NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:196.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran

Enzo tak segera menjawab. Tatapannya justru semakin dalam, seolah sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia ungkapkan.

"Ada sesuatu yang perlu kamu tahu."

"Apa?" tanya Chantika. Keseriusan di mata Enzo membuatnya ikut memasang raut serius.

"Bryan itu investor playboy." Nada suara Enzo terdengar datar, tetapi tegas. "Dia tidak ragu menggelontorkan dana dalam jumlah besar jika tertarik pada seorang wanita."

Enzo menatap Chantika lekat-lekat. "Jangan gegabah menemuinya sendirian."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau kamu butuh bantuan... katakan padaku."

Sebenarnya Enzo sama sekali tidak tenang membayangkan Chantika berhadapan dengan Bryan. Namun, ia juga tidak ingin melarang wanita itu. Ia tidak ingin Chantika merasa diremehkan, apalagi dikekang.

Chantika mengangguk pelan. "Tenang aja. Aku akan berhati-hati."

Enzo menggeleng. "Aku gak bisa tenang."

Alis Chantika sedikit berkerut.

"Kamu pernah berhasil diracuni orang." Rahang Enzo mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar. "Untung malam itu kamu bertemu denganku."

Tatapannya berubah semakin tajam. "Kalau yang menemukanmu pria lain..."

Kalimatnya menggantung. Namun Chantika mengerti maksudnya.

"Terima kasih..." ucap Chantika pelan. "Sudah mengkhawatirkanku."

Enzo menatapnya tanpa berkedip. "Kamu istriku." Senyum tipis terukir di bibirnya. "Tentu saja aku khawatir kalau terjadi sesuatu padamu."

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat dada Chantika terasa hangat.

Tak lama kemudian, Enzo membuka laci meja di sampingnya.

"Oh ya."

Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam, lalu membukanya di hadapan Chantika.

"Aku ingin kamu memakai ini."

Tatapan Chantika langsung tertuju ke dalam kotak itu.

Di sana tersusun satu set perhiasan dari emas putih dengan desain sederhana, tetapi begitu elegan.

Sepasang anting mungil berbentuk tetesan embun yang berkilau lembut.

Sebuah kalung tipis dengan liontin bunga melati berkelopak lima, lambang kesucian, ketulusan, dan kesetiaan.

Lalu sebuah cincin polos beraksen garis halus dengan sebuah berlian kecil yang tertanam di tengahnya.

Serta jam tangan berwarna perak dengan desain sederhana.

Tak ada ukiran berlebihan. Tak ada kemewahan yang mencolok. Justru kesederhanaannya membuat perhiasan itu terlihat anggun.

Chantika terdiam beberapa saat.

"Ini..."

Enzo meletakkan kotak itu perlahan, lalu mengambil kalung tersebut.

"Boleh?"

Chantika tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.

Dengan gerakan hati-hati, Enzo melingkarkan kalung itu di leher Chantika, lalu mengaitkan pengunci kalung di tengkuknya.

Jemarinya sempat menyentuh kulit leher wanita itu. Seketika Chantika merasakan bulu kuduknya meremang tipis.

Enzo mundur selangkah, memerhatikan hasilnya. "Pas. Bagus sekali di kamu."

Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajah Chantika. "Terima kasih."

"Jangan dilepas."

Chantika mengangkat alis. "Kenapa?"

Enzo menatap liontin yang kini menghiasi leher wanita itu.

"Supaya setiap kali kamu melihatnya..." Tatapannya kembali bertemu dengan mata Chantika. "...kamu ingat kalau ada seseorang yang selalu menunggumu pulang dengan selamat."

Dada Chantika menghangat. Ia menggenggam tangan Enzo pelan.

"Aku senang kamu mau mengkhawatirkanku," gumam Chantika pelan.

Enzo membalas genggaman itu. "Aku bukan cuma mengkhawatirkanmu," balas Enzo lirih. "Aku ingin memastikan kamu selalu bisa pulang dengan selamat."

Chantika tak menyadari bahwa di balik liontin sederhana itu tersembunyi sebuah alat pelacak berukuran sangat kecil.

Enzo tidak memasangnya untuk mengawasi setiap langkah wanita itu. Ia hanya ingin memiliki satu kesempatan lagi...

Jika suatu hari Chantika menghilang, terluka, atau tak mampu meminta pertolongan, ia tahu harus mencarinya ke mana dan menjadi orang pertama yang menemukannya.

