Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
paksaan 2
Di bawah paksaan yang mencekik itu, Aleta kembali menempelkan pinggiran gelas ke bibirnya. Dengan sangat terpaksa, ia meneguk air itu beberapa kali lagi.
Tenggorokannya terasa begitu sempit, dan perutnya bergolak menolak cairan yang dipaksakan masuk. Setiap kali ia menelan, rasa mual itu semakin naik ke dada.
Sebelum air susu itu benar-benar membuatnya muntah, Aleta buru-buru menurunkan gelasnya. Dengan gerakan cepat yang didorong rasa panik, ia langsung menyimpan gelas itu di lantai di samping tubuhnya, menjauhkannya dari jangkauan Alden. Gelas itu sebenarnya masih cukup penuh, air susu di dalamnya baru berkurang sedikit dari yang tadi.
Aleta langsung memeluk lututnya kembali, menyembunyikan wajahnya di sana seolah bersiap menerima amarah Alden berikutnya. Tubuhnya gemetar hebat, mengantisipasi apa yang akan dilakukan cowok itu setelah ia berani keras kepala untuk kedua kalinya.
🌍🌍🌍
Kesabaran Alden benar-benar telah habis. Ia tidak peduli lagi dengan rasa mual atau isak tangis Aleta. Baginya, penolakan gadis itu hanyalah bentuk pembangkangan yang perlu dipatahkan dengan cara apa pun.
Dengan gerakan kilat, Alden menepis gelas itu ke lantai dan langsung mencengkeram kedua pergelangan tangan Aleta. Ia menekannya kuat-kuat ke atas, memaku tangan gadis itu di atas kepala hingga Aleta tak memiliki ruang gerak sedikit pun. Posisi itu membuat dada Aleta sepenuhnya terbuka, membuatnya merasa semakin tidak berdaya di bawah tatapan predator Alden.
"aku udah peringatan kan?" desis Alden dingin.
Satu tangannya yang bebas meraih kembali gelas susu yang tadi ditaruh Aleta. Tanpa melepaskan kuncian pada tangan Aleta, ia menyesap susu itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu kembali membungkam bibir Aleta dengan paksa.
Aleta membelalak kaget. Ia meronta sekuat tenaga, menggerakkan tubuhnya dengan liar meski kekuatannya jauh di bawah Alden. Pukulan-pukulan kecilnya di dada Alden justru terasa tak berarti. Air mata mengalir deras di pipinya lagi dan lagi, membasahi wajahnya saat ia dipaksa untuk meneguk susu dari mulut Alden.
Dominasi cowok itu begitu mutlak. Aleta merasa sesak, bukan hanya karena napasnya yang terputus, tapi karena ia tahu ia benar-benar tak punya kuasa untuk melawan kehendak iblis yang kini tengah menguasai tubuh dan jiwanya.
"Al--den... mmph.. se-sekarang... aku minum..."
Di sela-sela pagutan paksa itu, Aleta berusaha sekuat tenaga menyuarakan kepasrahannya. Ia bersumpah akan meminum seluruh isi gelas itu sendiri asalkan Alden menghentikan cara gila ini. Namun, kata-katanya tenggelam, terputus oleh dominasi Alden yang sama sekali tidak berniat mendengarkan.
Alden sudah tuli oleh egonya sendiri. Atau mungkin, alasan bahwa Aleta harus menghabiskan susunya kini hanya menjadi pembenaran semata.
Tak bisa dipungkiri, ada letup kepuasan yang egois di dalam dada Alden. Ia menyukai ini. Ia menyukai bagaimana bibir manis Aleta—meski terluka dan gemetar ketakutan—terasa begitu pas di bawah kuasanya. Rasa manis susu yang bercampur dengan kehangatan bibir gadis itu membuat akal sehat Alden perlahan memudar, digantikan oleh rasa candu yang berbahaya.
Aleta terus meronta lemah, air matanya mengalir deras membasahi pipi, merasa benar-benar hancur karena suaranya tidak lagi dihargai seinci pun. Di dalam kamar yang sepi itu, Alden terus memuaskan ego dan keinginannya, mengabaikan seluruh permohonan Aleta yang kini hanya bisa pasrah dalam cengkeraman mutlaknya
Cairan di dalam gelas itu sudah benar-benar tandas, mengalir paksa melewati tenggorokan Aleta yang terasa sesak. Namun, meski tujuannya sudah tercapai, Alden sama sekali tidak berniat melepaskan cengkramannya. Kedua tangan Aleta masih terpaku kuat di atas kepala, ditahan oleh kekuatan yang tak menyisakan celah sedikit pun untuk lolos.
