Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Tantangan Duel Asosiasi Alkimia
Teriakan itu pecah di depan warkop tepat saat Raditya sedang sibuk meracik pesanan ke-100 hari itu. Sekelompok pria berjubah panjang dengan lambang botol ramuan bersilang—para alkemis dari Asosiasi Alkimia Oakhaven—berdiri di depan ruko, memegang spanduk bertuliskan: "Makanan Instan adalah Penistaan Sihir Alkimia!"
Pemimpin mereka, Master Alkemis Galdor, pria paruh baya dengan kacamata berlensa tebal dan hidung mancung, melangkah maju sambil menggebrak meja Raditya. "Raditya! Produkmu itu sampah! Teh tarikmu tidak mengandung esensi mana murni, kopi sachetmu tidak memiliki ekstrak akar kehidupan! Kau membodohi rakyat dengan rasa manis murahan!"
Raditya meletakkan gelas shaker-nya, menyeka tangannya dengan serbet, dan menatap Galdor dengan tatapan bosan seorang manajer yang menghadapi komplain pelanggan karen.
Ding!
[Sistem v3.0 Melakukan Analisis Sarkasme]:
Target: Master Alkemis Galdor (Level 18).
Analisis: Alkemis yang merasa terancam eksistensinya oleh bubuk kopi 500 rupiah.
Pesan Sistem: Lihatlah pria tua itu. Dia menghabiskan waktu 40 tahun mempelajari transmutasi logam, tapi kalah populer dengan kopi hitam sachet yang diseduh air panas. Ego pria ini lebih rapuh daripada cup sterofoam Anda, Manajer. Mari kita hancurkan dengan sopan.
"Master Galdor, saya pedagang, bukan peneliti ramuan. Kalau pelanggan saya lebih suka kopi hitam sachet daripada ramuan mana pahit Anda yang harganya selangit, itu artinya produk Anda yang perlu di-upgrade, bukan warkop saya yang ditutup," jawab Raditya santai.
"Cukup omong kosongmu!" bentak Galdor. "Tantanganku: Duel Masak! Aku akan meracik 'Ramuan Stamina Pemulih Jiwa', dan kau akan meracik minumanmu. Siapa yang bisa membuat para petualang di alun-alun ini merasa lebih bertenaga, dia pemenangnya. Jika kau kalah, kau tutup warung selamanya!"
"Dan kalau saya menang?" tantang Raditya.
"Asosiasi Alkimia akan memberikan sertifikat lisensi 'Penyedia Minuman Resmi Kerajaan' secara gratis!"
"Deal. Tapi ingat, jangan menangis kalau kalah dari kopi sachet," ujar Raditya sambil tersenyum lebar.
Duel pun dimulai di Alun-alun Bawah. Galdor mengeluarkan kuali perak, akar-akaran langka, dan botol-botol kristal bercahaya. Ia meracik ramuan dengan mantra yang rumit, asap berwarna-warni mengepul dari kualinya.
Raditya? Dia hanya mengeluarkan satu bungkus Kopi Hitam Instan Sachet (Tanpa Gula) dan air panas.
"Sistem, aktifkan fungsi [Barista Kinetik]," perintah Raditya.
Ding!
[Fungsi Barista Kinetik Aktif]:
Menggunakan kecepatan tangan +40% untuk mengekstraksi kafein dalam hitungan detik.
Saran Sistem: Tambahkan sedikit bubuk esensi jahe sisa kemarin untuk memberikan efek kicking pada jantung para petualang. Biarkan mereka merasakan debaran jantung yang lebih cepat daripada kecepatan lari mereka saat dikejar monster.
Dengan gerakan yang sangat komedi—memutar-mutar gelas di udara ala sirkus—Raditya menyeduh kopi tersebut. Aromanya pekat, pahit, dan menusuk hidung, membelah aroma obat-obatan ramuan Galdor yang seperti bau tanah basah.
