Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Kebohongan Pertama
Gagang pintu turun.
Nara segera memejamkan mata. Ia membiarkan kepalanya jatuh ke samping, seolah kesadarannya benar-benar habis setelah persalinan.
Vania bergerak cepat. Ia menarik selimut sampai menutupi dada Nara, memeriksa infus, lalu menempelkan dua jari pada pergelangan tangannya.
Bu Rini masuk.
“Kenapa pintunya berat?”
“Saya berdiri terlalu dekat,” jawab Vania. “Mbak Nara sempat hampir pingsan.”
Langkah Bu Rini mendekati ranjang. Nara menahan napas agar tetap teratur. Kirana berada di sisinya, terbungkus kain, dengan gelang resmi bertuliskan nama Nara di kaki kecilnya.
Jangan buka ketiaknya.
Jangan periksa fotonya.
“Dia sadar?” tanya Bu Rini.
“Setengah sadar. Tekanan darahnya turun.”
“Bayinya?”
Vania mengangkat kaki Kirana sedikit. “Gelang sudah terpasang. Nama ibu Nara Ayuningtyas, lahir pukul nol nol sepuluh.”
Bu Rini mengambil kaki mungil itu dan membaca gelangnya. Ia hanya memeriksa tulisan, tepat seperti yang Nara harapkan.
“Bagus.”
Satu kata itu membuat kemarahan mengalir panas di dada Nara.
Bu Rini percaya bayi di ranjang ini adalah Maya. Ia percaya gelang palsu dan gelap beberapa menit telah mengubah nasib dua anak.
Padahal Kirana ada dalam jangkauan tangan ibunya sendiri.
“Pasien sebelah bagaimana?” tanya Vania.
“Sudah selesai. Bayi perempuan. Siska masih lemah.”
“Gelangnya sudah dipasang?”
“Sudah. Saya yang urus.”
Vania terdiam sesaat. “Waktu lahirnya?”
“Nol nol dua puluh dua.”
Jadi Kirana lahir dua belas menit lebih dulu.
Urutan itu tersimpan di kepala Nara bersama setiap suara, setiap langkah, dan setiap kebohongan malam ini.
Bu Rini menyentuh pipi Kirana dengan ujung jari. “Bawa bayi ini ke ruang pemulihan bersama ibunya. Jangan sampai tertukar lagi.”
Kalimat itu begitu keji sampai Nara nyaris membuka mata.
Vania mendorong ranjang Nara menuju ruang pemulihan. Roda tua bergetar melewati sambungan lantai. Kirana tetap berada di sisi Nara, sementara Vania menjaga satu tangan di pinggir keranjang bayi.
Mereka melewati pintu ruang sebelah.
Siska berbaring pucat di ranjang lain. Maya berada di dalam keranjang bayi dekat dinding. Gelangnya mencantumkan nama Siska Maharani dan waktu lahir yang benar.
Bu Rini berjalan ke sisi putrinya.
“Ibu?” Suara Siska serak.
“Sudah selesai.”
“Anaknya?”
“Aman.”
Siska mencoba mengangkat kepala. “Yang mana?”
Bu Rini melirik ke arah ranjang Nara yang terus didorong melewati pintu.
“Anak keluarga berada sudah menjadi milikmu.”
Jemari Nara menegang di balik selimut.
Vania mendorongnya lebih cepat. Mereka masuk ke ruang pemulihan sempit yang hanya berisi dua ranjang dan tirai pembatas. Nara ditempatkan di sisi dekat jendela. Tidak lama kemudian, Siska dan Maya dipindahkan ke ranjang seberang.
Bu Rini menarik tirai di antara kedua ibu.
“Kalian istirahat,” katanya.
Nara membuka mata sedikit. Vania sedang mencatat tekanan darahnya. Perawat muda itu tidak berani menatapnya.
Di balik tirai, Siska berbisik, “Ibu yakin?”
“Aku sendiri yang memindahkan gelangnya.”
“Tapi kalau ada yang lihat?”
“Lampu mati. Vania sibuk menangani pendarahan Nara.”
Nara merasakan Vania berhenti menulis.
Bu Rini melanjutkan dengan suara sangat rendah, “Kamu rawat bayi itu baik-baik. Nanti, ketika waktunya tepat, keluarga Wiratama akan melihat kemiripannya. Mereka tidak akan bisa menolak darah sendiri.”
“Kalau bayi Nara?”
“Biarkan dia membesarkan anakmu.”
Siska tertawa pelan, lemah tetapi puas. “Jadi dia akan membayar semua kebutuhan Maya, sementara aku membesarkan putri keluarga itu?”
