Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After Five Years
Lima tahun kemudian...
"Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to Reynald..."
Lagu ulang tahun itu dinyanyikan dengan merdu oleh anak-anak yang datang di ulang tahun Reynald yang ke lima.
"Sekarang kita potong kuenya. Nanti kamu bagikan ke teman-teman kamu," ucap Raisa pada bocah gembul yang sedang berulangtahun.
Seluruh anggota berkumpul untuk menyaksikan bertambahnya usia Reynald, cucu dan buyut pertama di keluarga Kramawijaya. Sejak lahir, Reynald dikelilingi dengan hal mewah yang disediakan Raisa dan Rendra. Sesekali Raisa mengajak putranya muncul di televisi dan akhirnya publik memberi label sebagai 'anak sultan' pada Reynald.
"Selamat ulang tahun, Sayang." Ridha, sahabat Raisa menyapa si bocah gembul sambil membawa kado. "Maaf ya, Aunty datang terlambat." Ridha mencium pipi Reynald yang menggemaskan.
"Makasih udah datang ya, Rid. Silakan dinikmati hidangannya." Raisa bercipika cipiki dengan Ridha.
"Iya, aku akan menyapa Tante Rindi dan yang lain dulu." Ridha berjalan menghampiri Rindi dan orang tua Raisa.
Mata Ridha juga melihat sosok Reno, sahabat Rendra yang hingga saat ini masih dicintai oleh Ridha. Ia memutuskan untuk menyapa Reno yang sedang duduk sendiri.
"Hai, Ren. Sendirian aja? Rischa mana?" Ridha celingukan mencari sosok istri Reno.
"Dia gak ikut." Reno menawari segelas minuman untuk Ridha. "Baru datang?"
Ridha mengangguk. "Thanks." Ridha menerima minuman dari tangan Reno.
Terdengar tawa renyah dari arah yang tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Itu adalah tawa Raisa dan Rendra yang menyapa relasi mereka yang datang.
"Lihatlah mereka! Mereka begitu bahagia padahal selama ini saling membohongi satu sama lain." Ridha menggeleng pelan.
"Jangan ikut campur! Kita bisa hidup enak juga karena mereka. Benar kan?"
Ucapan sarkas Reno membuat Ridha menoleh. "Andai saja aku punya pilihan lain, aku gak akan mengambil jalan ini." Ridha meneguk minuman di gelasnya.
"Lalu, bagaimana kabar gadis itu sekarang? Kudengar dia menghilang setelah melahirkan."
Ridha mengedikkan bahu. "Aku gak tahu dia ada dimana. Dia berusaha hidup normal setelah menyerahkan bayi yang dilahirkannya. Apa kamu pikir semua itu mudah?" Ridha menghabiskan minuman lalu beranjak pergi.
"Tunggu!"
Ridha menoleh. "Ada apa?"
"Setelah dari sini, mau pergi denganku?"
Ridha mengulas senyum. "Gak bisa, makasih. Lagian kasihan Rischa kamu tinggal sendiri, sebaiknya kamu cepat pulang." Meski hati Ridha teriris harus memendam perasaannya pada Reno, tapi Ridha berusaha untuk ikhlas menerima semuanya. Ridha kembali melangkah dan akan bergabung bersama Rindi dan para sesepuh.
*
*
*
"Ah, capek banget rasanya." Raisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur. "Kamu masih ngurus kerjaan?" Raisa menatap Rendra yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Hmm, besok ada meeting dengan relasi bisnis."
Raisa mengusap lengan Rendra. "Mas, besok adalah hari pertama Reynald masuk sekolah. Kamu bisa kan sediakan waktu untuk dia?"
Rendra mengembus napas pelan. "Gak bisa, Sayang. Ini adalah proyek penting. Kamu sendirian juga bisa kan antar Reynald?"
Raisa cemberut. "Tapi, anak-anak lain pasti diantar orang tuanya di hari pertama sekolah, Mas."
Rendra meletakkan laptop di atas nakas lalu bicara lebih intens dengan Raisa.
"Dengar, aku melakukan semua ini kan untuk kalian. Buat kamu dan Reynald. Aku kerja keras untuk bisa bikin Kakek bangga."
"Kenapa gak bagi tugas sama Reinhart aja sih? Kamu kan pemegang kekuasaan tertinggi sekarang. Kamu bisa suruh dia dong."
