bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Siapa nama rekanmu itu? Dan apa syaratnya?" tanya Nadira, suaranya kini lebih tenang, terkendali. Sandy tersenyum, sebuah senyum yang tidak sampai ke matinya. "Pak Baskoro.
Syaratnya mudah, kita cuma perlu tanda tangan kontrak kerja sama minggu depan. Dia akan menanggung semua biaya pengacara."
Nadira bangkit dari kursinya, lututnya terasa sedikit gemetar, namun ia menutupinya
dengan merapikan kerah baju Sandy yang kusut.
"Baiklah. Tapi aku ingin ikut dalam setiap pertemuan. Jangan ada keputusan tanpa aku di dalam ruangan," katanya. Sandy
mengangguk cepat, terlalu cepat, seolah ia baru saja terhindar dari pemeriksaan polisi.
Malam itu berlalu dengan keheningan yang canggung. Sandy kembali ke kamarnya,
meninggalkan bau parfum mahal dan sedikit aroma tembakau di udara. Nadira berdiri di
tengah ruang tamu yang gelap, menatap pintu depan yang kini terkunci. Ia tahu ada
sesuatu yang tidak beres dengan cerita rekan bisnis itu.
Ia berjalan menuju jendela, melihat ke arah jalan sepi di luar sana. Tidak ada mobil yang
menunggu, tidak ada tanda-tanda orang lain yang mengantar Arga pulang. Hanya
kesunyian dan bayangan pohon yang bergoyang tertiup angin. Keraguan mulai merayap di benaknya, menyatu dengan kelelahan yang ia paksakan untuk pergi.
Nadira kembali ke kamar, mengunci pintu dari dalam. Ia duduk di tepi ranjang, menarik
lututnya ke dada, dan membenamkan wajah di antara lengannya. Detak jantungnya masih
terasa tidak beraturan, namun ia tidak bisa membiarkan ketakutan itu menguasai niatnya untuk menguasai warisan dua ratus triliun itu.
Ia membutuhkan udara lagi, namun kali ini ia tidak bisa hanya mengandalkan napas
dalam. Nadira berdiri, membuka jendela lebar-lebar, membiarkan embusan angin malam menerpa wajahnya.
Dingin itu menyakitkan, tapi itu yang ia butuhkan untuk menjernihkan pikiran dari kepura-puraan Arga tadi. Ia melirik jam dinding di ruang tamu yang terbuka dari celah pintu. Sudah lewat tengah malam. Nadira menyadari bahwa ia harus segera beristirahat, namun matanya terus
melek, menatap plafon kamar yang retak di sudut kirinya. Rencana untuk mendapatkan
warisan tiba-tiba terasa jauh lebih berbahaya.
Lampu meja di ruang kerja menyesuaikan posisinya, menyisakan bayangan panjang di
dinding kayu jati. Nadira menutup pintu tanpa suara. Arga sudah tertidur lelap di lantai
atas, tapi jantungnya masih berdegup kencang. Ia harus mengambil kunci brankas utama dari tas Dinda sebelum fajar menyingsing.
Ia menarik napas panjang, jemarinya menyentuh gagang laci meja kerja yang dingin. Dokumen yang ia temukan tadi siang menyebutkan bahwa kunci itu selalu dibawa Dinda ke mana pun dia pergi. Tanpa kunci itu, warisan dua ratus triliun akan tetap terkunci
selamanya.
Nadira berjalan menuju kamar Dinda di sayap barat rumah. Lantai marmer terasa dingin di
bawah kakinya yang tidak memakai alas kaki. Ia mendengar suara detak jam dinding yang
tertinggal di lorong, setiap detik terasa seperti ancaman bahwa waktunya tinggal sedikit.
Sesampainya di depan kamar Dinda, ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Dinda sedang duduk di depan meja rias, sibuk memeriksa cat kuku merahnya. Tas kulit
bermerek yang berisi kunci itu tergantung di sandaran kursi, hanya berjarak dua meter dari tempat Nadira berdiri.
"Kamu tidak bisa tidur juga?" tanya Dinda tanpa menoleh, seolah-olah dia tahu ada orang di pintu.
Nadira membeku sejenak, lalu melangkah masuk dengan senyum tipis. "AC di kamarku
rusak. Boleh aku pinjam charger di meja mu?"
Dinda memutar kursinya perlahan, matanya menyipit curiga.
"Kamu biasanya tidak pernah
peduli pada barang-barangku. Ada apa sebenarnya?"
Nadira mendekat dengan santai, jemarinya menyentuh permukaan meja rias yang dingin. Ia melihat tas Dinda terbuka sedikit, kunci logam itu berkilat di dalamnya.
"Cuma tidak enak badan. Lagipula, besok kan ada pertemuan keluarga. Aku harus kelihatan segar."
"Pertemuan itu hanya formalitas," sahut Dinda sambil meletakkan botol cat kuku. "Paman
sudah menandatangani semuanya. Kunci ini adalah jaminan terakhirku agar kalian tidak
berani menyentuh hakku."
Nadira menelan ludah. Ia harus mengalihkan perhatian Dinda sekarang juga. "Kamu lihat
jam tangan paman di brankas?" Dinda terkejut, alisnya berkerut dalam.
