The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang di Tepi Blue Lake
Kepalaku masih berdenyut ketika keluar dari Lakeview Inn. Udara malam yang dingin menghantam wajah dan membuat luka di bibir terasa semakin terbuka. Penglihatanku belum sepenuhnya lurus. Lampu-lampu yang digantung di depan bangunan pelabuhan meninggalkan jejak kekuningan setiap kali aku menggerakkan kepala terlalu cepat, sementara tanah di bawah kakiku seolah miring mengikuti langkah.
Aku mungkin terlihat seperti orang mabuk malam itu, meskipun bir belum menyentuh lidahku setetes pun.
Ishar sudah cukup jauh di depan. Gaun biru yang diberikan istri pemilik penginapan bergerak di antara para pekerja yang baru selesai dari dermaga. Sanggulnya mulai longgar akibat langkah cepat, membuat beberapa helai rambut pirang jatuh di sekitar leher. Ia tidak mengenakan mantel Rosh. Mungkin benda itu masih tertinggal di kamarnya, terlipat rapi di atas ranjang.
“Ishar!”
Suaraku serak dan pecah. Beberapa orang menoleh, tetapi Ishar tidak.
Ia berjalan semakin cepat, melewati dua nelayan yang memanggul jaring basah dan seorang anak muda yang mendorong gerobak berisi peti ikan. Aku memaksakan kaki mengikuti. Setiap hentakan membuat bagian belakang tengkorakku nyeri dan keseimbangan terlempar ke samping. Sekali aku menabrak bahu seorang pria. Ia memaki, tetapi aku hanya mengangkat tangan tanpa berhenti.
“Ishar, tunggu aku!”
Ia membelok ke arah dermaga yang lebih sepi. Di sebelah kiri, permukaan Blue Lake terbentang gelap dan tenang. Cahaya rumah-rumah penginapan memanjang di atas air, terputus oleh riak kecil dan bayangan perahu yang terikat pada tiang. Bau ikan, tali basah, damar, dan kayu tua memenuhi udara.
Ishar terus berjalan.
Aku tidak tahu apakah ia ingin kembali ke penginapan melalui jalan lain atau hanya ingin sejauh mungkin dariku. Mungkin ia sendiri tidak tahu ke mana hendak pergi. Langkahnya membawanya melewati gudang-gudang yang sudah ditutup, menuju bagian pelabuhan tempat lentera lebih jarang dan suara orang-orang mulai tertinggal.
Aku nyaris jatuh ketika menginjak tali yang membentang di tanah. Telapak tanganku menghantam dinding gudang untuk menjaga tubuh tetap tegak. Rasa sakit menjalar dari pergelangan ke bahu, tetapi aku segera mendorong diri kembali.
Ishar berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit dua bangunan penyimpanan. Aku mengikutinya. Gang itu hanya cukup lebar bagi dua orang berjalan berdampingan. Batu-batu pada tanah lembap oleh air danau, sementara dinding kayunya berbau jamur dan rempah lama.
“Ishar, berhenti, kau sialan!”
Kata-kata itu keluar karena frustrasi, rasa sakit, dan kepala yang masih dipenuhi darah.
Ishar berhenti.
Tubuhnya menegang, tetapi ia tidak berbalik.
Penyesalan datang seketika. Aku menekan tangan pada dinding agar tidak jatuh dan mencoba mengatur napas. Dari ujung gang terdengar bunyi air memukul tiang dermaga secara perlahan. Tidak ada suara lain di antara kami.
“Jangan mengejarku,” katanya.
Aku melihat punggungnya, bahu yang tertutup kain biru, dan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuh. Semua kemarahan yang membawaku keluar penginapan mulai menguap, meninggalkan rasa malu yang lebih buruk.
“Aku tidak seharusnya mengatakan itu.”
Ishar tetap membelakangiku.
“Aku minta maaf.”
Ia berbalik perlahan.
Air mata telah memenuhi wajahnya. Tidak seperti tangisnya di tubuh Rosh, yang pecah tanpa bentuk dan membuat seluruh tubuhnya gemetar. Kali ini tangis itu diam, tetapi tidak lebih ringan. Air mata mengalir melewati pipi tanpa ia seka. Matanya memerah dan menatapku dengan rasa sakit yang begitu telanjang hingga aku ingin memalingkan wajah.
“Kau menghancurkan hidupku.”
Kalimat itu kembali.
