NovelToon NovelToon
Fotografer Plus Plus 2

Fotografer Plus Plus 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.

Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Tidak Nyaman

Bel kamar kembali berbunyi. Gladys segera melangkah ke arah pintu dan membukanya tanpa ragu. Adnan yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengarahkan pandangannya ke arah para tamu yang baru datang.

Jumlah mereka ada enam orang. Empat laki-laki dan dua perempuan.

Sekilas mereka terlihat seperti orang-orang biasa. Penampilan mereka rapi, bahkan cenderung elegan. Tidak ada yang tampak mencurigakan. Salah seorang pria mengenakan jas hitam mahal, sementara yang lain tampil lebih santai dengan kemeja lengan panjang. Kedua perempuan yang datang juga terlihat seperti wanita karier dari kalangan atas..Namun entah kenapa, suasana yang mereka bawa membuat bulu kuduk Adnan sedikit meremang.

"Mari masuk!" ujar Gladys.

Keenam tamu itu memasuki kamar VIP satu per satu. Mereka tampak sudah saling mengenal. Beberapa bahkan langsung menyapa Gladys dengan akrab.

Gladys kemudian berbalik ke arah Adnan. "Oh iya, sebelum kita mulai, aku mau mengenalkan seseorang."

Semua mata langsung tertuju pada Adnan. Seketika pemuda itu merasa tidak nyaman.

"Ini Adnan. Dia fotografer yang akan mendokumentasikan acara kita malam ini."

Adnan tersenyum canggung. "Halo..."

Salah satu wanita hanya mengangguk tipis. Seorang pria berkacamata tersenyum ramah. Namun seorang lelaki bertubuh tinggi dengan rahang tegas justru terus menatap Adnan tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Adnan gugup.

"Namaku Bastian," ujar pria itu akhirnya.

"O-oh, salam kenal." Adnan berusaha tenang.

Bastian melangkah mendekat. Sampai jarak mereka hanya sekitar satu meter. Adnan refleks menelan ludah. Lalu tiba-tiba Bastian tersenyum. Senyuman yang entah kenapa tidak membuat Adnan merasa tenang.

"Kamu fotografernya ya?" tanya Bastian.

"I-iya," gagap Adnan?

Bastian mengangguk pelan. "Aku harap kamu tahu satu hal."

Adnan langsung memasang wajah bingung. "Apa itu?"

Senyum Bastian tidak berubah. "Kalau kamu berani membocorkan apa pun yang terjadi malam ini, aku tidak akan segan-segan menerormu."

Suasana langsung hening. Adnan sempat mengira dirinya salah dengar. "Hah?"

"Aku serius." Bastian tetap tersenyum.

Justru itu yang membuat ucapannya terasa semakin mengerikan. "Kami semua sangat menghargai privasi."

Adnan tertawa gugup. "M-maksudnya bercanda kan?"

"Tidak!"

Jawaban itu membuat senyuman Adnan perlahan menghilang.

Sebelum suasana menjadi lebih canggung, salah satu wanita yang sejak tadi membawa tas kerja maju ke depan.

"Abaikan saja cara bicara Bastian." Wanita itu mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Kemudian menarik selembar dokumen. Di bagian bawah terlihat beberapa kolom tanda tangan dan materai.

Adnan langsung mengernyit. "Apa itu?"

"Perjanjian kerahasiaan. Kamu cukup membaca lalu menandatanganinya."

Adnan menerima dokumen tersebut. Semakin dibaca, semakin besar kebingungannya. Isi dokumen itu menjelaskan bahwa dirinya tidak boleh menyebarkan informasi apa pun mengenai acara malam ini kepada siapa pun. Bahkan terdapat beberapa pasal yang cukup panjang mengenai konsekuensi hukum apabila ia melanggar perjanjian tersebut.

Jantung Adnan mulai berdegup lebih cepat. "Sebentar..."

Ia mengangkat kepalanya. "Kenapa jadi serius begini?"

Tidak ada yang menjawab. Semua hanya menatapnya. Mendadak Adnan merasa seperti berada di ruangan yang salah. Ia hanyalah pemuda yang mencari uang tambahan dari jasa fotografi. Bukan fotografer profesional yang biasa menangani acara rahasia orang-orang penting.

"Aku rasa ada yang aneh deh," ucapnya.

Gladys menghela napas pelan. "Adnan!"

"Iya?"

"Kami hanya ingin memastikan semua yang terjadi malam ini tetap menjadi rahasia."

"Tapi ini terlalu berlebihan."

"Menurutmu begitu?"

Adnan kembali melihat dokumen di tangannya. Lalu menatap keenam tamu yang kini duduk santai di sofa. Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Akhirnya ia meletakkan dokumen itu di atas meja.

"Kalau begini caranya, mungkin saya mundur saja."

Ucapan itu membuat suasana langsung berubah. Senyuman beberapa orang menghilang. Gladys bahkan langsung berdiri.

"Mundur?"

"Iya!"

Adnan mengangguk. "Maaf ya, Mbak. Tapi saya mulai merasa nggak nyaman."

"Kenapa?"

"Karena semuanya terasa misterius." Adnan menunjuk dokumen di meja. "Lalu ada ancaman juga," tambahnya.

