Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan
El tetap melangkah masuk ke kamarnya. Tak pedulikan wajah Chelsea yang penuh luka. Hana dan Arsaka langsung menaiki tangga menghampiri gadis itu.
"Chelsea ... sejak kapan kamu di sini, Sayang?" tanya Hana begitu berada di dekat gadis itu.
"Sejak tadi. Sejak Bang El mengatakan siapa ibuku. Kenapa selama ini Mommy tak pernah mengatakan kebenaran itu?" tanya Chelsea. Tangis gadis itu akhirnya tumpah.
Chelsea merasa sangat malu dan bersalah jika apa yang dikatakan El tadi benar. Ia yang anak seorang pelakor dibesarkan dengan penuh kasih sayang sama wanita yang pernah disakiti ibu kandungnya.
Ia merasa tak pantas mendapatkan semua, baik kasih sayang atau pun materi yang selama ini ia nikmati.
Hana menatap wajah Chelsea yang sudah basah oleh air mata. Hatinya terasa seperti diremas melihat gadis yang selama ini ia anggap putrinya kini berdiri dengan perasaan seolah-olah tidak pantas berada di rumah itu.
“Chelsea …,” ucap Hana dengan suara bergetar. “Jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”
Namun Chelsea hanya menggeleng pelan. Bibirnya bergetar menahan tangis.
“Bagaimana aku tidak berpikir begitu, Mom?” Suara Chelsea terdengar kecil.
“Selama ini aku tinggal di rumah ini. Aku memakai semua yang Mommy dan Daddy berikan. Aku mendapatkan kasih sayang yang bahkan mungkin seharusnya bukan untukku.”
“Chelsea .…”
“Kalau aku tahu dari awal .…” Chelsea menutup mulutnya menahan isakan. “Kalau aku tahu ibu kandungku adalah seseorang yang pernah membuat Mommy terluka … aku pasti sudah lama pergi dari rumah ini.”
Hana langsung memegang kedua tangan Chelsea. “Jangan bicara seperti itu.”
Chelsea menatap tangan Hana yang menggenggam tangannya erat. “Kenapa, Mom?” tanya Chelsea dengan suara patah. “Kenapa Mommy masih mau menyentuh tanganku? Kenapa Mommy masih mau memanggil aku anak?”
Air mata Hana mulai jatuh. “Karena kamu memang anak Mommy.”
“Bukan .…” Chelsea menggeleng. “Aku bukan anak kandung Mommy.”
Hana mengusap pipi Chelsea. “Mungkin kamu bukan lahir dari rahim Mommy. Tapi kamu tumbuh di hati Mommy.”
Kalimat itu membuat tangis Chelsea semakin pecah. “Mommy tahu tidak rasanya bagaimana aku sekarang?”
Chelsea menunduk. “Aku merasa seperti orang asing di rumah ini. Aku merasa selama ini aku mengambil sesuatu yang bukan hak aku.”
“Tidak.”
Suara Hana terdengar tegas. “Tidak, Chelsea. Kamu tidak mengambil apa pun.”
“Tapi Bang El benar, Mom .…”
Chelsea menarik napas dengan susah payah. “Terbuat dari apa hati Mommy?”
Hana terdiam. Ia menarik napas agar tangisnya tak ikut tumpah.
“Kenapa Mommy mau menjaga aku? Kenapa Mommy bisa menyayangi aku sebesar ini? Padahal ibu aku adalah wanita yang pernah membuat Mommy kehilangan kebahagiaan?”
Hana menatap Chelsea lama. Lalu ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
“Karena Mommy tahu satu hal.”
Chelsea menangis di bahu Hana. “Apa, Mom?”
“Kesalahan orang tua tidak pernah menjadi dosa seorang anak.”
Pelukan Hana semakin erat. “Kamu tidak memilih siapa ibumu. Kamu tidak memilih bagaimana kamu dilahirkan. Kamu tidak meminta berada dalam keadaan seperti ini.”
Hana mengusap rambut Chelsea seperti saat gadis itu masih kecil.
“Waktu kamu pertama kali Mommy bawa ke rumah ini, kamu masih kecil. Kamu bahkan tidak tahu apa-apa tentang masalah orang dewasa. Yang Mommy lihat hanya seorang anak kecil yang butuh tempat untuk merasa aman.”
Chelsea menutup matanya. “Mommy ingat kamu dulu?”
Hana tersenyum sedih. “Kamu selalu duduk di dekat pintu setiap kali Mommy dan Daddy pergi. Kamu takut kami tidak kembali.”
Tangis Chelsea semakin deras.
“Kamu pernah bilang sama Mommy, ‘Kalau aku baik, apa Mommy masih akan terus menyayangiku hingga dewasa?"
Chelsea menatap Hana dengan mata merah.
“Aku masih ingat itu .…”
Hana tersenyum. “Dan waktu itu Mommy bilang apa?”
Chelsea mencoba tersenyum di tengah tangis. “Mommy bilang … aku tidak perlu jadi anak baik untuk disayang.”
Hana mengangguk. “Karena memang begitu.”
Ia menyentuh dada Chelsea. “Kamu disayang bukan karena kamu sempurna. Kamu disayang karena kamu adalah Chelsea.”
Chelsea kembali menangis. Di belakang mereka, Arsaka berdiri diam. Matanya juga terlihat berkaca-kaca. Ia ingin masuk dan memeluk Chelsea, tapi melihat cara Hana memeluk gadis itu, ia tahu saat ini Chelsea hanya membutuhkan ibunya.
