Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang yang Seharusnya Menjadi Pemakaman
Hari kedua sebelum eksekusi dimulai dengan kabar buruk dan kabar lebih buruk.
Kabar buruk: kesaksian Celia belum cukup untuk membebaskanku.
Kabar lebih buruk: Dewan Bangsawan tetap bersikeras sidang terakhir harus dilaksanakan malam ini.
Alasan resminya, "demi menjaga stabilitas kerajaan".
Terjemahan jujurnya, "kami sudah terlanjur menyiapkan panggung eksekusi dan malu kalau harus membatalkan."
Mira datang pagi-pagi ke selku membawa gaun hitam.
Aku menatap gaun itu. "Kenapa hitam?"
"Agar Nona terlihat anggun kalau menang, dan terlihat dramatis kalau kalah."
"Kalah berarti mati, Mira."
"Karena itu harus dramatis, Nona."
Aku tidak tahu harus memuji atau memecatnya.
Gaun hitam itu sebenarnya indah. Potongannya elegan, bagian bahunya dihias renda, pinggangnya diberi pita merah gelap. Mira menyisir rambutku dan memasang hiasan kecil berbentuk mawar hitam.
"Nona tampak seperti penjahat yang akan menghancurkan semua orang," katanya bangga.
"Itu pujian terbaik yang kamu berikan sejauh ini."
"Hamba belajar dari Duke North."
"Jangan terlalu banyak belajar dari pria itu. Nanti kamu mulai membawa teh ke medan perang."
Mira tampak mempertimbangkan. "Itu terdengar praktis."
Aku menyerah.
Sebelum sidang, Cassian datang. Tanpa cangkir teh kali ini. Itu membuatku curiga.
"Anda tidak membawa teh?" tanyaku.
"Ini situasi serius."
Aku menatapnya heran. "Akhirnya Anda sadar."
Dia mengeluarkan botol kecil dari mantelnya. "Saya membawa sampel racun."
"Saya lebih suka teh."
Cassian menjelaskan bahwa racun yang ditemukan bukan racun mematikan dosis tinggi. Racun itu lebih tepat disebut racun pelemah. Jika diberikan dalam jumlah kecil, korbannya pingsan, sesak, dan tampak seperti hampir mati. Jika dikombinasikan dengan aroma tertentu, gejalanya bisa tampak lebih dramatis.
"Aroma lili," kataku.
Cassian mengangguk.
"Jadi Seraphina tidak benar-benar hampir mati?"
"Dia bisa saja terluka ringan, tapi gejalanya dibuat terlihat lebih parah."
Aku tertawa hambar. "Tentu. Bahkan keracunannya punya tata panggung."
"Ada lagi." Cassian memberiku salinan laporan tabib kedua. "Tabib pertama yang memeriksa Saintess adalah tabib pribadi gereja. Tabib kerajaan baru datang setelah gejalanya mereda."
"Jadi diagnosis pertama bisa dikendalikan pihak Saintess."
"Kemungkinan."
Aku menggenggam laporan itu. "Apakah ini cukup?"
"Untuk meragukan tuduhan. Belum untuk membuktikan dalang."
"Blackwell?"
"Terlibat. Tapi saya ragu dia bekerja sendiri."
Aku tahu siapa yang dia maksud.
Seraphina.
Tapi menuduh Saintess tanpa bukti kuat sama saja meminta publik melempar batu. Gadis itu dicintai rakyat. Aku dicintai... mungkin oleh Mira. Kadang.
Sidang dilaksanakan di aula besar istana. Tempat itu dipenuhi bangsawan, pejabat, perwakilan gereja, dan orang-orang yang datang dengan wajah prihatin tetapi mata berbinar seperti menonton pertunjukan mahal.
Di ujung aula, kursi hakim dewan berdiri tinggi. Lucien duduk di sisi kanan sebagai perwakilan kerajaan. Seraphina duduk di sisi kiri dengan selimut tipis, wajah pucat cantik, dan aura "korban suci" yang nyaris menyilaukan.
Aku berdiri di tengah aula.
Tersangka. Villainess. Calon mayat.
Mira berdiri di belakang pengawal, menggenggam saputangan sampai kusut. Cassian berdiri di sisi saksi, tenang seperti biasa. Marquess Arvella hadir, wajahnya tanpa ekspresi. Lord Blackwell duduk tidak jauh, tampak jauh lebih hati-hati dibanding kemarin.
Ketua dewan membuka sidang. Ia membacakan tuduhan dengan suara berat: percobaan pembunuhan terhadap Saintess, ancaman terhadap kestabilan kerajaan, penyalahgunaan status bangsawan.
Aku menunggu sampai selesai.
"Lady Evangeline Arvella," kata ketua dewan. "Apakah Anda mengakui kesalahan?"
Semua orang menunggu.
Dalam novel, Evangeline asli berteriak histeris di titik ini. Ia menuduh Seraphina mencuri Lucien, menangis, lalu mengatakan kalimat bodoh yang membuat semua orang semakin yakin ia bersalah.
Aku menarik napas.
"Tidak," kataku jelas. "Saya tidak mengakui kesalahan yang tidak saya lakukan."
Bisikan langsung pecah.
Ketua dewan mengetuk palu. "Anda memiliki pembelaan?"
"Ya. Saya memiliki bukti bahwa kasus ini direkayasa."
Aula menjadi riuh.
Seraphina menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Lady Evangeline, mengapa kau terus menyakiti semua orang? Aku sudah memaafkanmu."
