NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Jejak

Hasil pemeriksaan laboratorium farmasi keluar sebelum matahari tinggi.

Rangga, Pak Bambang, Pak Hendra, dan dr. Yoga berdiri di ruang kecil dekat instalasi farmasi. Di atas meja ada kotak bukti tersegel, beberapa lembar laporan, dan foto vial yang semalam tampak terlalu sempurna untuk menjadi barang berbahaya.

Apoteker penanggung jawab membacakan hasil dengan suara tegang.

"Label, nomor batch, dan segel luar tampak sesuai. Tetapi isi vial ini tidak sesuai komposisi standar. Ada peningkatan konsentrasi sedatif sekitar empat puluh persen dari batas yang seharusnya."

Ruangan sunyi.

Pak Hendra memegang ujung meja.

"Kalau tidak diketahui di tengah operasi?"

Apoteker itu menelan ludah.

"Dengan kondisi Pak Anthony saat itu... kemungkinan henti jantung sangat tinggi."

Pak Bambang menutup mata sejenak.

Ketika membukanya lagi, tidak ada lagi wajah dokter senior yang sabar. Yang ada hanya kemarahan dingin.

"Ini bukan kesalahan obat."

Rangga menatap laporan.

"Ini percobaan pembunuhan."

Kata itu membuat dr. Yoga kaku.

Selama ini ia melihat intrik rumah sakit dalam bentuk laporan palsu, antrean yang diperlambat, atau pasien direbut. Kotor, tetapi masih bersembunyi di balik prosedur.

Kali ini berbeda.

Seseorang menyentuh obat di ruang operasi.

Seseorang ingin pasien mati di meja Rangga.

Pak Hendra mengambil laporan itu.

"Saya mau semua jalur obat diperiksa. Dari gudang, farmasi, pengiriman ke ruang operasi, sampai tangan terakhir yang menyentuh vial."

"Pak," kata koordinator keamanan rumah sakit yang berdiri di pintu, "rekaman sudah kami tarik. Ada beberapa blind spot di koridor belakang farmasi lama, tapi jalur utama masih terlihat."

"Putar."

Mereka pindah ke ruang monitor.

Layar pertama menampilkan lorong farmasi pada malam sebelum operasi. Staf tetap keluar masuk sesuai jadwal. Tidak ada yang aneh.

Layar kedua menampilkan pintu samping yang jarang dipakai.

Pada pukul 21.43, seorang pria berseragam pendamping pasien outsourcing muncul. Masker menutup sebagian wajahnya. Ia membawa kotak kecil dan berjalan seperti orang yang tahu kapan lorong sepi.

Ia tidak masuk lama.

Tapi cukup lama.

Tujuh menit dua puluh detik.

"Siapa dia?" tanya Pak Hendra.

Koordinator keamanan membuka data akses.

"Namanya tercatat sebagai tenaga pendamping pasien kontrak. Masuk satu bulan lalu lewat perusahaan outsourcing. Tugasnya membantu mobilisasi pasien nonkritis dan logistik kecil. Tidak seharusnya masuk area farmasi."

Pak Bambang menunjuk layar.

"Kenapa pintu terbuka?"

"Kartu akses sementara. Izin awalnya terbatas pada koridor umum. Kami masih memeriksa siapa yang menambahkan akses farmasi."

Pak Hendra menoleh tajam.

"Masih cek?"

Koordinator itu menunduk.

"Kami salah, Pak."

"Bukan salah administratif lagi. Ada pasien hampir mati."

Tidak ada yang berani menjawab.

Rekaman berikutnya lebih buruk.

Pada pagi operasi, pria itu terlihat melewati koridor dekat ruang operasi dengan nampan tertutup. Ia berhenti sebentar di area transit obat tanpa memasuki ruang steril. Tubuh petugas lain menutup kamera dari sudut berbeda selama beberapa detik.

Beberapa detik.

Cukup untuk menukar satu vial jika tangan sudah terlatih.

Rangga meminta rekaman diperlambat.

Pria itu tidak pernah melihat kamera.

Itu justru membuktikan ia tahu posisi kamera.

"Di mana orangnya sekarang?" tanya Rangga.

Koordinator keamanan membuka catatan kepegawaian.

"Mengundurkan diri kemarin sore. Formulirnya masuk setelah operasi dimulai. Nomor telepon tidak aktif sejak malam."

Pak Hendra tertawa sekali, pendek dan dingin.