"Apa maksudmu? Tidak ada jam tangan di dalam sana."
"Oh, mungkin aku salah lihat di dokumen pelengkap. Tapi kok aneh ya, kunci ini kok seperti kunci brankas lama kita di Surabaya?" Nadira berbohong sambil menunjuk ke arah tas Dinda dengan dagu.
Dinda langsung berdiri dan menghampiri tasnya. Saat tangannya menyentuh kunci itu,
Nadira melihat kesempatan. Ia menarik kaki kursi kerja Dinda sedikit ke belakang.
Dinda terhuyung sesaat, dan dalam waktu sepersekian detik, Nadira meraih kunci itu dan memasukkannya ke saku celana dalamnya. Namun, Dinda segera sadar.
"Kembalikan kunci itu!" teriaknya, suaranya memecah keheningan malam.
Pintu kamar tiba-tiba didobrak dari luar. Arga berdiri di ambang pintu dengan napas
tersengal, matanya menatap tajam ke arah Nadira.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Nadira mundur selangkah, jemarinya mengepal di dalam saku.
"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kunci ini bukan milikmu, Dinda."
"Kalian berdua mengira bisa mengkhianati aku?" Dinda mencengkeram lengan Nadira
dengan kasar. "Aku sudah menaruh salinan wasiat di dalam brankas itu. Jika kalian
membukanya dengan paksa, seluruh harta ini akan hangus!"
Arga melangkah maju, wajahnya memerah karena marah.
"Jangan pernah mengancam kami. Kunci itu sekarang di tangan Nadira. Pilihannya cuma satu, serahkan hak warismu secara sukarela, atau kami akan mempublikasikan skandalmu di media sosial."
Dinda melepaskan cengkeramannya, wajahnya memucat pucat. Ia tidak menyangka rencananya sudah terbaca.
"Kalian tidak akan berani melakukan itu. Keluarga kita akan hancur."
"Keluarga sudah hancur sejak paman meninggal," balas Nadira datar. Ia menarik kunci itu dari sakunya dan menggenggamnya erat-erat. "Besok, di depan notaris, kau akan
menandatangani surat pelepasan hak. Atau kau akan kehilangan segalanya."
Dinda terjatuh ke lantai, bahunya gemetar menahan tangis yang tertahan. Ia melihat ke
arah Arga, mencari simpati, tapi Arga hanya menatapnya dengan dingin. Pertempuran
malam ini dimenangkan oleh Nadira, namun biaya yang harus dibayar ternyata jauh lebih
mahal dari yang ia duga.
Nadira berbalik meninggalkan kamar itu, langkah kakinya mantap. Arga mengikutinya dari belakang tanpa berkata apa-apa. Malam semakin larut, namun pikiran Nadira tidak bisa beristirahat. Ia menyadari bahwa kunci di tangannya bukan hanya pembuka brankas,
melainkan pemicu kehancuran yang lebih besar.
Nadira menyandarkan sisi tubuhnya ke pagar balkon besi yang dingin, membiarkan angin
malam menabrak wajahnya dengan keras. Di bawah sana, lampu kota Jakarta yang
biasanya menyilaukan kini tampak redup dan enggan bersinar terang.
Aroma tanah basah dan sisa hujan sore baru saja menguap, bercampur dengan asap knalpot dari jalan raya yang masih padat. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di ujung jari yang mulai terasa kaku karena udara dingin yang tiba-tiba turun.
Besok pagi, saat matahari terbit, semuanya akan berubah. Ia tidak bisa lagi bersembunyi
di balik bayang-bayang nama wanita jahat yang tubuhnya sedang ia pakai sekarang.
Janji kakek untuk membagikan warisan dua ratus triliun itu akan segera ditagih, dan
saudara-saudaranya pasti sudah menyiapkan belati di balik senyuman mereka. Segala
persiapan, dari mengatur nada suara hingga melatih tatapan tajam di cermin, telah ia
lakukan dengan sisa tenaga yang tersisa.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan suara hiruk-pikuk jalanan mereda di
telinganya. Di dalam kepalanya, ia membayangkan wajah-wajah kerabatnya yang serakah, orang-orang yang akan melakukan apa saja demi mendapatkan potongan dari kue tersebut.
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apa yang bukan hak mereka,"
gumamnya pelan, suaranya serak dan parau.
Keberanian yang tadinya hanya ada di
pikiran mulai mengumpul di dadanya, mendorong rasa takut ke pinggir.
Dengan tekad yang mulai mengeras, ia memutuskan untuk melangkah maju. Ia tidak akan menoleh ke belakang, tidak akan membiarkan keraguan sedikit pun menghambat langkahnya.
Nadira membuka matanya kembali, menatap tajam ke arah cakrawala yang mulai sedikit cerah. Masa depan yang ia impikan, kebebasan dan kekayaan yang selama
ini hanya ada dalam mimpi, sudah berada di depan matanya.
Ia tahu pintu menuju masa depan itu hanya bisa dibuka oleh keberaniannya sendiri. Tanpa menunggu waktu lebih lama, ia memutar tubuhnya dan berjalan kembali memasuki kamar. yang gelap.
Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer, meninggalkan balkon yang dingin menuju meja makan di bawah sana, tempat di mana pertaruhan terbesarnya akan segera dimulai.