Enzo kembali mengambil kotak beludru itu.

"Anting, cincin, dan jam tangan ini... aku ingin kamu juga memakainya."

Chantika menatapnya bingung. "Harus?"

Enzo mengangguk. "Harus. Ini untuk melindungi diri."

Ia mengangkat sepasang anting emas putih itu. "Kalau suatu saat kamu benar-benar terdesak, anting ini bisa kamu lepaskan lalu lemparkan."

"Memangnya kenapa?"

Enzo menekan bagian belakang salah satu anting. Seketika terdengar dengungan bernada tinggi. Tapi langsung dimatikan Enzo.

"Di dalamnya ada alarm ultrasonik mini. Suaranya memang tidak terlalu keras buat orang di sekitarnya, tapi cukup mengganggu pendengaran orang yang berada sangat dekat. Efeknya hanya beberapa detik, tapi cukup untuk mengalihkan perhatian lawan."

Mata Chantika membulat.

Enzo lalu mengambil cincin itu. "Cincin ini juga memiliki fungsi yang sama."

Ia menekan sisi bagian dalam cincin. Dengungan tinggi kembali terdengar, sebelum akhirnya ia matikan.

"Kalau anting hilang atau tidak sempat kamu gunakan, masih ada cadangannya."

Terakhir, Enzo mengangkat jam tangan.

"Kalau ini..."

Ia menekan sebuah tombol kecil yang hampir tak terlihat.

Klik.

Dari sisi jam tangan keluar bilah tipis sepanjang beberapa sentimeter.

"Pisau kecil?"

"Bukan untuk menyerang." Enzo menggeleng. "Ini pemotong darurat. Kalau suatu hari tanganmu diikat tali, cable tie, atau sabuk plastik, alat ini bisa membantumu melepaskan diri."

Ia kemudian melipat kembali bilah kecil itu hingga menghilang ke dalam jam.

Chantika mengambil jam tersebut lalu mengamatinya dari dekat.

"Kalau tidak tahu, orang pasti mengira ini cuma jam tangan biasa."

"Itu memang tujuannya."

Chantika kembali menatap Enzo. "Kamu... benar-benar memikirkan semuanya."

Enzo tersenyum tipis. "Kamu seorang polisi. Aku tahu aku tidak bisa selalu berada di sisimu."

Tatapannya berubah lebih lembut.

"Karena itu, aku hanya ingin memastikan kalau suatu hari aku terlambat datang... kamu tetap punya kesempatan untuk menyelamatkan dirimu sendiri."

Tanpa sadar, Chantika melangkah maju lalu memeluk Enzo. "Terima kasih."

Enzo sempat terkejut. Namun beberapa detik kemudian, senyum hangat mengembang di bibirnya. Perlahan ia membalas pelukan itu, lalu mengecup lembut puncak kepala Chantika.

"Jangan berterima kasih."

"Kenapa?"

"Karena tugasku sebagai suamimu..." senyum tipis kembali terukir di bibirnya, "...adalah memastikan istriku selalu pulang dengan selamat."

Kalimat sederhana itu membuat jantung Chantika berdetak sedikit lebih cepat.

"Masih saja bilang aku istrimu," gumamnya pelan sambil melepaskan pelukannya. "Kita belum menikah."

Enzo tersenyum tipis. "Kamu sudah mengajukan izin menikah ke institusimu?"

"Sudah."

"Kalau begitu..." Enzo menatapnya mantap. "Aku pulang bersamamu."

Chantika mengernyit. "Pulang bersamaku?"

"Iya."

"Buat apa?"

"Melamarmu."

Chantika berkedip.

"Masa aku langsung menikahimu tanpa melamarmu?" Enzo menggeleng pelan. "Harga diriku sebagai pria, sekaligus CEO, mau kutaruh di mana?"

Chantika melepaskan pelukannya. Sudut bibirnya terangkat. Ia menatap Enzo dengan senyum jail. "Gimana kalau nanti kamu ditolak?"

Enzo menyipitkan mata seolah sedang berpikir. "Kalau begitu..." katanya santai, "aku akan bilang, mungkin benihku sudah berkembang di sini."

Ia mengulurkan tangan, lalu dengan iseng menyentuh pelan perut Chantika.

Plak!

Chantika langsung menepuk punggung tangannya.

"Jangan berani ngomong yang aneh-aneh!" protesnya. "Papaku bisa menghajarmu."

