Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Setelah Perjanjian
Kenan makin giat melanjutkan gerakannya, sesekali menggumam penuh hasrat:“Nikmatilah, Sayang… nikmati semua cinta yang aku berikan untukmu… sampai kau lupa segalanya dan hanya menginginkanku saja…”
Kinasih terasa melayang di antara sadar dan tak sadar, seluruh tenaganya terkuras habis oleh kenikmatan yang tiada tara itu. Hingga akhirnya, dengan satu hisapan dan gerakan lidah terakhir yang tepat, tubuhnya menegang seketika, punggungnya terangkat melengkung, dan gelombang kenikmatan paling dahsyat meledak membanjiri seluruh raganya.
“Ahhhhhhhh… Kakkkkk… ahhhh…”Ia mendesah panjang seolah jiwanya terlepas sejenak, lalu tubuhnya langsung terkulai lemas, terengah-engah hebat, berkeringat, dan hanya bisa merasakan kebahagiaan yang meluap-luap yang membuatnya tak berdaya sama sekali.
Setelah memuaskan istrinya sampai terkulai lemas, Kenan perlahan mengangkat wajahnya, lalu dengan gerakan cepat namun tenang ia segera melepaskan seluruh sisa pakaian yang menempel di tubuhnya. Tubuh kekarnya kini terpampang sepenuhnya, siap menyatu sepenuhnya dengan miliknya yang sah itu.
Ia kembali menindih lembut tubuh Kinasih, menopang badannya agar tidak memberatkan, lalu memegang pinggang gadis itu dengan hati-hati. Dengan satu dorongan yang perlahan dan pasti, ia memasukkan miliknya yang keras dan membara ke dalam liang hangat, basah, dan ketat milik Kinasih.
“Hhhh… enak sekali… sangat pas… hanya milikku saja selamanya…”desah Kenan parau, matanya menatap dalam mata Kinasih yang mulai terlihat sayu dan berkabut karena rasa nikmat.
Gerakannya dimulai dengan sangat lembut, lambat, dan tak terburu-buru sedikit pun. Ia bergerak seirama, menikmati setiap sentuhan dan kehangatan yang membungkus dirinya, seolah ingin menghabiskan setiap detiknya dengan rasa sayang yang mendalam.
Kinasih memandang wajah suaminya dengan mata yang sayu dan terpejam setengah, bibirnya terbuka mengeluarkan desahan lembut yang membuai.“Ahhh… hhh… Kak… lembut sekali… enak sekali…” bisiknya lirih, tubuhnya mengikuti setiap gerakan Kenan dengan penuh kerelaan.
Namun seiring memburunya hasrat yang kian memuncak, gerakan Kenan perlahan berubah menjadi makin cepat, makin dalam, dan makin kuat. Setiap hentakannya menusuk tepat ke bagian paling dalam yang membuat seluruh tulang dan urat Kinasih terasa berguncang nikmat.
“Ahhh… makin dalam… jangan berhenti… ahhh… nikmatnya luar biasa…”desahan Kinasih makin keras dan panjang, suaranya melengking mengikuti setiap dorongan tubuh Kenan.
“Hhhh… iya Sayang… terima saja… kau terasa begitu ketat dan hangat… bikin aku gila dibuatnya… ahhh… kita miliki satu sama lain selamanya…”balas Kenan dengan erangan yang tak kalah keras, napasnya memburu dan wajahnya memerah menahan kenikmatan yang meluap.
Gerakan mereka makin liar dan serasi, desahan dan erangan keduanya bersahutan memenuhi seluruh ruangan kamar, tercampur dengan suara gesekan tubuh yang terdengar begitu mesra. Keduanya terus terhanyut dalam rasa yang membara, seolah tak ingin berpisah selamanya.
Hingga akhirnya, dengan satu hentakan paling kuat, paling dalam, dan paling cepat, gelombang kenikmatan meledak dahsyat membanjiri tubuh mereka berdua bersamaan. Tubuh mereka menegang seketika, mendesah panjang dan keras seolah jiwa mereka terlepas sejenak, lalu terkulai lemas satu sama lain, terengah-engah dalam pelukan yang hangat dan penuh cinta.
