NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:68k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Bukan Daril

Setelah pulang dari balai desa, Vira dan Arvin berjalan berdampingan menyusuri jalan menuju rumah. Tak jauh di depan, jalan itu akan bercabang. Dari sanalah mereka akan berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan sendok pada sisi gerobak terdengar dari arah berlawanan.

Seorang pria paruh baya tampak mendorong gerobak bertuliskan Batagor.

Di daerah tempat mereka tinggal, sebuah kelurahan di pinggiran ibu kota kabupaten, pemandangan seperti itu sudah biasa. Penjual batagor, bakso, cilok, ketoprak, nasi goreng, hingga mi ayam sering berkeliling memasuki gang-gang perkampungan menjelang sore.

Mata Vira langsung berbinar. "Vin, beli batagor dulu, yuk."

Belum sempat Arvin menjawab, Vira sudah lebih dulu menarik pelan lengannya menuju gerobak.

Arvin menoleh. Ini adalah kali kedua Vira menyentuhnya. Entah mengapa, sentuhan sederhana itu selalu membuat hatinya terasa hangat.

"Mang, beli dua bungkus, ya," seru Vira.

"Siap, Neng."

Penjual batagor segera menyiapkan pesanan mereka.

Sesaat kemudian, Vira menerima dua bungkus batagor yang masih hangat.

"Kita makan di pinggir sungai sana, yuk, Vin." Nada suara Vira terdengar begitu antusias.

Arvin mengangguk. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Syukurlah," batinnya. "Hari ini senyum Vira akhirnya kembali. Sejak namanya dibersihkan di balai desa, wajahnya terlihat jauh lebih lega."

Mereka berjalan menuju tepi sungai yang tak jauh dari sana. Di bawah rindangnya sebuah pohon besar, keduanya duduk berdampingan sambil menikmati batagor.

Angin sore bertiup pelan, membuat permukaan sungai beriak kecil. Beberapa ikan kecil tampak berenang di tepian, sesekali muncul ke permukaan.

Tatapan Arvin mengikuti gerakan ikan-ikan itu.

"Kamu masih takut lihat sungai?" tanyanya pelan.

Vira mengangguk. "Sedikit," katanya, lalu kembali menggigit batagornya.

"Masih trauma karena dulu hampir tenggelam?"

"Iya." Vira tersenyum tipis. "Waktu itu... aku benar-benar hampir mati."

Nada suaranya pelan. Namun, senyum tipis yang menghiasi bibirnya justru menyimpan kepahitan. Ingatannya kembali pada peristiwa yang mengubah jalan hidupnya.

Arvin menoleh.

"Kenapa senyummu begitu?" tanyanya sambil menggigit sepotong batagor.

Vira mengalihkan pandangannya ke aliran sungai.

"Karena..." ucapnya lirih. "Peristiwa itu adalah awal mula aku mengenal Daril lebih jauh."

Arvin mengernyit. "Kenapa?"

Vira menarik napas pelan. "Kalau aku gak tenggelam hari itu, aku gak bakal ditolong Daril. Dan aku juga gak bakal melakukan apa pun buat dia hanya karena merasa berutang budi. Aku gak bakal cinta sama dia."

Seketika Arvin berhenti mengunyah batagornya. Ia menatap Vira beberapa saat, lalu tersenyum tipis.

"Daril memang nolong kamu..." katanya pelan. "Tapi meski dia gak datang, kamu juga gak bakal mati, Ra."

Vira menoleh cepat. "Kamu gak tahu, Vin." Nada suaranya meninggi. "Aku terseret arus. Aku hampir tenggelam. Kalau gak ada yang nolong, pasti aku udah mati."

"Aku tahu."

Jawaban Arvin begitu singkat. Ia kembali menggigit batagornya seolah tak mengatakan sesuatu yang aneh.

Vira semakin curiga. "Kalau tahu, kenapa kamu bilang begitu? Reaksi kamu ini..." Vira menyipitkan matanya, menatap Arvin lebih saksama. "...aneh."

Arvin menelan makanannya lebih dulu sebelum menanggapi. "Aneh apanya?"

"Kamu bilang meski Daril gak nolongin aku, aku juga gak bakal mati."

Arvin mengernyit. "Loh..." Ia menatap Vira dengan bingung. "Memangnya selama ini kamu pikir yang narik kamu dari sungai itu Daril?"

Kini giliran Vira yang mengernyit. "Bukannya memang Daril?"

Ekspresi Arvin langsung berubah. Ia tampak terdiam beberapa detik, seolah baru menyadari ada kesalahpahaman besar yang selama ini tidak pernah diluruskan.

