Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan harinya, suasana di Kepanjen begitu cerah, namun atmosfer di dalam kamar VVIP Rumah Sakit As-Syifa tetap terasa berat.
Dr. Fahmi melakukan pemeriksaan klinis terakhir pada Diaz.
Setelah memastikan tensi darah dan denyut jantungnya normal, sang dokter akhirnya memberikan lampu hijau.
"Kondisinya sudah cukup stabil untuk rawat jalan, Ustaz Ganda. Tapi ingat, jangan sampai dia tertekan lagi," pesan dr. Fahmi sebelum pamit.
Ganda dengan telaten mengurus seluruh administrasi kepulangan tanpa membiarkan Diaz beranjak sedikit pun dari ranjangnya.
Setelah semua selesai, mereka melangkah menuju mobil.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan kembali ke Pondok Pesantren Al Ikhlas suasana di antara mereka sangat sunyi.
Hanya ada deru mesin dan klakson kendaraan yang samar dari luar.
Diaz duduk bersandar di kursi penumpang, menatap keluar jendela memandangi deretan pohon dan bangunan yang bergerak mundur.
Tatapan mati rasa yang kemarin menyelimutinya perlahan berubah.
Kilat kepasrahan itu kini berganti menjadi tatapan dingin berselimut keberanian baru.
Diaz menyadari satu hal: menyerah pada takdir dan memilih mati hanya akan membuat ibu tirinya dan Bramasta menang.
Jika ia harus terjebak di pondok ini sebagai istri pertama, maka ia harus bertahan hidup dan menghadapi apa pun di depannya. Dia bukan lagi Diaz yang lemah dan bisa disetir.
Begitu roda mobil berhenti di halaman ndalem, ketenangan itu langsung menguap.
Ganda membukakan pintu untuk Diaz, menuntun istrinya dengan sangat hati-hati masuk ke dalam rumah.
Namun, baru saja mereka menginjakkan kaki di ruang tengah ndalem, langkah mereka langsung disambut oleh atmosfer yang tidak bersahabat. Umi Maryam sudah berdiri tegak sambil bersedekap dada di dekat meja makan, sementara Laura berdiri di sampingnya dengan senyum kemenangan yang tipis, merasa di atas angin karena kini mereka berada di wilayah kekuasaan mereka.
Tanpa menanyakan sedikit pun bagaimana kondisi kesehatan Diaz yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah kritis, Umi Maryam langsung melemparkan perintah dengan nada menghina yang menusuk telinga.
"Baguslah kalau sudah pulang. Jangan manja," cetus Umi Maryam, menatap Diaz dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Pengantin baru di pondok ini tidak ada yang bermalas-malasan atau sok jadi putri keraton. Sekarang, cepat kamu ke dapur dan masak untuk makan siang Abah dan para pengurus pondok!"
Laura yang mendengar perintah itu semakin melebarkan senyum tipisnya, sengaja memandangi Diaz dengan tatapan mengejek, menanti reaksi dari madunya yang dianggapnya sebagai wanita kota yang tidak tahu apa-apa.
Diaz yang biasanya diam, kali ini tidak gentar. Sisi rapuh yang semalam menangis sesenggukan di rumah sakit seolah menguap tanpa bekas, berganti dengan benteng pertahanan yang dingin dan kokoh.
Ia berdiri tegak, menatap lurus ke arah Umi Maryam tanpa ada rasa takut sedikit pun di matanya.
"Memasak?" Diaz menjeda kalimatnya sejenak.
Ia lalu menoleh, melirik Laura dari atas ke bawah dengan tatapan yang teramat meremehkan.
"Bilang saja ke maduku itu agar dia yang memasak. Bukankah dia yang sejak kemarin tidak sabar ingin menjadi istri yang berbakti dan melayani di rumah ini?"
Laura tersentak kaget. Wajahnya seketika memerah padam karena malu sekaligus marah akibat sindiran telak itu.
Mendengar tantangan terbuka dari menantu pertamanya, amarah Umi Maryam menggelegar hebat.
Wibawanya sebagai istri kiai tertinggi di pondok felt seolah diinjak-injak di hadapan menantu yang dianggapnya "jalanan" itu.
"Dasar kurang ajar!! Tidak punya sopan santun!" teriak Umi Maryam murka.
Tanpa kendali, ia melayangkan tangan kanannya ke udara, berniat menampar wajah Diaz dengan sangat keras demi memberi pelajaran.
Namun, Diaz bukan lagi mangsa yang lemah. Sebelum telapak tangan Umi Maryam mengenai pipinya, Diaz dengan gerakan refleks yang cepat dan cengkeraman yang mengejutkan kuat berhasil memegang dan mengunci pergelangan tangan Umi Maryam tepat di udara.