Sejak meninggalkan Arlenville, setiap diamnya membawa tuduhan yang sama. Setiap tatapan dingin dan jawaban pendeknya mengembalikan aku ke tubuh Rosh, darah di lantai rumah Danmer, serta tiga mayat tentara yang ditinggalkan di belakang. Aku memikulnya sepanjang Sungai Verrin, di dalam gerobak, saat makan, dan bahkan ketika berendam di air hangat.
Namun malam itu, dengan kepala berdenyut dan darahku sendiri masih terasa di lidah, aku tidak mampu menerimanya sekali lagi.
“Aku membantumu ketika Reiss dan teman-temannya mengepungmu.”
Ishar mengusap pipi dengan punggung tangan, tetapi air mata baru segera menggantikannya.
“Aku kembali ketika mendengar kau menjerit. Aku menghentikan tentara itu sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih buruk kepadamu.”
Suaraku meninggi tanpa kusadari. Gema tipisnya memantul di antara dinding gudang.
“Aku tidak membunuh kakekmu.”
Ishar terdiam.
Napasnya tersangkut, tetapi ia tidak menjawab. Aku melangkah satu kali mendekat. Dunia bergoyang sesaat, memaksaku kembali menyentuh dinding.
“Kau tahu aku benar.”
Wajah Ishar mengeras. Ada sesuatu pada matanya yang membuatku tahu aku sudah melangkah terlalu jauh, tetapi semua yang tertahan di dalam diriku terus keluar.
“Kau tahu siapa yang menyebabkan semua ini. Namun kau membutuhkan seseorang yang masih hidup untuk dibenci, seseorang yang bisa berdiri di hadapanmu dan menerima semua amarah itu.”
Aku berjalan mendekat lagi, lebih pelan kali ini.
“Maka salahkan Dann Valdyr.”
Nama pamanku terasa pahit ketika keluar.
“Dia yang mengirim tentara-tentara itu. Dia yang membunuh keluargaku, merebut mahkota raja, dan memaksaku melarikan diri dari satu-satunya rumah yang pernah kumiliki. Dia membuatku tidur di tanah, bersembunyi, dan melihat setiap orang yang menolongku ikut berada dalam bahaya.”
Ishar tidak bergerak. Air matanya masih jatuh, tetapi tatapannya tidak lagi sepenuhnya tertuju kepadaku. Untuk sesaat ia tampak melihat sesuatu yang berada jauh di belakang tubuhku.
Aku berhenti beberapa langkah darinya.
“Kau boleh membenciku karena berbohong. Kau boleh membenciku karena kembali ke rumahmu dan menyeretmu pergi. Namun jangan katakan aku menginginkan semua ini.”
Napas masuk ke dadaku dengan kasar. Rusuk yang memar kembali berdenyut.
“Aku juga kehilangan semuanya.”
Gang itu menjadi sunyi. Suara pelabuhan terdengar sangat jauh. Di atas kami, kain penutup salah satu jendela bergerak tertiup angin, menggesek dinding dengan bunyi kering yang teratur.
Ishar menundukkan wajah.
Aku menunggu jawaban, bahkan satu kata pun, tetapi ia hanya berdiri dengan kedua tangan terkatup di depan perut. Amarahku perlahan runtuh. Yang tersisa hanyalah kelelahan dan ketakutan bahwa aku telah mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah dapat ditarik kembali.
“Ishar.”
Ia tidak mengangkat kepala.
“Katakan sesuatu.”
Tidak ada jawaban.
Aku mendekat satu langkah lagi. “Kumohon.”
Ishar akhirnya memandangku.
Aku tidak sempat membaca perubahan pada wajahnya. Ia menutup jarak di antara kami, mencengkeram kerah kemejaku dengan kedua tangan, lalu menarikku turun.
Bibirnya menempel pada bibirku.
Tubuhku menegang.
Rasa sakit dari luka di mulut muncul lebih dahulu. Bibirku pecah dan sentuhannya membuat rasa asin darah kembali memenuhi lidah. Namun kemudian aku merasakan napas Ishar, jemarinya yang menggenggam kain di dadaku, dan seluruh keputusasaan yang ada dalam caranya menciumku.
Itu bukan ciuman lembut seperti dalam lagu-lagu para pemusik istana. Tidak hati-hati, tidak tenang, dan tidak memberi ruang bagi kami untuk berpikir. Bibirnya bergerak dengan amarah yang sama ketika ia menikam tentara di rumah Danmer, tetapi juga dengan ketakutan seseorang yang baru kehilangan tempat untuk kembali.
Aku tidak menghentikannya.