Bastian hanya tertawa kecil. "Itu bukan ancaman."

"Kalau begitu apa?"

"Pengingat!"

"Itu sama saja!"

Beberapa orang di ruangan itu malah terlihat terhibur mendengar jawaban Adnan. Namun Gladys tidak ikut tertawa.

Wanita itu justru menatap Adnan dengan serius. "Kamu tidak bisa pergi."

"Ke-kenapa?" Adnan mengira dirinya salah dengar.

"Kamu sudah bertemu dengan kami semua."

Adnan berkedip. "Terus?"

"Artinya kamu sudah terlalu jauh terlibat."

"Logika macam apa itu?"

"Logika yang sederhana."

Gladys menyilangkan kedua tangannya. "Kami tidak mungkin membiarkan seseorang datang, melihat siapa saja yang hadir, lalu pergi begitu saja."

Adnan langsung memucat. "Sebentar..."

Ia mulai merasa tidak nyaman. "Kalian ini sebenarnya siapa sih?"

Tidak ada yang menjawab. Semua tampak saling bertukar pandang. Hal itu justru membuat kecemasan Adnan semakin besar. Ia bahkan sempat melirik pintu keluar. Meski tidak ada yang menghalanginya secara fisik, entah kenapa ia merasa suasana di ruangan itu berubah menjadi menekan.

"Kalian bukan kelompok aneh-aneh kan?"

Salah satu perempuan langsung tertawa.

"Bukan."

"Yakin?"

"Yakin."

"Terus kenapa rahasia sekali?"

Tidak ada jawaban. Adnan mengusap wajahnya sendiri. Keringat mulai muncul di pelipis. Ia menyesal tidak menanyakan lebih banyak informasi saat menerima telepon tadi. Kalau tahu situasinya seperti ini, mungkin ia akan berpikir dua kali sebelum datang. Akhirnya dia menarik napas panjang. Lalu menatap Gladys.

"Sebenarnya siapa kalian?" Suasana kembali hening. Adnan melanjutkan dengan nada lebih serius. "Dan apa yang akan kalian lakukan malam ini?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.

1
Mita Paramita
mungkin Gladys mau ngadain ritual sekte ulang kn acara yang pertama gagal 🫣 Adnan gentleman banget 😍
Mita Paramita
Adnan solusi ny mending cari tau dulu siapa Gladys mungkin aja dia tau tentang kamera ajaib itu makanya bikin jebakan jadi klien 🫣
Mita Paramita
akhirnya Adnan ada yang mau bantuin masalah nya 😉 Liza muka peka sama Adnan gak cuek lagi
Mita Paramita
kasian Adnan nanggung beban sendirian gak ada temen curhat 🤨 semoga Liza peka ngebantuin Adnan
Mita Paramita
mestinya Adnan jujur aja ke Liza kalo lagi di ikuti Gladys cs dan tentang kamera juga 🤨 siapa tau bisa menyelesaikan masalah bareng
Rommy Wasini Khumaidi
waduh,kok Gladys tau tempat majikan Adnan tinggal?
Mita Paramita
Adnan balik ke setelan awal jadi supir Liza tapi kenapa ketemu lagi Sama Gladys cs apa mereka temen kuliah Liza 🤨🤨🤨 nasib sial masih aja ngikutin Adnan 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Adnan akhirnya pulang kerumahnya juga ... dapet sarapan gratis lagi dari tari. hidup Adnan selalu dikelilingi orang baik 😉
Mita Paramita
akhirnya Adnan bisa pulang juga🤨 maka ny Adnan kalo ada panggilan job tanyain dulu jangan langsung diambil
Rommy Wasini Khumaidi
deg²an aku,takut Gladys and the geng menghadang
Mita Paramita
Herman curiga seperti ny dikamar mandi ada orang lain 🤣🤣🤣 situasi Adnan terlalu dar der dor kalo sampe ketahuan
Rommy Wasini Khumaidi
aku ikut nahan nafas juga Nan,takut kamu ketahuan
Mita Paramita
Adnan sial banget ngumpet dikamar mandi trus dengerin suara desahan Sherly 🤣🤣🤣 serba salah posisi Adnan 🫡
Mita Paramita
Adnan udah merasa lega dikit ada lagi masalah baru🤣🤣🤣maju kena mundur kena nih🫡
Mita Paramita
Adnan Udah jauh jauh sembunyi malah dapet jackpot masuk ke kamar kupu2 malam 🤣🤣🤣 semoga aja gerombolan sekte itu udah bubar cape nyari Adnan
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aliran sesat kan, serem bgt. lain kali milah milah juga klo terima job jgn sampe membahayakan diri sendiri Adnan
Mita Paramita
baca bab ini bikin dar der dor Adnan akhirnya bisa juga dari kepungan anggota ritual sekte 🤣🤣🤣 semoga dia gak ketangkap Gladys
Mita Paramita
Adnan mending kabur situasi nya makin horor nih ritual sekte nyaa 😈😈😈
Mita Paramita
kamera max ajaib bisa liat setan di tengah acara sektor gini😈😈😈
Dewi kunti
hiiiiiiiiiiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!