Aku menatapnya. "Saintess, saya menghargai niat Anda. Tapi maaf Anda tidak bisa saya gunakan sebagai pengganti kebenaran."
Beberapa bangsawan terkesiap. Mira tampak seperti ingin bersorak tapi takut dikeluarkan dari ruangan.
Aku mulai dari surat palsu. Lucien, dengan wajah kaku, mengakui bahwa beberapa surat ancaman yang dijadikan dasar kecurigaannya memiliki perbedaan tulisan dari surat Evangeline asli. Petugas arsip membenarkan adanya perbedaan kurir.
Kemudian Cassian menunjukkan kain lap berbau lili dengan jejak racun. Ia menjelaskan bahwa kain itu sempat hilang dari ruang bukti dan ditemukan tersembunyi di kapel.
Lalu Celia dipanggil.
Gadis itu berjalan gemetar. Seraphina menatapnya lembut, terlalu lembut. Celia hampir kehilangan suara, tapi Lucien berkata, "Kau berada di bawah perlindungan kerajaan. Bicaralah."
Celia menangis dan mengakui bahwa ia diminta mengganti kain di meja Evangeline setelah pesta mulai berlangsung. Ia tidak tahu kain itu mengandung jejak racun. Orang yang memerintahnya berjubah gelap dan memakai cincin berlambang gagak.
Ketua dewan menoleh pada Lord Blackwell. "Lord Blackwell, apakah Anda memiliki cincin dengan lambang tersebut?"
Blackwell berdiri dengan tenang. "Banyak keluarga lama menggunakan lambang burung. Tuduhan ini lemah."
Aku tersenyum. "Benar. Karena itu saya membawa hal yang lebih kuat."
Mira maju dengan gemetar, membawa buku catatannya seperti kitab suci kecil. Di dalamnya ada salinan daftar tamu, posisi meja, dan catatan kain lili. Cassian menyerahkan serpihan sarung tangan dengan jahitan perak.
"Serpihan ini ditemukan di pintu samping ruang pesta," kataku. "Jahitan perak itu sama dengan sarung tangan kepala pelayan Saintess."
Semua mata mengarah pada Celia, lalu pada pelayan Seraphina.
Seraphina tampak terluka. "Apakah kau menuduh pelayanku? Mereka hanya gadis-gadis lemah."
Aku menatapnya. "Gadis lemah juga bisa dipaksa. Pertanyaannya, oleh siapa?"
Ketua dewan memanggil Anna, yang dibawa masuk dengan kursi roda. Wajahnya pucat, tetapi ia sadar.
Saat melihatku, ia mulai menangis.
"Lady Evangeline... maafkan saya..."
Aula hening.
Aku mendekat, tetapi pengawal menahan. "Anna, siapa yang menyuruhmu?"
Anna gemetar. "Saya tidak tahu namanya. Dia selalu memakai jubah. Tapi dia berkata... jika saya gagal, Saintess akan tetap menangis, dan Lady Evangeline akan tetap mati."
Seraphina memucat.
Lucien menatap Seraphina.
Untuk pertama kalinya, senyum Saintess hilang sepenuhnya.
Lord Blackwell tiba-tiba berdiri. "Kesaksian pelayan yang hampir mati karena racun tidak dapat dipercaya! Ini semua permainan Duke North dan Lady Evangeline!"
"Kalau begitu," kata Cassian dingin, "mengapa racun yang sama ditemukan di ruang pribadi Anda?"
Aula meledak oleh bisikan.
Blackwell membeku. "Itu fitnah."
Cassian mengangkat dokumen penyitaan. "Pengawal kerajaan memeriksa kediaman Anda pagi ini atas izin Putra Mahkota. Mereka menemukan bubuk racun sejenis, surat palsu dengan latihan tulisan Lady Evangeline, dan cincin berlambang gagak mahkota patah."
Aku menoleh ke Lucien. Jadi itu yang ia lakukan sejak pagi.
Lucien berdiri. "Saya memberikan izin pemeriksaan setelah menerima bukti awal."
Blackwell mundur satu langkah.
Seraphina menutup mulut. "Lord Blackwell... mengapa Anda melakukan ini?"
Suara itu sempurna. Terkejut. Sedih. Tidak percaya.
Terlalu sempurna.
Blackwell menatap Seraphina. Ada kilatan marah di matanya. Bukan pada kami. Pada dia.
Aku melihatnya.
Cassian melihatnya.
Lucien pun melihatnya.
Blackwell tiba-tiba tertawa. "Kalian pikir ini selesai? Kalian semua bodoh. Gadis itu hanya pion yang mudah digerakkan. Yang seharusnya mati adalah--"
Sebelum ia menyelesaikan kalimat, lampu aula padam.
Jeritan memenuhi ruangan.
Sesuatu melesat ke arahku.
Cassian bergerak lebih dulu. Ia menarikku ke samping. Sebuah belati kecil menancap di lantai tempat aku berdiri tadi.
Mira berteriak dari belakang, "Nona! Bahkan sidang pun mencoba membunuh Anda!"
Lampu menyala kembali beberapa detik kemudian.
Lord Blackwell tergeletak di lantai, tidak sadar. Di lehernya ada jarum kecil.
Seraphina menangis di kursinya.
Lucien memerintahkan pengawal menutup aula.
Aku menatap belati di lantai.
Sidang yang seharusnya menjadi pemakamanku berubah menjadi panggung pembunuhan kedua.
Dan satu hal menjadi jelas.
Dalang sebenarnya belum tertangkap.
Dia masih ada di ruangan ini.