NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:423.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

Mobil milik Ningsih melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di kursi penumpang samping kemudi, Luna, putri kecilnya, duduk sembari memeluk boneka beruang kesayangannya. Matanya yang bulat menatap keluar jendela, lalu beralih pada sang ibu yang fokus menyetir.

"Mama, kita sebenarnya mau ke mana, sih? Kok malam-malam begini kita malah pergi jauh?" tanya Luna dengan nada suara khas anak-anak yang penasaran.

Ningsih menoleh sekilas, lalu mengulas senyum lembut ke arah putrinya. "Kita mau ke rumah Kakek, Sayang."

"Kakek?" Luna memiringkan kepalanya, dahinya berkerut dalam. "Luna masih punya kakek, Ma? Kok selama ini Luna tidak pernah tahu?"

Ningsih menghela napas panjang, ada kilat kesedihan sekaligus ketegasan yang melintas di matanya saat mencengkeram setir mobil.

"Iya, Sayang. Maafkan Mama, ya, karena selama ini tidak pernah memberi tahu Luna tentang Kakek."

Luna mengangguk polos. "Iya, tidak apa-apa, Ma. Yang penting sekarang Luna bisa ketemu Kakek."

Ningsih kembali melempar pandangannya ke depan, menembus kegelapan malam. Bukan tanpa alasan ia menyembunyikan keberadaan sang ayah, Yudha Adiwangsa, dari Luna selama bertahun-tahun.

Dulu, Ningsih memilih angkat kaki dari rumah utama karena ayahnya memutuskan untuk menikahi Yeni, wanita selingkuhannya. Yang membuat hati Ningsih semakin hancur adalah fakta bahwa Yeni membawa seorang putri yang ternyata merupakan anak kandung Yudha dari hasil hubungan gelap mereka. Perselingkuhan menahun itu pulalah yang membuat ibu kandung Ningsih depresi, jatuh sakit, hingga akhirnya meninggal dunia saat usia Ningsih masih sangat belia.

Pengalaman pahit masa kecil itulah yang membentuk karakter Ningsih menjadi wanita yang sekeras baja dan berprinsip teguh. Baginya, perselingkuhan adalah sebuah penyakit mental yang tidak akan pernah bisa disembuhkan. Itulah mengapa, saat ia mengendus pengkhianatan Hendra dengan Arumi, Ningsih tidak sudi membuang waktu untuk menangis bombay atau memberi kesempatan kedua. Ia langsung bergerak cepat, menyusun strategi, dan menghancurkan Hendra sampai ke akar-akarnya tanpa ampun.

Lamunan Ningsih buyar saat mobilnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang kokoh. Mobil melaju menyusuri jalan setapak yang diapit taman luas, menuju sebuah rumah berarsitektur klasik kolonial yang sangat megah.

Mata Luna seketika membelalak sempurna melihat bangunan di hadapannya.

$Wah, Mama! Ini rumah atau istana? Besar sekali!"

Ningsih terkekeh pelan melihat ekspresi kocak dan kekaguman putrinya.

"Menurut Luna apa? Istana atau rumah biasa?"

"Ini mah istananya Princess Elsa, Ma!" seru Luna heboh.

Ningsih memarkirkan mobilnya tepat di depan teras utama. Ia turun dari mobil, memutari kap, lalu membukakan pintu untuk Luna dan menggandeng tangan kecil putrinya masuk ke dalam. Begitu pintu ganda yang besar itu terbuka, beberapa pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat.

"Selamat datang kembali, Nona Ningsih. Tuan Besar sudah menunggu anda di kamar utama sejak sore," ucap sang kepala pelayan dengan sangat takzim.

"Terima kasih, Bi," jawab Ningsih datar. Ia menuntun Luna menaiki anak tangga marmer menuju kamar tidur utama di lantai dua.

