Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 25
"Hoaammmm...!"
Elsa menguap lebar seraya merentangkan kedua tangannya ke atas. Istri muda Juragan Tama itu baru benar-benar terbangun saat semburat matahari pagi sudah menembus kaca jendela kamarnya. Begitu melirik ke arah jam dinding, matanya membelalak.
"Aduh, kesiangan lagi! Juragan kok enggak membangunkan aku, sih...?" gerutu Elsa kesal.
Gadis itu lantas bangkit perlahan, lalu duduk bersandar pada kepala ranjang untuk mengumpulkan nyawanya. Namun, saat matanya tak sengaja menangkap selembar kertas memo putih beserta coretan bolpoin di atas nakas, Elsa dengan cepat meraihnya. Dia membaca deretan tulisan tangan yang gagah di sana.
'Selamat pagi. Kalau sudah bangun jangan lupa mandi dan sarapan. Saya subuh tadi harus berangkat ke luar kota karena ada urusan mendadak. Uang tiga puluh juta itu sudah saya simpan di bawah bantal.'
Membaca kalimat terakhir, mata Elsa seketika berbinar cerah. Dengan gerakan kilat, dia langsung mengangkat bantal besar di sebelahnya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat tumpukan tebal uang pecahan seratus ribu berwarna merah menyala yang tersusun rapi di sana.
"Wah...! Banyak banget!" serunya girang bukan main. Di tahun ini, memegang uang tunai tiga puluh juta rupiah di tangan adalah hal yang sangat luar biasa mewah.
"Ternyata, kalau dipuaskan kayak semalam, juragan tua itu bisa royal banget, ya... Oke, sekarang gue tahu kunci rahasianya harus apa!" ucap Elsa sembari tersenyum penuh kemenangan.
Gadis itu meraup seluruh tumpukan uang merah di depannya, menghitungnya sekilas, lalu menyimpannya dengan sangat hati-hati di tempat tersembunyi di dalam lemari pakaian. Setelah mengunci lemarinya, dia segera menyambar handuk dan bergegas menuju kamar mandi.
Seusai membersihkan diri dan keramas, Elsa berdiri di depan lemari pakaian untuk memilih baju. Jemarinya memilah-milah, lalu mengambil sebuah celana jins panjang longgar dan kaos kombrang kebesaran yang merupakan pakaian kesukaan Elsa asli. Saat mencocokkannya di depan cermin, Elsa langsung memasang wajah masam.
"Anjir, sumpah... jelek banget! Elsa, tubuh lo yang bagus begini jadi kelihatan amsyong gara-gara pakai pakaian begini," cibir Elsa pada selera fesyen pemilik tubuh asli. "Pokoknya hari ini gue harus belanja baju yang bagus-bagus. Biar si Tama makin kepincut dan tunduk sama gue!" tekadnya.
Gadis itu lantas mengambil ponsel jadulnya, mencari kontak sang sahabat, lalu menekan tombol panggil.
"Halo...!" sapa Elsa begitu sambungan telepon terhubung.
"Uh... halo, El... kenapa?" sahut suara di seberang sana, terdengar sangat lemas dan serak.
"Ish, Jihan! Katanya hari ini kita mau jalan-jalan dan belanja? Ini sudah jam delapan lewat loh," protes Elsa sembari menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya.
"Aduh, El... kamu pergi sendiri aja ya hari ini. Aku capek banget, beneran deh. Semalam si Luqman menggempur aku habis-habisan tanpa ampun... Rasanya badanku remuk semua, enggak kuat kalau dipakai jalan," keluh Jihan dengan sisa-sisa tenaganya, terdengar pasrah.
Elsa spontan tertawa renyah mendengar kejujuran sahabatnya. "Ih, emang gila ya kalian! Si Luqman brutal juga kalau sudah mode nge-hap-hap! Ya sudah deh, gue berangkat belanja sendiri aja. Bye, Jihan!" ucap Elsa mengakhiri obrolan seraya terkekeh geli.