Para juri—tiga petualang kelas berat yang selalu kurang tidur—mencicipi ramuan Galdor (wajah mereka mengkerut karena rasa pahit obat) lalu mencicipi kopi Raditya.
Mata ketiga petualang itu seketika terbuka lebar. "AAAAAA! Jantungku berdebar! Aku merasa bisa membelah batu besar dengan tangan kosong! Ini kopi murni dari neraka!"
Galdor terbelalak. "I-Itu tidak mungkin! Itu cuma bubuk hitam biasa!"
Raditya menang telak. Galdor pergi dengan wajah malu, meninggalkan sertifikat lisensi yang kini tergantung di dinding warkop Raditya.
Ding!
[Misi Selesai: Kemenangan Kapitalis]:
Hadiah: +1.000 Poin Survival.
Upgrade Sistem Terpicu!
Pesan Sistem: Selamat. Anda baru saja membuktikan bahwa zaman sihir kuno kalah oleh zaman kafein Bumi. Menuju evolusi toko selanjutnya...
Tiba-tiba, antarmuka sistem di mata Raditya berkedip-kedip hijau terang.
[Upgrade Sistem v4.0 - 'Waralaba Sachet' Resmi Terpasang]:
Fitur Baru: [Otomasi Produksi Sachet]. Anda sekarang bisa mempekerjakan NPC untuk menjaga kedai.
Fitur Baru: [Menu Kustom]. Anda bisa menggabungkan dua bumbu sachet menjadi menu baru.
Fitur Baru: [Deteksi VIP]. Anda sekarang bisa melihat siapa saja bangsawan yang menyamar di kedai Anda.
Saldo Poin Saat Ini: 2.280 Poin!
Raditya tertawa puas. "Sistem, apa gunanya upgrade ini kalau aku tidak bisa menggunakannya untuk hal yang lebih gila?"
Ding!
[Sistem v3.0 (Versi Upgrade 4.0) Membalas]:
Saran: Dengan 2.280 poin, Anda bisa membeli 'Mesin Pembuat Mie Instan Otomatis'. Sekarang Anda tidak perlu capek-capek merebus air sendiri. Biarkan mesin itu bekerja, dan Anda bisa fokus melayani Lady Vivienne yang... ehem... sudah menunggu di meja pojok selama dua jam hanya untuk memesan segelas air putih hangat.
Raditya menoleh ke sudut kedai. Benar saja, Lady Vivienne duduk di sana dengan wajah yang sengaja dibuat dingin, tapi matanya sesekali melirik ke arah Raditya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sampingnya, Nona Lira hanya mendesah panjang, merasa jadi 'nyamuk' di tengah drama asmara antara seorang bangsawan tinggi dan pedagang kopi sachet.
"Tuan Raditya," panggil Vivienne dengan suara yang agak gemetar, "Aku sudah memesan air hangat sejak dua jam lalu... apakah kau terlalu sibuk melawan alkemis tua itu sampai lupa pada pelanggan VIP-mu?"
Raditya berjalan menghampiri meja itu dengan segelas penuh kopi susu sachet spesial di tangannya. "Mohon maaf, Lady. Sebagai kompensasi, ini adalah 'Ramuan Stamina Hati'—kopi susu sachet dengan ekstra kasih sayang."
Vivienne tersipu malu, wajahnya merah padam. "Dasar pria tidak tahu malu!" meski menggerutu, ia mengambil gelas itu dan meminumnya dengan sangat cepat.
Ding!
[Peringatan Sistem]: Hati-hati, Manajer. Jika Anda terus menggoda sang Lady, Baron Vane akan datang bukan untuk memesan kopi, melainkan untuk membawa kepala Anda ke alun-alun kota.
"Ah, biarkan saja," bisik Raditya dalam hati, menatap ke luar warkop yang makin ramai oleh petualang dan warga kota. "Selama bisnis lancar dan poin terus masuk, aku siap menghadapi apa pun—bahkan Baron Vane sekalipun, selama dia mau membayar kopi dengan koin emas."