Alden perlahan menjauhkan wajahnya, memutuskan pagutan sepihak yang egois itu. Benang saliva tipis terputus di antara mereka, menyisakan kilau basah di bibir Aleta yang kini tampak semakin memerah dan bengkak.
Cowok itu bergeming di posisinya, menatap lurus ke bawah, memperhatikan setiap detail rapuh dari gadis yang ada di bawah kuasanya.
Aleta bernapas terengah-engah. Dadanya naik-turun dengan cepat, berusaha meraup pasokan oksigen yang sempat direnggut paksa darinya. Wajahnya memerah padam, keringat dingin membasahi pelipis, dan air mata yang terus bergulir tanpa henti membuat penampilannya terlihat begitu kacau sekaligus berantakan. Ia tampak seperti rusa kecil yang kehabisan tenaga setelah diburu habis-habisan.
🌍🌍🌍
Alden hanya diam, mengamati pemandangan menyedihkan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Detak jantung Aleta yang berpacu liar di bawah cengkeraman tangannya justru memberikan sensasi kepuasan tersendiri bagi egonya—sebuah bukti otentik bahwa ia berhasil mendominasi dan mematahkan perlawanan gadis itu sepenuhnya..
Melihat Aleta yang sudah tidak berdaya dan terengah-engah di bawah kuasanya justru tidak membuat Alden puas. Ego dan rasa candu yang baru saja tercicipi membuat cowok itu kehilangan seperti kehilangan akal.
Tanpa memedulikan air mata atau persetujuan Aleta, Alden kembali menundukkan kepalanya, memangkas jarak untuk mengklaim bibir gadis itu sekali lagi.
"Ngg--nggak .. Alden, jangan..." cicit Aleta dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Jelas, Aleta menolak mentah-mentah. Dengan panik, ia memalingkan wajahnya sekuat tenaga ke samping, berusaha menyembunyikan bibirnya dari jangkauan Alden. Tubuhnya kembali bergerak liar, meronta di atas karpet, mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang masih terkunci rapat di atas kepala.
"Lepas! Kumohon lepas..." tangis Aleta pecah, suaranya terdengar begitu parau dan menyedihkan.
penolakan itu justru memancing urat kemarahan sekaligus dominasi Alden. Mengabaikan tangisan dan gerakan menghindar Aleta, Alden menggunakan satu tangannya yang bebas untuk mencengkeram dagu Aleta dengan kasar, memaksa wajah gadis itu kembali lurus menghadapnya.
"aku nggak suka lo berpaling Aleta," bisik Alden rendah, tepat di depan bilah bibir Aleta yang bergetar hebat, sebelum akhirnya kembali membungkam bibir itu dengan paksaan yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya.
Aleta kembali memberontak dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ia menggelengkan kepalanya dengan liar, mencoba memutus tautan paksa itu, namun cengkeraman Alden pada dagu dan kedua pergelangan tangannya terlalu kokoh seperti borgol besi. Setiap gerakan menghindar yang Aleta lakukan justru membuat Alden semakin mengunci posisinya, menahan tubuh gadis itu agar tidak bisa bergeser seinci pun.
Rasa panik Aleta meroket tajam ketika Alden mulai memperdalam ciumannya. Kali ini, segalanya terasa jauh lebih intens dan mengintimidasi. Pergerakan lidah Alden yang menyapu dan menguasai rongga mulut Aleta terasa begitu nyata dan mendominasi, merenggut habis sisa-sisa udara yang ada di tenggorokannya.
Sentuhan yang teramat intim dan sepihak itu mengirimkan gelombang rasa syok yang luar biasa ke seluruh tubuh Aleta. Ia bisa merasakan kehangatan yang kontras dengan tubuhnya yang mendingin karena ketakutan.
Air mata Aleta mengalir semakin deras, membasahi sela-sela pipi mereka yang menyatu. Ia merasa benar-benar terpojok dan tak berdaya, terperangkap di dalam ruang privatnya sendiri oleh cowok yang dengan egois mengabaikan semua penolakannya demi memuaskan obsesi dan egonya yang tinggi.
Alden akhirnya menarik diri, memutus ciuman yang terasa begitu lama dan menyesakkan itu. Ia menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter, menyisakan jarak yang sangat tipis hingga napas mereka yang sama-sama memburu beradu di udara. Meski pagutan itu telah berakhir, cengkeraman tangan Alden pada pergelangan tangan Aleta sama sekali tidak mengendur.
Pandangan Alden masih terkunci rapat pada bibir Aleta—yang kini tampak bengkak, memerah, dan basah di bawah kuasanya. Ada kilat kepuasan yang gelap di matanya, bercampur dengan obsesi yang belum sepenuhnya padam.