Begitu pintu kamar utama diketuk dan dibuka, aroma minyak kayu putih dan teh herbal langsung menyeruak. Di dalam kamar yang luas itu, seorang pria paruh baya bertubuh kurus, Yudha, tampak sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sembari menikmati secangkir teh hangat. Namun, pemandangan itu terusik oleh kehadiran seorang wanita paruh baya berpenampilan glamor dengan perhiasan emas yang mencolok di jemarinya. Dialah Yeni, istri kedua ayahnya.

"Aku pikir Papa sedang sakit parah dan hampir sekarat karena terus menyuruh pelayan meneleponku. Ternyata Papa masih sangat sehat dan segar," ucap Ningsih memecah keheningan, membuat sepasang suami istri di dalam kamar itu menoleh bersamaan.

Yudha langsung meletakkan cangkir tehnya, matanya berbinar haru. "Akhirnya... akhirnya kamu mau datang menemui Papa, Ningsih." Tatapan Yudha kemudian turun, beralih pada bocah perempuan yang berdiri di samping Ningsih. "Dia... dia siapa, Ningsih?"

"Cucu Papa. Namanya Luna," jawab Ningsih pendek tanpa ekspresi.

"Halo, Kakek!" sapa Luna polos sambil melambaikan tangan kecilnya.

Sementara Yudha tampak bahagia, di sudut ruangan, Yeni langsung melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya yang dilapisi bedak tebal itu seketika ditekuk masam, matanya menatap Ningsih dengan pandangan penuh permusuhan. Sejak dulu, Yeni sangat membenci Ningsih. Baginya, Ningsih adalah batu sandungan terbesar yang menghalanginya dan putrinya untuk menguasai seluruh harta warisan dan aset milik Yudha Adiwangsa.

"Oh, jadi ini anak yang kamu bawa setelah bercerai dari suamimu yang bangkrut itu?" sindir Yeni dengan nada suara yang sengaja dibuat sinis. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekat dengan angkuh.

"Tiba-tiba datang malam-malam bawa anak, setelah bertahun-tahun hilang tanpa kabar. Maksudnya apa, ya? Apa kamu ke sini karena butuh uang dan mau mengemis harta pada suamiku setelah kamu jadi janda, Ningsih?"

Mendengar sindiran tajam itu, Ningsih tidak gentar sedikit pun. Ia justru tersenyum sinis, menatap Yeni dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

"Mengemis harta?" Ningsih terkekeh dingin, melangkah satu kali ke depan hingga posisinya kini berhadapan langsung dengan ibu tirinya.

"Kaca di rumah ini sepertinya kurang besar ya, Tante Yeni? Sampai-sampai anda lupa siapa sebenarnya yang dulu datang ke rumah ini dengan modal selembar baju, lalu mengemis status agar bisa diakui?"

"Kamu! Kurang ajar ya kamu!" wajah Yeni seketika memerah padam karena rahasia lamanya dibongkar di depan pelayan.

"Dengar ya, Tante," potong Ningsih, suaranya merendah namun penuh dengan penekanan yang mematikan. "Asal anda tahu, aset pribadiku saat ini, bahkan jauh lebih besar daripada seluruh isi rumah ini. Jadi, simpan pikiran picik anda itu baik-baik. Aku ke sini hanya karena menghargai darah yang mengalir di tubuhku, bukan karena butuh ocehan dari anda."

"Ningsih, Yeni, sudah! Jangan bertengkar di depan anak kecil!" lerai Yudha dari atas ranjang, mencoba menengahi dengan suara yang gemetar.

Ningsih kembali menarik napas panjang, merapikan pakaiannya dengan anggun seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menatap ayahnya kembali.

"Aku datang ke sini hanya untuk menunjukkan pada Papa, bahwa tanpa bantuan pria pengkhianat atau ayah yang menelantarkan anaknya, aku dan putriku bisa berdiri dengan sangat terhormat. Jadi, tolong jaga istri Papa ini agar tidak menggonggong sembarangan di depanku lagi."

Yeni hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat dengan napas memburu, tak berkutik menghadapi mental baja Ningsih, sementara Luna hanya menatap mamanya dengan pandangan takjub. Di mata Luna, mamanya malam ini terlihat seperti pahlawan super yang sangat keren.

