Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri Dan Kemarahan
Mendengar penuturan panjang lebar dari Yasmin, Roy tampak semakin bingung. Ia berdiri mematung di tempatnya, menatap wanita itu dengan tatapan tak mengerti. Sebagai seorang pengawal yang telah bekerja bertahun-tahun untuk Baskara, ini adalah kali pertamanya ia menemui situasi seperti ini. Biasanya, wanita-wanita yang berhubungan dengan konglomerat justru berebut ingin berfoya-foya, bahkan meminta lebih. Namun, di hadapannya kini ada wanita yang justru menolak kemewahan yang disodorkan kepadanya.
"Tapi Nona Yasmin... Tuan Baskara dengan tulus memberikan fasilitas itu untuk Nona. Beliau menginginkan yang terbaik, jadi wajar saja jika standar belanjanya juga mengikuti kemampuan beliau," ujar Roy berusaha membujuk, meski nada bicaranya terdengar ragu. "Jika Nona memaksa mencari barang dengan harga semurah di pasar tradisional, saya khawatir nanti Tuan Baskara malah yang tidak senang. Bagaimana kalau kita cari jalan tengahnya saja?"
Yasmin menggeleng tegas. "Tidak bisa, Pak Roy. Keputusan saya tetap begini. Uang itu hasil kerja keras, jadi harus digunakan seperlunya saja. Saya tidak ingin menjadi orang yang boros dan membuang-buang uang hanya demi gengsi semata."
Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak semakin kebingungan. Ia sadar, ia tidak berhak mengambil keputusan sepihak mengenai hal ini. Di satu sisi ada perintah tegas dari tuannya, namun di sisi lain ada penolakan dari wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya.
"Baiklah, Nona. Jika begitu, saya rasa saya tidak bisa memutuskan ini sendirian. Sebaiknya saya hubungi Tuan Baskara terlebih dahulu untuk menanyakan pendapat beliau," ujar Roy akhirnya, memutuskan untuk mengambil jalan aman agar tidak salah langkah.
Tanpa menunggu jawaban dari Yasmin, Roy segera merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan gerakan cekatan namun tetap waspada, ia mencari nama kontak atasannya dan segera menekan tombol panggil. Ia sedikit menjauh dari Yasmin agar suaranya terdengar jelas, namun posisinya tetap dalam jangkauan pandangan.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung. Dari jarak agak jauh, Yasmin bisa melihat wajah Roy yang semula tenang perlahan berubah menjadi kaku dan penuh kewaspadaan saat ia mulai berbicara.
"Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu kesibukan Tuan," ucap Roy membuka percakapan dengan nada sangat sopan dan rendah hati. "Saya menghubungi Tuan karena ada sedikit kendala di sini mengenai Nona Yasmin."
Di seberang sambungan telepon, di ruangan kantor yang megah dan dingin, Baskara yang sedang duduk di kursi kebesarannya segera menghentikan aktivitasnya. Ia mengernyitkan dahi, merasa bingung sekaligus kesal mendengar kata 'kendala'.
"Kendala apa, Roy? Bukankah sudah saya sampaikan padamu untuk mengantar dia berbelanja dan membiarkannya membeli apa saja yang dia mau? Apa ada barang yang tidak bisa didapatkan?" tanya Baskara dari seberang telepon, nada suaranya terdengar berat dan mulai terdengar nada ketidaksabarannya.
"Bukan begitu, Tuan. Barang-barangnya tersedia lengkap. Hanya saja..." Roy terdiam sejenak, berusaha menyusun kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaan tuannya. "Nona Yasmin menolak untuk membeli barang-barang di toko yang saya arahkan, Tuan. Beliau justru meminta saya mengantarnya ke tempat yang lebih murah, seperti pasar biasa. Dan beliau juga... menolak untuk menggunakan uang yang sudah Tuan transfer ke rekening itu."
Ting!
Seolah ada sesuatu yang meledak di dalam kepala Baskara. Mendengar laporan itu, emosinya yang memang sedang tidak stabil tiba-tiba meledak. Bagi Baskara, penolakan itu bukan sekadar masalah perbedaan selera atau kebiasaan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia merasa usahanya untuk memberikan yang terbaik justru dianggap remeh atau bahkan buruk oleh wanita itu.
