NovelToon NovelToon
Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cacctuisie

“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.

Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.

“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTIKCD - Kedua Kalinya

Setelah perdebatan dan sedikit berselisih. Elgan tak membiarkan Nasya keluar dari kamarnya. Dia meminta Nasya untuk menunggunya mandi. Namun, terlalu lama menunggu. Tidak sengaja Nasya yang berbaring di atas kasur yang nyaman itu tertidur. Tanpa menggunakan bantal, masih di tepi ranjang.

Elgan yang sudah selesai membersihkan dirinya dengan segala kegiatan di dalam kamar mandi belum sadar jika Nasya tertidur. Dia berjalan ke ruang ganti untuk berpakaian. Setelah itu, baru dia menghampiri Nasya yang tak bersuara sejak tadi. Bahkan, dia keluar kamar mandi pun tak dihiraukan.

“Dia tertidur? Begitu pulas setelah apa yang terjadi barusan?” Elgan berjongkok memastikan.

Elgan memilih untuk membiarkan Nasya menggunakan ranjangnya sementara. Meskipun, seharusnya Elgan tak membiarkannya. Wanita yang baru saja masuk di rumah ini sudah berani memakai kamarnya. Hari ini pengecualian lantaran terlalu lelah jika harus kembali berdebat.

Elgan menuruni tangga untuk mengambil minum. Akan tetapi, dia cukup dikejutkan bahwa pelayannya tidak terlihat. Sejak pulang, dia langsung ke kamar dan baru sekarang memperhatikan rumah. Hanya satu wanita paruh baya yang sudah menjadi kepercayaan keluarga Parameswara.

“Dimana pelayan yang lain, Bik Jum?” tanya Elgan heran melihat Bik Jum yang masih sibuk di dapur.

“Semuanya dipindahkan ke rumah tuan besar atas perintah Ibu, Tuan,” jawab Bik Jum.

Elgan mengangguk paham, melanjutkan tujuannya. Dia berjalan menuju kamarnya lagi. Membuka pintu kamar perlahan, entah kenapa dia tidak ingin mengganggu Nasya yang masih terlelap. Elgan pun tidak tahu dorongan dari mana. Dia mengambil selimutnya untuk menyelimuti Nasya yang posisinya sedang meringkuk.

“Terpaksa aku meminjamkan selimut, besok bisa dicuci. Dan bisa-bisanya dia tidur tidak bergerak sama sekali sejak tadi. Terlalu nyenyak, kah? Tidak mungkin juga dia mau bermalam disini. Aku akan menunggu dia bangun,” ucap Elgan.

Elgan duduk di seberang ranjang. Mulai memposisikan diri untuk bersandar, tapi tetap hati-hati agar tak mengenai Nasya. Elgan tidak ingin Nasya terbangun dengan kesalahpahaman jika dia berbaring juga. Padahal, dia juga sangat lelah, tapi tidak ingin istirahat di tempat lain selain kamarnya.

“Kenapa Mama melakukan semua ini? Biasanya sangat jarang ke sini? Sekarang menjadi lebih sering semenjak ada Nasya. Jika begini, sulit untuk Nasya mengerjakan tugasnya. Mama pasti ingin Nasya sibuk dengan urusan rumah.” Elgan bergumam sambil memijat pelipisnya.

Elgan meraih ponsel yang diletakkan di atas meja dekat ranjangnya. Wajahnya mengeras kala melihat foto di media sosial milik sang mantan. Beberapa foto di unggahnya bersama dengan suaminya. Rasa kesal menjalar tiba-tiba. Tidak bisa menerima apa yang dilihatnya. Perlahan-lahan Elgan bergerak menengah menghampiri Nasya untuk membangunkannya.

Niatnya ingin membangunkan terhenti saat Nasya yang sama-sama bergerak, tak sengaja memeluk kaki panjang Elgan yang berhenti tepat di hadapannya. Elgan berhenti tak berkutik. Rasanya aneh jika dia tak melepaskan. Elgan berusaha menarik kakinya, hasilnya gagal. Malah Nasya terbangun, melepaskan tangannya yang melingkar di kedua kaki Elgan.

“Kok bisa saya tidur di sini?” Nasya membenarkan posisinya untuk duduk dan melepas selimut yang dikenakannya.

“Kamu ketiduran, saya kelelahan. Makanya, saya coba duduk di sini malah kamu tarik kaki saya dijadikan guling,” jawab Elgan yang tahu betul itu hanyalah kebohongan.

“Hah? Sa—saya tarik? Kayaknya gak mungkin,” sahut Nasya yang membela diri.

Belum sempat Elgan menyahuti, perut Nasya lebih dulu bersuara. Nasya membelalakkan matanya, tak percaya jika harus saat ini perutnya berbunyi. Nasya memejamkan matanya erat menahan malu. Elgan sampai mengernyitkan dahinya tak habis pikir.