"Mama, Luna lapar," bisik Luna sembari melirik Yudha dan Yeni bergantian.

"Minta pelayan memasak apapun yang Luna mau," sahut Yudha.

Melihat Luna, mengingatkan Yudha pada masa kecil Ningsih dulu.

1
Kembarr Kembaarr
apem bosok di tawak2ne. ngono ko yoo enek seng gelem . tp seng gelem biasane podo bosok'e
Kembarr Kembaarr
lanangan nek wes diwei apem bosok lali anak bojo.
Kembarr Kembaarr
jngn terlalu bodoh ningsih. dn jngn terlalu banyak bicara buktikn kemampuanmu dn tunjukn pd laki2 gak guna itu
Kembarr Kembaarr
lepas saja ningsih laki macam itu. gak guna. dari pd stres sendiri punya suami tak tau diri
merry
ko ning msh ksh krjaan le selingkuhan mntn laki ya 🤔🤔🤔pdhl Hendra rela keluarin uang bnyk demi arumi bli tas mewah
arniya
luar biasa kak
Elina thea
semakin lama semakin menjengkelkan sich iklan2 ini...datang gak di jemput tapi pulang harus di antar....ngeselin bangettt,lagi enak2 baca juga....
Senja: Banyk iklan skrg ya kak? kok tumben yah ntoon iklan bejibun, coba di pengaturan hapenya
total 1 replies
Lesmana
makan noh yeni kelakuan lu tuh.. elu nolak cucu dr hendra , diksh dobel ama Tuhan..skalian keturunan elu putus sampai di nawang aja..😄😄😄
Lesmana
sadis gila nih nenek lampir😡😡 hendra cacat jg gara2 nolongin nawang anak elu sndr.. astagaa nyawa gak berharga amat yah dimata nih nenek lampir😭😭
Setiawan
loh td kan udah liat2an sama ningsih & satria..kog skrng nanya mana ningsih ??🙄🙄
Dewa Nara
baru mampir Thor
Lesmana
kirain rmh mamanya pun pny satria , secara satria kan prnh ngaku sama ningsih kalo dulu msh jaman sekolah , satria msh susah ekonominya..
Lesmana
mending janda ketauan gak perawan skalian , hilang perawan nya jg jelas.. drpd gadis tp gak perawan , gak jelas siapa yg merawanin😄😄😄
Setiawan
hendra keliatan nya sdh insyaf.. tp kog aneh yah , wkt mertua nya yudha serangan jantung , katanya krn dgr alasan hendra yg ribut dgn yeni , mamanya nawang.. hendra suruh yeni jualan rmh warisan kakek nawang utk nutupin hutang hendra.. kog gak dibahas lg yah wkt yudha sembuh ?? bukannya hendra cm korupsi 10M di ktr yudha doang yah ?? masa sih hendra ada hutang juga diluaran ?? 🙄🙄🙄
Setiawan
nih si nawang yah.. dulu hendra msh calon suami aja , dia cemburu sama ningsih , gak mau lelaki miliknya diganggu cwe lain.. eh eh eh skrng dia sndr yg gangguin lelaki org.. emang wataknya ulet bulu nih cwe.. emak nya aja yg mantan ulet bulu jd ikut malu liat kelakuan anaknya😄😄😄😄
Lesmana
author sadis🤣🤣🤣 udah ky ditampol bulak balik , pake sendal jepit pula🤣🤣🤣
Lesmana
kan kan si bloon🤣🤣 jelas2 lg hamil , jatuh pula😄😄😄
Lesmana
krn ningsih mau terima satria walopun dlm keadaan lumpuh.. nah elu ?? yg ada menghina satria cacat.. ente sombong pisan euyy 🤣🤣
Lesmana
elu emang sial , hendra...dimata elu , mantan slalu dah lbh indah.. pdhl arumi cm OB , msh aja di blng lbh modis , konslet emang otak si hendra kynya nih🤣🤣🤣
Lesmana
perasaan td satria ksh nya bunga matahari , gak sebut ada bunga mawar nya🙄🙄
Senja: blm kurevisi 🤣🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!