Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
"Kalau gitu sini cepetan kasih gue botolnya, jangan banyak bacot! Lama-lama mulut lo yang bawel itu gue makan nih biar diem!" ancam Rakha ketus.
Alin langsung bergidik ngeri, otaknya yang polos mendadak membayangkan skenario film horor kanibal di mana mulutnya benar-benar digigit, dikunyah, dan dimakan oleh Rakha sampai wajahnya rata seperti talenan dapur.
"Jangan dimakan dong mulut aku! Nanti kalau mulut aku kamu makan, masa kalau aku mau makan mi instan harus lewat lubang hidung?!" sahut Alin dengan kepolosan yang hakiki dan luar biasa bego.
Buggh!!
Rakha yang saking gemas dan frustrasinya mendengar jawaban ajaib itu, secara spontan memukul pelan pucuk kepala Alin menggunakan botol plastik kosong bekas minumnya yang sudah habis ia tenggak.
"Bego kok dipelihara sampai subur! Nggak sekalian aja lo kalau makan lewat lubang tah*k?!" semprot Rakha dengan wajah frustrasi tingkat khayangan.
"Kamu jorok banget sih, ganteng-ganteng mulutnya bawa-bawa tah*k segala!" Alin cemberut instan sambil memegangi kepalanya yang tidak sakit tapi sukses merusak tatanan rambut indahnya.
"Ck! Terserah lo lah!" Rakha langsung membuang muka ke arah lain demi menyembunyikan rona merah di pipinya yang mendadak muncul.
Sebenarnya, di balik sifat ketus nan kejamnya itu, Rakha ingin sekali mengajak Alin pulang bersama mengendarai taksi karena kosan mereka yang kebetulan bersebelahan, tetapi lidah arogannya terasa kaku dan kelu untuk sekadar mengajak dengan cara manusia normal pada umumnya.
Alhasil, mereka malah berakhir pulang terpisah.
****
Sore harinya, suasana di dalam bus kota ekonomi yang ditumpangi Alin benar-benar sesak merayap. Udara pengap bercampur bau keringat harian dan himpitan antar penumpang membuat Alin tidak kebagian tempat duduk sama sekali.
Ia terpaksa berdiri di bagian lorong tengah, berdesakan dengan bapak-bapak membawa ayam dan anak sekolah, sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya yang lelah.
Tiba-tiba, tanpa ada aba-aba dari alam semesta, sang sopir bus menginjak pedal rem sedalam-dalamnya hingga menimbulkan bunyi decitan ban yang memekakkan telinga.
Ternyata, ada adegan aksi kejar-kejaran menegangkan antara seekor kucing oren dan anjing herder yang nekat melintas zigzag tepat di depan bemper bus.
Ckittttttt!!!
Tubuh seluruh penumpang di dalam lorong otomatis terdorong hebat ke depan layaknya efek domino jatuh. Alin yang saat itu sedang lengah dan tidak berpegangan pada handle grip apa pun langsung panik setengah mati.
Tangan kanannya bergerak liar di udara, mencoba meraih besi pegangan bus untuk menumpu badannya agar tidak jatuh terjungkal. Sialnya, bukannya meraih besi silinder yang dingin, jari-jari lentik Alin justru mencengkeram dengan sangat kuat tumpukan rambut hitam lebat seorang bapak-bapak bertubuh gempal yang berdiri tepat di dekatnya.
Sret!
Bunyi tarikan itu terdengar jelas, disusul jeritan mini sang bapak. Ternyata... itu bukan rambut asli hasil pertumbuhan alami, melainkan wig sintetis kualitas pasar malam.
Wig tersebut terlepas dengan sangat sempurna dari kepala pemiliknya, melekat erat di dalam genggaman tangan Alin. Kejadian itu sukses memamerkan sebuah kepala kebotakan klimis, mulus, dan licin yang seketika memantulkan cahaya lampu neon bus sore itu dengan sangat terang benderang, menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya di dalam bus.
Alin yang kehilangan keseimbangan akibat tarikan tersebut akhirnya tetap terjengkal ke belakang dan—brukkk—mendarat telak dengan posisi pantat duduk manis di atas pangkuan seseorang yang berada di kursi penumpang belakangnya.
"Aduh, silau Pak! Tolong lampu bohlam seratus watt-nya ditutupi lagi pake hordeng, mata saya perih kena radiasi!" seru salah satu penumpang di baris depan sambil menutupi matanya drama menggunakan telapak tangan.