Setelah mencapai puncak kenikmatan itu, Kenan tetap enggan melepaskan tubuh istrinya. Ia perlahan menarik dirinya keluar, lalu membaringkan tubuhnya di samping Kinasih, dan segera menarik gadis itu masuk ke dalam pelukan eratnya. Kedua lengannya melingkar memeluk pinggang Kinasih, membiarkan tubuh mereka tetap saling menempel hangat, merasakan kehangatan dan keintiman yang begitu mendalam.
Kenan mencium kening Kinasih lembut, lalu berbisik dengan suara masih parau namun penuh sayang, “Belum cukup, Sayang… Aku belum puas merasakanmu… Naiklah ke pangkuanku, sayangku… biar kau yang mengendalikan iramanya malam ini…”
Mendengar permintaan itu, wajah Kinasih seketika memerah padam sampai ke telinga. Ia menunduk malu, jantungnya berdegup kencang, namun di dalam hatinya sudah tak ada lagi rasa sungkan atau takut. Dengan gerakan yang sangat malu-malu dan tubuh yang masih terasa lemas, ia perlahan mengangkat dirinya, lalu duduk dengan posisi mengangkang tepat di atas pangkuan Kenan.
Posisi itu membuat milik Kenan langsung menekan dan masuk kembali ke dalam lubang hangatnya dengan sendirinya, membuat keduanya sama-sama mendesah seketika.
“Ahhh… hhh… Kak… dalam sekali…”desah Kinasih lirih, matanya terpejam menahan rasa nikmat yang langsung menjalar kembali.
“Iya, Sayang… gerakkanlah pinggulmu… sesukamu saja… buat Kakak merasa bahagia… kau begitu indah saat melakukannya…”bisik Kenan sambil memegang pinggang Kinasih lembut, membimbingnya memulai gerakan.
Awalnya Kinasih bergerak sangat lambat dan kaku, masih terbawa rasa malu. Namun seiring rasa nikmat yang mulai membakar tubuhnya lagi, ia mulai berani bergerak lebih leluasa. Ia mengayunkan pinggulnya naik turun, berputar dan menggesek dengan gerakan yang makin lama makin sensual, makin cepat, dan makin dalam. Setiap kali tubuhnya turun, ia menekan sekuat tenaga agar milik Kenan menembus hingga bagian paling dalam yang membuatnya melengkungkan punggung.
Gerakannya makin liar dan memikat, membuat Kenan terpesona dan makin terbuai. Desahan Kinasih pun makin keras dan merdu, meluncur bebas memenuhi ruangan kamar:“Ahhh… hhh… begini… Kak… nikmat sekali… makin dalam… ahhh… jangan berhenti… ahhhh!”
“Hhhh… bagus sekali… gerakkan terus… kau luar biasa, Sayang… bikin Kakak gila dibuatnya… begitu ketat dan hangat… ahhh!”balas Kenan mengerang, tangannya terus memegang pinggang Kinasih mengikuti irama gerakannya, sesekali mendorong ke atas untuk memperdalam sentuhan itu.
Suara gesekan tubuh, desahan dan erangan mereka makin kencang dan serasi, seolah menjadi irama kenikmatan yang tak ada habisnya. Keduanya terhanyut sepenuhnya, tak memedulikan apa pun lagi selain rasa bahagia yang mereka bagi.
Hingga akhirnya, dengan satu gerakan terakhir yang paling cepat dan paling dalam, gelombang kenikmatan meledak lagi dengan dahsyatnya. Tubuh Kinasih menegang kaku, kepalanya terkulai ke belakang, dan ia mendesah panjang melengking seolah jiwanya terlepas sejenak.“Ahhhhhhhh… Kakkkkk… ahhhh…”
Kenan pun mengerang keras membalasnya, memegang pinggang Kinasih erat-erat sambil menekan tubuhnya sekuat tenaga, mencapai puncaknya bersamaan dengan istrinya. Mereka terkulai lemas satu sama lain, masih saling terhubung erat, terengah-engah dalam kehangatan yang penuh cinta dan kepemilikan sepenuhnya.
