NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Arga menatap tangannya sendiri, lalu menatap Nadira dengan tatapan yang tiba-tiba saja menjadi tajam dan waspada.

"Kamu bicara seperti iblis yang berbisik di telinga," kata Arga datar. "Atau mungkin kamu memang bukan Clarissa yang kukenal?"

Pertanyaan itu menyerang seperti pisau yang dilempar cepat. Nadira membeku, jantungnya berdegup kencang ditelinganya. Ia telah membuat kesalahan dengan terlalu jujur, terlalu terbuka, hingga Arga mulai merasakan ada yang tidak beres dengan perempuan di hadapannya.

Sebelum Nadira sempat menjawab, langkah kaki berat terdengar di koridor di luar ruang

makan. Pintu kayu berat itu didorong keras hingga membentur dinding, membuat bingkai foto di dinding bergetar. Arga segera bangkit dari kursinya, wajahnya berubah menjadi

pucat saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.

"Apa yang kalian bicarakan?" suara

itu menggelegar, memenuhi ruangan dengan tekanan yang membuat udara terasa semakin tipis.

Nadira menoleh perlahan, melihat sosok yang tidak dia harapkan muncul di jam tersebut.

Rahasia kecil mereka berdua, momen kejujuran yang baru saja dia bangun dengan susah payah, kini terancam hancur oleh kedatangan orang yang selalu curiga.

Ia menarik napas dalam, mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tidak menunjukkan rasa takut yang mulai menggelayuti hatinya. Malam ini belum berakhir, dan bahaya tampaknya baru saja dimulai.

Cahaya senja yang kekuningan menyelinap masuk melalui celah daun jendela ruang

makan, menciptakan garis panjang di atas taplak meja sutra. Di luar kaca yang dingin,

sebuah bayangan berdiri diam membatu. Siluet itu tak bergerak, matanya menembus kaca, mengunci pandangan pada setiap suapan makan malam yang dilakukan oleh Nadira dan Arga di dalam ruangan yang hangat.

Nadira menyesuaikan posisi duduknya, memastikan tubuhnya terlihat rileks namun

pikirannya tajam. Ia tahu persis siapa pemilik bayangan itu dari lekuk bahu yang kaku dan

postur kepala yang mendongak tinggi. Itu Dinda. Sepupunya itu memang gadis yang tak pernah kehabisan akal licik, bahkan setelah dipermalukan di hadapan Pak Herman siang

tadi.

"Supnya enak sekali malam ini, Arga. Masakan ini biasanya favorit Ibu waktu masih ada," ucap Nadira dengan nada suara yang sengaja dipancing agar terdengar melankolis namun penuh kasih sayang.

Ia mengulurkan tangan kanannya, tidak hanya untuk mengambil mangkuk, tetapi dengan

sengaja menyentuh punggung tangan Arga yang sedang memegang sendok. Kulit Arga

yang hangat terasa kontras dengan udara ruangan yang mulai dingin. Ini adalah umpan

yang harus dilontarkan tepat pada waktunya.

Arga menoleh, sedikit terkejut, namun kemudian senyum tipis merekah di bibirnya. Ia justru membalas genggaman tangan Nadira di atas meja, mengabaikan etika makan yang kaku di rumah besar itu.

Bagi Arga, kehadiran Nadira adalah angin segar, sosok yang tidak menuntutnya untuk selalu menjadi mesin pencetak uang.

Di balik kaca jendela, jari-jari Dinda mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.

Napasnya membusa di kaca, mengaburkan pandangannya sesaat. Melihat Nadira yang

berani menyentuh pria yang dianggapnya sebagai milik keluarga, amarah Dinda meluap

seperti air mendidih yang meluap dari panci.

"Kalian benar-benar berani, ya?" gumam Dinda pelan, suaranya hampir tak terdengar

karena kaca tebal, namun nadanya penuh dengan racun.

Nadira menahan tawa kecil yang hampir meledak di tenggorokannya. Ia bisa merasakan getaran amarah Dinda dari jarak beberapa meter. Ia tidak menarik tangannya dari genggaman Arga. Sebaliknya, ia justru menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, seolah dunia luar tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Arga menoleh ke arah bahu Nadira yang bersandar, keningnya sedikit berkerut bingung melihat perubahan sikap wanita itu yang tiba-tiba akrab. Namun, ia tidak menepis. Ada kenyamanan yang aneh, sesuatu yang tidak pernah ia temukan dalam pernikahannya yang dingin dengan Clarissa dulu.

"Kamu lelah?" tanya Arga pelan, suaranya parau dan rendah.

"Sedikit. Tapi dengan ada kamu di sini, rasanya beban itu agak berkurang," jawab Nadira. Ia menatap langsung ke arah jendela, menatap tepat pada area di mana wajah Dinda seharusnya berada. Itu sebuah tantangan terbuka.

Tiba-tiba, bayangan di jendela itu menghilang. Ada suara langkah kaki yang keras menginjak kerikil taman di luar, disusul dengan suara pintu kasa yang dibanting hingga bergetar. Dinda tidak tahan melihat kemesraan palsu yang kini terasa begitu nyata di mata Arga, seolah-olah itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan.

Nadira melepaskan sandarannya dari bahu Arga, namun tangannya tetap bertumpu di

meja. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena kemenangan

pertama yang begitu manis. Ia berhasil memancing Dinda keluar dari zona aman,

membuatnya kehilangan kesabaran.

"Dinda masih di luar?" tanya Arga, ia melirik ke arah jendela yang kini kosong.

"Biarlah dia. Biarkan dia mengerti bahwa posisinya sekarang sudah sangat berbeda.

Warisan ini bukan miliknya lagi, Arga. Ini milik kita," kata Nadira dengan nada yang

berubah menjadi dingin dan tegas di akhir kalimat.

Arga menghela napas panjang, menatap mangkuk sup yang sudah dingin di hadapannya. Ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dinamika rumah tangga ini, sesuatu yang lebih gelap dan berbahaya. Namun, ia terlalu lelah untuk melawan arus yang dibawa oleh Nadira.

Malam itu, setelah Arga naik ke lantai atas, Nadira tetap duduk di kursi ruang makan yang sepi. Lampu gantung kristal di atasnya memberikan pantulan cahaya yang dingin di

matanya. Ia menyadari bahwa tindakannya barusan bukan sekadar sandiwara, itu adalah

deklarasi perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!