NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:124.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

***

Beberapa hari telah berlalu sejak momen manis di balkon mansion. Pagi itu, Mansion Hadiwinata kembali diselimuti aroma bumbu dapur yang menggoda. Nadia, meski perutnya kian terasa berat dan sering kali membuatnya harus berhenti sejenak untuk mengatur napas, tampak begitu bersemangat di dapur. Entah karena pengaruh hormon atau memang naluri barunya, ia sangat suka bereksperimen dengan masakan akhir-akhir ini.

"Bi, tolong potongkan daun bawangnya ya," ucap Nadia sambil mengaduk tumisan daging sapi lada hitam yang aromanya memenuhi ruangan.

"Ibu, apa tidak capek berdiri terus? Ini sudah hampir satu jam lho," Bi Sum mengingatkan dengan nada cemas.

Nadia tersenyum, menyeka keringat tipis di pelipisnya. "Sedikit pegal sih, Bi. Tapi rasanya puas kalau bisa masak sendiri. Apalagi Mas Radit kemarin bilang kangen masakan rumah."

Tiba-tiba, sebuah tendangan kuat dari dalam perutnya membuat Nadia tersentak dan reflek memegangi pinggangnya. "Aduh... Sayang, sabar ya. Mama lagi masak buat Papa."

"Ibu tidak apa-apa?" Bi Sum sigap memegangi lengan Nadia.

"Nggak apa-apa, Bi. Bayinya semangat banget hari ini," Nadia terkekeh, lalu mengambil sendok kecil. "Bi, coba cicipin ini. Sudah pas belum rasanya?"

Bi Sum mencicipi sesendok kecil saus lada hitam buatan Nadia. Matanya berbinar. "Wah, enak sekali, Bu! Rasa lada hitamnya pas, dagingnya juga empuk. Ibu memang tidak pernah gagal kalau sudah di dapur."

Mendengar pujian itu, sebuah ide muncul di kepala Nadia. Ia melirik jam dinding pukul sebelas lewat sedikit. Raditya pasti sedang sibuk-sibuknya menjelang jam makan siang.

"Bi, tolong bungkuskan makanan ini di kotak makan siang yang paling bagus ya. Aku mau antar ini ke kantor Mas Radit. Sekalian kasih kejutan," ujar Nadia penuh semangat.

"Tapi Bu, bapak kan bilang Ibu harus banyak istirahat?"

"Aku sudah istirahat cukup semalam, Bi. Lagipula aku naik mobil, nggak jalan kaki ke sana. Tolong minta supir siapkan mobil di depan ya. Aku mau ganti baju sebentar."

**

Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di lobi utama Hadiwinata Group. Nadia turun dengan anggun, mengenakan maternity dress berbahan rayon premium berwarna dusty rose yang menjuntai selutut. Rambutnya ditata simple ponytail, memperlihatkan wajahnya yang kini tampak lebih segar dan berseri.

"Selamat siang, Nyonya Hadiwinata," sapa resepsionis dengan hormat, yang langsung dibalas Nadia dengan senyum ramah.

Setiap mata memandang dengan penuh kekaguman sekaligus segan. Mereka semua tahu, wanita yang sedang hamil besar ini bukan hanya sekadar istri pajangan, tapi Pawang dari bos mereka yang berdarah dingin.

Nadia berjalan menuju deretan lift. Lift khusus CEO sedang dalam perbaikan rutin, jadi ia memutuskan untuk naik lift karyawan. Saat ia masuk, lift itu awalnya kosong, namun di lantai berikutnya, beberapa karyawan masuk.

Nadia berdiri di pojokan belakang, satu tangannya memeluk kotak makan siang yang dibungkus kain motif bunga, sementara tangan satunya lagi menopang perut buncitnya. Di depannya, berdiri sekelompok staf wanita muda. Salah satunya tampak mencolok dengan riasan tebal, rok span yang sangat ketat, dan blus yang kancing atasnya sengaja dibuka satu namanya Cika, staf dari divisi pemasaran.

"Duh, tadi Pak Radit di ruang meeting nyeremin banget ya? Matanya itu lho, kayak mau nelan orang hidup-hidup," ucap salah satu rekan Cika sambil bergidik.

Cika justru tertawa kecil, sambil merapikan rambutnya di cermin lift. "Tapi menurutku tadi dia seksi banget. Cowok kalau lagi marah-marah berwibawa gitu malah bikin penasaran, tahu nggak?"

"Hust! Hati-hati kalau ngomong, Cik. Pak Radit itu sudah punya istri, dan istrinya lagi hamil besar," tegur temannya yang lain.

