NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

  " Aaarhhhg ,,,"

Teriakan Hawa menyebar keseluruh kamar dan sampai kelantai bawah. Semua berhamburan keluar. Hasby menutup mulut Hawa dengan tangannya, menghentikan teriakan yang memekakkan telinga.

Terdengar suara kaki berlarian menaiki tangga dan bergema di lorong lantai atas. Mereka menerobos masuk kamar Hawa yang terbuka

"Ada apa?" serunya bersamaan.

Melihat Hawa dibungkam oleh Hasby diatas ranjang, membuat spekulasi liar orang rumah. Memang posisi yang mudah untuk disalah pahami. Keduanya menoleh kearah suara dan bola matanya melebar melihat Papa Mama dan para pekerja dirumahnya. Segera Hasby melepaskan tangannya dan berdiri dengan benar. Bersikap setenang mungkin, wajahnya kembali datar. Hawa mengerjap cepat, mengembalikan kesadarannya dan melihat sekitar. Mereka semua tersenyum penuh arti. Hawa menjadi kikuk sendiri.

"Maaf Mah, Pah ,,, Hawa kira maling," cicitnya pelan.

Mereka tertawa pelan, sungguh lucu nona mudanya ini.

"Kenapa kamu berada di dalam kamar Hawa malam-malam seperti ini?" selidik Mama memicingkan matanya, Hasby terkesiap.

"Aku hanya melihatnya Mah, niat hati mau membetulkan selimutnya malah diteriakin," selorohnya jujur.

"Hahaha ,,, lain kali nyalakan lampu biar terang By. Biar nggak dikira maling sama istrimu!" Mama tertawa lepas. wajah mereka berdua semburat kemerahan. Setelah drama singkat itu mereka semua kembali ketempat peraduannya masing-masing.

Hasby merebahkan badannya telentang diatas ranjang. Jantungnya masih berdegub kencang seperti lari maraton. Mencoba untuk segera tidur. Karena besok aktivitasnya banyak. Kerjaan menumpuk dan harus sekolah. Dia masih hutang penjelasan dengan Tian. Udara dingin memenuhi ruang kamar tidurnya, membuatnya tidak kuasa menahan matanya tetap terbuka. Seperti mendengar alunan suara yang lembut, akhirnya memejam rapat. Rasa kantuk dan lelah melebur diatas peraduannya malam ini.

Samar terdengar adzan berkumandang merdu disunyinya pagi. Membuat Hasby meregangkan tubuhnya dan beranjak mengambil wudhu. Bersiap dengan baju koko putih lengkap sarung putih dan peci hitamnya. Menambah aura ketampanannya diatas rata-rata.

Dia mengetuk pintu kamar Hawa, Hawa membukanya pelan. Melihat pemandangan yang sangat memanjakan mata membuatnya tercengang.

"ehem,"

"Eeh ada apa kak?" menetralkan ekspresinya.

"Sudah sembuh?"

"Alhamdulillah sudah kak. Kakak mau ke masjid?"

Melihat dari penampilan Hasby yang idaman sekali. Hawa selalu terpesona ketika melihat Hasby dalam mode apa pun. Dia memang sudah bucin akut. Tapi mencoba menyembunyikannya.

"Iya,,, ya sudah aku kemasjid dulu," katanya datar beranjak pergi. Hawa kembali masuk kamar.

Hawa merasa badannya ringan dan memutuskan menikmati dinginnya air dipagi hari sebelum matahari menampakkan sinarnya. Air menyentuh tubuhnya seperti ditembaki jarum es. Hawa tidak memedulikannya. Segera ia menyelesaikannya sebelum tubuhnya membeku dikamar mandi.

Hawa mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil, ia duduk diatas sofa dekat jendela dengan tirai masih menutup rapat, menghalangi pemandangan diluar sana. Akhirnya selesai dan ia memutuskan turun untuk membantu Bik Im menyiapkan sarapan.

 Sampai dilantai bawah terdengar seseorang membuka pintu depan, Hawa menoleh dan tersenyum tipis.

Menghampirinya, meraih tangannya dan mencium punggung tangan Hasby dengan lembut. Hasby terpaku. Masih belum terbiasa dengan perlakuan Hawa.

Sebenarnya sah-sah saja. Mereka sudah menikah dan memang seperti itu hakikatnya suami istri. Entah kenapa Hasby menjadi susah mengontrol perasaannya sendiri. Setiap melihat Hawa yang selalu berpakaian syar'i membuatnya enggan memalingkan pandangannya.

Hawa kembali ketujuan awalnya, menghampiri bibik didapur. Setelah berkutat dengan peralatan masak, akhirnya menu sarapan pagi ini sudah selesai tersaji rapi dimeja makan.

