NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Sorak-sorai memenuhi gedung olahraga ketika peluit panjang dibunyikan. Pertandingan basket antarkelas berlangsung sengit sejak menit pertama.

Malika duduk di bangku tribun bersama Aira dan Ruka. Tatapan mereka tak lepas dari lapangan.

Soren memimpin permainan dengan lincah dan lihainya.

Begitu juga dengan Hector yang sering mencetak poin hingga membuat arena olahraga itu di penuhi Sorak-sorak.

"Tim lawannya juga kuat," gumam Malika sambil mengikuti jalannya bola.

Ruka mengangguk pelan. "Terutama nomor sebelas."

Pandangan Aira sudah lebih dulu tertuju ke arah pria itu.

Rambut blondenya tampak berantakan oleh keringat, sementara sepasang manik birunya tetap tajam mengawasi pergerakan lawan.

Meski beberapa kali timnya tertinggal, ekspresinya tak berubah. Ia tetap bermain dengan energic hingga peluit akhir berbunyi.

Tim Soren berhasil mengakhiri pertandingan dengan skor tipis setelah saling kejar angka sejak kuarter pertama.

Aira labuhkan atensinya pada sosok yang sejak tadi di lihatnya.

Pria bertubuh tinggi itu, rambut blonde yang sedikit berantakan karena keringat. Sorot mata birunya tajam, mimiknya nyaris tanpa ekspresi.

Bahkan setelah timnya kalah, ia hanya menyeka peluh dengan handuk tanpa menunjukkan rasa kesal sedikit pun.

Aira tanpa sadar tersenyum sendiri.

"Gila..." bisiknya pelan. "Ganteng banget."

Ruka meliriknya sambil terkekeh.

"Jangan bilang lo naksir."

Aira tidak menjawab. Senyumnya sudah cukup menjadi jawab.

"Gue ke sana bentar," ucap Aira tiba-tiba.

Malika menoleh. "Mau apa?"

"Sebentar saja."

Tanpa menunggu respons Malika dan Ruka, Aira berlari ke kantin kecil di dekat gedung olahraga. Ia membeli sebotol air mineral dingin, lalu menghampiri pria bermata biru yang sedang memasukkan jersey cadangannya ke dalam tas.

"Hai!. "

Pria itu mengangkat pandangan.

Aira tersenyum kikuk.

"Ini... buat lo."

Ia menyodorkan botol air mineral itu dengan kedua tangan.

"Tadi mainnya keren."

Pria itu menatap botol tersebut sekilas.

Tatapannya kemudian beralih kepada Aira.

"...Thanks."

Suaranya datar.

Ia mengambil botol itu tanpa senyum.

Aira justru merona dibuatnya .

"Oke... gue duluan."

"Iya."

Hanya itu.

Meski singkat, Aira tetap melangkah pergi dengan rona pipi memerah.

Baginya, pria itu menerima pemberiannya saja sudah cukup membuatnya senang.

Begitu Aira menghilang di telan kerumunan siswa, pria itu melirik botol air mineral di tangannya.

Seorang rekan setim menghampirinya.

"Siapa tuh?"

"Gak kenal."

"Kayaknya dia suka sama lo."

Pria itu mendengus pelan.

"Terus?"

Temannya mengangkat alis.

"Ya... lumayan juga. Cantik."

Pria berambut blonde itu menoleh sekilas ke arah Aira yang sedang kembali ke tribun.

"Gue gak tertarik."

Tanpa ragu, ia berjalan melewati tong sampah.

Bruk.

Botol air mineral yang masih tersegel jatuh

begitu saja ke dalamnya.

Temannya hanya bisa menggeleng.

"Kejam juga lo."

Pria itu memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Daripada dia salah paham."

Ia berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, di tribun, Aira masih tersenyum kecil sambil menceritakan kejadian tadi kepada Malika dan Ruka, sama sekali tidak tahu bahwa hadiah kecil yang ia berikan bahkan tidak pernah disentuh.

__________

Di sisi lain...

Soren baru saja menerima handuk dari

rekan lain.

Namun matanya sama sekali tidak tertuju pada siapa pun selain Malika.

Ia melihat gadis itu masih duduk santai di tribun.

Soren mengembuskan napas.

Lalu...

"Malika!"

Suaranya menggema satu gedung olahraga.

Puluhan kepala langsung menoleh.

Malika refleks menutup wajahnya.

"Ya ampun..."

Soren sama sekali tidak peduli.

"Turun."

"Gak mau."

"Turun."

"Gak."

"Malika."

"Napa sih?"

Soren menyilangkan tangan.

"Hitungan ketiga gue naik."

Ruka langsung bergeser menjauh.

"Waduh... gue gak ikut."

Malika melotot.

"Lo jangan aneh-aneh!"

"Satu."

"Soren!"

"Dua."

"Sumpah ya..."

"Tiga."

Belum sempat Malika menyelesaikan kalimatnya, Soren benar-benar menaiki anak tangga tribun.

"EH!"

Beberapa siswa yang melihat langsung menyingkir memberi jalan.

Soren berhenti tepat di depan Malika.

Tatapannya lurus.

"Kan gue bilang."

Malika memukul pelan lengannya.

"Lo gila?"

"Iya."

"Orang-orang pada lihat!"