Alin yang masih syok berat dan jantungnya mau copot segera berdiri setengah badan di koridor, wajahnya merah padam menahan malu yang tak tertahankan di depan puluhan pasang mata. Ia menyerahkan kembali wig hitam itu kepada pemiliknya dengan tangan bergetar.
"Maaf, Pak! Demi Allah saya bener-bener nggak sengaja tadi mau jatuh! Ini... ini, Pak... wignya," ucap Alin dengan nada penuh rasa bersalah yang mendalam.
Bukannya mengamuk atau mengeluarkan jurus silat, bapak-bapak botak yang ternyata berjiwa humoris itu justru terkekeh santai sambil menerima wignya dan memasangnya kembali dengan posisi yang agak miring ke kiri.
"Iya, tidak apa-apa, Neng cantik. Lagian buat mas-mas yang tadi bilang kepala saya kayak lampu bohlam... biar pun begini, mungkin dunia kelam kalian akan terasa gelap gulita kalau kekurangan pencahayaan rohani dari kepala saya ini, wkwkwk!" seloroh sang bapak yang malah melawak tunggal, mengundang gelak tawa riuh dari seisi penumpang bus.
Di tengah hiruk-pikuk tawa penonton bus tersebut, Alin baru menyadari sebuah anomali indra peraba bawahnya. Ia baru sadar sepenuhnya bahwa ia masih terduduk manis, empuk, dan nyaman di atas pangkuan seseorang yang sedari tadi diam membeku seperti batu candi.
"Lo mau terus-terusan kayak gini? Nyaman banget ya lo duduk di atas paha gue yang berharga ini?" sebuah suara berat, dingin, familier, dan sangat akrab mendadak berbisik tepat di lubang telinga kanan Alin, mengembuskan napas hangat yang bikin merinding.
Alin tersentak kaget seperti disengat tawon, langsung menolehkan kepalanya ke belakang dengan patah-patah. Mata bulatnya bertemu langsung dengan manik mata elang yang sangat ia kenal.
"Rakha?! Kamu... kamu ngapain ada di dalam bus ekonomi begini?! Kamu... kamu sengaja buntutin dan ngikutin aku dari butik ya?!" tuduh Alin dengan suara cemprengnya, kaget setengah mati melihat eksistensi Tuan Muda kaya raya di transportasi umum.
"Gue mau pulang ke kosan lah, bego! Emangnya lo siapa pake menuduh gue begitu? Gue bukan bodyguard pribadi lo yang kurang kerjaan banget harus buntutin cewek gila kayak lo. Artis papan atas juga bukan," sahut Rakha dengan nada ketus yang khas, padahal dalam hati ia merutuki nasibnya yang ketahuan naik bus demi bisa satu rute dengan Alin.
"Kamu bohong kan?! Kamu kan punya mobil sport mewah sama sopir pribadi mansion! Terus ngapain coba Tuan Muda Bagaskara sore-sore pulang naik bus pengap begini? Apa jangan-jangan... kamu sebenernya udah jatuh miskin ditendang dari keluarga? Makanya sekarang kamu kerja jadi model dan tinggal di kosan murah sebelah kamar aku?!" cecar Alin dengan analisis detektif konyolnya, sambil berusaha sekuat tenaga bangkit berdiri dari pangkuan kokoh Rakha.
Namun, belum sempat kaki Alin menapak lantai bus untuk benar-benar berdiri, lengan kekar Rakha justru bergerak secepat kilat melingkar di sekeliling pinggang ramping Alin. Cowok itu menarik tubuh Alin kembali, memeluknya dengan sangat erat dari belakang agar Alin tetap diam di atas pangkuannya.
"Udah, diam lo! Lo duduk aja tetep di sini, jangan kemana-mana bi—"
"Nggak mau! Lepasin nggak! Aku malu dilihatin sama orang-orang se-bus, dikira kita lagi pacaran tidak elit!" potong Alin panik sambil meronta-ronta kecil di dalam kekangan lengan Rakha.
"Lo itu kebiasaan banget ya! Kalau gue lagi ngomong itu suka main potong kompas aja! Gue belum selesai ngomong satu kalimat utuh, jadi lo denger dulu sampai selesai! Bikin orang lain salah paham aja isi otak lo!" omel Rakha dengan wajah kesal nan garang, namun anehnya, kedua daun telinganya tampak memerah padam seperti tomat matang akibat kedekatan fisik mereka.
"Terus maksud kamu tadi apa nyuruh aku tetap duduk di pangkuan kamu kalau bukan mau modus?!"