Segera ia naik untuk berganti seragam sekolah. Pagi ini ia akan ulangan matematika. sekalian memanggil Hasby untuk sarapan bersama.

Mereka semua sudah siap untuk menikmati sarapan pagi ini. Tapi ada yang berbeda. Mama dan Papa sudah rapi mengenakan pakaian formal. Hawa memandang Mama seolah meminta penjelasan. Mama memang peka, beliau tersenyum hangat.

"Hasby, Hawa,,, maaf ya Mama dan Papa ada agenda bisnis untuk jangka waktu dua minggu. Jadi kalian yang akur dan jaga rumah!" pesan Mama memandang keduanya lembut.

"Hasby,,, ingat selalu pesan Papa, jaga Hawa dan urus kerjaanmu!" sela Papa tegas memandang putranya. Hasby menganggukkan kepala singkat.

"insyaa allah Ma, Mama dan Papa jaga kesehatan ya, cepat pulang," Hawa merasa kesepian. Padahal belum ditinggal.

"iya nak, ingat jangan makan yang pedas-pedas!" gurau mama kepada Hawa.

"hehe iya mah, tapi nggak janji, nanti kalau khilaf ya maaf mah," cengiran khas Hawa ketika bergaya tengilnya kambuh lagi.

"Kamu ini,, awas lho suami kamu bisa ngamuk kalau kamu melanggar aturan," Mama terkekeh bersama Papa. Hasby tidak menanggapi, ia fokus pada sarapannya.

"Mama,,, Kak Hasby baik kok, cuma terlalu kaku dan datar saja," celetukan Hawa mengundang kekehan mertuanya itu, sedangkan Hasby memutar mata malas.

Setelah mereka menyelesaikan sarapannya. Kedua orang tuanya berangkat menuju bandara setelah berpamitan dengan Anak-anaknya. Hasby dan Hawa juga berangkat ke sekolah. Seperti biasa Hawa turun setelah Hasby keluar dari mobilnya. Tapi siapa sangka Hawa malah ketahuan sama Tian untuk yang entah berapa kali.

"Tunggu!" ucapnya dingin.

Hawa membeku ditempat meremas tangannya, takut sekali dia. Mana Hasby sudah pergi duluan. Hawa berbalik untuk melihat siapa yang menahannya itu.

Deg...

Kak Tian,,, bibirnya kelu tidak bisa berucap. Keringat dingin membasahi dahinya.

"Aku hanya ingin memastikan, tolong jawab jujur! Apa yang kamu inginkan dari Hasby?" tatapan tajam dan dingin yang mengintimidasi lawannya. Hawa meneguk salivanya.

"Maksud kakak apa?"

Mencoba memberanikan diri menatap kakak kelasnya itu. Jantungnya berdegub kencang.

"Kamu pasti memanfaatkannya kan? Apa yang kamu inginkan?" desaknya lebih keras lagi.

"Aku tidak tahu apa yang kakak maksud. Sudah mau bel kak, saya kekelas dulu," Hawa masih bersikap sopan. Hendak beranjak pergi.

"Aku peringatkan, jangan macam-macam!" lanjutnya pergi begitu saja meninggalkan Hawa mematung sendirian.

Tak jauh dari sana Shela mengawasi sambil tersenyum smirk.. "wah,,, ada yang seru nih,".

Hawa mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk tetap berjalan tegap dan memandang sekitar seperti biasa. Menuju kelas dengan sesekali menanggapi salam dari teman-temannya.

Pelajaran berlangsung dengan tertib. Hawa berhasil menaruh perhatian lebih pada pelajarannya. Menyingkirkan sejenak pembicaraan dengan kakak kelasnya itu.

Waktu berlalu terlalu cepat, tiba saatnya pulang sekolah. Hawa sudah menunggu dihalte depan sekolah. Ia sudah menghubungi Hasby. Sebenarnya ia ingin pulang kerumah almarhumah ibunya tapi mama selalu berpesan untuk pergi bersama Hasby. Terdengar bunyi gawainya, layarnya menyala putih tertera nama Hasby.

"Assalamu'alaikum kak,"

"Wa'alaikumsalam, kamu masih di halte?"

"Iya kak, kenapa?"

"Maaf Hawa, aku ada urusan mendadak. Kamu tunggu kang Udin ya!"

"nggak apa-apa kak, aku bisa pulang sendiri,"

"Tidak, tunggu kang Udin!"

"hm iya kak, kak Hasby, apa boleh aku mampir kerumah ibu?"

"..... Tidak bisa nunggu aku aja?"

"Kangennya sekarang, pingin sekarang,"

"hmm, ok, tapi dianter kang Udin, setelah itu pulang kerumah!"