Rendra menggeleng. "Gak bisa gitu, Sayang. Kamu tau sendiri kan, Reinhart sekarang ada dimana aku aja gak tau. Dia hidup sesuka hatinya sejak lima tahun lalu."
Raisa mengalah. Perdebatan seperti ini tidak akan berakhir jika tidak ada yang mau mengalah.
"Ya udah, aku yang akan antar Reynald ke sekolah."
"Nah gitu dong." Rendra mengecup kening Raisa. "Kamu tidur ya, besok kesiangan kalau kamu ikut begadang juga sama aku."
Raisa mengangguk. Ia menarik selimut dan memejamkan mata.
"Good night, Honey," ucap Rendra.
"Night too, Mas."
*
*
*
Renata berjalan menghampiri Reinhart yang duduk di bangku tunggu bandara.
"Kak Rein!" panggil Renata sambil melambaikan tangan.
"Renata? Kupikir kamu gak akan datang." Reinhart berdiri dan saling berhadapan dengan Renata.
"Selama ini kapan sih aku gak datang ke Kakak? Aku selalu nungguin Kakak."
Reinhart hanya tersenyum simpul.
"Kapan Kakak akan buka hati Kakak buat aku?"
Reinhart mengacak pelan rambut Renata. "Sudah kubilang jangan menungguku. Kamu tau sendiri kan aku selalu berpindah-pindah tempat tinggal."
"Benar. Kakak memang selalu berpindah tempat, tapi hati Kakak gak pernah pindah kemanapun."
Reinhart tersenyum getir. Kisah cintanya tidak berakhir indah dengan Anisa. Atau mungkin belum mencapai akhir?
"Rein!" Teriakan Riyan membuat keduanya menoleh.
"Hei, Yan. Gue pikir lo gak bakalan datang."
Riyan memeluk sahabat baiknya itu. "Lo mau kemana lagi kali ini? Apa gak bisa lo menetap di satu tempat aja?"
Reinhart menggeleng. "Gue bakal pergi ke tempat dimana gue dibutuhin, Yan."
Terdengar pengumuman di pengeras suara yang ada di ruang tunggu.
"Itu pesawat gue. Gue harus pergi."
Sekali lagi Reinhart berpelukan dengan Riyan. Dan untuk Renata, ia hanya mengusap puncak kepala gadis itu.
"Jaga diri baik-baik ya!"
"Harusnya aku yang bilang gitu ke Kakak." Mata Renata berkaca-kaca.
"Aku pasti bakal baik-baik aja." Reinhart melambaikan tangan dan mulai berjalan menghilang dari pandangan.
"Udah jangan sedih!" Riyan menepuk bahu Renata.
"Aku cuman heran aja, kenapa Kak Rein selalu mencintai Anisa, padahal Anisa gak cinta sama dia."
Riyan mengulas senyum. "Kamu salah, Ren. Justru Anisa sangat mencintai Reinhart."
Dahi Renata mengerut dalam. "Kalau cinta kenapa dia malah pergi? Kak Rein juga udah tahu kalau cowok yang bernama Ruby itu bukan suami Anisa. Harusnya mereka bisa bersama kan?"
Riyan berpikir sejenak. Selama ini Reinhart juga tidak bercerita padanya. Ia hanya bilang jika akan menunggu Anisa hingga gadis itu menyelesaikan urusan dengan masa lalunya.
"Karena hanya itu yang bisa membuktikan jika Anisa sangat mencintai Reinhart. Ada hal-hal yang tidak kita pahami tentang hakikat cinta yang sebenarnya. Cinta yang tulus dan besar yang sebenar-benarnya adalah cinta yang mampu mengikhlaskan dan berkorban, meski hati kita merasakan sakit dan patah."
Renata terdiam mendengar jawaban Riyan. Tumben sahabat Reinhart ini begitu bijak dalam menyikapi sesuatu.
"Yuk pulang! Jangan bilang kamu mau mantengin pesawat yang Reinhart tumpangi."
"Ish, enggak lah. Ya udah, ayo pulang."
*
*
*
Raisa mengantar Reynald berangkat ke sekolah untuk pertama kalinya. Bocah lelaki itu masih malu-malu karena ini adalah hari pertamanya memasuki taman kanak-kanak.
"Sayang, ini Bu guru Rindu. Kamu yang nurut sama dia ya." Raisa mencoba memberi pengertian pada Reynald.
Reynald mengangguk. Bu Rindu dengan senyum khasnya mampu meluluhkan hati anak-anak seperti Reynald.
