Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Pagi dan Langkah yang Tertahan
Mendengar godaan yang begitu terang-terangan di depan para pengawalnya, wajah Adrian yang biasanya sedatar es sempat memperlihatkan rona ketidaknyamanan yang samar sebelum ia bergegas masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.
"Tutup mulutmu dan buatkan aku kopi jahe dalam sepuluh menit, Kirana," ketus Adrian dari dalam lift sebelum pintunya tertutup, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang kembali berulah nakal akibat ulah pelayan cantiknya itu.
Kirana terkekeh riang di depan pintu lift yang tertutup, tahu bahwa hari-hari panjang ke depan di kediaman mewah ini akan dipenuhi oleh lebih banyak intrik yang menegangkan namun juga romansa tipis yang semakin membuat hatinya meleleh.
Permainan di antara mereka berdua terus melangkah perlahan, membangun sebuah kisah yang akan terus berlanjut hingga ratusan bab ke depan di bawah naungan langit Kota Metropolitan.
Sinar matahari pagi di Bukit Permai perlahan mengikis sisa-sisa kabut tebal yang menyelimuti kastel modern keluarga Arseto. Burung-burung gereja mulai berkicau di dahan pohon palem yang berjejer di halaman samping, memberikan sedikit nuansa damai yang kontras dengan kejadian menegangkan di ruang bawah tanah kemarin.
Di dapur kecil lantai tiga, Kirana sedang sibuk mengaduk ramuan jahe merah, madu, dan sedikit perasan lemon. Gerakannya begitu luwes dan berirama.
Meskipun ia hanya tidur kurang dari empat jam karena harus memastikan suhu tubuh Adrian tetap stabil sepanjang malam, tidak ada guratan lelah sedikit pun di wajah cantiknya. Sifat riangnya justru terpancar lewat senandung kecil yang keluar dari bibir ranumnya.
Tok, tok.
Pintu dapur kecil yang terbuka diketuk pelan. Kirana menoleh dan mendapati Sinta berdiri di sana dengan membawa nampan berisi buah-buahan segar yang sudah dikupas rapi.
"Kirana, ini buah untuk sarapan Tuan Muda," ujar Sinta dengan suara setengah berbisik, matanya melirik ke arah koridor luar seolah-olah takut ada dinding yang mendengarkan. "Ibu Maya yang menyuruhku mengantarkannya ke sini. Um... Kirana, apa semuanya benar-benar sudah aman? Kemarin sore aku melihat Mawar dibawa pergi dengan mobil box tertutup oleh anak buah Pak Hendra. Wajahnya pucat sekali."
Kirana menghentikan adukannya sejenak, lalu mengambil nampan buah dari tangan Sinta dengan senyuman menenangkan. Kecerdasannya menuntun untuk menjaga stabilitas mental rekan kerjanya agar tidak memicu kepanikan massal di antara para pelayan lantai dasar.
"Semuanya sudah selesai, Sinta. Mawar dipindahkan ke cabang luar kota karena kinerjanya yang dinilai kurang baik oleh Ibu Maya. Kamu tidak perlu khawatir," bohong Kirana dengan rapi, matanya berkedip pintar. "Yang penting sekarang, kamu fokus saja membantu Mbok Nah di bawah. Jangan sering melamun, oke?"
Sinta mengembuskan napas lega, bahunya yang tegang perlahan rileks. "Syukurlah kalau begitu. Aku takut sekali kalau terjadi sesuatu yang buruk di rumah ini. Oh ya, Kirana... pergelangan tanganmu masih merah? Kemarin malam aku tidak sengaja melihatnya saat kamu mengambil perban."
Kirana melirik pergelangan tangan kanannya yang kini tertutup oleh manset seragam pelayannya. "Ini? Ah, ini hanya tanda kenang-kenangan kecil dari sebuah pertempuran ego. Sudah tidak sakit kok. Ayo, kembali ke bawah sebelum Ibu Maya mencarimu."
Setelah Sinta pergi, Kirana menata nampan perak di hadapannya. Secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Adrian, segelas ramuan jahe hangat, semangkuk buah segar, dan bubur gandum halus yang mudah dicerna untuk orang yang sedang dalam masa pemulihan pascaoperasi kecil.
Ia mengangkat nampan itu dengan anggun, memantapkan langkah kakinya menuju pintu kamar utama. Di dalam dirinya, dia mulai berbisik, merencanakan kata-kata apa lagi yang akan ia gunakan untuk mencairkan rahang kaku sang Tuan Muda pagi ini.