seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengorbanan
Angin malam menusuk tulang. Hana terus berlari menembus hutan perbatasan sambil menggendong Bima di punggungnya.
Bima memeluk erat leher putrinya. Tubuhnya yang kurus terasa ringan. “Hana... letakkan Ayah... Ayah bisa jalan sendiri...”
“Tidak, Ayah,” jawab Hana tanpa menoleh. Napasnya stabil. “Ayah sudah cukup menderita. Sekarang giliran Hana yang menggendong Ayah.”
Di belakang mereka, kelima pengawal berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Wajah mereka pucat.
Leo berbisik ke Jay. “Jay... kau lihat tadi? Satu bola hitam... ribuan prajurit lenyap.”
Jay menelan ludah. “Aku... aku pikir Nona kita hanya gadis biasa. Ternyata dia iblis. Tapi iblis yang melindungi kita.”
Logan mengepalkan tangan. “Mulai sekarang, nyawaku untuk Nona. Titik.”
Jek mengangguk. “Aku merinding dari tadi.
dan Punggung kecil itu... membawa lebih dari sekadar satu orang. Dia membawa harapan kita semua.”
Mereka menatap punggung Hana dengan kagum sekaligus takut. Gadis 18 tahun yang beberapa hari lalu mereka remehkan , sekarang jadi gunung yang tidak bisa mereka taklukkan.
---
Istana Kaisar – Tengah Malam
Brakkkk!!
Pintu kamar tidur kaisar dibanting terbuka. Kasim masuk dengan napas terengah. Wajahnya panik. Keringat bercucuran.
Kaisar yang sedang tidur langsung bangun. Wajahnya murka. “Kurang ajar! Siapa yang mengizinkan kau masuk tanpa izin, Kasim!”
Kasim langsung berlutut. Kepalanya membentur lantai. “Ampun Baginda... hamba lancang... tapi ini gawat! Perbatasan utara diserang!”
Kaisar terdiam. Lalu ia bangkit. Jubah tidurnya tersingkap. “Apa katamu?”
“Perang, Baginda! Seorang wanita misterius memimpin 5 orang menyerang pos penjagaan. Bola aneh dilemparnya. Ribuan prajurit tewas seketika! Tahanan kabur semua! Termasuk tahanan berat bernama Bima!” lapor Kasim dengan suara bergetar.
Duarrrr.
Kaisar meninju meja giok di sampingnya. Meja itu retak jadi dua. “Berani sekali! Siapa wanita itu! Beraninya menyerang perbatasan kerajaan!”
“Belum diketahui, Baginda. Tapi saksi terakhir bilang... wanita itu menyebut nama ‘Ayah’ sebelum membunuh kepala penjaga.”
Kaisar menyipitkan mata. “Panggil semua pejabat! Sekarang juga! Menteri perang, jenderal, dan perdana menteri! Aku mau mereka di aula utama dalam waktu setengah kete!”
“Baik, Baginda!” Kasim buru-buru keluar sambil tersandung jubahnya sendiri.
Lonceng istana berdentang. Tengah malam yang sunyi berubah jadi chaos. Obor menyala di setiap sudut. Para pejabat berlari dengan pakaian setengah rapi.
---
Kediaman Perdana Menteri – Ruang Utama
Kakek Hana baru saja mau tidur ketika pelayan masuk tergopoh-gopoh.
“Tuan besar! orang Dari istana datang ! Kaisar memanggil semua pejabat! Katanya perbatasan diserang dan tahanan kabur!”beritahu pelayan itu setengah berteriak.
Gelas teh di tangan kakeknya jatuh.
Prangggg.
“Apa? Perbatasan? Tahanan kabur?” Kakeknya berdiri. Lututnya gemetar. “Siapa tahanan yang kabur?”
“Namanya Bima, Tuan. Tahanan yang dituduh mencuri obat Ibu Suri 18 tahun lalu.dan masih banyak tahanan yang melarikan diri meninggalkan perbatasan " beritahu nya lagi.
Nenek Hana yang mendengar dari dalam kamar langsung keluar. Wajahnya pucat. “Bima? Mantan menantu kita? Bukankah dia sudah lama mati di perbatasan!”tanya nenek Hana dengan wajah bingung.
Kakeknya membanting tongkat. “Diam kau! Aku juga dengar begitu! Tapi kalau dia kabur sekarang... berarti selama ini dia masih hidup!”bentak nya,dia penasaran kenapa bisa perbatasan seketat itu bisa di serang dan banyak tahanan yang kabur.