“Jangan sebut nama terlalu keras.”
Nara menutup mata rapat-rapat.
Kini ia tahu seluruh alasan mereka.
Bukan sekadar iri. Bu Rini dan Siska ingin menanam seorang anak di rumah Nara, lalu suatu hari menggunakan darah, rasa bersalah, dan nama keluarga untuk menuntut hidup yang lebih kaya.
Mereka tidak tahu rencana itu sudah gagal pada malam pertama.
Tangisan Kirana terdengar di sisinya. Nara langsung membuka mata dan mengulurkan tangan. Vania membantu mendekatkan keranjang.
“Boleh saya pegang?”
“Mbak masih lemah. Saya letakkan dia dekat lengan, jangan mencoba duduk.”
Vania mengatur posisi Kirana, lalu menyentuh selimut Nara seolah sedang merapikannya.
“Foto dan gelang aman,” bisiknya.
“Catatan waktunya?”
“Aman.”
“Jangan bicara lagi sekarang.”
Vania mengangguk.
Bu Rini membuka tirai. “Sudah sadar?”
Nara memandangnya dengan mata setengah terbuka. “Anak saya.”
“Ada di situ. Kamu terlalu banyak khawatir.”
“Saya mau dia terus di dekat saya.”
“Bayi prematur perlu diawasi.”
“Awasi di sini.”
Bu Rini tampak hendak menolak, tetapi Vania berkata, “Suhu tubuhnya masih cukup stabil. Saya bisa pantau dari sini.”
“Catatan kelahirannya sudah dimasukkan ke buku?” tanya Nara.
“Besok pagi,” jawab Bu Rini. “Petugas administrasi belum datang.”
“Berarti malam ini hanya gelang dan catatan sementara?”
Bu Rini menyipitkan mata. “Ya.”
Jawaban itu memberi Nara kepastian penting. Pertukaran tadi belum masuk ke surat keterangan kelahiran, buku KIA, atau dokumen administrasi apa pun. Selama kedua bayi tetap bersama ibu yang benar sampai pagi, identitas resmi mereka tidak pernah berpindah.
Ia tidak boleh membuat Bu Rini sadar sebelum pencatatan selesai.
“Kamu membantah saya terus malam ini.”
“Saya hanya mencatat kondisinya.”
Bu Rini menatap Vania, lalu Nara. “Baik. Tapi kalau ada masalah, bayi dibawa ke ruang tindakan.”
Ia kembali ke sisi Siska.
Nara menyentuh tangan Kirana dengan ujung jari. Bayi itu menggenggam refleks, sangat lemah tetapi cukup untuk membuat tenggorokan Nara terasa penuh.
Di balik tirai, Siska bertanya apakah bayi Nara tampak sehat. Bu Rini menjawab bahwa bayi itu lahir lebih awal dan mungkin memerlukan biaya besar.
“Bagus,” bisik Siska. “Biar dia sibuk mengurus anakku.”
Nara mengusap punggung tangan Kirana dengan ibu jari. Siska bahkan tidak tahu bayi prematur yang sedang ia bicarakan adalah anak yang ingin direbutnya sendiri.
Informasi yang salah telah menjadi perangkap pertama mereka.
Di seberang tirai, Maya menangis.
Siska mengeluh, “Kenapa dia tidak diam?”
“Susui dulu,” kata Bu Rini.
“Aku lelah.”
Suara Bu Rini melembut. “Kamu harus terlihat seperti ibu yang baik. Kalau mau mengambil hidup yang lebih baik, mulai dari sekarang.”
Nara menatap langit-langit.
Maya baru berusia beberapa menit, tetapi ibunya sudah memperlakukannya sebagai alat tukar.
Nara ingin membongkar tirai dan mengatakan bahwa bayi yang Siska abaikan itulah anak kandungnya. Namun tanpa jalur keluar, tuduhan sekarang hanya akan membuat Bu Rini memperbaiki kesalahannya.
Ia harus menunggu.
Menjaga Kirana.
Menjaga bukti.
Dan sebisa mungkin, tidak membiarkan Maya dihancurkan oleh kebohongan orang dewasa.
Vania memasang alat kecil pada kaki Kirana untuk memeriksa oksigen. Angka di layarnya sempat muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Perawat itu mengerutkan kening.
“Kenapa?” tanya Nara.
Vania mengubah posisi alat. “Mungkin sensornya longgar.”
Kirana berhenti menangis. Wajahnya terlalu tenang.
Vania menyentuh dada bayi, lalu menatap warna bibirnya.
Angka pada layar turun.
Alarm berbunyi nyaring.