NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Jemari di Atas Keyboard

Usapan air dingin dari keran kamar mandi perlahan menyapu sisa kantuk di wajah Doni. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin yang agak berembun, matanya sedikit menyipit karena kurang tidur, tapi dia tak punya waktu untuk bermalas-malasan. Ada kuliah pagi jam delapan yang tak bisa dia tinggalkan.

Setelah berganti dengan kaus polos yang dilapisi dengan kemeja flanel kotak-kotak andalannya, dia duduk di kursi kecil di dekat pintu kamar kosnya untuk mengikat tali sepatu. Saat itu, matanya tidak lagi tertuju pada tas olahraga Olivia, ataupun kaus Polo Papanya, melainkan laptop miliknya sendiri. Dia baru ingat kalau karyanya di NovelToon sudah lama tidak dia update. Dia pun bergegas melangkah keluar kamar kosnya agar bisa pulang kuliah lebih awal untuk melanjutkan novelnya.

Tak lama kemudian, Doni sudah berada di atas sepeda motornya, membelah kepadatan lalu lintas kota yang mulai disesaki para pekerja dan mahasiswa. Tas ranselnya terasa agak ringan pagi ini, berbanding terbalik dengan pikiran di kepalanya yang makin berat.

Suasana ruang kuliah lantai tiga gedung fakultasnya riuh oleh suara celoteh mahasiswa lain saat Doni melangkah masuk. Dia mengambil duduk di barisan tengah, tempat favoritnya agar tak terlalu mencolok tapi tetap bisa menyerap materi dosen dengan baik.

“Woy, Don! Pucat amat muka lo? Abis begadang ngerjain tugas kelompok kemarin, ya?” sapa Bayu, teman satu angkatannya yang langsung mendarat di kursi sebelahnya. Doni sedikit tersentak kaget mendengarnya, karena pikirannya sedang tidak ada di kelas.

“Ya… gitu deh. Lumayan susah tidur juga gue tadi malem”, jawab Doni menoleh sambil tersenyum tipis berusaha tampak normal.

“Halah… sok-sokan susah tidur. Palingan habis ditelpon romantis sama Marcella sampai subuh, kan?” goda Bayu tertawa seraya menyenggol bahu Doni.

“Ya… itu juga, sih”, bohong Doni sambil terkekeh pelan, membiarkan tebakan salah temannya itu menjadi alibi yang aman.

Selama dua jam kuliahnya berlangsung, Doni berusaha memfokuskan pandangannya ke slide presentasi dosen di depan kelas. Namun, fokusnya sesekali buyar. Jemarinya yang memegang pulpen sesekali mengetuk meja secara konstan. Otaknya tanpa sadar terus berputar, merekam potongan kejadian kemarin, mulai dari kepanikan di supermarket, candaan halus di balik kaus Polo, hingga kejujuran tatapan mata Olivia. Kejadian-kejadian itu terus menerus dia putar di kepalanya seraya menyusun kata demi kata untuk dia tulis di laptopnya nanti. Deretan teori akademis yang disampaikan dosen tidak dapat memasuki isi pikirannya yang penuh dengan rekaman kejadian kemarin.

Begitu bel tanda kuliah berakhir berbunyi tepat pukul sebelas siang, ekspresi riang mulai mencuat di wajah Doni, tidak seperti di saat dosen menjelaskan tadi. Doni memilih untuk tidak pergi nongkrong di kantin kampus seperti biasa.

“Ayo, Don”, ajak Bayu begitu dosen baru saja melangkah keluar kelas.

“Sori, Bay. Gue kayaknya nggak bisa ikut dulu hari ini”, pamit Doni sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Lah, tumben? Biasanya lo nggak pernah ketinggalan mie ayam di kantin”, tanya Bayu bingung.

“Iya, nih. Lagi… nggak laper aja sih. Duluan, ya! Gue mau nulis… eh, mau ngerjain sesuatu! Ada urusan bentar”, jawab Doni gelagapan lalu melesat keluar kelas.

Doni melangkah cepat menuruni tangga gedung fakultas, menuju parkiran motor. Keinginan untuk meluapkan seluruh gumpalan emosi di dadanya sudah tak bisa ditahan lagi. Dia harus segera sampai di kosan, menyalakan laptop, dan membiarkan jemarinya menari di atas keyboard.

Setibanya di kamar kosnya yang masih cukup remang, Doni membuka gorden untuk membiarkan sinar matahari siang menerobos masuk lewat jendela, dan memantulkan garis-garis cahaya di atas meja belajarnya. Dia membuka tas ranselnya lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur. Dia lalu duduk dan membuka laptopnya dengan tidak sabar. Pandangannya tertuju pada benda-benda asing di dalam kamarnya.