Hana melirik ke arah Arsaka. “Mas .…”
Arsaka mengerti. Ia mengangguk pelan.
“Aku tunggu di luar.”
Ia memberikan satu tatapan penuh kasih kepada Chelsea sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Kini hanya ada Hana dan Chelsea.
Chelsea perlahan turun dari tempat tidurnya. Lalu tiba-tiba ia berlutut di depan Hana.
“Chelsea!”
Hana terkejut dan langsung ingin menariknya berdiri. Tapi Chelsea menahan tangan Hana.
“Biarkan aku, Mom.”
Air mata Chelsea jatuh semakin deras. “Atas nama almarhum ibuku .…”
Suaranya bergetar. Ia melanjutkan ucapannya dengan terbata, “Aku minta maaf, Mom.”
Hana langsung menggeleng. “Jangan begini, Nak.”
“Maaf karena aku datang ke hidup Mommy.”
“Chelsea, jangan berkata begitu.”
“Maaf karena keberadaanku mungkin selalu mengingatkan Mommy pada masa lalu yang menyakitkan.”
Chelsea menunduk. “Kalau aku tahu semuanya sejak awal, aku akan pergi dari dulu.”
Hana menatapnya tidak percaya.
“Aku tidak pantas mendapatkan semua yang Daddy dan Mommy berikan selama ini.”
“Chelsea … cukup. Jangan bicara begitu lagi.”
“Aku tidak pantas tinggal di rumah ini. Aku tidak pantas memakai nama keluarga ini. Aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang Mommy dan Daddy.”
Hana langsung berlutut di depan Chelsea. Ia memegang wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
“Dengar Mommy,” ucap Hana dengan suara terbata.
Chelsea menatapnya dengan air mata yang terus menetes.
“Kamu jangan pernah mengatakan kamu tidak pantas.”
Hana menggeleng. “Bagi Mommy, kamu tetap putri Mommy.”
Chelsea kembali menangis. “Mom ... tidak ada masa lalu yang bisa mengubah itu.”
Hana menarik napas. “Mommy sudah memaafkan semuanya, Chelsea.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Hana mengangguk dan berkata, “Mommy sudah berdamai dengan kejadian itu bertahun-tahun lalu. Kalau Mommy terus membenci ibumu, apa yang Mommy dapatkan? Hanya rasa sakit yang terus tinggal.”
Hana mengusap air mata Chelsea. “Dan lagi … ibumu sudah pergi. Dia sudah tidak ada di dunia ini. Tidak baik kalau kita terus menghukumnya.”
Chelsea diam.
“Apalagi kamu.” Hana menatap mata Chelsea. “Kamu tidak bersalah.”
Chelsea menggigit bibirnya. “Tapi Bang El .…”
“Bang El sedang terluka dan salah memahami keadaan.”
Hana menghela napas. “Dia hanya melihat dari sisi yang berbeda. Dia melihat Mommy sebagai seseorang yang pernah disakiti dan dia ingin membela Mommy.”
“Tapi kata-katanya benar, Mom.”
“Tidak.” Hana langsung menjawab. “Kata-kata yang keluar saat seseorang marah tidak selalu menjadi kebenaran.”
Chelsea terdiam.
“Chelsea, kamu bukan ibumu.” Hana menekankan setiap katanya. “Kamu adalah kamu.”
Namun Chelsea hanya menunduk. “Mom .…”
“Iya, Nak?”
“Aku mau minta izin.”
Nada suara Chelsea membuat hati Hana tidak nyaman. “Izin apa?”
Chelsea menarik napas panjang. “Aku ingin pergi dari rumah ini besok.”
Wajah Hana langsung berubah. “Apa?”
Chelsea memejamkan mata. “Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, Mom.”
“Chelsea, jangan bercanda.”
“Aku serius.”
Hana menggeleng cepat. “Tidak. Tidak boleh.”
“Mom .…”
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Aku bisa mencari tempat tinggal sendiri.”
“Chelsea.”
Suara Hana mulai bergetar. “Kamu masih kuliah. Kamu belum selesai.”
Chelsea mengusap air matanya. “Aku akan menyelesaikannya. Hanya menunggu wisuda saja.”
Hana menggenggam tangannya. “Kalau begitu tunggu sampai kamu wisuda Pascasarjana.”
Chelsea diam.
“Bukankah kamu kemarin bilang ingin bekerja di perusahaan Daddy yang di Batam?”
Chelsea tersenyum kecil, tapi senyumnya penuh kesedihan. “Aku berubah pikiran, Mom.”
Hana menatapnya.
“Aku mau bekerja di perusahaan orang lain saja.”
“Kenapa?”
Chelsea menunduk. “Aku tidak pantas bekerja di perusahaan milik Daddy.”
“Chelsea .…”
“Aku tidak mau orang berpikir aku mendapatkan semuanya karena belas kasihan.”
Hana langsung menggeleng. “Itu bukan belas kasihan.”
“Aku tahu Mommy tidak berpikir begitu.” Chelsea menggenggam tangan Hana. “Tapi aku yang merasa seperti itu.”
Hana tidak mampu menjawab.
“Mom .…”
Chelsea menatapnya dengan mata penuh permohonan. “Kalau Mommy masih menyayangi aku .…” Suara Chelsea pecah. “Aku mohon .…”
Ia menarik napas panjang. “Kabulkan satu keinginanku ini, Mom.”
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka