Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Menuju Ouroboros
Guncangan di lantai B5 Mahardika Tower semakin menjadi-jadi. Cairan hitam yang merembes dari sela-sela batu andesit tidak lagi sekadar menggenang, melainkan mulai berputar membentuk pusaran air geometris di lantai. Tegar Mangkubumi tertawa terbahak-bahak di balik meja konsol servernya, sementara dua patung dwarapala di sisi altar mulai melangkah maju dengan suara dentuman batu yang berat.
"Pak Arkan, enkripsinya membalikkan ruang!" teriak Kinanti, layarnya berkedip panik menampilkan pesan [ Spatial Distortion Event - Critical ]. "Ini bukan peretasan server, ini adalah pembukaan gerbang transportasi spasial kuno!"
Tanda di pergelangan tangan Kinanti mendadak menyala benderang, bukan lagi keemasan hangat, melainkan putih keperakan yang menyilaukan. Arkananta melompat maju, berniat menerjang Tegar, namun tepat saat kakinya menginjak cairan hitam tersebut, pusaran itu meledak dalam pendar cahaya abu-abu yang pekat.
BLAAAM!
Suara desingan angin yang luar biasa kencang menghantam gendang telinga mereka. Rasa pening yang hebat menyerang kesadaran Kinanti, seolah-olah tubuhnya ditarik melewati lubang jarum yang sangat sempit. Rasa dingin lantai basemen SCBD lenyap seketika, digantikan oleh sensasi udara yang mendadak kering, hampa, dan dipenuhi aroma belerang yang menusuk hidung.
Uhuk! Uhuk!
Kinanti terbatuk, menghirup udara yang terasa sangat asing. Saat ia membuka mata, langit di atasnya bukan lagi langit Jakarta yang tertutup awan mendung, melainkan bentangan langit berwarna ungu temaram tanpa matahari, dihiasi oleh dua buah bulan sabit yang saling berhadapan.
Ia tidak lagi berada di dalam basemen Mahardika Tower.
Kinanti terduduk di atas hamparan pasir berwarna merah bata. Di sekelilingnya, sejauh mata memandang, menjulang struktur menara-menara batu melingkar yang melayang di udara tanpa penopang fisik, saling terhubung oleh jembatan-jembatan cahaya tipis.
"Kita... di mana?" gumam Kinanti, suaranya terdengar sedikit bergema. Ia buru-buru memeriksa tablet digitalnya. Layar gawai itu mati total, mengembuskan asap tipis akibat korsleting total karena hilangnya sinyal bumi. "Sial, garansi servisnya pasti hangus."
"Kinanti..."
Mendengar suara parau itu, Kinanti menoleh cepat. Di sampingnya, Arkananta sedang berusaha bangkit berdiri. Berkat perlindungan energi keperakan dari tanda di tangan Kinanti saat transisi tadi, Arkan tidak berubah menjadi kucing, namun wajah manusianya tampak sangat pucat.
"Pak Arkan! Bapak tidak apa-apa?" Kinanti buru-buru memapah bosnya.
Arkan mengedarkan pandangan ke arah menara-menara melayang dan pasir merah di bawah sepatu pantofel mahalnya. Rahangnya mengetat. "Tegar tidak berniat menghancurkan Mahardika Tower dari bawah. Dia melemparkan kita keluar dari koordinat bumi. Ini adalah Ouroboros-Prime, wilayah fiksi spiritual yang diciptakan oleh leluhur Faksi Mangkubumi sebagai tempat pembuangan energi silsilah yang gagal."
"Tempat pembuangan?" Kinanti menaikkan alisnya, membersihkan pasir merah dari celana kainnya. "Artinya, kita terjebak di dalam dimensi karantina?"
"Lebih buruk dari itu," Arkan menunjuk ke arah cakrawala. Di ujung jembatan cahaya terjauh, tampak sebuah kota kuno yang arsitekturnya menyerupai gabungan antara candi Jawa kuno dan teknologi futuristik gotik. Menara-menaranya berputar secara mekanis, mengeluarkan suara gemeretak batu yang konstan. "Ini adalah tempat di mana esensi sejati Sumpah 1845 ditempa secara fisik. Di dunia ini, hukum fisika bumi tidak berlaku. Dan yang memegang kendali atas kota itu... adalah inti dari Faksi Mangkubumi yang sebenarnya."
Meskipun situasi mereka berada di luar nalar akal sehat korporat, Kinanti justru menarik napas panjang dan meluruskan blazer hitamnya yang kini penuh pasir merah.
"Baiklah, Pak. Anggap saja ini dinas luar kota yang sangat jauh," ujar Kinanti dengan nada santai yang membuat Arkan tertegun. "Tidak ada sinyal, tidak ada email dari dewan komisaris, dan tidak ada rapat pleno. Sisi positifnya, pengeluaran harian kita di sini pasti nol rupiah karena saya ragu mereka menerima pembayaran lewat QRIS."
Arkananta tidak bisa menahan senyum tipis di tengah situasi gila ini. "Kamu benar-benar sekretaris yang unik, Kinanti. Kebanyakan orang akan histeris melihat dua bulan di langit."
"Histeris tidak akan menaikkan gaji saya, Pak Arkan," sahut Kinanti jenaka. Ia membantu Arkan membersihkan sisa pasir di jaketnya. "Sekarang, karena kita sudah terdampar di sini, bagaimana cara kita pulang? Kunci kuningan dari brankas tadi masih ada?"
Arkan merogoh saku jaketnya, menarik kunci kepala badak kuno tersebut. Kunci itu kini tidak lagi berwarna kuningan, melainkan hitam legam dan terasa dingin seperti es. "Kunci ini mati. Untuk mengaktifkannya kembali, kita harus mencapai pusat Kota Menara Berputar di sana—The Keystone Zenith. Kita harus merebut kembali kendali arsitektur ruang dari tangan manifestasi Mangkubumi sebelum faksi mereka di bumi menyegel gerbang bawah tanah Mahardika Tower secara permanen."
"Kalau begitu, mari kita jalan, Pak," Kinanti melangkah lebih dulu, menuntun jalan di atas pasir merah menuju jembatan cahaya terdekat.
Tanda di pergelangan tangannya kini mulai memancarkan pendar keperakan yang konstan, bertindak sebagai satu-satunya obor pelindung mereka di dunia fiksi yang asing dan berbahaya ini. Di belakangnya, sang Singa Mahardika melangkah dengan tatapan penuh determinasi, siap berburu di medan yang sama sekali baru.