"Biarin."

"Soren!"

Pria itu justru mengambil ponsel Malika yang tergeletak di samping bangku.

"Ayo."

"Mau ke mana?"

"Keluar."

"Gak mau."

"Oke."

Soren langsung memasukan ponsel itu ke sakunya.

"Kalau gitu Ponsel lo gue bawa."

Malika membelalakkan mata.

"WOI! BALIKIN!"

Ia buru-buru mengejar Soren yang berjalan santai keluar tribun tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Di belakang mereka, Ruka hanya menggeleng pelan.

"Dia emang udah gak ketolong."

Malika mengejar Soren.

Baru saja ia berdiri di depan Soren, pria itu mengulurkan botol minuman isotonic miliknya.

"Pegang."

Malika mengernyit.

"Kenapa gue yang pegang?"

"Capek."

"Lo capek terus gue jadi tempat penitipan barang?"

"Iya."

Malika menatapnya tidak percaya.

"Lo aneh."

"Bukan."

"Lah ini apa?"

Soren mengangkat bahu.

"Percaya sama lo."

Jawaban sesederhana itu justru membuat Malika kehilangan kata-kata.

"Balikin ponsel gue, sekarang!. "

"Nanti aja. "

"Soren lo bisa gak sih jangan ngeselin. "

"Ga bisa. "

"Ck, cepat balikin! . "

Soren mengeluarkan ponsel malika dari dalam sakunya, meletakannya tepat di depan wajah Malika.

Malika ingin menggapai ponsel itu, tapi nihil karena pergerakannya sudah bisa di baca Soren.

Soren lambungkan ponsel itu ke atas dengan satu tangan, sementara kepalanya merunduk memandang Malika.

Menatap lekat obsidian indah yang membuat pertahanannya luluh lantak di buatnya.

"Mau ini. " Ucapnya sembari menggerak-gerakan ponselnya.

"Mudah kok. "

"..... "

"Cium gue, nanti gue kasih. "

Malika menukik tajam alisnya tak suka.

"Gila, gue gak mau. "

"Gak mau?. " Sahut Soren sembari menatap Malika dengan sorot menantang dan mengejek.

"Ya udah. " Ia ingin melempar ponsel itu.

"Eh, eh jangan. " Malika memegang bicep Soren.

"Ya udah cepat cium. "

Dengan enggan Malika mulai menjinjit dan mengecup pipi Soren.

Soren speechless, namun kembali menetralkan mimik wajahnya.

"Udah kan, sekarang cepat kesiniin!. "

"Siapa bilang di pipi sayang?. "

"Gue maunya di sini. " Ucapnya sembari menunjuk bibirnya.

Malika mematung.

"Gue gak mau Soren, lo suka banget maksa. "

"Ya udah kalo lo nolak gue buang Ponsel lo!. "

Soren sudah ancang-ancang ingin melempar ponsel itu, namun malika dengan cepat menimpa bibir Soren dengan bibirnya.

Soren mematung.

Melihat itu Malika langsung menginjak kaki Soren dan melompat mengambil ponselnya.

Soren akhirnya tersadar dan lansung menyentuh bibirnya sendiri.

Sialan.

Dia benar-benar kasmaran sekarang.

Ia mengacak-acak rambut Malika gemas.

Gadis itu menyentak lenganya dan berlari pergi.

_________

Hector berdiri sendirian di dekat garis lapangan. Handuk putih tersampir di bahunya, sementara pandangannya menyapu tribun yang perlahan kosong.

Hector menghentikan langkah.

Raut wajah Hector membeku.

Bola basket yang sedari tadi diputar di ujung jarinya berhenti berputar.

Ia menggenggam bola itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih.

"..."

Tatapan yang semakin tajam mengikuti setiap gerakan Soren.

Seorang siswa yang melintas tanpa sengaja menyenggol bahunya.

"Sorry."

Hector bahkan tidak menoleh.

Matanya tetap terpaku pada Malika.

Beberapa detik kemudian, Soren mengacak pelan rambut Malika sambil tertawa.

Brak.

Bola basket di tangan Hector jatuh begitu saja ke lantai.

Suaranya memantul keras, membuat beberapa siswa refleks menoleh.

Hector tidak memungutnya.

Ia terus menatap ke arah yang sama.

Lama.

Rahang Hector mengeras.

Malika merasa sedang diperhatikan.

Saat menoleh, pandangannya bertemu dengan Hector.

Entah mengapa...

Tatapan pria itu membuat dadanya terasa sesak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena tatapan itu seolah menyimpan sesuatu yang tidak mampu ia pahami.

Hector memiringkan kepalanya sedikit.

Nyaris tak terlihat.

Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.

Abstrak.

Aneh.

Sulit ditebak.

Sesaat kemudian, seorang pemain memanggil namanya.

"Hector."

Ia tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih terpaku pada Malika.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Beberapa detik berlalu.

Barulah ia mengalihkan pandangan.

"Ya."

Hector berbalik dan melangkah pergi.

Tanpa menoleh lagi.

Namun sebelum menghilang di balik pintu gedung olahraga, jemarinya perlahan

mengepal.

Begitu erat...

Seolah ada sesuatu yang terus berusaha ia tahan.

💐💐💐💐💐💐💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!