"Salim dulu sama Mama ya," perintah Bu Rindu.
Reynald menurut dan diantar masuk ke dalam kelas. Setelahnya Rindu kembali menemui Raisa.
"Maaf, Bu Raisa. Adek Reynald tidak ada riwayat alergi apapun kan? Misal makanan atau barang apa."
Raisa berpikir sejenak. "Sejauh ini sih gak ada Bu guru. Reynald aman-aman saja makan apa aja kok."
"Oh ya sudah. Saya hanya memastikan saja. Karena kalau ada alergi, kami akan lebih berhati-hati lagi untuk menjaga Reynald."
Usai berbincang sebentar, Raisa pamit undur diri. Ia masih ada pekerjaan yang sudah dijadwalkan oleh Raya.
*
*
*
Kehebohan terjadi di ruang IGD rumah sakit saat Reynald dibawa kesana karena mengalami demam dan keluar bintik merah di wajah dan tubuhnya.
"Gimana kondisi putra saya, Dok?" Raisa datang bersama Raya usai dihubungi Bu Rindu.
"Sepertinya pasien mengalami alergi. Mungkin saja saat di sekolah, pasien memakan makanan yang membuat alerginya kambuh."
"Ha? Alergi?" Penjelasan dokter membuat Raisa tercengang.
"Ibu tunggu dulu di ruang tunggu. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Rindu menghampiri Raisa. "Bu Raisa, saya benar-benar minta maaf. Saya gak tahu kalau Reynald ada riwayat alergi. Tadi pagi Ibu bilang kalau Reynald tidak memiliki alergi, makanya saya mengizinkan Reynald yang ingin memakan bekal temannya." Rindu sungguh panik saat ini.
Raisa terdiam sejenak. Ia dan Rendra tidak memiliki riwayat alergi apapun. Bagaimana bisa Reynald mengalami alergi?
"Me-memangnya Reynald abis makan apa, Bu Rindu?" tanya Raisa dengan wajah yang mulai memucat.
"Tadi temannya ada yang membawa bekal buah pisang. Reynald langsung mengalami demam dan keluar bintik merah setelah makan itu," jelas Rindu. "Maafkan saya, Bu. Saya sungguh minta maaf," imbuhnya.
Raisa hanya diam dan mencoba mencerna semuanya.
"Sa, are you okay?" tanya Raya yang melihat Raisa hanya diam.
Raisa mengangguk. "Yes, I'm okay. I'm just shock, but it's okay."
Raya meminta Raisa untuk duduk di bangku tunggu. "Duduk dulu, Sa. Biar kamu lebih tenang."
Tak berselang lama, Rendra datang bersama dengan Rindi dan juga Raka. Mereka ikut panik saat mendengar kabar jika Reynald dilarikan ke rumah sakit.
"Sayang, gimana kondisi Reynald?" Wajah Rendra sungguh cemas dengan kondisi Reynald.
"Dokter sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh. Kita diminta menunggu."
Rendra memeluk Raisa dan duduk di sampingnya. "Semoga saja Reynald tidak kenapa-napa."
Raisa mengangguk. "Iya, Mas. Aku takut banget kalau sampai terjadi sesuatu sama Reynald."
Setelah menunggu selama hampir satu jam, akhirnya seorang dokter datang.
"Keluarga Ananda Reynald," seru si perawat.
Raisa dan Rendra berdiri.
"Kami orang tuanya," balas Rendra.
"Hasil pemeriksaan ananda Reynald sudah keluar. Menurut hasil lab, Reynald mengalami alergi karena makanan yaitu buah pisang. Untuk sementara Reynald harus dirawat di rumah sakit hingga demamnya turun."
Raisa dan Rendra saling pandang.
"Bagaimana bisa, Dok?" sahut Rindi. Setahu Rindi, Raisa dan Rendra tak memiliki riwayat alergi makanan apapun.
"Reinhart." Tiba-tiba Raka ikut bicara. "Reynald memiliki alergi yang sama seperti Reinhart."
"Ha?"
Semua orang berpikir itu masih wajar mengingat bahwa Reinhart adalah paman Reynald. Mungkin saja alergi Reynald didapat dari gen milik Reinhart. Namun, ekspresi berbeda ditunjukkan oleh Rendra. Ia takut jika rahasia yang sudah ditutupnya rapat-rapat perlahan mulai terkuak.
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