Luna yang ikut terbangun langsung mencibir. “kakek ayah Hana tidak mungkin masih hidup ,paling hanya fitnah.agar kediaman perdana menteri terkena masalah " ucap Luna dengan nada dingin.
mendengar itu kakeknya langsung terdiam. Matanya menyipit. “kamu benar,,pasti ada yang ingin menjebak keluarga ku,,ini semua karna bima sialan itu, seharunya putriku tidak menikah dengan nya !kalian masuklah kedalam kamar,aku akan pergi memasuki istana " ucap kakek Hana menatap kedua wanita itu.
sedangkan Nenek Hana , tiba-tiba terbelalak. “Jangan-jangan... jangan-jangan anak sialan itu yang... tidak mungkin! Dia hanya anak lemah!”gumam nya dengan menggeleng.yang masih di dengar oleh pria yang duduk di belakang nya.
dia adalah Jensen yang duduk di sudut hanya diam. Tapi dalam hati ia bergumam. “Tidak ada yang namanya ‘tidak mungkin’ lagi setelah melihat Hana malam tadi, kalian begitu kejam padanya,aku sangat yakin dia tidak akan tinggal diam...”batin Jensen,,kini dia telah menikah dengan Luna dan tinggal di kediaman perdana menteri.
Luna? dia kembali masuk kedalam kamar dan tidur nyenyak,dia tidak perduli apapun selain kenyamanan dan kemewahan.
---
Kediaman Bupati – Kamar Ajeng
Ajeng terbangun karena suara gaduh dari luar. Pelayan masuk sambil gemetar.
“Nyonya... orang dari istana tiba-tiba datang dan meninggalkan pesan untuk tuan dan nyonya. Katanya tahanan bernama Bima kabur dari perbatasan. Dan yang menyerangnya adalah wanita misterius...”
Nama itu seperti petir menyambar Ajeng. Ia jatuh terduduk di tepi ranjang.
“Bima... suamiku... dia masih hidup?” Air matanya jatuh. Tapi bukan air mata bahagia. Air mata ketakutan.
Marko masuk dan memeluk istrinya. “Ajeng, tenang. Itu pasti salah orang. Bima sudah 18 tahun di sana. Dia tidak mungkin selamat.”
Ajeng menggeleng histeris. “Tidak! Aku kenal dia, Marko! Dia keras kepala! Kalau dia masih hidup... dia pasti datang mencariku! Dia pasti tahu aku yang memfitnahnya!”
Ia menggenggam dada. Napasnya tersengal. “Dan wanita misterius itu... bagaimana jika itu Hana? Anakku? Anak yang kubuang!”
Marko menatap istrinya tajam. “Hana? Anak yang kau buang di depan gerbang perdana menteri? Tidak mungkin dia sebesar itu dalam semalam!”
Ajeng memukul dadanya sendiri. “Aku tidak tahu, Marko! Tapi hatiku tidak tenang! Selama ini aku hidup enak... sementara dia menderita di perbatasan! Bagaimana jika dia tahu semua kebusukanku!”
Tangis Ajeng pecah. Rumah bupati yang megah mendadak terasa seperti penjara.
---
Di Tengah Hutan – Menuju Sanata
Hana berhenti sejenak. Ia menurunkan Bima di bawah pohon besar. Memberinya air dari kantung kulit.
Bima minum dengan rakus. Lalu ia menatap wajah putrinya yang berlumur darah musuh.
“Hana... kau... kau membunuh mereka semua demi Ayah?”
Hana mengusap darah di pipi ayahnya. “Ayah, mereka menyiksa Ayah 18 tahun. Satu nyawa mereka tidak cukup untuk membayarnya.”
Bima memeluk putrinya erat. Bahunya bergetar. “Ayah salah... Ayah meninggalkanmu... Ayah percaya fitnah istriku sendiri...”
Hana menepuk punggung ayahnya. “Sudah, Ayah. Yang penting sekarang kita pulang. Ke rumah baru Hana. Di sana tidak ada yang bisa menyakiti kita lagi.”
Dari kejauhan terdengar suara terompet pasukan.
Drappppppp!
Bala bantuan kaisar sudah mengejar.
Hana berdiri. Matanya menatap ke arah suara itu. Senyum dingin muncul lagi.
“Sistem, cek status kekuatanku.”
[Sistem Jahat: Kekuatan naik 300% setelah membunuh ribuan musuh. Misi penyelamatan ayah 80% selesai.]
Hana menggendong Bima lagi. “Ayo, Ayah. Pertunjukan belum selesai.”
sedangkan Di belakangnya, para pengawal siap mati bersamanya.
---