"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
Ketenangan setelah penangkapan Handoko Pratama terasa seperti embun pagi yang menyejukkan.
Tidak ada lagi deru mobil mencurigakan yang mengekor, tidak ada lagi dering telepon tanpa nama, dan tak ada lagi ketakutan yang menghantu setiap kali Khadijah melangkah keluar rumah.
Namun, bagi seorang Zaid Al-Idrus, meredanya badai dari luar justru menjadi penanda dimulainya pertempuran baru yang jauh lebih mendebarkan: perjuangan menjadi seorang ayah dan calon advokat sejati.
Tiga bulan berlalu sejak kabar kehamilan Khadijah.
Perut sang istri kini mulai membuncit lembut di balik gamis longgar yang kerap dikenakannya.
Usia kandungan yang memasuki bulan keempat membawa perubahan besar dalam dinamika rumah tangga mereka.
Pagi itu, sinar matahari baru merambat tipis di jendela kamar.
Zaid baru saja selesai merapikan kemeja bergaris dan celana kainnya persiapan untuk menghadiri sidang magang pertamanya di pengadilan negeri ketika suara rintihan pelan terdengar dari arah ranjang.
"Mas Zaid..."
panggil Khadijah parau.
Tangannya mencengkeram sprei.
Zaid seketika berbalik, gerakannya secepat refleks saat ia masih bertarung di jalanan.
"Khadijah!
Ada apa?
Perutmu sakit?
Flek?
Atau—"
"Bukan, Mas..."
Khadijah menggigit bibir bawahnya, menatap Zaid dengan pandangan serba salah.
"Saya... saya mendadak ingin makan mangga muda.
Tapi harus yang dipetik langsung dari pohonnya.
Yang ada di pasar buah tadi malam rasanya beda."
Zaid terpaku di tempatnya.
Dasi yang baru separuh terikat gantung di lehernya.
Ia menatap istrinya, lalu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
Sidang pertamanya dimulai pukul delapan tiga puluh.
"Mangga muda?
Dipetik langsung dari pohon?"
ulang Zaid memastikan.
Khadijah mengangguk pelan, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan raut wajah paling menggemaskan yang pernah Zaid lihat.
"Iya, Mas.
Tiba-tiba bayinya yang minta.
Dari tadi malam dia rasanya berputar-putar di dalam."
Mendengar kata 'bayinya yang minta', pertahanan Zaid runtuh seketika.
Seorang mantan ketua geng motor yang ditakuti seluruh kawasan Jakarta Barat itu kini hanya bisa menghela napas pasrah, mengurut pangkal hidungnya sambil tersenyum tipis.
"Baik.
Jangan bergerak dari ranjang.
Aku cari sekarang,"
tegas Zaid.
Pencarian mangga muda di pagi bulir embun ternyata tidak semudah menghadapi selusin anak buah Raka.
Zaid mengendarai motor besarnya yang kini jarang ia sentuh kecuali dalam keadaan darurat menyusuri pekarangan rumah warga di kompleks perumahan hingga batas perkampungan.
Setelah memutari tiga RT, mata elangnya menangkap sebatang pohon mangga arumanis yang rimbun di halaman belakang sebuah rumah tua.
Di salah satu dahannya yang agak tinggi, tergantung beberapa buah mangga muda yang masih hijau segar.
Tanpa ragu, Zaid menghentikan motornya, mengetuk pintu rumah pemiliknya, dan meminta izin.
Pria paruh baya pemilik rumah sempat terperanjat melihat pemuda tinggi berbadan tegap dengan kemeja rapi yang memohon izin memetik mangga.
"Buat istri hamil, Mas?"
tanya pemilik rumah.
"Iya, Pak.
Ngidam berat dari subuh,"
jawab Zaid jujur tanpa gengsi.
Sepuluh menit kemudian, pemandangan menggelikan terjadi.
Zaid Al-Idrus calon magister hukum yang disegani memanjat pohon mangga dengan setelan celana kainnya, memetik tiga buah mangga terbaik, lalu turun dengan siku yang sedikit terkena getah.
Namun di wajahnya, hanya ada binar kepuasan seorang suami yang berhasil menyelesaikan misi vital.
Sekembalinya ke rumah, Khadijah menyambutnya di meja makan.
Ketika Zaid meletakkan mangga muda yang sudah dicuci bersih dan dikupas rapi di depan istrinya, matanya menangkap binar bahagia yang tak ternilai dari wajah Khadijah.
Khadijah memotong kecil mangga itu, mencelupkannya ke bumbu garam cabai buatan Umi, lalu mengunyahnya dengan nikmat.
"Enak banget, Mas...
Makasih ya,"
bisik Khadijah dengan mata berbinar-binar.
Zaid duduk di sampingnya, mengusap lembut kepala istrinya yang terbalut jilbab instan, lalu menurunkan tangannya membelai lembut perut Khadijah yang mulai membulat.
"Dengar ya, Nak...