Tanganku terangkat, ragu sesaat sebelum menyentuh pinggangnya. Ishar tidak mundur. Ia justru menarik kerahku lebih keras sampai punggungku terlepas dari dinding.
Kami tetap berciuman di gang sempit itu, tersembunyi di antara gudang-gudang Evergreen. Blue Lake bergerak tenang hanya beberapa puluh langkah dari kami. Seseorang tertawa di kejauhan. Roda gerobak melewati jalan utama, tetapi tidak ada seorang pun memasuki gang.
Ketika Ishar akhirnya menarik wajah, napas kami sama-sama kasar. Jarak di antara bibir hanya beberapa inci. Aku bisa melihat sisa air mata pada bulu matanya dan merasakan tangannya masih gemetar pada kerah kemejaku.
“Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu,” bisiknya.
Aku juga tidak tahu.
Mungkin ia membenciku. Mungkin aku mengingatkannya pada semua yang hilang. Mungkin malam itu kami hanya dua orang yang terlalu hancur untuk memahami perbedaan antara kemarahan, ketakutan, dan kebutuhan agar seseorang tetap dekat.
Tanganku masih berada di pinggangnya.
“Katakan kalau kau ingin aku berhenti.”
Ishar menatapku lama. Aku menunggu. Seluruh tubuhku tetap tegang, tetapi tanganku tidak bergerak lebih jauh.
Ia menarikku kembali.
Ciuman berikutnya lebih dalam, tetapi tidak kalah putus asa. Sesuatu yang liar dan primitif bangkit di antara kami, sesuatu yang tidak berhubungan dengan gelar, Jessiah, kerajaan, atau hari esok. Hanya kehangatan tubuh di tengah udara malam dan kebutuhan untuk melupakan, meski hanya sebentar, semua darah yang telah kami lihat.
Aku menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari gang menuju deretan gudang di dekat dermaga. Salah satu bangunan memiliki pintu samping yang tidak terkunci. Aku mendorongnya perlahan. Engsel berdecit, membuka ruangan gelap yang berisi peti kosong, gulungan tali, dan beberapa lembar kain penutup kapal.
Tidak ada penjaga. Tidak ada lampu.
Cahaya bulan masuk melalui celah-celah papan, membentuk garis pucat di lantai.
Aku berhenti di dalam dan menatap Ishar. Kegelapan tidak cukup untuk menyembunyikan wajahnya sepenuhnya. Ia masih bisa berbalik, kembali ke penginapan, dan membiarkan semua yang terjadi di gang menjadi satu kesalahan yang tidak perlu diulang.
Ishar menutup pintu di belakangnya.
Ia mendekat dan menciumku lagi.
Mulut kami hampir tidak mengeluarkan kata-kata sesudah itu. Tangan kami bergerak lebih cepat daripada pikiran, menarik kain, membuka ikatan, dan mencari kehangatan kulit di bawah pakaian yang masih lembap oleh udara dan perjalanan. Ada keraguan, gerakan yang berhenti sesaat, dan napas yang menjadi tidak teratur ketika kami menyadari betapa jauh semuanya akan berjalan.
Aku belum pernah melakukan ini.
Dari cara jemari Ishar gemetar, aku menduga ia juga belum pernah.
Aku menyentuh wajahnya, menyeka bekas air mata dengan ibu jari. Untuk pertama kalinya sejak kami masuk ke gudang, ia diam cukup lama untuk menatapku. Tidak ada senyum di sana. Tidak ada pengampunan. Hanya kesedihan, kemarahan, dan keinginan yang bercampur terlalu erat untuk dipisahkan.
Ketika aku kembali menciumnya, Ishar tidak mundur.
Kami berbaring di antara kain-kain penutup kapal yang berbau debu, garam, dan kayu tua. Di luar, Blue Lake terus bergerak perlahan di bawah cahaya malam. Tubuh kami saling mencari dalam gelap dengan ketidaktahuan yang sama, terkadang canggung, terkadang terlalu cepat, tetapi selalu berhenti ketika salah satu dari kami ragu.
Tidak ada janji di antara kami.
Tidak ada kata cinta.
Malam itu bukan pengampunan atas kematian Rosh, bukan penebusan atas dosa di Mitenn Highroad, dan bukan awal yang bersih. Kami hanya dua orang yang telah kehilangan rumah dan keluarga, berpegangan satu sama lain agar tidak merasa sepenuhnya sendirian.
Di dalam sebuah gudang kosong di tepi Blue Lake, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyerahkan diriku kepada seseorang, dan Ishar memilih untuk tetap tinggal.