Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*11
"Papa gak salah. Akulah yang bersalah karena bikin papa dan mama malu dengan punya anak seperti aku. Pria yang tidak layak disebut sebagai pria. Pria yang selalu diragukan fisiknya layak di sebut pria atau sebaliknya."
"Dan sekarang, setelah aku buat papa dan mama malu dengan kondisi aku, aku malah bikin Asha malu karena kehadiran ku ke dalam kehidupannya. Kehidupan yang awalnya baik-baik saja saat tidak ada aku yang mengganggu."
"Aku merasa menyesal karena perjodohan ini, Pa. Kalau tahu jadi begini, akan lebih baik kalau aku hanya jadi penggangum rahasia saja buat selama-lamanya. Karena aku memang tidak layak untuk memiliki dia dengan semua kekurangan yang aku miliki ini."
"Irza .... "
Sang papa menatap anaknya dengan raut wajah sedih. Anaknya terlalu banyak hidup dalam duka. Dia hanya ingin membuat anaknya bahagia saja. Tapi hasilnya malah diluar dugaan.
Setelah melepas napas berat secara perlahan, papa Irza kembali bertanya pada anaknya.
"Lalu sekarang, apa yang kamu inginkan. Katakan saja, Za. Papa dan mama akan dukung setiap keputusan yang kamu ambil."
"Aku ... juga tidak tahu, Pah. Aku bingung harus apa."
"Pikirkanlah secara perlahan apa yang kamu inginkan, Irza. Katakan pada papa setelah keputusan kamu ambil. Apapun itu keputusannya, papa akan ikut keputusan itu. Papa akan dukung."
"Ya sudah kalo gitu, kamu istirahat saja sekarang. Papa keluar dulu."
"Iya."
Keputusan? Irza memikirkan dengan cermat apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mulai dari rasa bersalah yang muncul di hati, hingga beban berat yang saat ini sedang Asha tanggung. Irza tidak ingin menyakiti Asha. Dia mencintai gadisnya dengan sangat tulus. Tidak bisa memiliki, melihat Asha bahagia saja sudah cukup. Karena ia sadar, lebih sadar lagi sekarang bahwa, dia tidak layak untuk Asha. Sangat-sangat tidak layak.
"Dia tidak akan bahagia saat bersama dengan ku. Karena aku ini bukan pria yang ia harapkan. Jauh dari kata sempurna, punya banyak kekurangan, tak layak dibandingkan dengan pria pada umumnya. Aku ... berbeda."
"Sha. Maaf, baru dekat kamu sebentar saja kamu sudah punya masalah besar. Kalau kita menikah dan hidup bersama nanti, mungkin kamu akan hidup dalam masalah saja setiap harinya."
Menimbang lagi dan lagi. Akhirnya, satu keputusan Irza buat. Keputusan untuk melepaskan. Tidak ingin mengikat jika hanya membuat orang yang ia cintai terluka hatinya.
"Kalau begitu baiklah, akan aku lepaskan saja. Meskipun aku sangat ingin hidup bersama dengan mu, tapi kebahagiaan kamu adalah hal yang paling utama bagi aku. Maka aku akan lepaskan kamu, Sha. Karena dengan begitu, kamu akan bahagia."
Irza meraih ponsel yang ada di atas nakas.
Kali ini, pria itu tidak hanya menatap layar yang ada nomor kontak Asha saja. Jarinya menulis pesan singkat dengan cepat.
*Asha, ini aku, Irza. Sebelumnya, aku minta maaf karena sudah bikin hidupmu ada dalam masalah karena aku. Untuk meluruskan masalah kita, bisakah aku bicara empat mata dengan mu di tempat yang nyaman?*
Pesan itu terkirim dengan baik. Namun, untuk mendapatkan jawaban, Irza harus menunggu berjam-jam lamanya. Bayangkan saja, pesan itu dia kirimkan jam empat sore. Di baca oleh Asha jam enam magrib.
Sebenarnya, bukan karena Asha sengaja mengabaikan pesan yang Irza kirimkan. Hanya saja, ponsel Asha saat itu memang kehabisan baterai.