Ayahmu ini rela naik pohon pagi-pagi pakai kemeja sidang cuma buat kamu dan Bundamu.
Jadi kalau sudah besar nanti, jangan nakal seperti Ayah dulu, ya."
Khadijah tertawa renyah, tawa merdu yang selalu berhasil melelehkan sisa-sisa ketegangan di dada Zaid.
"Dia tidak akan nakal, Mas.
Dia akan bangga punya Ayah yang begitu menyayanginya."
Pukul delapan lewat lima belas menit, Zaid tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Kehidupan lamanya sebagai penguasa jalanan kini telah sepenuhnya berganti dengan lembaran baru.
Bersama Haikal yang kini menjabat sebagai manajer operasional di lembaga bantuan hukum independen yang mereka dirikan bersama, Zaid melangkah menyusuri koridor pengadilan yang dingin dan riuh oleh lalu lalang pengacara, jaksa, dan pencari keadilan.
Kasus pertama yang ditangani Zaid sebagai penasihat hukum magang adalah kasus hak asuh dan perlindungan anak dari seorang ibu muda miskin yang suaminya—seorang pengusaha lokal bergaris keras—berusaha merebut paksa anak mereka dengan memanfaatkan celah hukum dan uang.
Di dalam ruang sidang yang megah, Zaid duduk di kursi penasihat hukum.
Di seberangnya, tim pengacara lawan yang disewa oleh pihak suami menatap Zaid dengan pandangan meremehkan.
Mereka tahu latar belakang Zaid: seorang mantan narapidana dan berandalan yang baru saja memegang ijazah hukum.
"Saudara Penasihat Hukum,"
tegur Ketua Majelis Hakim dengan suara berat.
"Apakah Anda sudah siap menyajikan eksepsi atas tuntutan pihak penggugat?"
Zaid berdiri tegap.
Aura kepemimpinan yang dulu ia gunakan untuk memimpin ratusan anggota geng kini bertransformasi menjadi kewibawaan seorang penegak hukum yang berkarisma.
"Siap, Yang Mulia,"
suara Zaid menggema tenang namun penuh penekanan di dalam ruang sidang.
Selama satu jam berikutnya, Zaid memaparkan pasal demi pasal dengan sangat lugas, menyajikan bukti-bukti keterlibatan pihak penggugat dalam tindakan kekerasan dalam rumah tangga, serta mematahkan argumen lawan satu per satu dengan ketelitian yang luar biasa.
Tidak ada emosi jalanan yang meluap; yang ada hanyalah ketajaman logika hukum dan keberanian membela yang tertindas.
Pengacara lawan yang awalnya memandang sebelah mata mendadak berkeringat dingin saat Zaid menunjukkan bukti transfer dan rekaman percakapan yang dengan jelas membuktikan adanya manipulasi data.
Saat majelis hakim mengetuk palu menunda sidang untuk pembacaan putusan sela minggu depan, Haikal yang duduk di kursi pengunjung langsung berdiri dan menepuk tangannya pelan.
"Luar biasa, Zaid,"
bisik Haikal saat mereka keluar dari ruang sidang.
"Gue hampir nggak mengenali lo tadi.
Lo benar-benar bukan Zaid yang dulu bertarung pakai rantai motor."
Zaid merapikan jubah toga magangnya, mengumbar senyum tipis.
"Pertarungan di sini jauh lebih memuaskan, Kal.
Di jalanan, kemenangan cuma bikin musuh dendam.
Di sini, kemenangan bisa menyelamatkan masa depan seorang anak."
Namun, dunia tak pernah kehabisan cara untuk menguji keteguhan seseorang.
Saat Zaid dan Haikal melangkah menuju area parkir pengadilan, sebuah mobil sedan perak berhenti tak jauh dari mereka.
Dari pintu penumpang, turun seorang pria paruh baya berkemeja batik 'Bapak Teguh', ayah dari almarhum Raka.
Melihat kehadiran pria itu, Haikal langsung bersiap memasang badan, khawatir akan ada provokasi baru.
Namun Zaid menahan lengan Haikal, memintanya untuk tetap tenang.
Pak Teguh melangkah mendekati Zaid dengan raut wajah yang hancur.
Tidak ada lagi keangkuhan atau kemarahan seperti saat Raka pertama kali ditangkap.
Pria itu tampak sangat tua dan letih.
"Zaid..."
panggil Pak Teguh dengan suara parau.
"Bapak Teguh,"
sapa Zaid sopan, menundukkan kepalanya sedikit.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Teguh menatap Zaid lekat-lekat, menyapu penampilan Zaid yang kini menjelma menjadi seorang pengacara muda yang sukses dan terhormat.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata pria tua itu.
"Saya... saya datang dari LP Cipinang, baru selesai menjenguk Raka,"
bisik Pak Teguh dengan bibir bergetar.
"Raka... dia sudah mulai bisa menerima hukumannya.