"Jadi seseorang mencoba membunuh pasien di rumah sakit saya, lalu keluar lewat formulir pengunduran diri."

Ia mengangkat telepon.

"Hubungkan saya dengan kepolisian. Sekarang."

Suasana berubah.

Ini bukan lagi audit internal.

Ini perkara pidana.

Pak Hendra memerintahkan seluruh tenaga outsourcing diperiksa ulang. Semua kartu akses sementara dibekukan. Farmasi, ruang operasi, ICU, dan laboratorium diberi penjagaan tambahan. Staf yang keberatan langsung diminta menulis keberatan di atas kertas, dengan nama jelas.

Tidak ada yang menulis.

Di kantor direktur, berkas personalia pria itu dibuka.

Foto di halaman depan menunjukkan wajah biasa. Terlalu biasa. Jenis wajah yang mudah hilang di keramaian rumah sakit: rambut pendek, senyum tipis, mata menunduk.

Nama yang dipakai mungkin palsu.

Alamat kontrakan tidak valid.

Riwayat kerja terlalu rapi.

Perusahaan outsourcing yang membawanya pernah beberapa kali memasok tenaga pendamping ke beberapa rumah sakit swasta, termasuk RS Mentari Global.

dr. Yoga mengepalkan tangan.

"Jadi benar dari sana."

Rangga tidak langsung mengiyakan.

"Jejak mengarah ke sana. Tapi kita butuh bukti yang bisa berdiri di kantor polisi dan di depan Anthony."

Pak Bambang menatapnya.

"Kamu belum mau memberi tahu Anthony?"

"Beliau baru selesai operasi besar. Kita beri tahu bahwa ada penyimpangan obat dan investigasi berjalan. Untuk menyebut nama Robert atau RS Mentari Global, kita tunggu bukti lebih lengkap."

"Kamu masih melindungi dia?"

"Saya melindungi proses."

Pak Hendra, yang sejak tadi diam, akhirnya berkata, "Dan proses itu sekarang berada di bawah tanggung jawab saya."

Ia menutup map dengan keras.

"Mulai hari ini, tidak ada satu orang luar pun masuk area kritis tanpa verifikasi ulang. Kalau ada pejabat, keluarga pasien, vendor, siapa pun yang protes, kirim ke saya."

Pak Bambang mengangguk.

"Akhirnya kamu terdengar seperti direktur rumah sakit sungguhan."

Pak Hendra menatapnya tajam.

"Saya sedang sangat tidak ingin bercanda."

"Saya juga tidak bercanda."

Rangga kembali melihat berkas personalia.

Ada sesuatu di halaman kedua yang membuat jarinya berhenti.

Bagian rekomendasi masuk.

Biasanya hanya diisi nama perusahaan outsourcing atau supervisor lapangan. Tetapi di sana ada satu nama tambahan, ditulis kecil di bawah kolom catatan.

Rekomendasi internal: Joko Susanto.

Ruangan seolah kehilangan udara.

dr. Yoga membaca nama itu keras-keras dengan suara tertahan.

"Joko..."

Pak Bambang meraih berkas dari tangan Rangga.

Wajahnya berubah gelap.

Joko Susanto.

Teknisi lab yang dulu mengubah laporan Pak Karto, membuat hasil troponin tampak normal, dan hampir membunuh pasien karena permainan Santoso dan dr. Herman.

Orang yang sudah dibekukan aksesnya.

Orang yang seharusnya tidak lagi bisa menyentuh alur klinis rumah sakit.

Namun namanya muncul di pintu belakang serangan paling berbahaya sejauh ini.

Rangga menatap tulisan itu lama.

Benang yang tampak putus ternyata masih tersambung.

Dari laporan lab palsu.

Ke pencurian formula.

Ke obat operasi yang diracuni.

Jaringan itu bukan bergerak acak.

Ia sedang mengepung.

Setiap pintu yang mereka tutup ternyata memiliki jalan belakang yang telah disiapkan jauh sebelumnya.

Musuh selalu merencanakan langkah berikutnya lebih awal.

Pak Hendra mengangkat telepon lagi, suaranya rendah dan keras.

"Tambahkan satu nama ke laporan. Joko Susanto."

Rangga tidak berkata apa-apa.

Di depannya, foto pendamping pasien itu tampak biasa.

Tetapi di bawahnya, nama Joko Susanto seperti bekas luka lama yang tiba-tiba bernanah lagi.

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!