Cika mencibir, memutar bola matanya malas. "Memangnya kenapa kalau sudah punya istri? Istrinya kan lagi hamil besar, pasti Pak Radit puasa lama kan? Pria sesukses dan semacho dia pasti haus akan kasih sayang dan... kepuasan lain. Tunggu saja, cepat atau lambat, aku pastikan aku bisa tertidur di atas atau di bawahnya Pak Radit."

Suasana di lift mendadak hening.

Teman-teman Cika tampak pucat, mereka berusaha memberi kode pada Cika untuk diam, karena mereka menyadari ada sosok wanita hamil di belakang mereka yang auranya mendadak berubah menjadi sangat dingin.

"Eh, Cik... mending diam deh. Kariermu bisa tamat kalau ada yang dengar," bisik temannya ketakutan.

"Halah! Bilang saja kalian iri karena kalian nggak punya nyali buat deketin Pak Radit," balas Cika dengan percaya diri yang meluap-luar. "Istrinya itu paling cuma bisa dasteran di rumah, bau bawang, dan badannya bengkak. Pria mana yang betah?"

Nadia, sang jiwa Aurelie yang aslinya adalah petarung intelijen, merasa darahnya mendidih. Amarahnya bukan lagi sekadar cemburu, tapi penghinaan terhadap martabatnya sebagai seorang istri dan calon ibu.

Ia melangkah maju satu langkah. Suara sepatunya yang rendah berdentum di lantai lift, menarik perhatian semua orang di sana.

"Oh, jadi kamu yang namanya Cika?" suara Nadia terdengar sangat tenang, namun memiliki nada rendah yang mengancam persis seperti cara Raditya bicara saat sedang murka.

Cika tersentak dan berbalik. Wajahnya seketika memucat saat melihat Nadia berdiri tepat di hadapannya. Meskipun Nadia sedang hamil besar, tinggi badannya dan tatapan matanya yang tajam seperti elang membuat Cika merasa kerdil seketika.

"N-nyonya... Nyonya Hadiwinata..." gagap Cika.

Nadia menatap Cika dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menghina. Ia mendekat, membuat Cika terdesak ke dinding lift.

"Tadi kamu bilang apa? Mau tidur di atas atau di bawah suami saya?" Nadia bertanya sambil tersenyum miring sebuah senyuman yang terlihat begitu cantik sekaligus mematikan.

"Wah, cita-citamu tinggi sekali ya untuk ukuran karyawan yang bahkan cara pakai kancing bajunya saja belum benar."

"M-maaf Nyonya, saya tadi hanya bercanda—"

"Bercanda?" Nadia memotong kalimat itu dengan telak. Ia meletakkan tangan yang bebas di dinding lift, tepat di samping kepala Cika. "Dengar ya, Nona Cika yang merasa paling seksi. Kamu bilang saya bau bawang dan dasteran? Bawang yang saya pegang harganya lebih mahal dari gajimu setahun. Dan daster yang saya pakai? Suami saya yang membelikannya karena dia tidak sabar ingin memeluk saya di dalamnya setiap malam."

Nadia mendekatkan wajahnya ke telinga Cika, berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk semua orang di lift meremang.

"Suami saya mungkin lapar, tapi dia bukan pemakan bangkai seperti kamu. Dia hanya punya satu selera, dan itu adalah saya. Kalau kamu begitu ingin tertidur, saya bisa bantu. Tapi bukan di tempat tidur suami saya, melainkan di daftar hitam seluruh perusahaan di negeri ini. Mau coba?"

Ting!

Pintu lift terbuka tepat di lantai 60. Nadia menjauhkan tubuhnya, merapikan dress-nya yang sedikit bergeser dengan anggun. Ia menoleh ke arah teman-teman Cika yang masih mematung ketakutan.

"Kalian, tolong ajari teman kalian ini cara menjaga mulut. Karena di Hadiwinata Group, kami tidak menggaji orang untuk menjadi ulat bulu di jam kerja," ucap Nadia tegas.

Ia melangkah keluar lift dengan kepala tegak, meninggalkan Cika yang gemetar hebat dan hampir jatuh terduduk di lantai lift karena syok.

**

Nadia berjalan menuju ruangan Raditya. Penjagaan di depan pintu langsung membukakan jalan. Begitu masuk, ia melihat Raditya sedang duduk di belakang meja kerjanya, memijat pelipisnya dengan tumpukan dokumen yang menggunung.

"Sudah saya katakan, jangan diganggu sampai—" Raditya mendongak dengan nada bicara yang kaku, namun seketika membeku saat melihat siapa yang datang. "Nadia?"

Aura dingin Raditya luruh seketika. Ia berdiri dan bergegas menghampiri istrinya. "Kenapa kamu di sini? Sama siapa? Kamu naik apa?"

