Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Tanggung jawab
"Shila mau telepon mama dulu mas"
Rival mengangguk dan membiarkan Shila menelepon mama Naya di balkon kamar dan pastinya Shila akan mencari anaknya.
"Sayang.. kakak Aben sudah makan?" tanya Shila.
"Sudah ma" jawab Arben disana.
"Mama, bagaimana Abrian disana?"
"Abrian main sama opanya, dia baik-baik saja. Kalau pulang bawa adik untuk Abrian ya!" kata mama.
Shila menghapus air matanya pura-pura menunjukan pemandangan indah di sekitar tempatnya menginap.
Untuk satu itu, Abang tidak janji dek.
Rival mengusap dadanya lalu keluar dari kamar.
***
Pagi hari Rival mengajak Shila jalan-jalan di daerah tempatnya menginap. Rival mengajak Shila ke sebuah toko perhiasan.
"Mas belum membelikanmu apa-apa, pilihlah perhiasan yang kamu inginkan" pinta Rival.
"Shila nggak mau apa-apa bang"
"Terus mau apa?" tanya Rival lembut.
"Shila mau Abang ingat Shila"
Permintaan Shila bagai teguran keras untuk Rival. Mulai detik itu seberapa pun kuatnya Rival mengingat Yara, ia harus sadar diri untuk tidak menyebut nama Yara lagi.
"Akan Abang lakukan. Abang janji. Sekarang masuklah dan pilih perhiasan itu sebagai tanda sayang Abang sama kamu" pinta Rival sambil menggenggam kan ATMnya di tangan Shila. Shila tidak bergeming. Rival pun turun dari mobil membukakan pintu dan mengajak Shila masuk ke toko perhiasan itu.
Setelah membeli perhiasan, Rival meminta Shila untuk membeli banyak baju karena sejak datang dalam hidupnya Shila tidak membawa baju dan Naya yang membelikan baju untuk Shila. Sekarang sebagai suaminya, Rival wajib membelikan semua kebutuhan Shila.
Shila keluar dari dalam toko dengan menenteng banyak kantong belanjaan bergambar the cars. Rival menghabiskan rokoknya lalu membuangnya asal.
"Baju apa saja itu?" tanya Rival.
"Ini baju anak-anak mas" jawab Shila.
"Ya Allah dek. Abang mengajakmu pergi, menginap di luar itu khusus untuk kamu, Abang ingin memanjakan kamu sebagai istri Abang. Masalah anak-anak besok saja di pikirkan kalau sudah ketemu mereka" tegas Rival.
"Ya sudah.. kita cari makan ya" ajak Rival sambil masuk ke dalam mobil.
"Ikan bakar gimana bang?"
deg..
"Kamu suka itu?" tanya Rival.
"Suka sekali bang"
Wajah Rival berubah pias. Bagaimana bisa ia menemukan banyak kesamaan dari dua wanita yang berbeda.
"Mbak Yara suka itu juga ya?" nada Shila berubah pelan.
"Nggak dek" Rival mengecup kening Shila lalu melajukan mobilnya.
Abang bohong.. Shila tau itu. Mungkin banyak yang Shila suka, sama dengan kesukaan mbak Yara.
---------
Rival dan Shila makan. Malam ini Rival menguap Shila, ia ingin membuka hati dari hal-hal kecil seperti ini. Perlakuan Rival tentu saja membuat Shila luluh, ada sebuah getaran perasaan yang tiba-tiba saja muncul.
***
Di hotel, Rival tidur sengaja menyalakan AC dengan sangat dingin. Ia ingin membuat Shila sendiri yang menginginkan kehangatan berdua dengannya. Harus ia akui, kejadian kemarin membuatnya menginginkan hal itu lagi.
"Dingin sekali bang!" Shila menggosokan kedua tangannya.
"Iya dek, remote AC nya rusak ini. Sini tidurnya dekat sama Abang!" Shila ragu tapi Rival segera menarik nya.
Rival menyelipkan tangannya di balik baju Shila. Shila menyingkirkan tangan itu perlahan. Rival mengusap pipi Shila dengan jarinya.
"Tidak boleh mengabaikan suami. Kamu tau khan!" lembut Rival membujuk Shila seakan lupa dengan sosok Yara. Rival menyelipkan tangannya lagi. Sentuhan Rival membuat Shila melenguh kecil dan Rival tersenyum melihat ekspresi istrinya. Danki itu mengarahkan tangan Shila agar menyenangkannya juga.