"Jadi..." gumamnya pelan. "Selama ini kamu benar-benar percaya Daril yang nyelametin kamu?"

Vira mengangguk pelan. "Iya. Memangnya bukan?"

Arvin menggeleng. "Bukan..." Ia menarik napas pelan. "...yang narik kamu ke tepi sungai itu aku."

Vira membeku. "Apa?"

"Yang nyelam ke sungai buat nolong kamu itu aku, Ra."

Mata Vira membulat lebar.

Arvin melanjutkan dengan nada santai, seolah sedang menceritakan kejadian biasa.

"Waktu itu aku lagi mancing sama ibuku di pinggir sungai. Pas lihat kamu hanyut, aku langsung nyebur."

"Setelah berhasil bawa kamu ke tepian, ibuku malah maksa turun ke sungai buat bantu. Aku takut beliau ikut terpeleset."

Arvin terkekeh pelan mengingat kejadian itu.

"Kebetulan Daril datang. Jadi aku minta dia nganter kamu ke puskesmas, sedangkan aku tetap di sana buat jagain ibuku."

Batagor di tangan Vira perlahan turun.

Tatapannya kosong. Seolah seluruh kepingan kenangan yang selama ini ia yakini mulai runtuh satu per satu.

"Jadi..." Bibirnya bergetar. "...yang nyelametin aku bukan Daril?"

Arvin menggeleng pelan. "Yang gendong kamu ke puskesmas memang dia. Tapi yang narik kamu keluar dari sungai..."

Ia tersenyum tipis. "...itu aku."

Vira mematung. Dadanya bergemuruh.

Di kehidupan sebelumnya... Ia rela mengorbankan uang, tenaga, bahkan harga dirinya karena merasa berutang nyawa kepada Daril.

Ia bertahan menghadapi perlakuan buruk Mirna. Ia memaafkan berkali-kali kesalahan Daril.

Bahkan tak sempat mengurus dirinya sendiri karena sibuk merawat Mirna dan membantu Daril mengelola usaha kredit pakaian.

Semuanya ia lakukan karena ia percaya Daril adalah penyelamatnya. Namun sekarang...

Keyakinan yang selama ini menjadi alasan terbesar pengorbanannya ternyata hanyalah sebuah kesalahpahaman.

Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.

"Kenapa..." bisiknya lirih, pipinya mulai basah. "Kenapa baru sekarang aku tahu?"

Arvin langsung panik melihat air mata yang mengalir di pipi Vira.

"Ra... kenapa nangis?"

Vira menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba ia menggenggam kedua lengan Arvin.

"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu yang nyelametin aku, Vin?" Suaranya bergetar. "Kenapa?"

Arvin tampak canggung. "Karena... nolong orang itu memang kewajiban sesama manusia."

Ia tersenyum tipis. "Aku ikhlas. Jadi menurutku gak perlu bilang ke kamu."

Arvin menundukkan pandangannya sesaat. "Lagian kalau aku bilang, aku takut kamu salah paham." Ia mengusap tengkuknya. "Aku takut kamu mengira aku sengaja mengungkit-ungkitnya supaya dapat balasan dari kamu."

Vira terdiam. Air matanya terus mengalir. Ia tak mampu menyalahkan Arvin. Justru apa yang dilakukan pemuda itu menunjukkan ketulusan yang sesungguhnya.

Arvin menghela napas pelan. "Maaf ya, Ra. Aku benar-benar gak kepikiran kalau gara-gara itu kamu jadi salah paham dan mengira Daril yang nyelametin kamu."

Vira menggeleng pelan sambil mengusap air matanya. "Bukan salah kamu."

Ia menarik napas panjang. "Aku yang salah. Aku yang menyimpulkan semuanya sendiri."

Suasana kembali hening. Hanya gemericik suara aliran sungai yang terdengar mengisi sela-sela percakapan mereka.

Beberapa saat kemudian Arvin menatap Vira, lalu memanggilnya dengan nada hati-hati.

"Ra..."

"Hm?"

"Jangan bilang..."

 

...✨"Orang yang benar-benar menolong sering kali tidak merasa perlu diingat. Sebaliknya, orang yang haus pujian justru membiarkan dirinya dianggap pahlawan."...

..."Ketulusan tidak selalu datang dengan pengakuan. Kadang, ia memilih diam, lalu membiarkan waktu yang mengungkapkannya."...

..."Yang paling menyakitkan bukan mengetahui bahwa kita telah dibohongi, melainkan menyadari bahwa seluruh pengorbanan kita diberikan kepada orang yang salah."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!