NovelToon NovelToon
Perjodohan Masa SMA

Perjodohan Masa SMA

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / Bad Boy / Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Tunangan Sejak Bayi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Alfiyah Mubarokah

Dijodohkan? Kedengarannya kayak cerita jaman kerajaan dulu. Di tahun yang sudah berbeda ini, masih ada aja orang tua yang mikir jodoh-jodohan itu ide bagus? Bener-bener di luar nalar, apalagi buat dua orang yang bahkan gak saling kenal kayak El dan Alvyna.

Elvario Kael Reynard — cowok paling terkenal di SMA Bintara. Badboy, stylish, dan punya pesona yang bikin cewek-cewek sampai bikin fanbase gak resmi. Tapi hidupnya yang bebas dan santai itu langsung kejungkal waktu orang tuanya nge-drop bomb: dia harus menikah sama cewek pilihan mereka.

Dan cewek itu adalah Alvyna Rae Damaris — siswi cuek yang lebih suka diem di pojokan kelas sambil dengerin musik dari pada ngurusin drama sekolah. Meskipun dingin dan kelihatan jutek, bukan berarti Alvyna gak punya penggemar. Banyak juga cowok yang berani nembak dia, tapi jawabannya? Dingin banget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiyah Mubarokah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Satu Kamar

"Ini bener alamatnya?" tanya Alvyna sambil terus menatap bangunan dua lantai bergaya klasik dengan cat putih yang tampak megah di hadapannya. Matanya menyisir tiap sudut rumah yang tampak elegan dan menawan, dari jendela besar dengan tirai menjuntai hingga taman kecil yang tertata rapi di halaman depan.

"Hmm gak nyangka juga sih, ternyata Papa punya selera juga," sahut El yang berdiri di sampingnya. Tatapannya tak kalah terpukau, meski ekspresinya masih sok santai seperti biasa. Rumah yang mereka lihat ini, rumah besar dan bergaya, adalah hadiah pernikahan dari Papa El. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, El merasa Papanya membuat keputusan yang benar.

Mereka baru saja tiba di depan rumah, diantar oleh Manda dan Raditya karena mereka berangkat dari rumah Alvyna yang kebetulan hanya punya motor. Mobil El? Sedang masuk bengkel karena kampas remnya jebol beberapa hari lalu akibat aksi kebut-kebutan iseng. Dengan koper besar dan barang-barang kebutuhan awal rumah tangga, jelas motor bukan pilihan bijak.

Dari pada menumpang tinggal di rumah orang tua masing-masing yang bisa menambah tekanan dan drama, mereka sepakat untuk langsung pindah ke rumah baru. Mengingat hubungan mereka yang belum didasari cinta dan masih penuh adaptasi, tinggal terpisah dari keluarga adalah keputusan paling waras.

"Yuk masuk," gumam El sambil mengeluarkan kunci dari saku celananya. Tapi Alvyna malah melangkah duluan, menarik kopernya ke arah pintu sambil tetap mengamati rumah itu.

Ceklek

Pintu terbuka perlahan. Alvyna masuk dan berhenti tepat di kaki tangga. Ia menoleh ke belakang tangan terulur ke arah El.

"Mana kunci kamar gue? Gue mau yang atas."

El bukannya menjawab langsung, malah menatap tangan Alvyna dengan alis terangkat dan ekspresi nyaris geli. "Papa cuma kasih satu kunci kamar. Artinya kita sekamar."

"Hah?! Sekamar? Gila aja lo!" Alvyna langsung teriak dengan suara nyaring. Matanya membulat seolah-olah El baru saja mengatakan sesuatu yang paling tabu di dunia ini.

El mengangkat bahu acuh tak acuh. "Terserah lo mau tidur di mana. Gue sih santai aja," jawabnya sambil menaiki tangga dengan santai, seperti tidak ada apa-apa.

Alvyna mendengus kesal. Dengan napas dongkol, ia menyusul sambil terus menyeret kopernya yang berat. "Suami gak ada gunanya banget sih lo! Bawain koper juga gak."

El sempat menoleh, lalu berhenti menunggu Alvyna di anak tangga terakhir. Ia tersenyum menyebalkan. "Sini, sini. Kasian juga liat istri gue ngos-ngosan." Tanpa menunggu jawaban, El langsung merebut koper dari tangan Alvyna.

"Gue bilang gak us...." Alvyna belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kopernya sudah raib dari genggaman. Ia hanya bisa mendengus lagi, kali ini sambil menatap punggung El yang dengan entengnya menaikkan koper itu seolah tidak merasa berat sama sekali.

Sesampainya di kamar utama, El langsung membuka pintu dan melangkah masuk. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang besar yang empuk sambil menguap lebar dan malas.

"Akhirnya ketemu juga dengan kasur. Ngantuk banget sumpah."

Alvyna berdiri di ambang pintu dengan tangan menyilang di dada. Tatapannya tajam. "Lo tidur di situ terus gue disuruh tidur di mana coba? Masak iya kita tidur satu kasur sih?"

El berguling sedikit ke sisi kasur dan menutup matanya setengah. "Jangan berisik gue ngantuk. Atau lo mau gue ‘unboxing’ sekarang?"

Alvyna memelototinya. "Gue lempar juga lo kalo macam-macam ya!" geramnya, lalu mencubit kaki El dengan gemas tapi juga dongkol.

El tergelak geli. "Namanya juga suami. Sah-sah aja dong?"

"Lo hamili gue, gue gantung juga lo! Udah sana pindah ke sofa tidur tuh ngalah!"

"Tidur tinggal tidur. Kasur masih luas juga kenapa harus ribet banget sih?" balas El sambil menutup matanya lagi.

