Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembar Rahasia Di Balik Nama
Devan melangkah keluar dari kamar tamu dengan raut wajah yang sukar diartikan. Ia menyusuri lorong berlantai marmer itu hanya beberapa langkah, lalu berhenti di depan pintu suite utama milik pribadinya yang berjarak persis di sebelah kamar Kirana—hanya terpisah oleh tembok tebal berdinding kedap suara.
Dengan satu dorongan pelan, Devan masuk ke dalam kamarnya yang luas bernuansa abu-abu gelap dan abu-abu monokrom. Suasana di dalam terasa tenang dan dingin, memancarkan aura dominan yang amat melekat pada dirinya. Pria itu melepas jas mewahnya, melemparnya sembarangan ke atas sofa kulit, lalu berjalan menuju jendela kaca berukuran besar yang mengarah langsung ke taman luar yang diselimuti salju.
Ia merogoh ponsel pintarnya dari saku celana, memutar satu nomor khusus yang terhubung langsung dengan tangan kanannya di dunia bawah tanah.
Hanya dalam dua kali nada dering, sambungan telepon itu terhubung.
"Tuan Devan," suara berat seorang pria terdengar sigap dari seberang telepon.
"Cari tahu semua hal tentang gadis bernama Kirana Husein," perintah Devan dingin tanpa kata pembuka. "Mulai dari latar belakang keluarganya, riwayat pendidikannya di Australia, sampai hubungan dirinya dengan keluarga Husein. Aku ingin laporan lengkapnya ada di mejaku sebelum matahari terbit."
"Baik, Tuan Devan. Laporan akan siap dalam kurun waktu dua jam," jawab anak buahnya penuh kepatuhan.
Devan mematikan sambungan telepon itu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap ke luar jendela yang buram oleh terpaan kepingan salju. Tatapan mata elangnya menajam. Pria itu tidak pernah mengambil keputusan tanpa kalkulasi yang matang. Meski keputusannya untuk menikahi Kirana tampak mendadak, naluri bisnis dan insting mafianya tahu bahwa gadis itu bukanlah sekadar korban malang yang ditemukannya di tepi jalan.
Ada sebuah teka-teki di balik mata jernih Kirana, dan Devan bertekad untuk membongkar setiap lembar rahasianya sebelum mengikat gadis itu sepenuhnya dalam takdirnya.
Tepat pukul lima pagi, sebelum fajar menyingsing di balik awan tebal yang menyelimuti kota, ketukan pelan bernada teratur terdengar di pintu kamar Devan. Pria itu sudah berada dalam balutan kemeja hitam yang rapi, duduk di kursi kerjanya sambil mengamati pemandangan luar yang perlahan memutih oleh sisa badai salju.
"Masuk," ucap Devan dengan suara bernada rendah.
Pintu terbuka, dan tangan kanannya—seorang pria tegap berwajah dingin—melangkah masuk membawa sebuah stopmap tebal berwarna hitam tanpa logo. Pria itu membungkuk hormat, lalu meletakkan berkas tersebut di atas meja kerja Devan.
"Semua informasi mengenai Kirana Husein sudah ada di dalam berkas ini, Tuan Devan," lapor anak buahnya dengan suara tegas. "Sesuai dugaan Anda, tidak ada yang meleset dari penjelasannya semalam."
Devan meraih stopmap tersebut dan membukanya. Lembar demi lembar dokumen lengkap dengan foto-foto resmi, riwayat akademis, hingga silsilah keluarga Husein terpampang jelas di hadapannya.
Mata elang Devan membaca baris demi baris detail kehidupan Kirana. Mengenai kematian ibunya saat melahirkan Kirana, bagaimana Husein mengirimnya ke sekolah asrama jauh sejak kecil, hingga catatan akademis luar biasa yang diraih Kirana selama empat tahun berkuliah di Australia. Laporan itu juga melampirkan data transaksi keuangan terbaru: pembekuan seluruh akses akun dan aset atas nama Kirana yang dilakukan secara sepihak oleh Husein tepat di hari kepulangan Kirana.
Tak hanya itu, laporan tersebut menyertakan profil lengkap Husein, Murni, dan adik tirinya, Nara Malan.
"Husein adalah pemilik Husein Group, perusahaan properti skala menengah yang belakangan ini sedang mengalami krisis likuiditas berat," tambah tangan kanan Devan. "Pernikahan barunya tiga tahun lalu dengan Murni membawa banyak masalah keuangan, dan rumor di kalangan atas menyebutkan bahwa Nara Malan diincar oleh beberapa investor tua untuk dijadikan jaminan utang."
Devan menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, memutar-mutar pena mahal di jarinya seraya tersenyum tipis—senyuman dingin yang sangat berbahaya.
"Jadi, gadis yang dibuangnya itu sebenarnya adalah aset paling berharga yang pernah ia miliki," gumam Devan pelan. "Putri kandung dengan kecerdasan luar biasa dan hati yang terlalu polos untuk dunia yang jahat."
Ia menutup berkas itu dengan dentuman halus. Rasa ingin tahunya kini berganti menjadi sebuah kalkulasi yang terarah. Husein telah membuang permata demi memilih tumpukan jerami, dan Devan tidak sabar untuk memperlihatkan kepada pria itu seberapa besar kesalahan yang telah dibuatnya.