"Apa katamu? Dia menolaknya?" bentak Baskara lewat sambungan telepon, suaranya menggelegar dan terdengar sangat marah hingga membuat Roy sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Dasar wanita tidak tahu diri! Apa maksud dia menolak pemberianku? Apakah dia merasa barang-barang di sini tidak cukup bagus untuknya? Atau dia sengaja ingin membuatku terlihat buruk?"
"T-tidak, Tuan. Bukan begitu maksudnya. Nona Yasmin hanya merasa harganya terlalu mahal dan tidak ingin memboroskan uang Tuan," cegah Roy buru-buru, berusaha menjelaskan namun suaranya tertutup oleh kemarahan Baskara yang memuncak.
"Omong kosong! Uang itu milikku, aku yang berhak mengaturnya! Dan aku sudah memerintahkanmu untuk membelanjakannya untuk dia! Jika dia menolaknya, berarti dia menolakku! Dia merendahkanku di hadapan orang banyak!" hardik Baskara dengan nada yang sangat tajam dan dingin. "Berikan telepon itu padanya sekarang! Aku ingin bicara langsung dengannya! Aku ingin mendengar sendiri alasan konyol apa lagi yang dia punya!"
Roy menelan ludah mendengar kemarahan tuannya. Dengan wajah penuh rasa bersalah namun tak berdaya, ia berbalik badan menghadap ke arah Yasmin yang masih menunggu dengan wajah bingung. Roy berjalan mendekat, lalu menyodorkan ponsel itu ke arah Yaya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Nona Yasmin... Tuan Baskara ingin bicara dengan Nona," ujar Roy pelan, wajahnya tampak iba namun tak bisa berbuat apa-apa.
Yasmin yang sedari tadi sudah mendengar nada bicara Roy yang berubah-ubah dan sesekali terdengar suara bentakan samar dari ponsel itu, langsung merasakan firasat buruk. Tangannya gemetar hebat saat perlahan menerima benda pipih itu dari tangan Roy. Kepalanya tertunduk dalam, menatap lantai keramik yang mengkilap dengan tatapan kosong. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya, seolah ia adalah anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan fatal dan akan dihukum oleh orang tuanya.
"H-halo..." ucap Yasmin pelan dan terbata-bata saat ponsel itu sudah menempel di telinganya.
Belum sempat Yasmin menyelesaikan satu kata pun, suara keras Baskara langsung terdengar menyambar dari seberang sambungan telepon, menusuk hingga ke tulang sumsum.
"Kau ini punya otak atau tidak, hah?!" bentak Baskara tanpa ampun, suaranya terdengar sangat kasar dan penuh kemarahan yang meluap-luap. "Apa yang kau pikirkan, hah? Kau pikir kau siapa hingga berani menolak pemberianku? Apa kau merasa dirimu terlalu suci dan berada atau apa sehingga tidak mau membelanjakan uangku?"
Mendengar makian itu, wajah Yasmin seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat hidup. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya terasa lemas seolah tak bertulang. Ia ingin membuka mulut untuk membela diri atau menjelaskan maksud hatinya, namun tenggorokannya terasa tercekat dan kering, tak satu pun kata yang mampu keluar.
"T-tapi Pak... saya hanya..."
"Diam kau! Jangan banyak alasan!" potong Baskara dengan ketus, tak memberi kesempatan sedikit pun bagi Yasmin untuk bicara. "Dasar gadis bodoh! Tidak tahu diri! Sudah kuberi tempat tinggal, sudah kuberi makan, dan kulindungi tapi kau malah bertingkah seolah pemberianku ini tidak ada apa-apanya! Kau pikir dengan bersikap hemat begitu kau terlihat mulia? Tidak! Kau malah terlihat konyol dan menyebalkan di mataku!"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Yasmin, perlahan menetes jatuh membasahi pipinya yang pucat. Hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk benda tajam, sakit sekali rasanya mendengar kata-kata hinaan yang keluar dari mulut Baskara yang tak lain adalah suaminya sendiri, meskipun siri. Ia tidak menyangka bahwa niat baiknya untuk tidak menghamburkan uang justru ditanggapi seburuk ini oleh Baskara.
