Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Tidak Nyaman
Bel kamar kembali berbunyi. Gladys segera melangkah ke arah pintu dan membukanya tanpa ragu. Adnan yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengarahkan pandangannya ke arah para tamu yang baru datang.
Jumlah mereka ada enam orang. Empat laki-laki dan dua perempuan.
Sekilas mereka terlihat seperti orang-orang biasa. Penampilan mereka rapi, bahkan cenderung elegan. Tidak ada yang tampak mencurigakan. Salah seorang pria mengenakan jas hitam mahal, sementara yang lain tampil lebih santai dengan kemeja lengan panjang. Kedua perempuan yang datang juga terlihat seperti wanita karier dari kalangan atas..Namun entah kenapa, suasana yang mereka bawa membuat bulu kuduk Adnan sedikit meremang.
"Mari masuk!" ujar Gladys.
Keenam tamu itu memasuki kamar VIP satu per satu. Mereka tampak sudah saling mengenal. Beberapa bahkan langsung menyapa Gladys dengan akrab.
Gladys kemudian berbalik ke arah Adnan. "Oh iya, sebelum kita mulai, aku mau mengenalkan seseorang."
Semua mata langsung tertuju pada Adnan. Seketika pemuda itu merasa tidak nyaman.
"Ini Adnan. Dia fotografer yang akan mendokumentasikan acara kita malam ini."
Adnan tersenyum canggung. "Halo..."
Salah satu wanita hanya mengangguk tipis. Seorang pria berkacamata tersenyum ramah. Namun seorang lelaki bertubuh tinggi dengan rahang tegas justru terus menatap Adnan tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Adnan gugup.
"Namaku Bastian," ujar pria itu akhirnya.
"O-oh, salam kenal." Adnan berusaha tenang.
Bastian melangkah mendekat. Sampai jarak mereka hanya sekitar satu meter. Adnan refleks menelan ludah. Lalu tiba-tiba Bastian tersenyum. Senyuman yang entah kenapa tidak membuat Adnan merasa tenang.
"Kamu fotografernya ya?" tanya Bastian.
"I-iya," gagap Adnan?
Bastian mengangguk pelan. "Aku harap kamu tahu satu hal."
Adnan langsung memasang wajah bingung. "Apa itu?"
Senyum Bastian tidak berubah. "Kalau kamu berani membocorkan apa pun yang terjadi malam ini, aku tidak akan segan-segan menerormu."
Suasana langsung hening. Adnan sempat mengira dirinya salah dengar. "Hah?"
"Aku serius." Bastian tetap tersenyum.
Justru itu yang membuat ucapannya terasa semakin mengerikan. "Kami semua sangat menghargai privasi."
Adnan tertawa gugup. "M-maksudnya bercanda kan?"
"Tidak!"
Jawaban itu membuat senyuman Adnan perlahan menghilang.
Sebelum suasana menjadi lebih canggung, salah satu wanita yang sejak tadi membawa tas kerja maju ke depan.
"Abaikan saja cara bicara Bastian." Wanita itu mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Kemudian menarik selembar dokumen. Di bagian bawah terlihat beberapa kolom tanda tangan dan materai.
Adnan langsung mengernyit. "Apa itu?"
"Perjanjian kerahasiaan. Kamu cukup membaca lalu menandatanganinya."
Adnan menerima dokumen tersebut. Semakin dibaca, semakin besar kebingungannya. Isi dokumen itu menjelaskan bahwa dirinya tidak boleh menyebarkan informasi apa pun mengenai acara malam ini kepada siapa pun. Bahkan terdapat beberapa pasal yang cukup panjang mengenai konsekuensi hukum apabila ia melanggar perjanjian tersebut.
Jantung Adnan mulai berdegup lebih cepat. "Sebentar..."
Ia mengangkat kepalanya. "Kenapa jadi serius begini?"
Tidak ada yang menjawab. Semua hanya menatapnya. Mendadak Adnan merasa seperti berada di ruangan yang salah. Ia hanyalah pemuda yang mencari uang tambahan dari jasa fotografi. Bukan fotografer profesional yang biasa menangani acara rahasia orang-orang penting.
"Aku rasa ada yang aneh deh," ucapnya.
Gladys menghela napas pelan. "Adnan!"
"Iya?"
"Kami hanya ingin memastikan semua yang terjadi malam ini tetap menjadi rahasia."
"Tapi ini terlalu berlebihan."
"Menurutmu begitu?"
Adnan kembali melihat dokumen di tangannya. Lalu menatap keenam tamu yang kini duduk santai di sofa. Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Akhirnya ia meletakkan dokumen itu di atas meja.
"Kalau begini caranya, mungkin saya mundur saja."
Ucapan itu membuat suasana langsung berubah. Senyuman beberapa orang menghilang. Gladys bahkan langsung berdiri.
"Mundur?"
"Iya!"
Adnan mengangguk. "Maaf ya, Mbak. Tapi saya mulai merasa nggak nyaman."
"Kenapa?"
"Karena semuanya terasa misterius." Adnan menunjuk dokumen di meja. "Lalu ada ancaman juga," tambahnya.
Bastian hanya tertawa kecil. "Itu bukan ancaman."
"Kalau begitu apa?"
"Pengingat!"
"Itu sama saja!"
Beberapa orang di ruangan itu malah terlihat terhibur mendengar jawaban Adnan. Namun Gladys tidak ikut tertawa.
Wanita itu justru menatap Adnan dengan serius. "Kamu tidak bisa pergi."
"Ke-kenapa?" Adnan mengira dirinya salah dengar.
"Kamu sudah bertemu dengan kami semua."
Adnan berkedip. "Terus?"
"Artinya kamu sudah terlalu jauh terlibat."
"Logika macam apa itu?"
"Logika yang sederhana."
Gladys menyilangkan kedua tangannya. "Kami tidak mungkin membiarkan seseorang datang, melihat siapa saja yang hadir, lalu pergi begitu saja."
Adnan langsung memucat. "Sebentar..."
Ia mulai merasa tidak nyaman. "Kalian ini sebenarnya siapa sih?"
Tidak ada yang menjawab. Semua tampak saling bertukar pandang. Hal itu justru membuat kecemasan Adnan semakin besar. Ia bahkan sempat melirik pintu keluar. Meski tidak ada yang menghalanginya secara fisik, entah kenapa ia merasa suasana di ruangan itu berubah menjadi menekan.
"Kalian bukan kelompok aneh-aneh kan?"
Salah satu perempuan langsung tertawa.
"Bukan."
"Yakin?"
"Yakin."
"Terus kenapa rahasia sekali?"
Tidak ada jawaban. Adnan mengusap wajahnya sendiri. Keringat mulai muncul di pelipis. Ia menyesal tidak menanyakan lebih banyak informasi saat menerima telepon tadi. Kalau tahu situasinya seperti ini, mungkin ia akan berpikir dua kali sebelum datang. Akhirnya dia menarik napas panjang. Lalu menatap Gladys.
"Sebenarnya siapa kalian?" Suasana kembali hening. Adnan melanjutkan dengan nada lebih serius. "Dan apa yang akan kalian lakukan malam ini?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.