Gadis itu lantas menyambar tas selempangnya, memasukkan seikat tebal uang tunai ke dalam sana, dan segera melangkah keluar rumah. Karena tidak ada mobil atau motor yang bisa dia pakai, Elsa memutuskan untuk menyetop tukang ojek langganan di depan jalan besar dan memintanya mengantar ke pusat kecamatan. Hari ini, dia berniat menghabiskan uang di pasar kecamatan yang memiliki toko-toko baju lebih lengkap.
Tak membutuhkan waktu lama, motor bebek si tukang ojek akhirnya berhenti tepat di depan sebuah toko pakaian yang papan namanya cukup mencolok: Boutique Mazayah.
Elsa dengan senyum semringah turun dari boncengan motor. "Mas, tungguin di luar ya. Saya mau belanja ke dalam dulu," ucapnya yang langsung diangguki patuh oleh si tukang ojek.
Dengan langkah ringan dan percaya diri, Elsa melangkah masuk ke dalam butik. Matanya langsung dimanjakan dengan deretan pakaian, gaun, dan aksesori wanita yang terpajang rapi. "Waw... cantik-cantik banget bajunya," gumamnya puas.
"Mbak...!" panggil Elsa pada pelayan toko yang berjaga. "Mbak, saya ambil yang ini, terus yang ini... oh, sama setelan yang ini juga. Yang terpajang di manekin itu kayaknya cantik tuh, saya ambil juga. Oh iya, coba ambilkan yang warna hijau toska itu, sekalian yang hitam deh. Oh, hampir lupa! Piyama tidur yang pendek ada, kan? Nah, saya ambil yang warna hitam, sekalian sama lingerie-nya ya... Oh, satu lagi, dress hitam yang ini cantik banget, saya ambil juga!"
Rentetan pesanan kilat dari Elsa langsung disambut dengan senyum lebar dan mata berbinar dari penjaga butik. Mereka dengan cekatan membungkus semua pakaian pilihan Elsa ke dalam beberapa kantong belanjaan besar.
"Total semuanya jadi tiga juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah, Mbak," ucap kasir dengan ramah saat Elsa menyerahkan tumpukan baju di meja kasir.
Elsa mengangguk santai. Dengan gaya berkelas, dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari tasnya dan membayar seluruh belanjaannya secara tunai tanpa menawar sedikit pun.
"Terima kasih banyak, Kak. Ditunggu kedatangannya kembali," ucap penjaga kasir dengan nada yang teramat manis. Elsa hanya membalasnya dengan anggukan anggun.
Keluar dari butik dengan tangan penuh kantong belanjaan, Elsa menaruhnya di motor ojek. "Sekarang, saatnya perawatan tubuh," gumam Elsa lirih, mengusap kulit lengannya yang dirasa agak kering.
Elsa lantas menyuruh tukang ojek untuk mengantarnya ke salon kecantikan terbaik di daerah kecamatan tersebut. Gadis itu berniat melakukan perawatan menyeluruh, mulai dari creambath, lulur tubuh, hingga potongan rambut baru. Proses demi proses perawatan dia nikmati dengan santai selama berjam-jam.
Begitu keluar dari salon, penampilan Elsa sudah bertransformasi jauh dari sebelumnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, bersih, dan memancarkan aura cantik yang bening. Rambutnya kini tertata indah, ditambah dengan salah satu baju one-set modis baru yang langsung dia kenakan, membuat penampilannya terlihat sangat paripurna dan modis layaknya gadis kota.
Setelah lelah berbelanja dan melakukan perawatan, perut Elsa mulai berteriak minta diisi. Matanya tidak sengaja menangkap sebuah warung makan pinggir jalan yang terlihat sangat ramai oleh pengunjung. Lantas, Elsa menepuk bahu tukang ojeknya. "Mas, tolong menepi di warung makan depan itu, ya. Kita makan dulu."