Alvyna makin naik pitam ia berjalan cepat menghampiri El dan menarik lengannya dengan kesal. Tapi belum sempat menarik El dari ranjang, malah tubuhnya sendiri yang tertarik dan terjatuh terlentang di kasur. Dan dalam sepersekian detik, tubuh El ikut menindihnya.

Posisi mereka sekarang sangat dekat, terlalu dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Detak jantung Alvyna otoMatis melonjak. Ia membeku, tak tau harus berkata apa. Napasnya tercekat ini bukan kali pertama mereka dekat, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

El menatapnya diam-diam. Wajahnya yang biasanya sembarangan, kini terlihat serius. Sorot matanya berubah, ada sesuatu yang belum pernah Alvyna lihat sebelumnya mungkin perasaan, mungkin ketertarikan, mungkin juga kebingungan seperti dirinya.

Wajah El semakin mendekat. Alvyna yang kewalahan dengan perasaannya sendiri, spontan memejamkan mata. Ia bisa merasakan napas El menyentuh wajahnya. Jantungnya berdegup makin kencang. Ia tak tau apakah harus mendorong El atau pasrah.

Drrtt Drrtt Drrtt

Suara ponsel El memecah keheningan momen itu. Alvyna langsung membuka matanya dengan reflek.

"Hp lo bunyi tuh minggir gih!" serunya cepat, setengah panik.

"Kalau gue gak mau?" El masih menatapnya dari jarak yang nyaris tak masuk akal.

"Yaelah angkat dulu tuh hp lo!" Alvyna menoleh ke samping, mencoba menghindari tatapan intens itu.

"Biarin." El tetap tak bergerak, ponsel di sakunya terus bergetar.

Akhirnya, dengan malas El meraih ponselnya tanpa mengubah posisi tubuh. Nama di layar membuat dahinya mengernyit. Tertera adalah Lyra.

"KAMU DI MANA AJA SIH EL?! KENAPA LAMA BANGET ANGKATNYA SIH?!" suara perempuan melengking dari seberang, terdengar jelas bahkan ke telinga Alvyna.

El menutup mata dan menghela napas. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan tanpa peringatan, menjatuhkan tubuhnya tepat di atas Alvyna lagi.

"Lo ngapain? Berat tau gak!" Alvyna mencoba mendorong tubuh El, tapi sia-sia.

"Diam Ra. Lo jangan nambah pusing gue." bisiknya pelan, hampir seperti gumaman yang ditujukan ke dirinya sendiri. Ia bahkan menaruh jari telunjuknya di depan bibir Alvyna, isyarat agar tak bersuara.

Alvyna mengerutkan kening. "Ra? Ra dari mana? Nama gue Alvyna, napa manggilnya ‘Ra’?" batinnya langsung penuh tanda tanya. Ia menatap wajah El yang tertutup lengan sendiri, napasnya terdengar berat.

Apa tadi itu panggilan kebiasaan? Atau Lyra?

Alvyna diam saja. Tubuh El tetap di atasnya, tapi tak terasa seperti godaan lagi lebih seperti seseorang yang sedang lelah secara emosional. Mungkin telpon itu menyimpan sesuatu yang belum dia tahu. Siapa Lyra? Kenapa bisa seserius itu?

Tapi dari semua keanehan hari itu, satu hal mulai terasa jelas. Meski awalnya pernikahan mereka tak berlandaskan cinta, sesuatu mulai tumbuh di antara mereka. Benih kecil itu mungkin belum mereka sadari, tapi setiap kebersamaan, pertengkaran kecil, bahkan keusilan, mulai mengisi ruang kosong di hati masing-masing.

Dan siapa tau? Mungkin lambat laun, rumah besar ini akan menjadi saksi perjalanan mereka dari keterpaksaan, menuju kenyataan yang sebenarnya yaitu jatuh cinta.

1
Selviana Witak
sumpah cerita keren banget 👍👍
xuer jinghao
semangat terus ya kak😍😍
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
🤣
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
🤭
sweet candy
sdah baca smpe sejauh ini tapi kok ga ad perkembangan,sma2 lembek sma2 bodoh,trus plin plan ga ad ketegasan sma Skali,fix berhnti lanjut baca,cari cerita lain aj
sweet candy
paling ga suka sma cewek ga bisa tegas ga sesuai sama karakter rae,sdah tau suaminya plin plang ga bisa tegas egois,masih juga di baik2n
sweet candy
gimana konsepnya mereka ini,El ga terima rae punya cowok,lah dia sndiri terang2n pacaran sama lyra
sweet candy
jadi cowok kok ga bisa tegas sma pacar,modelan bgtu masih mau2 aj,mana matre pula,sdah pemaksa,egois lagi
Melki
serunya....
Melki
lucu...
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
untung el ga jadi sm lyra bayangin aja dia dapet isteri sm mertua siluman semua 😩
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
😍
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah ini juga pertanyaan gua dr awal emang selama pacaran sama lyra kagak pernah di kenalin sm bapak tiri nya apa begimana kok ngeliata mukanya rehan dia juga ga ngenalin 🤣😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bisa bisa dia pake gue lagi ngomong sm mama nya 🤣😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
anak sekolah make tas 200 juta wkwk ga masalah sih kalo beli dr duit orangtua sendiri tp dia minta sama sesama pelajar 😅 kenape ga minta sm orangtua sendiri sih 😏
Onzha Aloych
💪🙏
Aria Ahlul Fikri
semangat thoor💪💪
Anka Arka
di novel knp klu hamil ngidam pada lebay ya
Zahra Ramadhani
seru Bangett
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
pliss jangan sampai ketahuan😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!