"makasih kak"

Sambungan telepon selesai dari tadi, Hawa masih menunggu Kang Udin. Sebuah mobil hitam berhenti didepan halte, membuka kaca depan.

"Mari Neng,, maaf menunggu lama, tadi macet,"

"iya kang, nggak apa-apa,"

Hawa melangkah menaiki mobil yang menjemputnya itu. Duduk di bangku belakang dengan tenang

"Jadi kerumah Ibu Neng?"

"Iya kang, jadi. Makasih ya kang,"

"Sama-sama Neng, oiya tadi Den Hasby nitip pesen, Neng nggak boleh pulang malam,"

"Iya kang aku cuma bentar aja kok,"

"Siap Neng, mau mampir kemana dulu nggak Neng?" tanya kang Udin mengemudikan mobilnya kejalan raya yang penuh kendaraan.

"Nggak deh Kang, kerumah Ibu aja bentaran,"

"Siap Neng,"

Tak ada lagi obrolan lagi, Hawa menikmati pemandangan diluar jendela kaca itu. Sesampainya dirumah Ibu, banyak tetangga yang melihat dan menghampirinya. Mereka merindukan seorang gadis belia yang sudah tidak punya orang tua. Tapi mereka bersyukur karena Hawa sekarang bersama keluarga Hasby. Ibu Rt memeluk erat Hawa seperti memeluk anaknya sendiri. Setelah melepas rindu dengan tetangganya, Hawa memasuki rumah yang sedari kecil ia tempati bersama kedua orang tuanya.

Pintu berderit pelan, mengeluarkan bau apek dan berdebu, Hawa terbatuk sedikit. Mencoba menyeret kakinya memasuki rumah kecil dengan mata yang mulai memanas. Air mata yang menggunung dipelupuk mata terjun bebas dikedua pipinya. Betapa ia merindukan orang tuanya. Setelah tenang dan merasa rindunya terlampiaskan ia segera mencuci muka dan kembali keluar rumah. Menguncinya rapat.

"Kang, bisa minta tolong anterin bentar ke makam ibu?"

"Bisa Neng, ayo! Mumpung belum kesorean,"

"Makasih kang,"

Mereka melanjutkan perjalanan untuk pergi kemakam orang tua Hawa. Hawa sudah mengirim pesan singkat pada Hasby. Walaupun Hasby belum membacanya.

Diruang osis

Tian duduk dengan tatapan tajam dan dingin, setelah membahas kerjaan kantor dengan Hasby. Keduanya kembali duduk dan sesekali sekadar memeriksa berkasnya lagi.

"Jadi, kenapa bisa kamu menikah dengan dia?"

Hasby mendongak menatap Tian dalam diam. Segera ia meletakkan berkasnya dan menautkan jemarinya.

"Perjodohan yang udah diatur para orang tua. Nikah dipercepat setelah keadaan ibu Hawa drop, aku tidak bisa menolak lagi. Keinginan orang tuaku dan orang tuanya. Untuk selalu menjaga Hawa, padahal rencana nikah akan diselenggarakan setelah kita lulus. Tapi kehendak Allah lain. Aku mencoba menerima amanah ini dengan baik. Tapi berat buatku yang belum lulus dan belum bisa mencukupinya. Tanggung jawabku berat Tian. Jadi tolong rahasiakan ini, demi masa depan kami." ungkap Hasby tegas menatap temannya itu.

Tian mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. Tapi hatinya belum terima, seakan ada sesuatu yang mengganjal.

"Apa benar begitu? Jangan-jangan dia memanfaatkanmu setelah kepergian ibunya,"

"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Aku mengucap ijab kabul tanpa ada dia, hanya orang tuaku dan ibunya, disaksikan beberapa dokter dan perawat. Jangan berpikiran buruk tentangnya,"

"Aku pernah melihat dia bersama Dika, aku takut dia mempermainkanmu, sebagai teman aku tidak mau kalau ada orang yang memanfaatkan atau mempermainkanmu,"

"Makasih, tapi berpikirlah positif. Dia tidak seperti itu."

"oke, akan aku coba,"

"Kamu tidak pulang?"

"Sebentar lagi, dia masih dimakam orang tuanya" menunjukkan foto Hawa dipemakaman pada Tian. Difoto dari jarak lumayan jauh.

"Hm. Kamu suka dia?"

"Belum tahu, tapi rasa tanggung jawab ini mengharuskanku memiliki rasa lebih padanya,"

"Bagaimana dengan para fans mu?" candaan yang terlontar dari Tian mengundang tawa ringan dari Hasby.

"jangan macam-macam. Nanti mudah disalah pahami,"

Mereka masih bertukar cerita lama sampai seseorang mengetuk pintu ruang Osis. Menoleh bersamaan dan bertanya lewat sorot matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!