"Abang akan membuatmu melayang-layang dan selalu mengingat Abang"
_____
_____
Rival mengepal kuat hingga erangan panjang mencapai pelepasan. Rasa yang sudah lama ia tahan akhirnya lunas sudah. Puas sekali rasanya hingga pikirannya masih setengah sadar di atas tubuh Shila.
"Terima kasih banyak Shila sayang" ucap Rival masih terpejam. Shila tersenyum mendengarnya.
Rival menggeser tubuhnya dan langsung tidur pulas dengan tangan masih memeluk Shila.
"Abang gagah sekali, sepertinya Shila benar-benar jatuh cinta sama Abang"
"Shilaaa" desah Rival mengigau dalam tidurnya. Shila tersenyum lalu menggigit lembut bibir Rival saat suaminya itu tidur.
***
Randy dan Naya melihat raut wajah Rival yang memang jauh lebih segar. Naya tidak tahan untuk tidak memeluk Rival. Rival tau ibu mertuanya itu menangis karena Rival sudah mencoba untuk move on.
"Semoga bahagia selalu nak"
"Aamiin ma" jawab Rival.
---------
"Besok papa dan mama ke Kalimantan"
"Iya pa, sampai jumpa disana. Satu setengah bulan lagi Rival dan Shila menyusul"
***
Di Kompi nampak wajah sang Danki lebih cerah. Hari ini banyak tersenyum seolah kembali pada Danki saat pertama kedatangannya dulu.
"Waahh.. Abang nampak beda" tegur Oka.
"Apanya?" senyum Rival yang mengerti maksud Oka
"Saya jadi pengen kawin nih Bang" kata Oka.
"Nikah dulu, baru kawin" tawa Rival.
"Bang.. susah nggak move on?"
Rival langsung menghentikan kegiatannya.
"Dari hatimu saja. Kalau semua kamu niatkan ibadah dan tidak untuk main-main, Insya Allah semua terasa ringan" jawab Rival.
***
"Apa Abang sibuk belakangan ini?" tanya Shila yang melihat jam dinding sudah pukul setengah sembilan malam.
"Iya dek, Abang khan mau serah terima jabatan" ucapnya sambil menggeliat karena badannya sangat lelah.
"Abang makan dulu ya!"
"Iya.."
Setelah makan Rival pun mandi.
"Sini Shila pijat badan Abang" Tanpa pikir dua kali Rival menuruti ajakan Shila.
Rival merasa nyaman sekali, setelah sekian lama tidak ada yang mengurus nya sekarang ia bisa lebih tenang menjalani hidup.
Rival berbalik badan dan menarik Shila ke dalam pelukannya.
"Abang nggak pernah lihat kamu pakai daster ini"
"Shila punya beberapa bang, baru Shila pakai saja"
Rival mengangkat daster Shila, tapi Shila segera menutup nya.
"Kenapa? Abang pengen" Rival semakin memeluk Shila.
"Nggak bisa bang.. Lagi palang merah" bisik Shila.
"Hadeeeeeehhhh... lemes dah Abang dek" keluh Rival.
"Sabar bang!!" senyum Shila mengusap dada bidang Rival.
***
Tak terasa waktu berlalu. Besok saatnya Rival menjemput Kapten Handoko sebagai pengganti nya dan Rival akan segera berangkat ke Kalimantan.
Rival dan Shila menjemput Handoko dan istri di bandara, mereka belum memiliki putra. Seperti biasa ada perjamuan disana dan sementara Kapten Handoko akan tinggal di rumah transit seperti Rival dulu.
Sedari tadi Pak Handoko datang, Shila merasa tidak nyaman dengan pandangan Pak Handoko ke arahnya. Shila pun memilih pergi dan menyuapi Abrian.
"Bu Rival.. apa saya bisa minta nomer ponsel?" tanya pak Handoko.
"Maaf pak, untuk apa ya? urusan pekerjaan khan langsung berurusan dengan suami saya" jawab Shila.
"Tukar pendapat saja mengenai istri"
"Mohon maaf pak, lebih baik bapak menjalin komunikasi yang baik dengan istri daripada menjalin komunikasi dengan istri orang lain" tolak tegas Shila.
------
"Yank.. setelah ini belanja yuk! ajak Bu Rival juga" ajak Bu Handoko pada suaminya
"Maaf Bu, anak saya harus tidur cepat, lagipula saya tidak hobby belanja" penolakan Shila membuat Bu Handoko kesal.
"Ya.. saya juga pengen cepat pulang" imbuh Rival.
"Ada keperluan lain bang???" tanya Handoko.
"Mau numbuk padi" jawab Rival santai.
.
.