"Kau pikir kau ini siapa, hah? Hanya seorang istri siri yang kutemukan di jalan, tapi berani-beraninya menentang keinginanku!" Baskara terus melancarkan makiannya tanpa henti, tak peduli betapa hancurnya perasaan wanita di seberang sana. "Kau pikir uang 5 juta itu cukup untuk membeli keperluanmu dengan layak di tempat ini? Dasar tolol! Uang itu cuma uang receh bagiku! Dan kau malah bertingkah seolah itu harta karun!"
Yasmin semakin menunduk dalam, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang hampir meledak. Ia menggigit bibirnya hingga terasa perih, berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Tatapan orang-orang yang tadinya membuatnya tidak nyaman, kini terasa jauh lebih baik dibandingkan dengan rasa sakit hati yang ia rasakan saat ini.
"Dan dengar baik-baik apa yang akan kukatakan ini!" nada suara Baskara tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan mengancam, membuat bulu kuduk Yasmin meremang. "Jika kau tidak mau menggunakan uang yang sudah kutransfer itu untuk membeli keperluanmu hari ini juga sesuai keinginanku, maka jangan salahkan aku jika aku mengusirmu dari apartemen itu saat ini juga! Kau boleh pergi dan cari tempat tinggalmu sendiri lagi!"
Ancaman itu seolah menjadi petir di siang bolong bagi Yaya. Matanya yang semula berkaca-kaca kini membelalak ketakutan. Mengusirnya... Itu berarti ia harus kembali ke jalanan, harus kembali mencari tempat berteduh yang entah di mana. Dan yang paling membuatnya takut... Jika ia berada di luar sana tanpa perlindungan, bagaimana jika Juragan Irwan atau orang-orang dari kampungnya berhasil menemukannya lagi? Ia takut dikembalikan ke kehidupan lamanya yang penuh penderitaan. Bayangan wajah-wajah jahat dan ancaman masa lalu itu seketika berputar liar di kepalanya.
"T-tolong jangan, Pak... saya mohon..." bisik Yaya dengan suara yang nyaris tak terdengar, isak tangisnya mulai pecah tak tertahankan lagi.
"Kalau begitu, turuti perintahku! Jangan banyak tingkah lagi dan belanjalah seperti layaknya orang normal! Atau kau akan menyesal!" hardik Baskara terakhir kali, lalu tiba-tiba sambungan telepon itu terputus secara sepihak.
Suara 'tut... tut... tut...' yang terdengar dari ponsel di tangan Yaya seolah menjadi penegas bahwa kemarahan Baskara benar-benar nyata. Dengan tangan gemetar hebat, Yaya perlahan mengembalikan ponsel itu kepada Roy yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh rasa iba namun tak bisa berbuat apa-apa.
Air mata terus mengalir deras di pipi Yaya, namun ia berusaha menyekanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya agar tidak terlihat terlalu menyedihkan di mata orang-orang. Dadanya terasa sesak, ada luka hati yang begitu menganga lebar di sana. Rasanya sakit sekali, jauh lebih sakit daripada saat ia dihina atau dikucilkan di kampung halamannya dulu.
Namun, ancaman Baskara tadi benar-benar membuatnya takut setengah mati. Ia tidak ingin diusir. Ia tidak ingin kembali pada penderitaan masa lalu. Dengan langkah yang terasa sangat berat dan tertatih-tatih, seolah ada rantai besar yang mengikat kakinya, Yaya akhirnya kembali berjalan menuju deretan toko-toko mewah di dalam mal itu.
Setiap langkah yang ia ambil terasa menyakitkan, bukan karena pegal di kakinya, tapi karena rasa sakit di hatinya yang semakin dalam. Ia tahu, hari ini ia harus membelanjakan uang itu meski hatinya menolak habis-habisan, demi bisa tetap tinggal di tempat itu dan terhindar dari bahaya yang mengintainya di luar sana. Yaya berusaha tersenyum tipis, namun senyum itu terlihat begitu pahit dan menyedihkan, sama pahitnya dengan perasaannya saat ini.