Nadia tidak menjawab, ia justru menghempaskan kotak makan siang itu ke meja Raditya dengan sedikit bantingan, lalu duduk di sofa sambil bersedekap, wajahnya cemberut maksimal.

Raditya bingung. Ia berlutut di depan Nadia, memegang tangannya. "Sayang, ada apa? Kenapa mukanya ditekuk begitu? Bayinya nakal lagi?"

"Bayinya nggak nakal! Yang nakal itu karyawan Mas!" sembur Nadia. "Mas tahu nggak, tadi di lift ada karyawan Mas yang bilang mau tidur sama Mas! Katanya Mas haus kasih sayang karena aku hamil!"

Rahang Raditya mengeras. Matanya berkilat marah, namun ia berusaha menenangkan istrinya. "Siapa? Biar saya pecat sekarang juga."

"Nggak perlu! Sudah aku urus sendiri!" Nadia mendengus, lalu menatap Raditya dengan mata tajam. "Mas beneran haus kasih sayang ya sampai orang-orang kantor mikir gitu?"

Raditya menghela napas, ia menarik tangan Nadia dan mengecupnya berkali-kali. "Nadia, dengerin saya. Jangankan haus, kalaupun saya kering kerontang, air yang saya mau cuma dari kamu. Saya bahkan tidak tahu siapa saja karyawan di kantor ini selain Aldi. Kamu satu-satunya wanita yang ada di otak saya, Sayang."

Nadia menatap Raditya, mencari kebohongan di mata itu, namun ia hanya menemukan ketulusan dan pengabdian. Amarahnya perlahan luruh, digantikan oleh rasa lapar yang mendadak menyerang.

"Beneran?" tanya Nadia manja.

"Beneran. Sekarang, apa yang kamu bawa itu? Baunya enak sekali," Raditya mencoba mengalihkan perhatian sambil membuka kotak makan siang.

"Tumis daging sapi lada hitam. Aku masak sendiri tadi dibantu Bi Sum," ucap Nadia, wajahnya mulai cerah kembali.

Raditya mencicipi satu suapan dan matanya berbinar. "Ini jauh lebih enak daripada makanan di restoran bintang lima manapun. Terima kasih, Sayang."

Raditya makan dengan lahap sambil duduk di lantai di depan sofa, sementara Nadia mengelus rambut suaminya. Singa betina itu baru saja memenangkan wilayahnya kembali, dan sang Naga tampak sangat bahagia menjadi tawanan dalam kasih sayang istrinya.

****

Bersambung

1
Amiera Syaqilla
hello author🙂💕
Heresnanaa_: hai kaka😚
happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Osie
nah ibu baru sosok tangguh..keren nadia kalu boleh buat nadia jago bela diri juga thor..makin seruuu
partini
Nadia Badas
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Pdhl suaminya lg anteng aja,atw mgkin nahan diri krna tkut trjdi ssuatu sm baby.....laahhh.....kucing nkalnya mlah sngja bkin sng singa bngun....
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
/CoolGuy/ Aurelia dengan beraninya
Noey Aprilia
Meleleh hti neng bangggg.....
mskpn kaku ky papan,tp trnyta d blakang rmntis bgt....bnr2 udh kna virus bucin akut....
Helen@Ellen@Len'z: sy mau juga 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nasri
lanjuutt🙏💪💪
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
Nasri
lanjut thorr penasaran nih
paijo londo
waaahhh radit benar2 plek keteplek jatuh bangun sama si bar2 ibu hamil🤣🤣🤣🤣yg lain kyaknya di mata Radit ngontrak dibulan pokoknya jauuuuhhh banget y dit
Noey Aprilia
Pdhl d luaran sna,dngin ky kulkas 6 pntu....bgtu dkt pwangnya,mesyummmm.......🤭🤭🤭
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
partini
OMG nad baby udah mau otw masih aja santuyy
Kalief Handaru
,ayo nadia-aka Aurel balas Radit biar g bisa jalan🤣🤣
Kalief Handaru
duuhhhh cucu menteri tuh🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Mski ksel,tp ttp syangy sm bayi gde....😁😁😁....
baby udh ga sbr ktmu ortu badas y....
sbr y....
Heresnanaa_: namanya jika Dady Radit kak🫣🤫
total 1 replies
Kalief Handaru
waah Radit kamu bakalan punya penyakit baru ... mumet plus darah tinggi kena mental ma istrimu yg baru tuh...raganya maksudnya 🤣🤣🤣
Kalief Handaru
aduh thor kok lucu y 👍👍mampir thor
Heresnanaa_: Hai Kaka, happy reading yaa🫶😚
total 1 replies
Ai Umana sari
seru cerita nya
Ai Umana sari
satuju, Rapat suami idaman😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!