Enzo justru tertawa pelan. "Gak apa-apa. Asal setelah itu beliau tetap menyerahkan putri kesayangannya buat aku."

"Dasar!"

Chantika memutar bola matanya, berusaha terlihat kesal. Namun senyum yang terus tertahan di sudut bibirnya membuat usaha itu sia-sia.

Enzo menatapnya lekat-lekat. "Nanti... aku datang sebagai laki-laki yang meminta izin kepada ayahmu."

Chantika tersenyum jail. "Lalu... mas kawin apa yang akan diberikan Tuan CEO pada Bu Polisi?"

Enzo balas tersenyum. "Mas kawinnya sudah kusiapkan."

"Apa?"

Enzo tersenyum tipis. "Besok malam kamu juga akan tahu."

Chantika berdecak kecil. "Nggak seru."

Enzo menatapnya lekat-lekat. "Sesuatu yang mungkin akan membuat seluruh keluargamu terkejut."

Tatapannya begitu yakin. "Dan setelah itu... tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkanmu lepas dariku."

 

...🔸🔸🔸...

..."Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan mengurung langkahmu. Karena cinta sejati bukan tentang mengikat seseorang agar tetap di sisi kita, melainkan memastikan ia selalu memiliki jalan untuk kembali dengan selamat."...

..."Kepercayaan dibangun oleh ketulusan, sedangkan kebenaran ditemukan oleh keberanian untuk mencari jawabannya."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Enzo sudah siap membidik tepat di kepala penyendera. Namun Enzo tidak mau ambil resiko. Bisa mengenai Chantika yang berada di depan penyandera.

Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.

Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Anonim
Chantika dan anggota lain perhatiannya tertuju pada kondisi Rizal. Sampai tidak menyadari bahaya mengancam Chantika.

Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.

Penyandera minta disiapkan kendaraan.

Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Anonim
Yang ditunggu selama tujuh menit akhirnya datang juga.

Duuuuh malah terjadi tembak menembak.

Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.

Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.

Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.

Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Anonim
Enzo tersenyum melihat istrinya menggunakan anting pemberiannya sebagai senjata untuk memperdaya lawan.

Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.

Belum saatnya Enzo turun.
Anonim
WOW...Chantika ingat anting pemberian dari Enzo, yang sudah terpasang alarm ultrasonik.

Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.

Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.

Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.

Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.

Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Ass Yfa
dari awal aku seh ngira Saras ank bawaaan Ranti ternyata benar
Anonim
Tujuh menit kelamaan komandan.

Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.

Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.

Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.

Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Anonim
Chantika dengan tim hanya berjumlah enam orang. Tak sebanding dengan pihak lawan yang berjumlah dua puluh tiga orang bersenjata.

Chantika dan timnya sudah dikepung

Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.

Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Anonim
Rizal pasti sangat panik nengetahui jalur keluar untuk menghindar dari lawan tertutup sebuah truk trailer.

Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.

Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.

Lawan lebih dari dua puluh orang.

Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.

Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Anonim
Enzo sudah berada di atas crane bongkar muat - mengamati semua melalui teropong optik.

Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.

Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.

Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.

Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Anonim
Jeli juga tuh pria bertubuh kekar, segel plastik pengaman sedikit bergeser tahu dia.

Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.

Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.

Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.

Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Anonim
Tiga puluh menit, Enzo. Mesti terbang ke sana. Chantika dalam bahaya seperti yang Vito khawatirkan.

Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.

Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Anonim
Enzo mendengar laporan dari Vito, Chantika ada di kawasan pelabuhan, di duga sebagai surveillance.

Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Anonim
Saras sebagai anak maupun sebagai karyawan di perusahaan milik Papanya tidak ada yang bisa dibanggakan.

Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Anonim
Nah lo Saras mendapatkan ceramah panjang dari Papanya.

Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.

Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.

Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Anonim
Saras ketahuan Papanya tidak ada di kantor.

Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.

Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.

Weleeehhh Saras
Anonim
He he...Enzo ngerjain adik ipar yang kepo berat serta tak tahu diri.

Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.

Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.

Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.

Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Anonim
Saras kurang kerjaan, mendatangi kantor Enzo, Arkana Global Logistics. Masih saja penasaran dengan Enzo.

Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.

Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Anonim
Enzo telah mendapat laporan dari Vito tentang tim pengintai yang telah mendapati aktivitas yang mencurigakan di gudang kawasan pelabuhan.

Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.

Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.

Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.

Chantika memimpin tim surveillance.

The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.

Pertempuran nanti malam bakal seru.
Zieya🖤
karya yg bagus🖤🖤🖤🖤
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!