🌍🌍🌍
Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa detik, di mana hanya terdengar suara isak tangis Aleta yang tertahan, Alden akhirnya bersuara. Sebuah pertanyaan lolos dari bibirnya dengan nada rendah, dingin, dan penuh tuntutan yang mutlak.
"Sekarang lo paham, kan, siapa yang megang kendali di sini?"
Alden sedikit menekan cengkeraman tangannya, memaksa Aleta untuk fokus kepadanya. "Balas, Aleta. Jangan cuma nangis."
Aleta menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya menyapu pipi yang terasa panas. Pikirannya benar-benar kosong, kacau, dan dipenuhi rasa syok yang luar biasa.
Jangankan untuk mencerna pertanyaan Alden, untuk sekadar bernapas dengan normal saja dadanya terasa sangat sesak.
"Nggak tahu..." bisik Aleta dengan suara yang sangat serak dan bergetar. Ia menatap Alden dengan pandangan yang buram oleh air mata, benar-benar tidak mengerti apa maksud dari semua kekejaman dan perkataan cowok itu.
Bagi Aleta, semua ini terlalu mendadak dan mengerikan. Ia tidak paham mengapa Alden harus bertindak sejauh ini, menginjak-injak harga dirinya, dan memaksanya tunduk dengan cara yang begitu intim sekaligus menakutkan. Yang ia rasakan saat ini hanyalah ketakutan yang menjalar hingga ke tulang, membuatnya merasa sekecil debu di bawah kuasa Alden.
Melihat respons Aleta yang kebingungan dan ketakutan tidak membuat Alden melembut. Bagi Alden, jawaban lirih gadis itu terdengar seperti bentuk penolakan untuk tunduk pada kuasanya. Rahangnya kembali mengeras, dan kilat berbahaya kembali muncul di kedua matanya.
Tanpa memberikan peringatan atau waktu bagi Aleta untuk bersiap, Alden kembali memajukan wajahnya.
Jarak di antara mereka terkikis habis dalam sekejap. Aleta bisa merasakan kembali embusan napas Alden yang hangat namun terasa mencekik di permukaan kulit wajahnya. Refleks, Aleta memejamkan matanya rapat-rapat, mengerutkan dahi, dan mencoba menarik kepalanya ke belakang sedalam mungkin hingga tenggelam ke atas permukaan karpet. Tubuhnya menegang sempurna, mengantisipasi dominasi kasar berikutnya yang siap merenggut paksa.
"Balas setiap inci, aku akan menyudahinya dengan cepat," ucap Alden rendah, suaranya terdengar seperti bisikan iblis yang tepat berada di depan bibir Aleta.
Kalimat itu memperjelas maksud Alden: ia menuntut Aleta untuk tidak lagi diam ataupun memberontak, melainkan membalas sentuhan bibirnya jika ingin siksaan ini segera berakhir. Sebuah pilihan kejam yang membuat hati Aleta terasa semakin hancur.
Aleta membelalakkan matanya yang basah. Membalas Alden? Pikiran itu terasa begitu menjijikkan dan salah di dalam benaknya. Namun di sisi lain, tubuhnya sudah teramat lelah, tenggorokannya sakit, dan ia benar-benar ingin terlepas dari cengkeraman cowok di atasnya ini.
Alden tidak memberikan waktu bagi Aleta untuk berpikir lebih lama. Sentuhan bibirnya kembali terasa, kali ini menempel dengan penekanan yang seolah menagih janji dari ucapan yang baru saja ia lontarkan. Alden menunggu, membiarkan bibirnya diam di sana selama beberapa detik, memberi tekanan halus yang memaksa Aleta untuk segera mengambil keputusan di bawah kendalinya.
Aleta tetap bergeming, bibirnya terkatup rapat dengan sisa-sisa pertahanan yang ia miliki. Ia tidak sudi memberikan apa yang cowok itu minta. Namun, kebungkamannya justru menyulut kembali api kemarahan dalam diri Alden.
Mendapat respons yang hanya diam, Alden kehilangan sisa kesabarannya. Ia kembali memaksa ciuman itu menjadi semakin dalam dan agresif. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Aleta semakin mengerat hingga terasa menyakitkan, sementara ia terus menekan dan memanipulasi pagutan itu, berusaha keras menuntut balasan dari Aleta.
Alden seolah tidak akan berhenti sampai ia berhasil mematahkan keras kepala gadis di bawahnya.
Di tengah keheningan kamar yang mencekam, Aleta hanya bisa merasakan dunianya semakin berputar dan menyempit. Rasa mual, lelah, dan syok yang bertumpuk membuat kesadarannya perlahan mulai terkikis, menyisakan isak tangis yang tertahan di balik dominasi mutlak Alden.
🌍🌍🌍
Jangan kapok ya bacanya kalian😭
jangan lupa like dan komentar nya yaa.