NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:197.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa

Semua orang di ruang tamu itu menunggu jawaban dari Enzo. Terutama Ranti dan Saras. Mereka ingin tahu apa pekerjaan pria yang disukai Chantika ini.

Enzo sempat melirik sekilas ke arah Chantika sebelum kembali menatap Rahardja.

"Saya membantu mengelola operasional perusahaan," jawab Enzo tenang, tanpa sedikit pun terlihat gugup.

Jawaban yang tidak sepenuhnya bohong. Hanya saja, ia sengaja menghilangkan satu fakta penting, bahwa perusahaan itu adalah miliknya sendiri.

Rahardja mengangguk pelan. "Perusahaan ekspor-impor ya?"

"Iya, Tuan."

"Sudah berapa lama bekerja di sana?"

Enzo terdiam sejenak seolah menghitung, hingga akhirnya menjawab, "Hampir sepuluh tahun."

"Cukup lama juga," gumam Rahardja pelan "Pekerjaanmu pasti sering membuatmu ke luar kota."

"Cukup sering," jawab Enzo jujur.

"Lalu..." tanya Rahardja . "bagaimana kalau nanti sudah berkeluarga?"

Enzo menjawab tanpa ragu. "Keluarga tetap menjadi prioritas saya."

Jawaban singkat itu membuat Rahardja memerhatikannya beberapa detik.

"Bagus," puji Rahardja. "Sudah lama kenal dengan Chantika?"

Enzo tersenyum tipis. "Belum lama, Tuan," jawab Enzo. "Tapi niat saya serius."

Kalimat itu membuat Chantika spontan menoleh.

Di samping Rahardja, Ranti akhirnya ikut membuka suara. "Orang tua kamu tinggal di mana?"

Sorot mata Enzo berubah sedikit lebih dalam. "Mereka sudah lama tidak bersama saya."

Jawaban itu memang benar. Hanya saja, maknanya berbeda dengan yang dipahami orang lain.

Ranti mengangguk pelan. "Saudara?"

"Ada."

"Kerja juga?"

"Sedang saya cari."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Enzo, kata mencari itulah yang telah mengubah seluruh hidupnya. Tak seorang pun di ruangan itu mengetahui maksud sebenarnya.

Saras yang sejak tadi diam akhirnya ikut bertanya. "Kak Enzo datang naik mobil sendiri?"

"Iya," jawab Enzo singkat.

"Mobilnya apa?"

"Sedan biasa."

Saras tersenyum tipis.."Oo...."

Jawaban itu membuatnya diam-diam merasa lebih unggul. "Ternyata memang pegawai biasa," batinnya.

Sementara itu, Chantika hanya menahan senyum. Ia tak menyangka Enzo akan mendalami perannya sampai sejauh itu.

"Effort banget sampai berpenampilan kayak gitu," batinnya.

Namun Chantika sadar, bahwa aura calon suaminya itu tak bisa disembunyikan dengan penampilannya yang biasa.

Rahardja kemudian menoleh kepada Chantika. "Jadi malam ini kalian hanya makan malam?"

"Iya, Pa."

"Jangan pulang terlalu malam."

"Siap."

Enzo ikut mengangguk hormat. "Saya akan mengantarkan Chantika pulang dengan selamat."

Rahardja tersenyum tipis. "Itu yang ingin saya dengar."

Ranti kembali mengamati Enzo. Pria ini memang berpakaian sederhana. Namun, cara duduknya, cara berbicaranya, hingga ketenangan yang terpancar darinya sama sekali tidak menunjukkan pribadi seorang bawahan biasa. Ada wibawa yang sulit dijelaskan.

Rahardja pun merasakan hal yang sama. Ia sudah puluhan tahun berbisnis dan terbiasa bertemu berbagai macam orang. Pria di hadapannya ini jelas bukan orang yang mudah ditekan.

Meski berbicara sopan, entah mengapa auranya membuat orang lain tanpa sadar ikut menjaga sikap.

Sementara itu, Enzo tetap memasang wajah tenang.

Tak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa pria dengan penampilan sederhana yang duduk di hadapan mereka sebenarnya adalah sosok yang disegani di dunia bawah.

Seorang ketua organisasi yang mampu memberi perintah dengan satu kalimat. Namun malam ini memilih datang hanya sebagai seorang pria yang ingin meminta izin mengajak wanita yang telah menjadi pemilik hatinya makan malam.

 

Beberapa menit kemudian mereka berjalan menuju halaman depan. Mobil sedan berwarna hitam yang sederhana sudah menunggu.

Ranti memerhatikan kendaraan itu sekilas. "Bukan mobil mewah."

Entah mengapa, ia merasa penilaiannya terhadap Enzo semakin tepat.

Sementara Saras juga hanya melirik sebentar sebelum kehilangan minat. Dalam hati ia menyayangkan.

"Tampang sih oke. Banget malah. Tapi sayang cuma pegawai biasa."

Enzo lebih dulu melangkah ke sisi penumpang. "Klik." Ia membukakan pintu untuk Chantika.

"Silakan."

Chantika menatap pria itu beberapa saat sebelum tersenyum. "Terima kasih."

Setelah memastikan Chantika duduk dengan nyaman, Enzo menutup pintu perlahan. Barulah ia memutari bagian depan mobil menuju kursi pengemudi.

Rahardja memerhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Pria muda itu mungkin datang dengan mobil sederhana. Pakaiannya juga biasa. Namun, cara memperlakukan putrinya... tidak terlihat dibuat-buat.

Rahardja menarik napas kecil. "Setidaknya, dia tahu bagaimana menghormati perempuan."

