?" tanya Enzo, melirik Chantika sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.
"Terserah kamu aja," jawab Chantika.
Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut seolah baru mengingat sesuatu.
"Eh, aku kan belum pernah kasih alamat rumahku ke kamu. Kok kamu bisa tahu?"
Sudut bibir Enzo terangkat tipis. "Masa iya aku gak tahu rumah mertuaku?"
Chantika mendengus pelan. "Dasar. Cepat juga kamu cari tahunya."
Enzo hanya membalas dengan senyum tipis sebelum kembali menatap jalan di depannya.
"Lagipula..." ucapnya pelan, "mencari alamat rumah seseorang jauh lebih mudah."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi ada orang yang sudah bertahun-tahun kucari... sampai sekarang belum juga kutemukan."
Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi sorot matanya berubah jauh lebih dalam.
Chantika menoleh. Ia menangkap perubahan kecil pada ekspresi pria itu.
"Siapa?" tanyanya pelan.
Enzo terdiam beberapa saat. "Akan kuceritakan nanti."
Mobil terus melaju membelah jalan malam, sementara keheningan perlahan memenuhi kabin.
Chantika menatap pria di sampingnya itu. "Entah mengapa, aku merasa... di balik wajah tenangnya itu, ada luka yang telah ia bawa selama bertahun-tahun."
...🔸🔸🔸...
..."Penampilan bisa disederhanakan, jabatan bisa disembunyikan, tetapi karakter akan selalu menemukan caranya untuk terlihat."...
..."Orang yang benar-benar berharga tidak sibuk menunjukkan siapa dirinya. Justru dunia yang perlahan akan menyadari nilainya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...
Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.
Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.
Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.
Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.
Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.
Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.
Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.
Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.
Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.
Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.
Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...
jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit