Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23-Bimbang
Hari yang benar-benar sudah sangat dinanti-nantikan bagi kelas XII akhirnya tiba juga. Hari ini adalah acara pelepasan siswa kelas XII, memakai seraam yang sebelumnya sudah dijanjikan. Untuk pria memakai jas hitam, dan untuk wanita memakai kebaya dengan warna yang sesuai dengan selera.
Kali ini, Lula berdiri didepan panggung seorang diri dengan memegang medalinya dan juga sertifikat prestasi nya. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya Lula berhasil mempertahankan posisi nya sebagai peringkat satu kelas dan juga umum. Ia juga diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya diluar negri, negara yang ia idam-idamkan, ia tau ini semua hanyalah tipuan, hal ini Tante Ghea lakukan agar Arhan tidak curiga karena bisa saja Arhan bertanya-tanya, kok bisa Lula pergi ke luar negri? Uang dari mana? Oleh karena itu, Tante Ghea memunculkan idenya untuk mengatasnamakan beasiswa saja pada Lula nantinya.
Setelah memberikan pidato singkat, Lula diberi tepuk tangan yang meriah oleh tamu undangan. Ia sebenarnya agak sedikit iri pada teman-teman nya yang dihadiri oleh orang tuanya masing-masing, sedangkan dia? Ia hanya lah seorang perempuan malang yang sebatang kara, tidak punya siapapun dalam hidupnya. Tapi untunglah ada Aska yang menjadi temannya kala itu karena ayahnya juga tidak hadir dalam acaranya dengan alasan ada meeting diluar negri.
"Selamat! Gue bangga sama pencapaian Lo! Lo pantes dapet ini semua." Aska mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lula yang baru saja menuruni panggung.
Lula menerima jabatan tangan tersebut. "Makasih, gue juga masih nggak nyangka kalau ternyata gue masih bisa bertahan di peringkat satu."
"Lo pantes dapet ini semua."
Lula duduk disamping Aska karena ya orang tua mereka sama-sama tidak ada disitu jadi mereka berdua duduk bersebelahan. Disela obrolannya, Lula yang sedang tertawa malah tidak sengaja bertatapan mata dengan orang yang pernah ia tolak cintanya itu, dengan orang yang sudah berbulan-bulan selalu Lula hindari itu.
Karena Arhan adalah anak dari pemilik sekolah ini, Arhan kini berada diatas panggung dengan kedua orangtuanya. Arhan diatas panggung sana menatapnya dengan begitu dalam, begitu intens, begitu sensitif, begitu rindu, begitu semakin kehilangan orang tercintanya.
Deg....
Baik Lula maupun Arhan, jantung mereka sama-sama tidak ada yang aman. Untuk beberapa menit mereka benar-benar menikmati tatapan itu. Tatapan yang sudah lama mereka rindukan.
Hingga suatu tepukan pada pundak Lula, membuatnya tersadar.
"La, inget tujuan Lo ya. Katanya mau ikhlasin Arhan? Mau lupain dia? Kok malah masih komunikasi." Jelas Aska yang melihat Lula dan Arhan saling berpandangan tadi.
Lula tercengang. "Komunikasi? Gue kan enggak ngomong apa-apa." Ucapannya yang begitu kaget saat Aska bilang bahwa dirinya masih berkomunikasi dengan Arhan. Padahal selama ini ia tidak pernah sekalipun berkomunikasi dengan cowok itu.
Aska membuat nafasnya kasar. "Itu tadi namanya komunikasi mata Lula! Awas aja sampe gue liat kalo Lo masih tatap-tatapan sama Arhan."
" Ya maap, khilaf tadi Ka..." Elak Lula pada Aska dengan menunjukkan cengiran kudanya.
Sementara diatas panggung sana, Arhan tidak pernah lepas menatap Lula Khansa. Tatapannya benar-benar rindu, sangat rindu dengan perempuan itu. Ingin rasanya Arhan menghampiri Lula, mengucapkan selamat atas prestasinya, selamat atas kelulusannya, selamat atas impian nya yang berhasil, ingin memberikan bucket Lily pink yang sudah ia persiapkan kepada Lula detik itu juga. Namun ia tidak mampu untuk melakukan itu. Ia hanya bisa menatap dari jauh, bahagia melihat Lula yang lulus dengan nilai terbaik.
"Tunggu aku lulus nanti sayang.... Aku akan buktikan kalau cinta ku benar-benar tulus padamu." Ucap Arhan dalam hatinya.
*****
*****
Arhan memakan makanan malam nya dimeja makan dengan tenang bersama mama dan papanya.
"Arhan, papa liat prestasi kamu bagus sekali, papa berkeinginan kalau akhir tahun ini kamu diluluskan saja, lalu setelah nya papa ingin kamu belajar banyak tentang perusahaan." Ucap Dika, papa kandung Arhan itu mengutarakan niatnya pada anak sulungnya itu.