Dan kemarin dia bilang... dia ingin menyampaikan permohonan maaf pada kamu dan Khadijah."
Zaid tertegun sejenak.
Nama Raka sempat menjadi duri paling tajam dalam hidupnya dan Khadijah.
Dulu, jika mendengar nama itu, darah Zaid akan mendidih oleh amarah.
Namun kini, menatap ayah Raka yang hancur oleh penyesalan, tidak ada lagi ruang untuk dendam di hati Zaid.
"Saya dan Khadijah sudah memaafkan Raka, Pak,"
ucap Zaid tulus dan tenang.
"Pernikahan kami dan calon anak yang sedang dikandung Khadijah sekarang adalah bukti bahwa Allah sudah mengganti semua masa lalu yang pahit dengan keberkahan."
Pak Teguh terhenyak, menatap Zaid tak percaya.
"Khadijah... hamil?"
"Iya, Pak.
Memasuki bulan kelima,"
jawab Zaid lembut.
"Sampaikan salam saya pada Raka.
Suruh dia jalani hukumannya dengan ikhlas dan gunakan waktu di sana untuk bertobat.
Setelah dia keluar nanti, pintu bengkel saya selalu terbuka kalau dia butuh pekerjaan yang benar."
Pak Teguh tak sanggup lagi menahan tangisnya.
Pria tua itu maju dan menggenggam kedua tangan Zaid dengan erat, membungkuk berkali-kali.
"Terima kasih, Zaid...
Terima kasih!
Kamu benar-benar pria bersaudara Al-Idrus yang luar biasa.
Maafkan dosa-dosa keluarga kami..."
Zaid menepuk pundak pria tua itu dengan hangat.
Di dalam hatinya, Zaid merasakan kebebasan yang hakiki kebebasan dari rasa benci yang selama ini menjadi racun dalam jiwanya.
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam memancarkan warna jingga yang hangat di atas kota Jakarta, Zaid pulang ke rumahnya.
Di teras depan, Khadijah sedang duduk bersama Umi Syarifah sambil menyulam kain kecil untuk perlengkapan bayi.
Ketika mendengar suara mesin motor Zaid, Khadijah langsung berdiri, menyambut suaminya dengan senyuman paling indah yang selalu berhasil menghapus seluruh rasa lelah Zaid.
Zaid mencium tangan Umi Syarifah, lalu beralih menyalami dan mengecup kening Khadijah lama.
"Gimana sidangnya hari ini, Mas?"
tanya Khadijah lembut seraya mengambil tas dokumen Zaid.
"Alhamdulillah, lancar, Istriku,"
jawab Zaid hangat.
"Dan tadi... aku bertemu ayahnya Raka."
Khadijah sempat tertegun, gurat cemas melintas tipis di matanya.
"Lalu?"
Zaid merangkul pinggang Khadijah, berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
"Tidak ada apa-apa.
Hanya dua orang ayah yang saling mendoakan.
Dan aku sudah sampaikan bahwa kita sudah memaafkan mereka."
Khadijah menatap Zaid dari samping, matanya berkaca-kaca oleh rasa bangga yang tak terhingga pada suaminya.
Pria yang dulu begitu mudah terbakar oleh amarah, kini telah bertransformasi menjadi sosok suami dan ayah yang berjiwa samudra luas, tenang, dan mampu menampung segala ketidaksempurnaan.
Malam harinya, setelah makan malam dan sholat Isya berjamaah, Zaid duduk di atas sajadah bersama Khadijah.
Zaid meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya, sementara Khadijah menyisir lembut rambut hitam tebal Zaid dengan jemarinya.
Handphone Zaid bergetar pelan di samping sajadah, menampilkan notifikasi pesan dari dosen pembimbing tesis magisternya yang menyatakan draf penelitian hukumnya telah disetujui untuk diujikan bulan depan.
"Mas Zaid,"
bisik Khadijah pelan.
"Iya, Khadijah?"
"Terima kasih ya...
untuk mangga mudanya pagi tadi, untuk perjuangan Mas di ruang sidang, dan untuk hati Mas yang begitu luas."
Zaid memegang tangan Khadijah yang ada di dadanya, membawa jemari istrinya ke bibirnya untuk dicium tulus.
"Aku yang harus terima kasih, Khadijah,"
balas Zaid dengan suara dalam yang hangat.
"Dulu aku pikir, hidupku akan berakhir di penjara atau di atas aspal jalanan.
Tapi kamu datang... membawa Al-Qur'an dan doa-doamu, mengubah jalan hidupku sepenuhnya.
Sekarang, satu-satunya cita-citaku adalah menjadi suami dan ayah terbaik untuk kamu dan anak kita."
Khadijah membungkuk, mendaratkan ciuman lembut di kening suaminya.
Di luar, gerimis malam mulai turun menyapa bumi, namun di dalam kamar itu, hangatnya cinta, kedamaian iman, dan harapan baru menyelimuti masa depan mereka yang kian benderang.