Malam itu seolah tak ada habisnya. Kenan benar-benar tak pernah merasa puas menyentuh dan memiliki tubuh istrinya, seolah ingin menghabiskan seluruh rasa rindu dan hasrat yang terpendam sekaligus. Setelah puas di atas ranjang, ia pun mengajak Kinasih menjelajahi setiap sudut kamar itu, menjadikan seluruh ruangan sebagai saksi keintiman mereka.
Pertama, ia menggendong tubuh Kinasih yang masih lemas dan membawanya ke sofa empuk di sudut ruangan. Di sana, ia mendudukan gadis itu di atas pangkuannya lagi, mulai bergerak makin cepat dan dalam sambil terus mencium dan meremas tubuhnya.“Ahhh… Kak… nikmat sekali… jangan berhenti… ahhh!” desah Kinasih, suaranya sudah menjadi sangat merdu dan liar karena terus terhanyut rasa.
Tak lama kemudian, Kenan kembali mengangkat tubuhnya, membawanya ke meja rias yang luas dan halus. Ia membaringkan Kinasih di atas meja itu, membiarkan kakinya tergantung lebar, lalu mulai menghentakkan tubuhnya dengan kekuatan yang membuat meja itu bergetar hebat. Ciumannya makin liar, kata-kata sayangnya terus terucap di sela erangan:“Kau milikku sepenuhnya, Sayang… takkan ada tempat lain selain di dalam tubuhmu ini… hhh…”
Namun gairah mereka masih terus membara. Kenan pun berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang berkelap-kelip lampu. Ia memutar tubuh Kinasih membelakanginya, mendorong pinggang gadis itu sedikit membungkuk, lalu menancapkan miliknya kembali dengan satu dorongan kuat. Terkejut dan terguncang nikmat, Kinasih langsung menggapai dan memegang erat hordeng tebal di samping jendela itu sebagai tumpuan, jemarinya mencengkeram kuat sampai buku jarinya memutih.“Ahhhhhh… Kakkk… terlalu dalam… ahhh… nikmatnya luar biasa… ahhh!” teriak Kinasih mendesah keras, tubuhnya terguncang hebat mengikuti setiap hentakan Kenan yang makin ganas dan dalam.
“Hhhh… begitulah… pegang saja erat-erat… biar seluruh kota tahu kau milikku… ahhh… kau terasa semakin sempurna setiap detiknya…”balas Kenan mengerang, napasnya memburu di tengkuk leher Kinasih yang berkeringat.
Setelah memuaskan hasrat mereka di sana, Kenan tak berhenti sampai di situ. Ia menggendong Kinasih yang sudah hampir tak berdaya melangkah masuk ke kamar mandi mewah, menuju bak rendam besar yang sudah terisi air hangat berbusa harum. Ia turun masuk ke dalam bak itu sambil tetap memeluk erat tubuh istrinya, sehingga posisi mereka masih saling terhubung sempurna.
Di dalam air hangat yang membalut tubuh mereka, Kenan mulai bergerak lagi dengan irama yang lambat namun lebih dalam dan memuaskan. Air bergelombang mengikuti gerakan tubuh mereka, bercampur dengan keringat dan cairan cinta. Kenan memeluk pinggang Kinasih erat, mencium seluruh leher dan bahunya, sementara Kinasih melingkarkan kakinya erat di pinggang suaminya, memeluk lehernya seolah tak ingin terpisah selamanya.
“Ahhh… hhh… Kak… di sini pun masih mau… ahhh…”desah Kinasih lemah tapi tetap merespons setiap sentuhan.“Selama kau masih bernapas, aku takkan pernah cukup… kau adalah satu-satunya kebutuhanku, Sayang… hhh…” bisik Kenan dengan suara parau penuh cinta.
Gerakan mereka makin serasi, desahan dan erangan mereka kembali bersahutan lembut namun penuh gairah di tengah riak air, sampai akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan lagi, terakhir kalinya malam itu, dalam pelukan yang hangat, erat, dan penuh kepemilikan mutlak.
Setelah memuaskan gairah mereka sampai habis tenaga, akhirnya kedua tubuh itu terkulai lemas sepenuhnya. Berpelukan erat, dibalut selimut yang hangat, Kenan dan Kinasih pun segera terlelap dalam tidur yang pulas, seolah mengumpulkan kembali seluruh tenaga yang terkuras habis semalaman.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela. Kinasih perlahan membuka matanya, dan saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia langsung mengerang pelan. Seluruh badannya terasa pegal dan ngilu luar biasa, terutama di bagian bawah tubuhnya, sisa bukti nyata bahwa semalaman suaminya itu benar-benar tak pernah bisa berhenti menyentuh dan memilikinya, seolah takkan pernah puas.