 

Di dalam mobil, Chantika melirik Enzo yang baru saja memasang sabuk pengaman.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Sudah mengikuti permintaanku."

Enzo tersenyum tipis. "Kalau itu bikin kamu merasa lebih tenang, gak ada salahnya jadi pria biasa untuk sementara."

Jawaban itu membuat senyum Chantika semakin lebar. Tanpa disadarinya, perhatian-perhatian kecil seperti itulah yang perlahan membuat hatinya semakin terbuka kepada Enzo.

Mobil Enzo perlahan melaju meninggalkan pekarangan rumah Rahardja.

Rahardja menatapnya hingga menghilang di balik pagar rumahnya. "Instingku mengatakan pemuda itu bukan orang biasa, tapi semua yang tampak di depanku justru menunjukkan sebaliknya. Aneh."

 

Di mobil Enzo yg melaju perlahan, "Mau makan di mana?" tanya Enzo, melirik Chantika sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.

"Terserah kamu aja," jawab Chantika.

Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut seolah baru mengingat sesuatu.

"Eh, aku kan belum pernah kasih alamat rumahku ke kamu. Kok kamu bisa tahu?"

Sudut bibir Enzo terangkat tipis. "Masa iya aku gak tahu rumah mertuaku?"

Chantika mendengus pelan. "Dasar. Cepat juga kamu cari tahunya."

Enzo hanya membalas dengan senyum tipis sebelum kembali menatap jalan di depannya.

"Lagipula..." ucapnya pelan, "mencari alamat rumah seseorang jauh lebih mudah."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi ada orang yang sudah bertahun-tahun kucari... sampai sekarang belum juga kutemukan."

Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi sorot matanya berubah jauh lebih dalam.

Chantika menoleh. Ia menangkap perubahan kecil pada ekspresi pria itu.

"Siapa?" tanyanya pelan.

Enzo terdiam beberapa saat. "Akan kuceritakan nanti."

Mobil terus melaju membelah jalan malam, sementara keheningan perlahan memenuhi kabin.

Chantika menatap pria di sampingnya itu. "Entah mengapa, aku merasa... di balik wajah tenangnya itu, ada luka yang telah ia bawa selama bertahun-tahun."

 

...🔸🔸🔸...

..."Penampilan bisa disederhanakan, jabatan bisa disembunyikan, tetapi karakter akan selalu menemukan caranya untuk terlihat."...

..."Orang yang benar-benar berharga tidak sibuk menunjukkan siapa dirinya. Justru dunia yang perlahan akan menyadari nilainya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Enzo sudah siap membidik tepat di kepala penyendera. Namun Enzo tidak mau ambil resiko. Bisa mengenai Chantika yang berada di depan penyandera.

Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.

Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Anonim
Chantika dan anggota lain perhatiannya tertuju pada kondisi Rizal. Sampai tidak menyadari bahaya mengancam Chantika.

Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.

Penyandera minta disiapkan kendaraan.

Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Anonim
Yang ditunggu selama tujuh menit akhirnya datang juga.

Duuuuh malah terjadi tembak menembak.

Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.

Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.

Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.

Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Anonim
Enzo tersenyum melihat istrinya menggunakan anting pemberiannya sebagai senjata untuk memperdaya lawan.

Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.

Belum saatnya Enzo turun.
Anonim
WOW...Chantika ingat anting pemberian dari Enzo, yang sudah terpasang alarm ultrasonik.

Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.

Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.

Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.

Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.

Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Ass Yfa
dari awal aku seh ngira Saras ank bawaaan Ranti ternyata benar
Anonim
Tujuh menit kelamaan komandan.

Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.

Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.

Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.

Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Anonim
Chantika dengan tim hanya berjumlah enam orang. Tak sebanding dengan pihak lawan yang berjumlah dua puluh tiga orang bersenjata.

Chantika dan timnya sudah dikepung

Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.

Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Anonim
Rizal pasti sangat panik nengetahui jalur keluar untuk menghindar dari lawan tertutup sebuah truk trailer.

Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.

Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.

Lawan lebih dari dua puluh orang.

Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.

Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Anonim
Enzo sudah berada di atas crane bongkar muat - mengamati semua melalui teropong optik.

Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.

Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.

Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.

Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Anonim
Jeli juga tuh pria bertubuh kekar, segel plastik pengaman sedikit bergeser tahu dia.

Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.

Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.

Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.

Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Anonim
Tiga puluh menit, Enzo. Mesti terbang ke sana. Chantika dalam bahaya seperti yang Vito khawatirkan.

Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.

Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Anonim
Enzo mendengar laporan dari Vito, Chantika ada di kawasan pelabuhan, di duga sebagai surveillance.

Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Anonim
Saras sebagai anak maupun sebagai karyawan di perusahaan milik Papanya tidak ada yang bisa dibanggakan.

Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Anonim
Nah lo Saras mendapatkan ceramah panjang dari Papanya.

Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.

Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.

Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Anonim
Saras ketahuan Papanya tidak ada di kantor.

Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.

Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.

Weleeehhh Saras
Anonim
He he...Enzo ngerjain adik ipar yang kepo berat serta tak tahu diri.

Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.

Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.

Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.

Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Anonim
Saras kurang kerjaan, mendatangi kantor Enzo, Arkana Global Logistics. Masih saja penasaran dengan Enzo.

Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.

Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Anonim
Enzo telah mendapat laporan dari Vito tentang tim pengintai yang telah mendapati aktivitas yang mencurigakan di gudang kawasan pelabuhan.

Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.

Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.

Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.

Chantika memimpin tim surveillance.

The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.

Pertempuran nanti malam bakal seru.
Zieya🖤
karya yg bagus🖤🖤🖤🖤
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!