Di sudut dekat lemari, tersandar tas olahraga milik Olivia. Sementara di atas meja di samping kasur, tergeletak kaus Polo berkerah milik Papa Marcella yang sudah Doni lipat dengan sangat rapi. Ada juga tumbler biru milik Olivia yang sudah lebih lama menginvasi kamar kosnya dibandingkan kedua barang tadi.

Doni menghela napas berat. Dia menarik napas panjang, lalu mulai membuka aplikasi NovelToon di laptopnya untuk menulis. Baginya, menulis di NovelToon bukan sekedar mencari penghasilan tambahan, tapi juga wadah di mana dia bisa menumpahkan isi kepalanya yang terlampau penuh. Setelah beberapa detik dia memandangi layar putih yang kosong, akhirnya jemarinya mulai menari di atas keyboard.

Suara ketikan berirama cepat memenuhi kamar yang hening. Doni mengalirkan seluruh emosi, sesak di dada, dan sensasi mendebarkan yang dia rasakan kemarin ke dalam deretan kalimat. Dia menuliskan kisah tokoh utama pria yang terjebak dalam kebohongan manis, tentang tas rahasia yang terpaksa disembunyikan di bawah jok motor, lirikan mata yang tertangkap di kaca spion mobil, hingga getaran canggung saat berpapasan di koridor rumah. Tak lupa dia juga menambahkan kasih sayang dan perhatian tulus yang dia terima dari wanita yang sudah berstatus sebagai kekasih setianya. Doni menyamarkan beberapa detail latar, namun emosi dan percikan konfliknya sungguh murni diambil dari apa yang dia alami sendiri. Sepertinya alasan Doni menulis bertambah satu lagi, yaitu untuk menyerahkan kebimbangannya kepada pembaca yang akan menentukan arah hubungannya.

Tulisan itu mengalir begitu deras, seolah kata-kata itu memang sudah mengantre di kepalanya untuk dibebaskan. Satu jam berlalu tanpa terasa. Doni meneliti kembali bab baru sepanjang lebih dari seribu dua ratus kata itu. Tulisan itu terasa begitu bernyawa dan tajam. Tanpa ragu, Doni menekan tombol ‘Kirim Review’. Bab baru novelnya kini tinggal menunggu review dari tim editor sebelum resmi mengudara di platform NovelToon.

Doni menyandarkan punggungnya ke kursi, menghembuskan napas panjang. Ada perasaan lega yang luar biasa setelah berhasil meluapkan gejolak pikiran itu menjadi sebuah karya. Karena masih tersisa cukup banyak waktu sebelum kuliah keduanya hari ini di jam satu siang, Doni iseng scroll-scroll kolom komentar di bab-bab sebelumnya yang belum dia baca. Namun, gerakan jarinya seketika terhenti. Tatapannya tertuju pada komentar dari user ‘Matcha_Latte’. Komentar yang membuatnya mendadak paranoid waktu menonton Olivia di GOR bersama Marcella. Doni mengira user itu adalah salah satu mahasiswa di kampusnya, atau mungkin lebih buruk, bisa saja dia adalah salah satu teman Marcella. Hanya karena isi komentarnya yang bilang kalau dia seolah melihat Doni di kantin, padahal si ‘Matcha_Latte’ sendiri bilang kalau itu mungkin kebetulan saja.

Drrt… Drrt…

Ponsel Doni yang tergeletak di samping laptop tiba-tiba bergetar, membuat Doni sejenak melupakan rasa paranoid-nya yang hampir muncul. Layar ponselnya menyala, menampilkan nomor tanpa nama yang sudah sering mengiriminya pesan.

Kak Don! Gimana tas olahraga aku? Masih aman kan? Nanti sore kita ketemuan di kafe JOIN lagi ya, kayak kemarin. Aku mau ngambil tasnya. Semoga hari ini beneran keambil wkwkwk 🤸

Doni mematung menatap layar ponselnya. Tenggorokannya mendadak kering. Keinginan Doni untuk menyudahi semua rasa canggung ini justru kembali berhadapan dengan realitas. Tapi paling tidak, nanti sore adalah pertemuan mereka yang sudah kesekian kalinya. Doni cukup yakin sudah bisa menghadapi adik pacarnya itu dengan lebih santai. Apalagi, sepertinya Olivia masih lupa kalau dia pernah bilang ingin mengambil tasnya itu di kosan Doni, sekalian berkunjung. Doni memejamkan mata sejenak, lalu mengetik balasan singkat:

Oke. Jam empat ya.

1
Aisyah Utami
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!