Dengan langkah yang masih goyah dan sedikit tertatih, Kinasih berjalan menuju kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya dengan perlahan, lalu mengenakan pakaian rapi yang ia bawa, merapikan rambut dan wajahnya sebaik mungkin agar tak terlihat terlalu lelah.
Saat sedang bersiap, terlintas di pikirannya untuk mengecek saldo rekeningnya. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi perbankan, dan begitu melihat angka yang tertera di layar, senyum tipis pun terukir di bibirnya. Benar saja, tepat sesuai janji, satu miliar rupiah sudah masuk sepenuhnya ke dalam rekeningnya. Rasa lega pun perlahan menyelimuti hatinya, karena kini semua kebutuhannya, biaya ujian, dan pengobatan ibunya sudah terjamin sepenuhnya.
Ia menoleh kembali ke arah ranjang, melihat Kenan yang masih terlelap pulas. Wajah tampannya terlihat damai dan polos saat tidur, sangat berbeda dengan sikapnya yang liar dan penuh gairah semalaman. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan Kinasih ingat ia harus segera berangkat ke kampus agar tidak terlambat masuk kelas.
Ia mengambil secarik kertas dan pulpen kecil di atas meja, lalu menulis pesan singkat dengan tulisan tangan yang rapi:
"Terima kasih sudah menepati janjinya. Uangnya sudah diterima. Aku berangkat ke kampus duluan. Istirahatlah yang cukup. — Kinasih"
Setelah melipat kertas itu dan meletakkannya di atas meja samping ranjang agar mudah dilihat, Kinasih melangkah pelan mendekat. Sekejap ia menatap wajah Kenan, lalu dengan hati yang campur aduk antara malu, syukur, dan rasa aneh yang mulai tumbuh di hatinya, ia pun berbalik. Tanpa membangunkan suaminya itu, ia melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan-pelan, dan segera berjalan menuju kampusnya.
Jarum jam di dinding kamar perlahan bergerak menunjuk pukul sebelas siang, saat Kenan akhirnya membuka matanya perlahan. Ia terbangun dengan perasaan yang sangat nyaman dan tenang, tubuhnya terasa ringan dan penuh semangat, berbeda sekali dari hari-hari sebelumnya yang selalu terasa hampa. Namun begitu ia mengulurkan tangannya ke samping, ia terkejut menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan dingin, tak ada lagi sosok Kinasih yang tadi memeluknya erat semalaman.
Kenan langsung duduk tegak, lalu menoleh ke nakas di samping tempat tidur. Matanya segera menangkap secarik kertas yang tergeletak rapi di sana. Ia mengambilnya, membaca tulisan tangan istrinya itu dengan seksama, dan seketika senyum lebar yang tak bisa disembunyikan merekah di wajahnya. Bibirnya terangkat, matanya bersinar cerah, ia bahkan bisa membayangkan wajah malu-malu Kinasih saat menuliskan pesan itu.
“Dasar istriku yang manja dan pemalu…” gumamnya pelan sambil tersenyum sendiri, hatinya terasa hangat dan bahagia tak terkira.
Tanpa membuang waktu, Kenan segera bangkit dari ranjang. Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap dengan penuh semangat. Tak lama kemudian, ia keluar dengan penampilan yang sangat rapi dan memukau, mengenakan setelan jas mahal yang menonjolkan wibawanya, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya memancarkan kesegaran yang luar biasa.
Sesampainya di kantor pusat perusahaannya, aura kepemimpinannya langsung terasa menyelimuti seluruh ruangan. Sebagai CEO utama, langkahnya tegap dan pasti, tatapannya tajam namun penuh keyakinan, sosok yang berwibawa dan tak terbantahkan oleh siapa pun di lingkungan kerja itu. Semua karyawan yang melihatnya hanya bisa menunduk hormat, kagum melihat betapa bersemangatnya sang pemimpin hari ini.