Arhan menghentikan aktivitasnya. Menatap sang papa. "Belajar dunia bisnis gitu pa?" Tanya Arhan memastikan.
Dika mengangguk. "Iya, papa punya perusahaan aplikasi yang ada diluar negri, dan sekarang ini semakin lama semakin berkembang pesat. Tidak mungkin kalau papa handle semua usaha papa sendirian. Kakak mu sudah pegang perusahaan yang diluar kota, sekarang kamu yang harus belajar."
Ghea mengangguk setuju dengan suaminya. "Benar apa kata papa, kamu ikuti saja kemauannya Arhan. Kalau kamu sudah sampai dititik memimpin perusahaan, maka perjodohan yang mama dan papa rencana kan sedari dulu akan segera dilakukan iya kan pa?" Ghea menatap suaminya, kemudian Dika memberikan anggukan pelan.
Arhan meletakkan sendok dan garpu nya. "Ma, pa, Arhan kan mau kuliah di Eropa, Arhan juga enggak mau nikah cepet, masa depan Arhan masih panjang." Jelasnya kemudian. Padahal alasannya ya karena sampai detik ini perasaannya masih sama, yaitu pada seorang cewek yang bernama Lula Khansa. Entah bagaimana kabar cewek itu sekarang, karena Arhan sudah tidak bisa lagi menyuruh orang untuk mengawasi Lula Khansa.
"Arhan, kamu itu pewaris, tidak perlu kuliah tinggi nak, pelajari ilmu perusahaan yang sudah papa bangun, kembangkan perusahaan itu hingga terkenal ke seluruh dunia. Kamu tidak perlu capek-capek mengejar pendidikan. Kamu sukses pasti akan ada banyak orang yang mengejar mu." Jelas Dika pada sang putra dengan baik-baik.
"Arhan butuh waktu pa...." Titahnya kemudian.
Dhea yang ingin berucap pada anaknya malah ditahan oleh sang suami.
"Papa beri waktu seminggu ini, papa harap keputusan mu itu jangan mengecewakan orang tua. Papa ingin kamu sukses diusia muda ini, suapaya saat menikah nanti tidak bingung dengan uang."
"Pa, jangan bahas menikah. Arhan kan udah bilang kalo Arhan belom siap nikah, apalagi dijodohkan! Arhan enggak mau!" Arhan segera bangkit dari kursinya, meninggalkan meja makan itu. Entahlah hatinya begitu sensitif jika orang tuanya yang selalu membahas tentang perjodohan. Ada hati yang harus dijaga, ada cinta yang harus diperjuangkan, ia tidak ingin ini semua rusak karena akhirnya Arhan akan menikah dengan seseorang yang tidak pernah ia inginkan.
Arhan merebahkan dirinya di kasur yang super big size itu. Memejamkan matanya. Sialnya ia malah terbayang-bayang terus dengan Lula. Pikirannya sekarang adalah, bagaimana keadaan cewek itu disana? Apakah Lula baik-baik saja? Apakah Lula disana sudah mengenal cowok-cowok bule? Shitt... Apalagi pasti di Eropa banyak sekali cowok yang tampan, walaupun Arhan yakin masih tampan dirinya tapi tetap saja, membayangkan Lula dengan yang lain membuatnya cemburu.
Arhan langsung memeluk gulingnya, ia harus beralih pikiran sekarang. Apakah ia akan mengikuti tawaran papa nya untuk masuk ke dunia kerja, atau tetap pada pendiriannya yang ingin kuliah di Eropa, menyusul cewek itu, namun hal itu pasti akan membuat sang papa benar-benar kecewa besar padanya, sedangkan Arhan bukanlah anak yang akan membantah.
Apakah ia harus mengubah pola pikir rencana nya, mengubah skripsinya? Ia jadi teringat dengan ucapan sang papa, "kalau dirinya sukses dan bisa mengembangkan perusahaan menjadi semakin terkenal, maka akan ada banyak orang yang mengejarnya." Apakah kalau ia bisa memimpin perusahaan itu, Lula akan mau dengan dirinya ini?
"Arhan... Masa Lo enggak sadar sih? Buat apa gue suka sama bocah kaya Lo? Selera gue bukan yang di bawah umur kaya Lo Arhan. Lo itu masih kaya anak SMP bagi gue, bocah ingusan!"
Tiba-tiba saja bayangan saat Lula menyebutnya 'bocah' langsung muncul dikepala nya. Apakah ia harus menurut dengan papa nya? Ia juga berfikir jika ia bisa memimpin perusahaan itu artinya ia sudah dewasa.
Arghh....
Arhan benar-benar pusing memikirkan ini semua. Ia mengacak rambutnya dengan berantakan, sungguh memikirkan hal ini membuatnya cenut-cenutan.