Set!
Suasana di dalam ndalem seketika mencekam. Laura memekik tertahan, sementara Umi Maryam terbelalak tak percaya tangannya bisa dihentikan.
Ganda yang panik melihat situasi yang meluncur tak terkendali ini segera maju menengahi.
Jantungnya berdegup kencang ketakutan konflik ini akan merusak segalanya.
Ia memegang kedua bahu Diaz dari samping, mencoba melerai dengan suara memohon.
"Diaz, tolong tenang. Turunkan tanganmu, Dik. Jangan melawan Umi."
Mendengar ucapan Ganda, kilat kekecewaan melintas di mata Diaz.
Ia langsung menepis kasar tangan Ganda dari bahunya, lalu menatap suaminya dengan pandangan menantang yang tajam.
"Jangan melawan? Umi kamu yang mau menampar aku duluan, Ganda!" cecar Diaz, suaranya bergetar oleh amarah namun terdengar begitu penuh penekanan.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun di rumah ini menginjak-injak harga diriku lagi! Cukup!"
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Diaz menghempaskan tangan Umi Maryam dengan kasar ke udara, membuat wanita sepuh itu terhuyung mundur satu langkah karena syok dan tidak siap dengan kekuatan fisik menantunya.
Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Umi Maryam yang kini gemetar hebat karena murka yang tertahan di dada, atau dari Laura yang mulai histeris melihat ibu mertuanya diperlakukan demikian, Diaz membalikkan badannya dengan anggun.
Sambil mencengkeram erat tali ransel hitam di pundaknya, ia melangkah lebar masuk ke dalam kamar utama ndalem.
Brak!!
Diaz membanting pintu jati itu dengan sangat keras hingga gema suaranya memantul di langit-langit rumah, lalu memutar kunci dari dalam—mengunci rapat dirinya dari dunia luar yang penuh kemunafikan.
Di ruang tengah, keheningan yang pekat kembali merayap.
Ganda berdiri terpaku di tengah ruangan dengan tangan yang masih menggantung di udara. Dadanya bergemuruh.
Sang anak kiai baru saja menyadari bahwa struktur kepatuhan mutlak yang selama ini mendominasi pondok pesantrennya, baru saja dihancurkan berkeping-keping oleh keberanian nekat dari istri pertamanya.
Dan di dalam hati, Ganda tahu, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Di ruang tengah, atmosfer mendadak berubah menjadi sidang pengadilan yang panas bagi Ganda.
Begitu pintu kamar dibanting oleh Diaz, Umi Maryam langsung berbalik menatap putra tunggalnya itu dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan murka.
Di sampingnya, Laura melipat tangan di dada dengan air mata yang mulai menggenang, siap menuntut haknya.
Ganda mengembuskan napas panjang, menekan segala gejolak emosi di dadanya demi menghormati sang ibu.
Ia melangkah mendekat, berusaha meredam ketegangan.
"Umi, Laura.Maafkan sikap istri pertamaku. Kondisinya masih sakit, emosinya belum stabil karena efek obat penenang," ucap Ganda, mencoba melunakkan suasana dengan suara santunnya.
"Sakit apa, Mas?!" potong Laura dengan nada tinggi dan histeris.
"Dia itu cuma pura-pura, Mas! Cewek manipulatif seperti kata Umi! Kamu lihat sendiri kan cara dia memperlakukan Umi tadi? Kasar! Aku enggak mau tahu, Mas. Semalam kamu sudah telantarkan aku di rumah sakit, jadi malam ini kamu harus bersamaku! Kamar kita sudah siap!"
Umi Maryam menimpali dengan telunjuk yang diarahkan tepat ke wajah Ganda, mengeluarkan ancaman mutlaknya.
"Benar kata Laura, Ganda! Kalau malam ini kamu tidak tidur di kamar Laura dan tetap membela perempuan kurang ajar itu, Umi akan tidur di teras luar! Biar seluruh santri dan pengurus pondok melihat bagaimana hancurnya hati seorang ibu karena anaknya lebih memilih membela perempuan jalanan!" ancam Umi Maryam.
Ganda terdiam, rahangnya mengatup rapat mendengarkan ancaman psikologis dari ibunya sendiri.
Namun, tuntutan Umi Maryam belum berhenti sampai di situ.
"Satu lagi," cetus Umi Maryam, nadanya berubah menjadi penuh tuntutan materi.
"Bawa ke sini semua uang mahar dan perhiasan yang kamu berikan untuk Diaz kemarin. Biar Umi yang menyimpan dan menjaga mahar itu! Perempuan labil dan tidak tahu adat seperti dia tidak berhak memegang harta sebanyak itu sendirian, bisa-bisa habis dipakai kabur lagi!"
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