“Kalau lapar mending bangun. Lagipula, sudah hampir tengah malam. Sekalian pindah dari ranjang nyaman saya,” ucap Elgan, mengambil selimut yang masih membalut Nasya.

Nasya pun bangkit. Berdiri sejenak sebelum meninggalkan Elgan. Memandangnya hendak mengatakan sesuatu. “Saya tidak pernah bilang ke ibunya Pak Elgan kalau mau bercerai. Saya akan menepati janji. Jadi, tidak perlu khawatir,” kata Nasya.

“Tidak perlu dibahas lagi. Saya juga minta satu hal. Untuk memperjelas hubungan ini, mulai dengan panggilan yang tidak terlalu formal. Takutnya ini akan berkelanjutan di depan umum. Jangan juga panggil saya ‘Pak atau Bapak’ paham?” sahut Elgan membalas tatapan Nasya dengan serius.

Nasya mengangguk. “Aku kamu berarti boleh?” tanyanya.

“Itu juga bagus. Masalah pelayan, Bik Jum cukup. Aku akan mempertimbangkan kembali gajinya. Juga barusan Reina memposting fotonya bersama suami. Aku tidak ingin hanya aku yang menyaksikan. Kita juga harus bisa,” balas Elgan yang langsung mempraktikkan panggilan baru mereka.

“Hm … baiknya mau balas apa?” jawab Nasya mantap.

“Tunggu saja perintahku.”

***

“Gimana ya mau balas mantannya Mas Elgan? Harus banget Mas, nih?” Nasya tersenyum tipis di depan cermin.

Setelah mengisi perutnya, Nasya segera mandi, dan sekarang sedang berada di depan cermin sambil bergumam sendiri. Menyisir rambutnya yang mulai panjang, mengusap wajahnya memakai rangkaian produk untuk merawat wajahnya. Tentunya ini sudah disiapkan Elgan menyuruh orangnya.

Ketika Nasya sibuk dengan wajahnya. Tiba-tiba kembali ada seseorang yang menelponnya. Masih sama dengan nomor yang tidak dikenal. Nasya tak menanggapi, lagi ada notifikasi masuk. Kali ini, kembali dia dikirim foto Elgan bersama wanita yang tak lain mantannya.

“Maunya apa, sih? Iya iya kalau udah pernah ngelakuin sama mantannya kenapa? Apa ini sebenarnya nomor Reina itu? Kurang kerjaan banget, sih?!” Kesal Nasya lalu pergi membawa ponselnya.

Tanpa mengetuk pintu kamar Elgan. Nasya menerobos masuk hingga Elgan yang hampir saja terlelap kembali membuka matanya. Dengan tergesa-gesa Nasya memperlihatkan ponselnya.

“Nomor Reina itu bukan?” tanya Nasya.

Elgan menyipitkan matanya. “Jelas bukan, kenapa bisa mendapatkan foto ini?” jawab Elgan.

“Mana aku tahu, maksudnya tuh untuk apa. Manasin? Jugaan kamu kok ya gak jaga diri sebagai pria. Mana udah tidur bareng begini. Kayak begitu seharusnya memang kalian yang seharusnya berjodoh. Bukannya aku. Kenapa harus melibatkanku?” balas Nasya.

Elgan tidak menjawab. Terlintas sesuatu ide untuk dilakukan. Tanpa mengatakan apapun, Elgan yang hanya ingin membalas perlakuan Reina dan sekarang hidup bahagia seakan tidak pernah melukai perasaannya. Elgan meraih tangan Nasya dan membawanya untuk berbaring di sebelahnya.

“Mau ngapain? Jangan macem-macem, ya. Aku gak pernah tidur sama cowok. Aku selalu menjaga diri dengan baik,” ucap Nasya gugup.

Elgan tak menggubris, malah memeluknya. Mengambil ponsel Nasya dan mengambil foto. Bukan hanya satu, tapi beberapa gambar dengan gaya yang berbeda. Paling puncaknya pertemuan dua bibir itu kembali menyatu. Nasya tak bergerak setelah itu.

Elgan mengirimkan foto-foto itu ke nomor yang tidak dikenal itu. Dia beranggapan bahwa nomor ini memang sengaja mengirimkannya pada Nasya. Dengan begitu, Nasya akan memberitahunya dan akan mengira Elgan akan cemburu.

“Kenapa begitu terkejut? Kita sudah pernah melakukannya. Di jalan lagi,” ucap Elgan tanpa merasa bersalah.

“Enak banget ngomong begitu. Iya enak kamu udah pernah mencicipi bibir-bibir wanita diluaran sana. Bahkan, udah pernah berhubungan itu … pokoknya gak bisa jaga diri,” jawab Nasya kesal tapi tetap tidak beranjak dari pelukan Elgan.

“Berhubungan apa maksud kamu? Coba jelaskan?” tanya Elgan seolah-olah tidak memahaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!