Asha tidak langsung pulang ke rumah setelah dari kampus. Bersama dengan dua temannya, gadis itu malah bermain ke pusat Permainan. Ini ide dari Cindi untuk menghibur Asha yang sedang terluka hatinya.
Saat membaca pesan tersebut, Sha tidak langsung membalasnya. Asha membaca pesan tersebut berulang kali sebelum membalas. Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya dia setuju untuk bicara dengan Irza. Sama seperti yang Irza minta.
*Baiklah. Kita bicara. Kamu yang tentukan tempatnya. Aku ikut saja.*
Untuk balasan pesan, Irza mengirimnya dengan cepat. *Bagaimana kalau aku datang bertamu ke rumah mu malam ini, Sha?"
"Hah? Bertamu? Punya nyali yang besar juga ini manusia satu." Asha berucap dengan nada cukup keras.
Sampai-sampai, mamanya yang ada di luar merasa terganggu. "Apa-apaan sih, Sha? Maghrib ini. Kok malah teriak-teriak."
"Maaf, Ma. Gak sengaja."
"Hem .... "
*Baik. Kamu boleh datang jika mau.*
*Terima kasih, Sha. Aku akan datang buat meluruskan masalah kita.*
Kali ini, pesan singkat yang terakhir tidak Asha balas. Dia hanya membaca pesan tersebut saja dengan hati yang cukup kesal.
"Meluruskan? Apa yang bisa kamu luruskan, Irza? Semuanya sudah kacau bak benang kusut. Mana bisa diatur seperti semula."
Selesai sholat maghrib, Asha keluar dari kamar. Matanya sedikit menyipit saat melihat kedua orang tuanya sudah siap dengan pakaian formal mereka.
"Ma ... pah .... Kalian ... mau ke mana?"
"Acara makan malam klien. Kamu lupa?"
"Ha? Iya ... iya, lupa."
Benar, dia lupa dengan rencana keluar orang tuanya malam ini. Kalau dia ingat, mana mungkin dia izinkan Irza datang untuk bertamu.
"Sha .... "
"Iy-- iya, Pa."
"Kamu ... masih gak mau terima pernikahan dengan Irza?"
Pertanyaan yang tidak ingin ia dengar, tapi tetap saja berkeliaran di telinganya hampir setiap saat. "Itu ... harus bagaimana lagi, Pa. Bukankah keluarga Rahardi yang minta?"
"Kamu gak benci Irza, bukan Ashanti?"
"Kenapa papa tanya begitu?"
"Papa hanya bertanya saja. Karena papa gak ingin kamu benci dia. Karena dia adalah anak yang baik. Tutur bahasanya sangat sopan dan penuh kehati-hatian. Meskipun dia agak berbeda dari pria pada umumnya, tapi papa yakin, jika kamu menikah dengannya, kamu akan bahagia, Sha."
Asha hanya diam saja. Ucapan papanya membuat benaknya bekerja keras. Bahagia? Entah melihat dari sudut pandang yang mana papanya hingga bisa bicara seperti barusan. Asha juga sangat bingung akan ucapan itu. Tapi, dari manik mata milik si papa iya melihat banyak keyakinan dan harapan untuk anaknya. Hal yang sama sekali tidak bisa Sha abaikan.
"Sha .... "
"Papa tenang saja, aku akan berusaha untuk tidak benci dia. Yakinlah, aku gak akan kecewakan mama dan papa," ucap Asha pada akhirnya.
Papa Asha langsung tersenyum kecil. Anggukan pelan pria itu berikan. "Terima kasih, Sha. Dan, maaf juga. Papa sudah berusaha memberikan yang terbaik buat kamu. Meskipun terkadang, yang terbaik itu selalu datangnya belakangan dan agak tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Sekali lagi, maafkan papa, Sha."
"Tidak perlu minta maaf, Pa. Semuanya-- "
"Ayo! Mama sudah siap," ucap mama Asha yang baru keluar dari kamar.
Seketika, obrolan papa dan anak langsung berakhir. Kedua orang tua Asha pun beranjak meninggalkan rumah. Sha mengantar kepergian mereka di depan pintu.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi